Showing posts with label Jejak Prosa. Show all posts
Showing posts with label Jejak Prosa. Show all posts

Wednesday, 30 March 2011

Perempuan yang membawa pulang senjA

13009663281768375653
Sunset Woman by Nikhil Gangavane
perempuanku, jangan kau hitung umur dengan guratan di wajahmu. sudah berjuta kali ombak mampu meratakan pantai, saat setiap pagi para umang berjalan mencari hidupnya. selepas menatap fajar di horizon sana, mereka berlomba menguburkkan diri, dalam waktu milik mahluk lainnya.

Monday, 21 March 2011

Gerundelan

#1

Bentuknya petak, terbajak bagai sawah-sawah yang tengadah. Dan kerbau berlari mencampakan pak tani pada harga gabah yang tinggi. Sementara ibu-ibu menemukan kuping petani dalam sebungkus kecil beras kemasan 1 kilogram, nasinya bagai popcorn. Di tanak dan meledak. Asapnya berputar bagai goyang ngebor si penari yang tak lagi dililit ular, kini gurita telah memeluk pinggulnya dan ingin kembali ke rahim sebagai rahmat. Sudikah?

#2

Ketika mendung berjingkat turun menyapa bumi yang sekarat, kumpulan manusia malah bermain di awan. Kuda-kuda lumping yang melenggang di awang-awang bersama serpihan beling di mulut-mulut yang terucap. Langkahnya bukan maju mundur seperti gadis belia yang ragu-ragu menjual dirinya, sementara ponsel baru itu bagai nyawa yang ingin dirampas. Senyumnya tercetak di kening-kening pejalan yang antri di depan kotak hasutan. Dan disetiap jamnya akan keluar medusa menari-nari dengan kelamin yang menyapa-nyapa.

#3

Wacana bermain petak umpet, waktu berdiri pongah dalam kelompok hasutan. Yang berbicara kini kuping, karena yang bersaksi bukan lagi mata. Sedangkan mulut meraba-raba dalam gelap dan lidah menjadi tongkat yang menepis tabir. Semua sudah bersaksi, semua terperangkap dalam benang kusut untuk merenda perca-perca kain kafan dari potongan-potongan yang kita ambil dari kubur tak bernisan, dari korban penculikan, dari mata yang dipisahkan dari pemiliknya. Dan dari kubur anak sejarah yang rindu pada rahim ibunya. Kemudian kita memberi tanda tangan serta cap jempol darah. Berkalung ari-ari.

#4

Negeri kita tak sempit, luasnya tak lebih dari jalan bagi sang bayi keluar dari vagina. Selanjutnya Indonesia yang baru terhampar luas. Kita lupa membawa buku hidup, seperti manual book dalam setiap kemasan barang. Mungkin karena saat itu kita masih buta huruf, atau lupa bahwa hidup perlu baca. Bayi-bayi hanya punya tangis, karena mereka belum bisa membaca. Memahami bahwa tangis bukan lagi jalan keluar, karena tangisan kini sudah seperti lagu cengeng milik sang raja yang pintar menutupi kebodohannya dengan mencipta lagu. Dan bayi masihlah bodoh untuk mengubah nada tangis menjadi berbeda pada pinta-pinta yang berbeda. Raja bernyanyi dan bayi menangis. Bayi meminta Asi, sementara Raja berlomba memotong suburnya puting ibu pertiwi.

#5

Di rahim bayi tak menatap gelap, dia melihat langit dan awan. Itu sebabnya mereka suka dengan warna awan. Bayi-bayi lahir saat perjamuan kudus disiapkan. Mereka bersulang darah dan berbagi remahan milik kita. Memotong-motong nadi-nadi kita, selanjutnya disambung pada pipa-pipa menuju garasi mobil mereka masing-masing. Bersama ambulan mereka berteriak bagai sirene menyatakan kemanusiaan. Namun lampu sirene satu persatu membunuh burung-burung perdamaian yang terbang di atas kepala-kepala kita, hingga kita lupa membuat telur dadar. Dulu kita teratur makan, kini juga teratur untuk tak makan.

#6

Topengnya tak luntur oleh ludah mereka-mereka di depan rumah rakyat, tak juga berubah oleh tangis-tangis mereka yang menjual ginjal. Tetap dengan senyum tertarik, minta dikasihani, bagai dadu judi melempar wajahnya dengan telur busuk. Kena atau dipenjara. Namun kesemuanya terpenjara karena bidikan panah telah membungkam angin yang ciut untuk menghantarkannya. Dan atas nama kuasa, dia menyatakan ada kutu yang berbahaya di ayam-ayam petelur. Kelompok serangga kecil yang di duga sebagai pasukan haus koin-koin rakyat pada celengan ayam.

Dan kita ramai-ramai bernyanyi, "di sana tempat lahir beta, dibui dibesarkan bunda........"

Wednesday, 16 March 2011

Mereka yang Lupa

Tadi pagi ada yang mati sebelum kokok ayam pertama. Langit masih penuh jelaga hitam.

Tadi pagi ada yang mati, namun orang tak perlu repot untuk menguburkannya. Dan mentari tak perlu malu oleh satu-satunya sinar benderang di tengah kampung yang belum tersadar.

Telah tertampar pagi yang sunyi, oleh jeritnya yang senantiasa diam menahan sepi di ranjang yang sama tuanya. Nyata api itu membakar ruang-ruang masa lalu, saat vaginanya robek hingga kini ia sendiri tanpa mereka.

Menuju surga, meninggalkan mereka yang lupa.

Friday, 24 December 2010

LIMA SURAT UNTUK IBU

Bisikan Kata, Teriakan Kota, Antologi Puisi Temu Sastra Jakarta. Penerbit Dewan Kesenian Jakarta dan Bentang Budaya, 2003
LIMA SURAT UNTUK IBU
oleh edi santana

Surat Pertama : Jakarta Bertambah Harum
Kapal telah terantuk di dermaga. Kakiku pincang melangkah di antara sampah-sampah Jakarta. Di antara bualan politik di serambi istana, botol-botol parfum globalisasi, liur-liur yang menetes di pinggiran real estate, map-map lusuh bundelan lamaran, mayat-mayat hidup di kolong-kolong. Udaranya menyesakkan, tidak seperti nafasmu, Bu. Pagi tadi saudara kita juga tiba di kota ini. Aku sambut tidak dengan sirih, tapi lirih yang menetes. Tes. Tes. Tes..... Sungai memeluknya, menghantarkan mayat di tepi ini. Jakarta bertambah harum. Keringat, tangis, liur, bangkai penuh belatung.

Surat Kedua : Siapa Yang Menanak Nasiku Kelak?
Ingatkah ibu pada nasi yang dulu ditanak? Tutupnya naik turun, uap panas menyeruak. Rinduku pun tak bisa tersimpan rapat. Padamu dan manusia berkelamin sepertimu. Aku yakin dia cantik - seperti ibu - dalam gaun pengantin putihnya, setetes darah di sudutnya. Darah itu milik suaminya kini. Aku tak menyisakan apa-apa, perih-perih dari gaun putih di jemuran esok. Airnya menetes pelan, lamat, lambat, mampat benak sesaat. Mungkin pagi-pagi berikutnya, nasi di tanak untuk lelaki yang memeluk tubuh bugilnya. Dan tutupnya naik turun. Siapa yang akan menanak nasiku kelak?

Surat Ketiga : Kelelawar Menari di Purnama
Aku berada di antara keringat-keringat. Di antara dengus-dengus. Di sela-sela mimpi dan ronta tercekat. Tangan tak diam, otak menari gila. Beratus-ratus rantai mengikat jiwa-jiwa pada pilar-pilar roda yang meludahi keping-keping emas. Tiada yang berani berbisik akan gaji tak cukup atau istri yang belum pernah menggoreng ayam, atau anak-anak menanti baju baru di gerbang sore. Ada kelelawar berbaju emas menari cha cha di bumbungan atap. Telinga lebar amat awas. Taringnya meneteskan mazmur-mazmur nabi palsu, ia penetrasikan ruh-ruh kepasrahaan diri. Mandul dan robot berjalan, menanti di akhir bulan, ketika kelelawar menari di purnama.

Surat Keempat : Hewan Itu Tertawa Puas
Dulu si Iwan jadi gila karena menggigit anjing gila. Orang-orang menertawai ulahnya dan jadilah dia gila yang sejati. Dikumpulkan bersama manusia-manusia gila di rumah yang gila. Kemerdekaan ada di sana, kebebasan santapan utama layak dicicipi. Manusia menjadi harimau bagi dirinya. Mereka tercipta berkulit manusia. Mereka bukan bangkai walau jiwa dikucilkan bagai binatang. Dan binatang itu tampil di TV sore. Tertawa puas. Sebuah kemerdekaan tersimpul di bibirnya dari panggung dagelan. Bersama binatang-binatang lain, mereka berhasil memusnahkan manusia-manusia di Legian.

Surat Kelima : Biarlah Aku Kembali Lalui Vaginamu.....
Sepi di antara mimpi. Akal-akal yang palsu terselubung debu waktu. Malam dan siang bagiku kembar. Gendang telinga rindu akan omelan ibu. Memakan hari, memuntahkan syair-syair. Tapi syair-syair takkan menyilaukan betina-betina yang tak berpemilik. Peta harta karun di kain lurik lusuhmu telah menipu, walau Bapak memukul manja pantatku untuk beranjak ke kota ini dan tapaknya jelas terlukis. Mungkin Desember ini aku tak pulang, jangan risaukan aku. Jangan kirimi aku Sinterklas. Aku tak mengidam itu. Yang kuingin bila Tuhan ijinkan, biarlah aku kembali lalui vaginamu dan tidur untuk selamanya di hangat rahimmu. Aku rindu peluk dan kasihmu, Bu. Di situlah kejujuran bersumber dari seorang wanita.

Bekasi, 27 November 2002
Puisi ini masuk dalam Antologi : 
Bisikan Kata, Teriakan Kota, Antologi Puisi Temu Sastra Jakarta. Penerbit Dewan Kesenian Jakarta dan Bentang Budaya, 2003

Wednesday, 10 November 2010

Untukmu yang Datang (Obama)

Photo  Credit:  Anthony Almeida
Aku menemukanmu pada tawa,
kelakar yang menyumpal lapar
hingga ia lari menuju gunungan gundah
lalu dengan kekar ia berkata :
“aku adalah tangis yang menyambar-nyambar
namun oleh gelitik pinus-pinus yang nakal kunubuatkan sebuah kabar
oleh utara akan ada kabar datangnya riuh bangau yang menitipkan bayi-bayi jaman. siapkanlah pelukan-pelukan hangat.”
Namun musim lupa daratan ketika genangan liur kita menetes di sumur-sumur kosong
yang isinya telah kita pakai sebagai dian yang menerangi mimpi yang lupa jalan berpulang.

Aku menatapmu pada tawa
tarian nina bobo seusang kain gendongan ibu
rindumu pada negeri kami hanyalah rindu seorang bocah pada tepukan ayah di pantat yang kotor
sementara diam-diam kau suka berkubang, menyingkirkan kerbau-kerbau kami yang lari ke hutan gundul
Lalu kau bangun istana dari pasir emas dan oleh ombak kau titipkan ia menuju negeri impianmu
meninggalkan lubang-lubang yang menganga, kubur-kubur kami oleh kutuk bumi yang marah pada penjaga-penjaga hutan
sebelum kami hanya menjadi nisan yang terlihat cantik dari kotamu, ijinkanlah kami berdoa :
‘tuk pindahkan gunung-gunung kami yang marah menuju lautan keserakahan milik koboi-koboi yang suka mematahkan kaki-kaki yang sedang bangkit dan ingin berdiri di atas kaki sendiri.

Aku mengucapkan selamat datang,
di negeri makmur yang diam-diam digadai saat kami terlena mengajari anak-anak kami membaca, mengeja sejarah yang berulang.
Dan kau berhasil memukau keledai-keledai yang gontai berjalan.
Edi Sembiring
sumber gambar : 
http://viz.dwrl.utexas.edu/taxonomy/term/8

Monday, 13 September 2010

Orang Asing

Di kulit tubuh itu ia temukan sebentuk gambar biru, dan orang asing itu berkata, “Aku pernah melupakan seseorang, tapi aku tak tahu setiap orang melupakan seseorang.”(ORANG ASING , Goenawan Mohamad, 2001).
pregnant women by Bridget (http://www.ncdv.org.uk/artsevent.html)
Orang asing itu hadir di sebuah sore, saat aku terburu-buru menutup kitab keraguan. Kuberi tanda pembatas padanya, sembilu yang memerah. Seperti senja yang lamat-lamat tenggelam, akupun gegas berkemas dan mencampakkan buntelan kabar lalu ke dalam rongga waktu yang terbelah seketika.

Orang asing itu selalu mengirimku sepotong fajar, bersama senyum di sudutnya. Dan aku merasakan sebuah kebangkitan, cakar-cakar lemah yang ingin mencari dahan yang kokoh untuk bertahan dari badai yang kian menerjang. Ia mampu menjadi perisai yang memelukku, menahan jutaan tombak yang rakus mencari mangsa.

Orang asing itu tak saja hadir di hatiku, tapi juga di kamarku. Ruang-ruang dingin kami hangatkan bersama canda, memancing laba-laba keluar dari sarangnya. Kami pindahkan gurun yang panas ke kamar ini, lalu kami berfartamorgana. Mencari oase-oase tak berpemilik, lalu kami curi dan sembunyikan. Hingga para musyafir sesat mencari Tuhannya.

Orang asing itu bukan lagi menjadi asing, walau kurasakan ada benda asing yang telah memasuki tubuhku. Ketika ia telah mengetuk hatiku dan memasukinya, ia juga mengetuk tubuhku. Kami menyalakan api unggun, mengusir keraguan. Dan tiang nyalanya menguasai ruangan, hingga kami tak lagi harus membungkus diri bersama logika. Cinta kami memerah.

Di waktu yang mulai tak lagi asing, ia menjadi kabar yang bergema di lorong-lorong panjang. Saat aku memanggilnya, gelap kian pucat dan ratusan kelelawar menyelamatkan diri. Lari dari murkaku. Lalu aku buka tingkap-tingkap langit dan kubakar doa-doaku. Asapnya menggetarkan langit, hingga hujan turun sepanjang musim. Membasahi pipiku dan tanah yang memerah. Gundukan cinta kami yang bernama nisan.

Di sudut kamar, aku merajut waktu. Belajar pada kesabaran sang laba-laba. Kami bersembunyi dalam kesunyian, tak saling menyapa. Sepertinya ia tersenyum padaku saat aku tak lagi terpaku pada hening yang lupa memberi nama. Dan aku harus sekian bulan lamanya berselimut dingin dalam kealpaan lalu.

Orang asing baru itu kini diam-diam hadir. Bukan di kamarku. Bersama tubuhlu yang kian memberat, aku mengandung anaknya. Anak kami. Orang asing baru yang akan menemani hariku walau mungkin akan menjadi tatapan sinis bagi mereka di luar sana.

Wahai Orang Asingku, aku akan pelihara dia dalam keterasingan sikap orang-orang yang mengasingkan diri dari ke alpaan.

sumber gambar klik

Wednesday, 26 May 2010

Benih di Meja diantara Banjir

masih di meja dengan dua gelas air putih di antara laluan air, kita masih saling menatap, hiraukan paniknya manusia lain dengan buntelan buntelan selamatkan diri, “tak ada yang perlu diselamatkan.”

tikus tikus air kepanikan berenang beriring cemoohkan manusia yang ikut ikutan hidup di air. kotoran kotoran isi perut berenang santai dengan segala gaya mengkudeta udara dengan bauannya. orok orok putih timbul dari celah celah ketakutan cari kehangatan rahimnya utusan istana selokan. kau menatap, memilih senyum bibir bibir putih.

“adakah yang kau suka?” tanyamu.

jangan ini, tunggu saja iringan calon calon pejabat. ini hanya iring iringan yang tak bedanya dengan kita, penikmat waktu kosong. benih dari derak derik ranjang malam lokalisasi atau kamar kost dengus muda.

“atau yang ini saja,” tunjukmu pada iring iringan sperma sperma putih yang berkejaran.

lautan sperma berlari larian dari segala lubang kamar mandi, bilik penikmat bayangan. keheningan terbakar oleh teriakan teriakan mereka. menatapmu yang penuh harap membuatku mual. bau ruangan makin menajiskan pemandangan. aku terhenyak rasakan lautan mahluk memasuki zakarku. terasa kantung tak lagi kosong.

“mereka hanya sampah kemunafikan. ku beri kau benih di meja ini.” hiraukan air yang terus angkat permukaan.

Tuhan Bisa Cemburu

Bumi berputar, angin kosong melompong. Suatu titik putih menarikku melalui lorong panjang trans ke nisbian. Seperti sebuah sel sperma yang melahirkan jutaan sel-sel tubuh. Dan tubuh polos lahir di alam yang baru. Tapi aku bukan sebagai bayi. Menjadi mahluk yang bersinar di keindahan alam yang menyejukan mata kalbuku.

"Selamat datang anakku, di firdaus." Suara yang bergetar itu memancing penglihatanku ke arahnya berdiri. Di sampingku.

"Mari menuju surga dan neraka."

Dia mengajak ku. Tidak berjalan juga tidak terbang. Hanya seakan cahaya tubuhku, garis-garis tubuhku tertarik ke arah alam pikirannya. Di depan surga. Bukan kolam susu ataupun lautan padang hijau. Kumpulan ruh-ruh yang bersinaran. Dan mereka menyapaku.

"Sahnti"
"Sadhu"
"Sancai"
"Shalom"
"Shalama"
"Salam"
"damai"
...........

"Bukankah mereka berkata-kata dalam agama berbeda?"

"Bukankah semua agama mengajarkan perdamaian? Lahir dari zaman berbeda, kebudayaan berbeda dan ekspresi berbeda pula. Tetapi bermuara pada pesan yang sama. Damai."

"Tetapi yang terjadi justru kebutaan makna. Perbedaan kata menuju kebencian dari pemanipulasian arti. "

"Bukankah Yesus Kristus mengajarkan (Matius 6:10 dalam bahasa Aramaic): Te-ethe malkuthokh (Datanglah kerajaan Mu) Nehwe seb-yonokh (Jadilah kehendak Mu) Aikano d-bashmayo of-bar'o (seperti di surga begitu pula di bumi). Al Quran juga mengajarkan agar salam dapat tercipta di bumi, disampaikan pada sesama mukmin dan non muslim (QS Al-Nur 24 : 27-29; Mryam 19: 47 ; 28:55). Memanipulasi salam akan merubah suasana damai di Jannat 'Aden (bahasa Arab) menjadi Jnana (sanskrit : pengetahuan ) Edan (bahasa Jawa). "

"Apakah Tuhan itu satu?"

"Bukankah Qul Huwa Allahu Ahad (Arab), Aham Eka Brahman (Sanskrit), Yahweh Eloheinu Ekhad (hebrew) menyatakan Tuhan itu satu? Bahasa dimana sebagai ekspresi Tuhan menyatakan Wahyu-Nya. Musa pernah bertanya pada Tuhan (Exodus 6 :1) Mah shmo (Apa nama Mu?) bukan bertanya Mishmo (siapa nama Mu?).Pertanyaan Mah menunjukkan hakikat (makna) dari nama, bukan sekedar menunjukkan nama tetapi mengacu pada kuasa di balik yang di-Nama-kan."

Selanjutnya ziarahku menuju ruang yang kelam. Pendaran merah meliputi ruangan. Apa yang dikatakan neraka itu diliputi api, tergambar pada jilatan-jilatan merah ditimbunan ruh-ruh yang terpasung. Dan ku dengar segala teriakan :

"damai"
"peace"
"demokrasi"
"pembebasan"
"dialektika"
"hentikan kekerasan"
.......................

"Mereka juga meneriakan kerinduan akan damai."

"Tetapi mereka tak mematuhi Tuhannya."

"Bukankah mereka mengajarkan dan berbuat perdamaian, humanis. Dalam bahasa dan jaman berbeda. Mereka mengelukan Hegel, Karl Marx, Lenin, Aristoteles, Mao Zedong......Mereka menyatakan damai dalam segala musik. Mencari perenungan pada ahli-ahli filsuf. Mencegah penindasan dalam segala pemberontakan. Bersyair menggali damai yang terkubur di kedalam bumi. Memperjuangkan satunya bangsa dalam internationalite. Dan lahirnya para militan-militan yang martir."

"Tak ada yang salah dengan kebaikan. Tetapi agama mereka adalah keringat. Dan kau pun tahu bahwa Tuhan juga bisa cemburu."

Dan akupun tercampak di lorong yang panjang. Lahir di sebuah fajar di bulan Juni 1901 di Blitar.

#tempat kami mungkin bukan di surga atau neraka tapi di hati mereka yang menuju surga atau neraka#

Catatan : beberapa kalimat aku lahap dari sebuah media Kompas di tahun 2002, setelah kongres tokoh agama dunia tentang damai.

15juli2002

sumber foto klik

Wednesday, 27 August 2003

Wah…nyeni

Matahari menangis di tiga sore. Angin lupa berbisik, bersama burung ada waktu yang menetas. Beranak segala kemungkinan. Tak sungkan langit terus berias diri, awan-awan sejenak berdiri. Kadang berlari. Opss…. tubuhnya dihujam burung besi.

Bocah kecil meringis di tiga sore. Lebih beberapa menit. Sejak detik lalu ia lupa bernafas atau mengembuskannya. Di dekat burung ada yang menetas. Plung…menenggelamkan diri. Di telan masa dan massa.

Bocah kecil meringis di tepi sungai. Jongkok di dalam kakus bambu di atas sungai yang menengadah pasrah. Di belakang ada gunung, dihunus petak-petak sawah yang kian merapat. Dari sini terlihat Basoeki memberi bingkai langit biru. Tak lupa pohon kelapa beberapa menyentuhnya. Ada titik-titik. Mungkin itu buahnya. Atau seekor monyet? Mungkin orang memanjat. Ah… hanya Bassoeki yang tahu. Sedikit riak ada pula di aliran sungai. Batu hitam. Riak melingkar. Malingkundang? Oiii… itu bukan pulau, hanya batu. Dan setetes biru. Langit menangis? Basoeki menjerit. Tangannya geram mengusap-usap. Buram. Berlalu. Banyak orang datang dan membelinya. Wah… indah.

Bocah kecil masih meringis. Di atas air yang kini biru mengalir. Mulutnya sinting menari, naik turun. Ia tak mengucap syair. Lupa ada melodi yang menanti dijemput. Hanya ada sejumput nyeri, cacing-cacing mencari mimbar. Gaduh dengan liuk tak tentu. Teaterial. Sesekali berjumpalitan, bergelut, meregang. Dan erangan, menekan. Ngeden. Plung…. Lagi-lagi air memeluknya. Berkecipak., bertepuk tangan. Sambil berdiri, Tejo memberinya judul.

Bocah kecil masih meringis di atas kakus. Sumpah mampus perutnya tak jelas, memberangus. Badannya kian mengering. Oleh hari membakar. Nilai yang kian terpanggang, kadang ada bara. Selalu ada abu. Abu-abu. Gerah, diraupnya air seni di dekat burung yang berceloteh bagai Rendra. Diusapnya pada rambut tebal bergulung milik Saut. Abrakadabra…… otak tumpul biarlah tumpul. Yang bergulung jangan berguling. Yang sumbing tak perlu malu tersungging.

Bocah kecil tak lagi meringis. Hanya menangis punggungi panggung kakus. Di sana ada mantera penjinak milik Sutardji. Sedikit amuk mengusik hawa udara tadi. Tak bau kata ikan-ikan. Tak serak kata udara. Tak, tak, tak. Ilalang bertepuk tangan. Akar rumput geram mencengkram. Di depan langkah, kerbau tertambat menanti. Tersenyum dan berucap, “mbouuw…nyeni”

Monday, 14 July 2003

Doa Seorang Sekuler

Ketika diam, hening berbicara. Dan waktu melukis suasana, memikat gelap untuk mampir tanpa curiga....

Kau nyalakan lilin
Menari-nari beralas raga. Berpendar, meliuk-liuk. Tumbuh menghirup dera untuk masa yang mulai berjalan, sedikit bergegas. Berkemas nafas lalui simpang-simpang yang menitip sejuta bisik. Pintu-pintu zaman telah terbuka, nyata terbaca berkabut tafsir. Tak sulit mengeja, tinggal logika mengendus mana.

Lilinpun mulai mencair
Mengalir membanjiri. Waktu telah durhaka, tak mau berpaling pada lalu. Terbajak mencetak petak-petak kabar. Goresan zaman yang kita titipkan keringat, terkadang ada mimis. Jika dulu ada dinosaurus dan sekarang badak, apakah kita bangga sekedar dari monyet menjadi manusia? Mari mencetak sejarah bukan menanti titipan nisan. Tembok tirani pun perlu mata, jiwa kita dipasung. Ia perlu kata, jerit-jerit digoreskan dengan gigi-gigi menganga. Ia perlu warna..... darah, kita benturkan logika untuk meruntuhkannya.

Lamat-lamat mengecil. Dan mati.
Senyap kembali berselingkuh, setelah Kau jentikan nafas menjauh. Semoga tidak siulan usilMu. Bersabar untuk waktu yang tiada bersahabat. Mungkin bukan detik ini, tapi aku yakin Kau masih punya lilin-lilin lain yang akan Kau nyalakan untuk teman menulis nasib-nasib manusia yang mengais.

Kalimatuka tunirul tariai,
alleluia
Kalimatuka tifirul hayati,
alleluia
sabdaMu jadikan semangat hidupku
amien


13julii2003

Monday, 30 June 2003

Malaikat Putih nan Kurus

Puntung kedelapan telah aku ludahi, sementara asap yang menari tak mampu jelmakanmu. Walau antara debar jantung dan nikotin sama ganasnya, rindu tak mampu jadi jantan. Nista berkutang harap-harap, menyembul bagai bisul berputing tiga. Dan nadi mencari kanal, menunggu tengkulak yang mengangkang. Benih-benih telah ditanam setelah tanah lama mematung diri.

Dan mentari tatap sela lubang berkarat, teropong bintangku. Mengukur petak-petak, yang kutanam di musim luka kini berbunga. Kusiangi menanti buntingnya. Bersama rindu yang merajam, bulir-bulirnya tertawa sumbang. Plong! Kosong melompong. Songsong amuk sungsang. Sanggahan tak berakal ketika mata membakar berjuta kata. Di atasnya terhampar kitab-kitab tua. Kayu bakar bagi galau yang pecah bersama malaikat-malaikat yang berhamburan keluar.

Peraduanku hanyalah kekal di kesunyian. Bunyi menjadi ayat-ayat setan, namun senyum tak mampu tepis luka. Bayangan itu menjadi pelangi setelah tangis melaburi doa. Atau pinta di ujungnya, di sebuah perigi. Akan kuculik kau setelah menelanjangi aku. Berlari di antara onak duri yang telah kita persiapkan. Menjilati luka, kita tiupkan desis.

Dan kembali aku hanya onani di sepi yang bugil.

Oh, peraduanku hanyalah kekal di kesunyian. Bersama puntung-puntung lain aku ciptakan sebuah padang. Berkabut di antara jejak-jejak yang datang dan berlalu. Dengarlah langkah-langkah yang ditimbulkannya, tak ada ragu berpaling. Menari sambil berlompatan, bersama amis yang sunyi. Dan terbang singgah di surga dihujani tatapan malaikat-malaikat gosong. Jangan takut, aku hanya akan berhembus menjadi mimpi di malam gadisku. Peraduan abadi. Dikutuk menjadi malaikat putih nan kurus.

Wednesday, 4 June 2003

aku akan datang malam ini

"aku akan datang malam ini"
dan aku mematut diri. mengeringkan lautan luas yang masih menggenang. ombaknya menjilati cermin, kian retak oleh deburan yang entah berjarak peristiwa apa. kilau nakal fajar mengetuk-ngetuk sejarah, berbingkai kata dengan lumut yang kian menenung diri. tersisa debu-debu menebal bersama kelam dan saat resah mendaki, kerikil kemungkinan menjungkirbalikkan penat, meluncur bebas menebas onak peraduan. perih....... menerbangkan debu. pada dasarnya aku meraba peti tua, tertoreh sebuah mantra, kata tua 'kasih'. ku teteskan liur pada setiap akhir suku kata dari doa-doa yang menganga. mencari tepi kebodohan jiwa yang terentang di setiap langkah berpijak. budak biarlah hengkang dari penjaranya dan kekasihku meraja di gelisah yang telah kurajang di menit-menit lalu. dan kembali aku mematut diri. di wajah tiada lagi lukisan, senyumku kini adalah kejujuran janji tiada berselingkuh galau.

"aku akan datang malam ini"
bersama pinta-pinta yang melambai-lambai, ku buka tingkap-tingkap sepi. menguapkan bulir-bulir gigil yang onani. tak ada lagi mimpi dan hayal. mentari telah menikam kesadaran. tepat di ujung belatinya. ku susun setiap tapak menjadi bahasa baru. baku bagai detik-detik yang berbaris menuju menit. dan berdentang. buumm..... oh itu sebuah palu godam. menghantam kerdilnya rancangan hari. sendi-sendiku gemeretak memikul otak yang berpusar cepat. ini bukan rancanganku. istana kartu-kartu tarot menelan bom waktu. telah lama membius menjadi materai nafas-nafas. dan di sudutnya laba-laba hitan menenun diri, suntuk pada keruwetannya. rumah jiwa berdinding logika, di setiap pertemuannya ada moral yang memaku. dilaburi pekatnya ideologi yang kini abu-abu, mencoba menjaga dari rayap-rayap zaman. tapi mengapa masih ada hampa? ruang tak bermata, arah yang dituntun si buta. sementara tongkat hanyalah nasib yang menjilati jejak-jejak. ku harus membakar hening dan sampah-sampah diri yang teronggok di setiap kesal yang pasrah. bersama tingkap-tingkap yang telah menganga, asapnya menjadi pertanda dari kubur sepi. di detik yang terkulai, berjuta merpati merangsek masuk. pada cakar-cakarnya terselip berjuta carik kertas, dari kitab-kitab tua, samar tertulis 'damai'

"aku akan datang malam ini"
ya, kekasihku akan datang malam ini. mengetuk pintu yang duduk manis menunggu. saat terkuak, perapianku akan memberi terang menghempas pekat di luar sana. percikannya memberi nada-nada, lagu yang indah buat tarian kita. tarian jiwa yang tak lagi meracau. namun jelaga malam kian sirik dan angin meniupkan kesal membawa rintik-rintik penat penantian. jam di dinding berdentang sombong tak ada niat untuk melayat. penantian telah mendinginkan santapan di meja persembahan. meracuni anggu-anggur yang kini mulai terasa asam. kelu di bibir bergetar menyusun harap. pelan menghantar akal pada peraduan hening, lelap di pangkuan kursi tua. seperti kemarin, kekasihku hadir di mimpi dan berucap, "Aku telah datang malam ini. di hatimu. saat rumah jiwa telah bersih dari luka semusim. manjakan Aku sebagai imanmu."

Thursday, 24 April 2003

Sebuah Kesetiaan

.....masa berkabung, saat ku berduka menuju sukacita,
menatap jejak-jejakMu yang tertatih menuju bukit tengkorak....
secarik catatan di bulan ini:


Sebuah Kesetiaan
: menjelang hari keempat puluh

Pada masa perang Utara dan Selatan di Amerika pada tahun 1861-1865 seorang serdadu Amerika ditangkap dengan tuduhan membelot. Karena tidak bisa membuktikan bahwa dia tidak bersalah, ia divonis dan dijatuhi hukuman mati sebagai pembelot. Seruannya untuk naik banding sampai ke meja Abraham Lincoln. Dan Presiden Lincoln berbelas kasihan kepada serdadu tersebut dan setuju untuk memberi pengampunan.

Serdadu tersebut kembali ke angkatannya dan ikut berperang sampai perang tersebut usai. Namun ia terbunuh di medan pertempuran yang terakhir. Ketika teman-temannya mengangkat tubuh dari serdadu itu, di kantung bajunya ditemukan surat pengampunan yang ditandatangani oleh Presiden. Kata-kata PENGAMPUNAN pemimpinnya begitu DEKAT dengan HATINYA.

Demikian juga seharusnya kita semua sudah mati, namun pengampunan itulah yang telah membawaNya ke kayu salib. Seandainya tentara Romawi tidak ada di sana, seandainya tidak ada pengadilan, seandainya tidak ada Pilatus waktu itu dan tidak ada kerumunan orang banyak, penyaliban yang sama akan tetap terjadi. Seandainya Yesus harus memaku diriNya sendiri ke kayu salib, Ia akan melakukanNya.Karena bukan tentara Romawi yang membunuhNya, bukan juga jeritan orang banyak, melainkan kesetiaanNya kepada kita.

Terima kasih buat kesetiaanMu. Bahkan kesetiaanMu ketika Engkau tergantung di kayu salib. Seharusnya Engkau sanggup untuk turun dari kayu salib itu, namun kesetiaanMu membuat Engkau memilih untuk tetap tinggal di sana. Sampai Engkau berkata “sudah selesai.”

Itu sebabnya kayu salib bukan kebetulan. Engkau menjadi miskin supaya kami menikmati kelimpahan. Engkau disakiti supaya kami disembuhkan. Engkau menanggung rasa malu supaya kami menerima kemuliaan. Engkau dihukum supaya kami menerima pengampunanMu. Engkau dijadikan dosa oleh dosa kami supaya kami dibenarkan oleh kebenaranMu. Engkau menjalani kematian supaya kami menerima kehidupan.

Atas dasar apa ya Tuhan sehingga Kau mengasihi kami, adakah sesuatu dalam diri kami yang begitu berharga, sehingga Kau rela memberikan hidupMu untuk menebus setiap kami?

Begitu berharganya hidup kami di mataMu, ya TUHAN.


taken from : Jeffry S Tjandra, Live Worship Recording

Friday, 28 March 2003

Tertanam di Jalan Tak Bertuan

Diriku masih tertanam di jalan tak bertuan, di bawah lintasan mentari yang menatap heran. Saat pagi membisikkan fajar bersama embun-embun memahkotai hidup bermula, udara dingin hantar kabar akan datangnya dirimu lalui sepi jalan ini. Setidaknya aku masih bisa menatapmu, sebelum engkau pergi ke sebuah perigi di tepi hutan melepas bau malam. Ohhh….. ku ingin tatap keluguan wajah pagi di air mukamu, pesona yang terlukis memerah di langit sejak tadi.

Tapi diriku masih tertanam di jalanan tak berujung bersama ilalang bergoyang sendu. Bukan oleh tangis rinduku, tapi teriknya mentari kian tawai ketololanku. Menghujam akal lahirkan bayang-bayang kelam yang menyembah. Waktu pupuki harap, walau diri kian kerontang pada cemas yang menjalar kian liar. Seonggok hati dustai akal, mungkin di siang hari, sang puan akan lalui jalan ini. Jinjing sebakul penganan untuk ayah di huma nanti. Ketika pagi ingkari janji, siang mungkin kabulkan ingin. Aromanya tegas menantang ragu. Semoga wajah di mimpi hadir di saat-saat ini.

Kian diriku tertanam di jalan ini, hari berduka pada gundah yang telah pecah meleleh kotori akal sehat. Muak pada ketololanku, mentari bunuh diri. Menenggelamkan diri di samudera tanda tanya. Untuk waktu yang berjalan bersama ajal, penantian bagaikan bintang yang berkerlip satu-satu. Kian lama kian samar menghilang di kegelapan. Pekatnya ragu terburai menjadi serpihan-serpihan tak terejakan. Tapi ku masih menantinya, berharap engkau lalui jalan ini setelah lelah bekerja di huma di kaki bukit sana. Nyala obor akan tuntun hatimu padaku. Atau kunang-kunang akan tunjukan jalan berpulang laluiku. Lalui seonggok daging yang kian menua ditemani belatung-belatung jinak yang masih menyisakan sekerat hati, mereka enggan menyantapnya. Oleh racun cinta yang tertanam di dalamnya.

Tubuhku tertanam di jalan tak berujung. Akan tetap menjadi kubur tandai jasadku bermukim. Akankah engkau tahu itu? Ketika hari telah kulahap habis akan penantian, di sini pula kubenamkan diri saat cinta bodohi aku. Mungkin ku tak bercermin pada danau peristiwa. Di harimu banyak jiwa sepertiku, yang juga berharap padamu. Ku hanya tubuh kerdil di antara jaman yang kian menggilas. Seperti janji ku dulu, ku nanti kau di sini walau tubuh berkalang tanah. Timbunan cinta akan kebodohan.

16/03/2003

Monday, 24 March 2003

setengah telanjang

di waktu hari bergaun hitam ketika bulan samar di cahayanya yang tinggal lima watt, aku setengah telanjang. antara kerinduan dan keraguan. seperti ucap berbekas dari mulutmu, "free to love and love to free." kelak udara kian malam kian berpusar tanpa arah, lelah termangu di titik menuju kutub-kutub yang menganga.

kesadaran datang terlambat, saat kusir tertidur lelah dilarikan kuda-kuda nan binal. kuakui pikiranmu sungguh merdeka, bagai coretan-coretan dinding sejuta huruf. terus menerus aku memenjarakan ingin dan kini tumbuh bisul-bisul hitam di dada. benih-benih yang terus meracuni, mungkin kelak akan pecah satu persatu sebagai perih-perih. atau mungkin berdentang bagai bunyi detik-detik sebelum tahun kemenangan datang. ini kekal tersamar sebagai apa?

tempatku meragu kini hanyalah dinding empat sisi. tempatku merindu hanyalah dering yang kunanti. kunikmati tanya di atas tipisnya kesadaran diri. selimut sejarah membalut tubuh setengah telanjang antara kerinduan dan keraguan. kapan kau kan berkata "bila kau tak merindu usah ganggu malamku." ohh betinaku..... usah malu, aku menanti suaramu untuk dering pertamamu. setelah jariku lelah sekian lama menyentuh milikmu. aku menantikan tawamu yang nakal.

tigakaliempat24maret2003

Saturday, 8 March 2003

Biarlah hidup bergulir apa adanya……

#hidup1
Ada seorang buta meraba rindu, resahnya menuntun mata hati, walau langkah lalui padang onak duri. Tak ada lelah pada sendi tuanya, tak ada kenihilan pada mimpinya. Berjalan di jalan tak bertuan, kelak dirinya akan berakhir di sebuah ketinggian. Ada batas bidang yang akan menghentikannya. Di sebuah perhentian di tepi jurang dalam, kelak ia akan tahu dirinya jatuh ke dalam teluk kasih atau di jurang dalam penuh belukar. Walau kelak ia jatuh ke dalam jurang dalam penuh belukar, Tuhan masih beri ia kesempatan. Oleh begitu besarnya kasih milik si buta, Tuhan beri ia sayap. Jelmakan ia jadi malaikat, bagi orang banyak. Kasih si buta adalah kasih yang membutakan diri.

#hidup 2
Sekian tahun aku jinakkan singa, ternyata ia ular. Aku bukan pawang ular. Kini aku tak ingin memanah elang betina, sang petualang sejati. Dan aku tak ingin menyimpannya dalam sangkar, seperti yang dilakukan para pejantan. Cukuplah ia ada di pundakku dan cakarnya cengkram kuat pundakku, bagai takut kehilangan diriku.

#hidup 3
Pernah merasa kehilangan sesuatu? Pasti ada rindu. Dan seorang buta ini susah menamakannya. Orang bilang, “itu gila!”
Tapi aku, si buta yang dikatakan gila, hanya bisa ucap,
“sesuatu tak kulihat namun aku merasakannya ada. Sangat jelas di hati langkahnya yang liar. Dan aku rindu ia karena ia tak terlihat namuan ada.” Itu awalnya.

#hidup 4
Apa mungkin ada cinta pada pandangan pertama? Aku menemukan sebuah kisah yang berabad-abad. Adam, si tukang kebun taman Eden, jatuh cinta pada ketelanjangan Hawa yang pertama di sebuah pagi. Bukan hanya pada pandangan tapi pada ketelanjangan. Dan kelak Adam memperkosanya untuk pertama kali.
Aku tak jatuh cinta pada ketelanjangan pertama, tapi pada sebuah kesintingan yang pertama, miliknya.
Ahhh, biarlah hidup mengalir apa adanya……….
Tanpa terbebani sebuah kekalahan yang menanti di ujung sana

jakarta, maret2003

Monday, 13 January 2003

Di penat penantian nanti

Pukul 6.05 : menantimu
Di bawah bibir ada rumput-rumput yang tak bernama. Aku mentahbiskannya sebagai umur. Cukup seminggu, ia akan kembali rimbun. Di Senin, kau akan menghadirkan titik-titik hitam, bersama titik-titik hitam lain yang melengkung di atas bibir dan di dagu. Aku tak perlu rimbunan itu, apalagi ilalang di dadamu. Engkau bukan monyet pingitan. Walau engkau sering menepuk-nepuk dada bagai gorilla memikat betina. Aku terkapar di pelukmu. Menghamparkan diri sejak lama.

Pukul 6.15 : masih menantimu
Suaramu di pagi saat sua bagai mentari berlari telanjang. Keringat selingkuh malam, terkutuklah menjadi embun. Aroma kelamin yang bertarung lalu, membaui pagi. Katanya ini aroma kebangkitan. Kesadaran bahwa hidup terus lahir di tetesan detik dari pinggul mentari yang bulat. Milikmu tak bulat. Petak mencetak getar. Apa kabarmu pagi ini sayang?

Pukul 6.25 : gelisah menanti
Aku tak perlu berucap. Cukup bibir berbahasa bibir. Nafasku menghantarkan kabar kerinduan di tiap-tiap malam. Lidahku menjejalimu kubur-kubur. Mengoles habis kerontang semusim yang tak bertuan. Basah di bibirku meracuni bentuk bibirmu. Mengigit dan mengulumnya menjadi bentuk-bentuk peraduan. Katamu di situ ada sisa-sisa tubuhku yang lalu.

Pukul 6.35 : kian gelisah, kian menanti
Selepasnya ku buta. Bisikmu menuntun. Matamu menyeret akalku. Detak jantungmu kabar-kabar yang tak ternubuatkan. Langkahmu pijakan kaki kiri dan kanan. Konon lututku telah lunglai di detik-detik lalu. Ruhku rebah di kedua tangan kekarmu. Seperti aku yang tak berdaya, aku banyak menanam harap. Tuaian itu kelak akan kusemai, tapi entah di musim apa. Saat pemangsa berenang-renang di kubangan awan, kelaminnya mencuri pandang. Sementara waktu telah mengumpulkan ranting-ranting. Kelam bersanding dengan lekuk genit garis tubuh kehidupan.

Pukul 6:45 : penat …. nanti
Nanti ada masa, masa ada kala
Kala ada hadir, hadir ada hari
Hari ada penat
Penat-penat di penantian akanmu. Senyum, rengkuh, bisik dan harap yang kian membunting mengandung bayi kembar bernama cinta dan cinta. Tapi bayi itu tak sungsang, walau badannya hitam berangka ganjil. Teriak nya nyaring berirama jeg-jes. Terulang beratus sperma berjalan tak tentu arah, rahimku tak kau sentuh. Kau biarkan aku terpaku lama mencarimu. Liar mataku membentuk pandang, menihilkan nafas-nafas lain yang bergegas.
Di penat penantian tak terjawab
Di penat hari yang kian menggigil, aku terkapar sungsang mencari bentuk. Di stasiun KA tempat kita berjanji, menantimu menuju langkah mengais kubur keping kehidupan di setiap pagi.

:dan tanganku masih terus bergetar, menggenggam kabar tragedi tabrakan dua KA sembilan bulan lalu. Namamu ada di sana bertinta darah.

12desember2003

Tuesday, 17 December 2002

Kala Kabut Telah Pulang

Entah apa yang menyebabkan kami hanya berdiam diri padahal sebelumnya tak ada kata yang salah ucap atau tingkah tak pada tempatnya, tak mungkin ada kecemburuan atau bibit perselingkuhan yang terkuak, wong bercerita panjang saja belum dinaskahkan, hanya sebatas kenal dia bernama gadis, ya, teman sepupuku yang berbaur menikmati indahnya kebun teh yang luas telanjang di depan.

Aku hanya bisa curi pandang selama itu tak dilarang, mencuri hatinya baru niatan sebelum akhirnya aku jadi penjahat pencuri jiwanya, ‘kan ku kurung di kamar-kamar hatiku yang tak berbatas karena hukum nabi pun tak mampu pancung niatan ku sebab kejahatan yang satu ini tak bersaksi, alibiku tercetak pada delapan penjuru angin, geraknya tiada berbayang bersama waktu kan tersusun ingin, pinta dan harap tindik menindik menjelma menjadi buku hidup.

Wujudmu tak samar jelas ada di antara empat tubuh yang mengantarai kita, memandang kabut yang malas turun menyembah pada embun-embun yang kian menua, aaaahhh…… mungkin seperti itulah harapku engkau hadir di balik kabut itu, berdiri, kan kuhampiri tubuhmu. Ijinkan aku menyeka embun yang nakal hinggap di rambut hitammu, lengkaplah sudah keindahan senyummu kelak saat jemariku usai mengusap tetes air yang bergulir ke pipimu.

Tapi bayangmu tak kujumpai di sana, hanya tapak-tapak kecil yang lincah berlari menyusuri jalan setapak di antara kumpulan pohon-pohon teh dan tangisan langit yang lalu melukis jejak sungguh pasti. Sungguh lincah langkahmu tinggalkan aku yang kian merapuh mencoba mengendus gerakmu, mungkinkah aku yang lama menepi mampu telusuri irama hatimu sementara cinta bagiku bukan lagi bagai permen yang hanya mampu meninggalkan manis atau asam di bibir saja. Bagiku cinta seperti buah larangan di taman eden yang dikerat oleh hawa dan adam, setelahnya kita sadar telanjang, sadar ‘tuk berniat sama, menjalani kutukan bersama, bukan sekedar mabuk oleh dawai-dawai petikan cinta dan jikalau nada menjadi sumbang kita ‘kan pasrah menyerah pada jalan yang bercabang-cabang.

Lambat laun langkahmu dapat kutarikan, tarian lalu yang pernah racuni sendi-sendi lututku, terjerembab di langkah terakhir. Kini tak kaku lagi, wangi tubuhmu terserak pada dada yang berguncang hebat, oleh ketidaksadaran mungkin atau keragu-raguan? Otakku menepis semua kepasrahan, selagi hidup bukan kendi-kedi berlubang, tak ada waktu tersisa.

* * * *

Tak terasa baju hangat ini kian menipis, angin nakal mencubit tubuhku, menyelesap lalui pori-pori membius kulit. Hangat tubuh kian terhantar keluar menjadi sama dinginnya dengan angin yang lalu. Angin itu membawa teman, kabut yang masih bermantel putih, kian lama kian manja menari di antara daun-daun teh yang pasrah pada pelukan alam.

Tapi di mata lelaki itu aku jumpai kehangatan, ribuan binar-binar yang terbang pada setiap pandangan. Adakah pemilik tanur keabadian itu? Seseorang yang setia menjaga ranting-ranting tetap marak melelehkan kebekuan. Keteduhan yang menghangatkan. Bila Tuhan ijinkan biarlah mata itu dikutuk menjadi milikku saja.

Kabut ya tetap kabut yang masih putih, entah dari mana mereka bertiup yang pasti lereng dan lembah juga bebukitan kian terwarnai. Tutupi pandangan bagi kaum pejalan yang lama merindukan teduhnya sebuah naungan, ya rumah keabadian. Peneduh yang lama aku impikan di usiaku yang masih belia, tapi aku masih was-was pada bayang-bayang di antara asap putih yang tersamar. Aku bukan kaum peragu, aku telah membangun rumah jiwa dari mimpi-mimpi. Sketsanya sungguh jelas, pondasinya kuat menahan, dinding dan atapnya tak tergoyahkan. Kesetiaan bagi mereka yang ingin bernanung di dalamnya bersamaku.

Penantianku di kursi tua di depan pendiangan api tak berbekas nyanyi, hanya percik-percik ranting yang terbakar dan suara angin kian mengusik di luar sana. Jendela telah terkunci rapat, tak kan ada suara dentuman daunnya yang saling menghantam, hanya sesekali burung hantu mencoba menggoda nakal. Akankah ada jejak-jejak melangkah mendekati pintu dan mengetuk? Andai ada suara yang memanggil namaku, kan ku buka baginya. Sebab rumahku tak bernama, tentu ia telah mengenalku. Dan biarlah di depan pendiangan ini aku berbagi kehangatan, mengisi kekosongan waktu yang kian menambah tebal debu-debu di peraduan. Merajut cerita kalahkan simpul-simpul di sudut-sudut langit rumah milik laba-laba hitam.

Oh, mungkin aku meracau. Mana mungkin ada petualang mampu tembusi badai kabut tebal itu. Langkah mereka akan terseok-seok terjegal akar-akar kayu yang lama menyelonjorkan zaman, kelelahan. Sementara mata angin lama tertidur, berputar bersama mimpinya. Mencariku adalah kesia-siaan bila mata hatinya tak lagi menjadi lentera. Dan aku bukan puan kaum penggoda yang menyalakan api unggun di padang yang luas terbuka. Aku tak mampu menjadi penari-penari bagai dewi-dewi turun ke bumi mandi di pancuran menjadi incaran kaum pengintai cinta.

Biarlah rumah jiwaku tersembunyi, rapat menjadi teka-teki bagi kejujuran cinta. Walau penat memakan waktu sendiri, tapi aku yakin akan ada langkah yang menghampiri. Seperti di detik ketika penantianku buyar di keping-keping keraguan, engkau berdiri di depan pintu hatiku. Melangkah pada tempat tubuhku bersandar. Engkau mengenaliku, mengucap nama dan menawarkan kehangatan yang aku rindukan. Matamu melelehkan penantian, menguap jauh bimbang.
Kala kabut telah pulang, engkau berkata, “Gadis, pakai baju hangat milikku ini. Kau kelihatannya mengigil sejak tadi. Mari kita pulang, teman-teman telah menunggu di mobil.”

Puncak, 7desember2002

Wednesday, 27 November 2002

LIMA SURAT UNTUK IBU

Surat Pertama: Jakarta Bertambah Harum
Kapal telah terantuk di dermaga. Kakiku pincang melangkah di antara sampah-sampah Jakarta. Di antara bualan politik di serambi istana, botol-botol parum globalisasi, liur-liur yang menetes di pinggiran real estate, map-map lusuh bundelan lamaran, mayat-mayat hidup di kolong-kolong. Udaranya menyesakkan, tidak seperti nafasmu bu. Pagi tadi saudara kita juga tiba di kota ini. Aku sambut tidak dengan sirih, tapi lirih yang menetes. Tes. Tes. Tes..... Sungai memeluknya, menghantarkan mayat di tepi ini. Jakarta bertambah harum. Keringat, tangis, liur, bangkai penuh belutang.

Surat Kedua : Siapa Yang Menanak Nasiku Kelak?
Ingatkah ibu pada nasi yang dulu ditanak? Tutupnya naik turun, uap panas menyeruak. Rinduku pun tak bisa tersimpan rapat. Padamu dan manusia berkelamin sepertimu. Aku yakin dia cantik - seperti ibu - dalam gaun pengantin putihnya, setetes darah di sudutnya. Darah itu milik suaminya kini. Aku tak menyisakan apa-apa, perih-perih dari gaun putih di jemuran esok. Airnya menetes pelan, lamat, lambat, mampat benak sesaat. Mungkin pagi-pagi berikutnya, nasi di tanak untuk lelaki yang memeluk tubuh bugilnya. Dan tutunya naik turun. Siapa yang akan menanak nasiku?

Surat Ketiga : Kelelawar Menari di Purnama
Aku berada di antara keringat-keringat. Di antara dengus-dengus. Di sela-sela mimpi dan ronta tercekat. Tangan tak diam, otak menari gila. Beratus-ratus rantai mengikat jiwa-jiwa pada pilar-pilar roda yang meludahi keping-keping emas. Tiada yang berani berbisik akan gaji tak cukup atau istri yang belum pernah menggoreng ayam, atau anak-anak menanti baju baru di gerbang sore. Ada kelelawar berbaju emas menari cha cha di bumbungan atap. Telinga lebar amat awas. Taringnya meneteskan mazmur-mazmur nabi palsu, ia penetrasikan ruh-ruh kemerdekaan diri. Mandul dan robot berjalan, menanti di akhir bulan, ketika kelelawar menari di purnama.

Surat Keempat : Hewan Itu Tertawa Puas
Dulu si Iwan jadi gila karena menggigit anjing gila. Orang-orang menertawai ulahnya dan jadilah dia gila yang sejati. Dikumpulkan bersama manusia-manusia gila di rumah yang gila. Kemerdekaan ada di sana, kebebasan santapan utama layak dicicipi. Manusia adalah harimau bagi dirinya, harimau adalah manusia bagi dirinya? Mereka tercipta berkulit manusia. Mereka bukan bangkai walau jiwa dikucilkan bagai binatang. Dan binatang itu tampil di TV sore. Tertawa puas. Sebuah kemerdekaan tersimpul di bibirnya dari panggung dagelan. Bersama binatang-binatang lain, mereka berhasil memusnahkan manusia-manusia di Legian.

Surat Kelima : Biarlah Aku Kembali Lalui Vaginamu.....
Sepi di antara mimpi. Akal-akal yang palsu terselubung debu waktu. Malam dan siang bagiku kembar. Gendang telinga rindu akan omelan ibu atau cerewetnya betinaku dulu. Memakan hari, memuntahkan syair-syair. Tapi syair-syair tak kan menyilaukan betina-betina yang tak berpemilik. Peta harta karun di kain lurik lusuhmu telah menipu, walau bapak memukul manja pantatku untuk beranjak ke kota ini dan tapaknya jelas terlihat Mungkin Desember ini aku tak pulang, jangan risaukan aku. Jangan kirimi aku Sinterklas. Aku tak mengidam itu. Yang kuingin bila Tuhan ijinkan, biarlah aku kembali melalui vaginamu dan tidur untuk selamanya di hangat rahimmu. Aku rindu peluk dan kasihmu, bu. Di situlah kejujuran bersumber dari seorang wanita.

Bekasi, 27 November 2002

Friday, 1 November 2002

Kebebasan di sebuah pagi

pejalan kaki tergesa-gesa, mobil putih berhenti sebuah kaki yang putih menjejakkan aspal.
wanita mematung dengan sebuah buku yang telah tiga hari berturut-turut tak habis di baca
pekerja-pekerja yang menunggu bis jemputan, mahasiswa dikejar waktu
asap rokok, bungkus rokok, tukang rokok, knalpot bis bernyanyi, putiiihhhhhhhhh......
lelaki garang berjalan mengangkang, kelaminnya terbuka


tiga buruh menanti resah kabar thr yang tak jelas
sebuah mobil berhenti lagi, pemuda yang mencium wanita tua itu sebelum berpisah
Bom di legian, FBI main film di Indonesia, kotoran yang berbaris di cerita media pagi ini
Rambutan, Kp. Melayu, Depok, Tanggerang..............
dari arah yang berlawanan, lelaki garang berjalan mengangkang, kelaminnya bergoyang-goyang
klewer-klewer, masuk angin


Prittttt......
Bus kena damprat polisi, mobil hitam itu kena tilang
kantuk supir truk gandengan hilang,
supir kopaja ciut nyalinya


lelaki garang dengan jalan mengangkang berhenti :
mematung di tengah jalan
dengan rambut gimbal, badan jelaga pekat bercahaya
di tengah jalan
kemaluannya sungguh bersinar
ejek manusia-manusia robot para pekerja pagi

catatan di sebuah halte