Showing posts with label Jejak Puisi. Show all posts
Showing posts with label Jejak Puisi. Show all posts

Friday, 15 July 2011

selamat pagi tuhan



selamat pagi tuhan.
sudah kusiapkan segelas teh hangat untukmu.
airnya aku kumpulkan dari tetes-tetes tangis kami, dan aku tambahkan senja kemerahan di mata yang tak lagi tegak menatap kata-kata di kitabmu.

seperti biasa, aku tahu kau tak suka teh yang terlalu manis dan terlalu hambar.
cukup aku tambahkan saja setengah sendok doa, lalu tubuh bekerja untuk menyatukannya.

selamat pagi tuhan, salam buat Adam yang telah menghantarkan kami keluar dari Tamanmu.

edisembiring2011

Wednesday, 6 July 2011

Kemana Engkau yang Dulu

1290913418943463591
pejuang tua dan nasionalisme yang terjaga. bapak ini dulunya pejuang. menjelang tua dia memiliki hobi, setiap tahun baru dia menghias becaknya komplit ala tentara pejuang Indonesia dan nongkrong di daerah kota di bandung. photo oleh Gyoza Dagi. sumber foto : http://gyozangejepret.blogspot.com/



Kemana engkau yang dulu muda dan bersumpah?

Kemana bisikmu yang kau titip pada pacar senjamu di tapal batas kota?

Kemana dadamu yang terbuka dan menantang kaum barbar yang tak ingin hengkang?

Ah..... engkau mengapa cepat pergi dan terlalu mempercayakan negeri ini pada orang tua kami yang bermain mata dengan pedagang-pedagang asing.

Negeri ini perlu pengawal sepertimu, walau ku sadar gelisahmu akan menjadi ocehan kaum tua yang nyinyir pada anak-anaknya yang malas berpikir.

...... dan surat wasiatmu yang bersampul merah putih telah mereka singkirkan dan tanam di samping kuburmu.

pada nisanmu mereka sempat tuliskan :

bawa pergi igauan-igauanmu...

Saturday, 2 July 2011

Teringat pada Ibu


Memelukmu, mengingatkan aku pada sabarnya dirimu. 
Saat bajumu basah oleh kencingku yang panas.
Menuntun langkahmu, menyadarkan aku. 
Ketika dengan sempoyongan aku berusaha berlari, 
dan kau dengan takutnya menjaga agar aku tidak terbentur.

Bilapun kau kini selalu banyak bicara dan mengeluhkan nyeri di badanmu, 
mulutku mencoba ramah. 
Tersenyum seperti ketika kau dulu sabar mengajarku bicara 
dan mengajak tertawa.

Setiap malam selalu ada dongeng pengantar tidurku. 
Dan untukmu, kini aku berikan doa, di sisimu dengan nafas malammu yang serak. 
Semoga selalu ada pagi untukmu.

Wednesday, 30 March 2011

Senyum dalam Sebotol Bir

Champagne Popping
aku simpan senyummu dalam kitab tua,
sepotong bibir yang tak pernah jemu mengucap namaku
bentuknya sudah mampu mengucap sejarahku
apa lagi lekuk tubuhku,
dan desahnya jangan ditanya, bagai debur ombak yang mampu menyeret bulan

Sunday, 20 March 2011

Cinta yang Berkali-kali

13005842851604144866
Cinta oh Cinta

Cinta adalah yang jatuh berkali-kali

Jatuh adalah cinta yang berkali-kali

Jatuh cinta adalah berkali-kali

Maka jika cinta selalu datang dan pergi

Usahlah heran berhari-hari

Ada yang tersenyum berganti-ganti

Ada yang berdiri seperti resah menari

Ada yang mengadu pada tali

Ada yang bersembunyi di balik jeruji

Hingga akhirnya di banyak kisah fiksi,

Cinta selalu menjadi madu yang menagihkan

Melupakan ribuan lebah pemilik sarinya

Dan pencurinya, bersembunyi di balik judul-judul berserak.

...... cinta adalah yang jatuh berkali-kali

sumber gambar : hendrawanku's blog

Sunday, 26 December 2010

Parade Puisi di Kamar Remang

Foto BK di dinding
Desahmu, nikmatku
Hidup di desa damai, di kamar ini surga             
Sampai kapan aku harus begini………
Aku tak mau dimadu, ku tunggu dudamu
Ibu aku salah, maafkan aku
Badanku milikmu, kantongmu aku yang punya
Bang Joni jangan lupakan aku

Semua lelaki sama, hanya jujur di ranjang

Sungguh indah janjimu, perawanku kau renggut      
Jangan pernah berharap cintaku, aku milik semua                     
Anakku, jangan pernah ikuti ibumu
Turunkan sewa kamar, naikkan tarif perjam
Goyang dombreeetttt……..
Sesama sundal dilarang saling memotong Jaga langganan, beri goyangan terbaik
Jangan lupakan kami kaum TERTINDIH

Hidup Soekarno, hidup kaum
Soendal!!! **

Bahasa yang sama hanya di ranjang, desah……
Satu hati satu rasa , sama-sama enak tenaaaann …  
            Hanya satu kata, LELAKI ITU BABI!!
** Yang ini adalah kisah kebingungan seorang pejabat kepolisian yang harus berkata apa kepada Presidennya. Sebab, ia baru saja melihat sesuatu yang bagus untuk dilaporkan, tetapi ia sendiri ragu, apakah itu kabar bagus buat Bung Karno?

Mereka menyaksikan potret Bapak digantung di dinding kamar-kamar yang berderet tadi.
“Di mana aku digantungkan?” desak Bung Karno.

“Di tiap kamar, Pak. Di tiap kamar terdapat potret Bapak, di samping, tentu saja ada tempat tidur, meja lengkap dengan bedak-gincu serta kaca hias,” katanya gugup, sambil sebelah matanya melirik ke arah Bung Karno, menanti dengan hati berdebar, apa reaksinya.

Karena lama tak bereaksi, pejabat kepolisian itu buru-buru menambahkan, “Pak, kami merasa bahagia karena rakyat memuliakan Bapak, tapi dalam hal ini kami masih ragu, apakah wajar kalau gambar Presiden kita digantungkan di dinding rumah pelacuran. Apa yang harus kami kerjakan? Apakah kami harus copot gambar-gambar Bapak dari dinding-dinding itu?”

“Tidak,” Bung Karno cepat menukas. “Biarkan aku di sana. Biarkan mataku yang tua dan letih itu memandangnya!" 

Sepotong kisah Soekarno bersumber dari blog Roso Daras.

Parade Puisi di Toilet (celoteh Dinding)

Apa yang telah kau ucap jangan dikecap
Oh…Jane I love U
 Jangan lupa kirimkan kabarmu, batin ini takkan lupa
 Indahnya tubuhmu, sungguh palsu janjimu
 Deritamu, deritaku
 Bilakah suatu hari kita akan bertemu?
 Setinggi-tingginya burung terbang akhirnya ke toilet juga
 Reformasi mandul, Amien masturbasi
 Jangan beri kami janji, tapi mimpi
 Jangan buang pembalut sembarangan
 SBY, perut kami sudah terlalu sering mules, kami lapar
 Mulutmu bau, seperti kotoranmu
 Besar kecil Rp. 1.000,-
 Dilarang ONANI, apalagi korupsi
 Setelah dipakai, jangan lupa membersihkan
 Jaga kebersihan, demi kemakmuran bersama
 Turunkan harga barang, tinja kami terlalu keras

Saturday, 4 December 2010

Yang Belum Selesai

1290913418943463591
pejuang tua dan nasionalisme yang terjaga. bapak ini dulunya pejuang. menjelang tua dia memiliki hobi, setiap tahun baru dia menghias becaknya komplit ala tentara pejuang Indonesia dan nongkrong di daerah kota di bandung. photo oleh Gyoza Dagi. sumber foto : http://gyozangejepret.blogspot.com/

Kemana engkau yang dulu muda dan bersumpah?
Kemana bisikmu yang kau titip pada pacar senjamu di tapal batas kota?
Kemana dadamu yang terbuka dan menantang kaum barbar yang tak ingin hengkang?

Ah..... engkau mengapa cepat pergi dan terlalu mempercayakan negeri ini pada orang tua kami yang bermain mata dengan pedagang-pedagang asing.
Negeri ini perlu pengawal sepertimu, walau ku sadar gelisahmu akan menjadi ocehan kaum tua yang nyinyir pada anak-anaknya yang malas berpikir.

...... dan surat wasiatmu yang bersampul merah putih telah mereka singkirkan dan tanam di samping kuburmu.
pada nisanmu mereka sempat tuliskan : 
bawa pergi igauan-igauanmu.

Sunday, 6 June 2010

Pecinta Perempuan


Aku adalah lelaki yang mencintai perempuan
                                                                                     (oleh edi santana sembiring)

Aku adalah kubangan akal yang menari-nari di atas derita diri
Bagai masa tak mau sudi duduk sejenak untuk bercerita
Sudah lama aku siapkan jamuan ini
Secangkir darah yang ku warnai dengan dengus najis
Agar kau sadar tubuhku penuh luka
Tertakik kuat cakar kuku-kuku betina yang lalu

Aku adalah usapan malam yang meninanbobokan bulan
Terperangah dalam pucat pasinya hingga ia malas berpaling
Di jurang dalam, aku menyalakan api unggun tanda tanya
Hendak di bawa ke mana cintaku yang suci
Sementara gelap malam kian menusuk mata hatiku
Menipu sepi bagai makanan yang harus ku santap di setiap maki

Aku adalah lelaki yang mencintai perempuan
Kesadaran awal adam yang menangis di kesepian tamannya
Diberi tahta onak duri yang rakus mencium kaki
Sementara para betina lari menjauhi jeritku
Melihat kelaminku telah tegar melawan waktu


Aku Selalu Berlari Bersama Mimpiku
(Oleh T. Wijaya)
Aku lelaki yang mencintai perempuan
Tidur dan minta disuapi nasi dari tangan perempuan
Hanya setiap bangun tidur, aku diam-diam membuat benteng
Mimpiku melulu mencintai banyak perempuan
Di ranjang, aku paling akhir yang tidur
Perempuanku mulai tua dan penuh kecemasan
Dia selalu memeriksa sepatuku
Meskipun aku mengatakan tubuhmu tidak terlalu gemuk
Perempuanku mulai tua dan penuh kemarahan
Dia selalu merobek pakaiannya
Meskipun aku mengatakannya, warnanya tidak begitu kusam

Aku lelaki yang lahir dari rahim perempuan
Berlari dan minta diperhatikan perempuan
Setiap mampir di warung kopi, aku membangun banyak keluarga
Mimpiku melulu punya selusin anak
Di semester akhir sekolah anak-anakku, aku paling takut pergi ke sekolah
Aku bersembunyi dalam pertemuan-pertemuan sesama lelaki
Aku lelaki yang mencintai perempuan
Aku selalu berlari bersama mimpiku
Aku lelaki yang lahir dari rahim perempuan
Aku selalu berlari bersama mimpiku

sumber foto klik

Sendiri Bersama Guruh Soekarno Putra

Malam ini aku mendapatkan sebuah keindahan. Dalam hening malam aku menemukan lagu lama karya maestro kita Guruh Soekarno Putra. Namun dilantunkan bukan olehnya, oleh seseorang yang juga takjub akan keindahan syair dan musiknya. Dengan kesederhanaan ia memetik kidung kedamaian itu, namun terasa kental ada rindu yang merambat di kamar ini.

Judul lagu adalah Sendiri dimainkan ulang oleh floatproject yang digawangi oleh komposer/penyanyi/gitaris Hotma “Meng” Roni Simamora.
Komentarnya tentang lagu ini :

Gw selalu kecanduan lagu ini sejak pertama kali denger waktu jaman sd tahun 80an. Lagu ini ditulis salah satu jagoan indonesia Guruh Soekarno Putra dan dinyanyiin jagoannya juga Chrisye di albumnya yg berjudul "Sendiri" yg dirilis th 1984 sama Musica Studio. Dari info yg gw cari via google, produsernya waktu itu Sendjaya Widjaya. Gw sempet punya mp3nya (setelah nyari kasetnya dimana2 ngga nemu2), tapi sayang kwalitasnya ngga bagus. Kepengen punya versi remasterednya tp kayaknya ngga bakal dibuat krn mungkin dianggap "kurang menjual" utk jaman sekarang. Sejauh pengetahuan gw emang ngga banyak orang yg tau lagu ini. Aneh. Padahal menurut gw lagu ini bagus bgt (atau gw yg aneh?). Sebuah masterpiece yg wajib diperdengarkan keindahannya ke audiens jaman skarang. I hope this version could represent the vibe.

Sengaja komentarnya tak diedit kalimatnya, agar sesuai dengan suasana hatinya saat menulis komentar tentang lagu yang dinyanyikannya ulang. Bersyukurlah saya, ia multi talenta dan mampu membawa mas Guruh ke kamar ini untuk sama terbunuh dalam sepi.

Saya sudah berusaha mencari lagunya namun tak menemukan versi aslinya yang dinyanyikan oleh Chrisye dengan diiringi oleh piano saja ditambah saxophone di bagian solo. Dengan kesabaran, saya mendengar dan menuliskan syair-syairnya. Begitu indah. Berikut ini adalah syairnya :



sendiri berjalan di tengah malam nan sepi
kian jauh melangkah semakin gelisah
sendiri termenung di larut malam nan hening
hatiku semakin gundah, oh mata membasah
bayu dingin lalu bintang mengerling sayu
rembulan menyuram tiada terbayang harapan
sendiri melangkah di jalan remang membisu
ku nanti engkau sinar bersama sang fajar




sendiri termenung di larut malam nan hening
hatiku semakin gundah oh mata membasah
bayu dingin lalu bintang mengerling sayu
rembulan menyuram tiada terbayang harapan
sendiri melangkah di jalan remang membisu
ku nanti engkau sinar bersama sang fajar

Dan dilantunan yang ke 15 kali aku putar ulang, aku menatap resah dan melahap malam dengan sebuah tanda tanya. Aku torehkan sebuah puisi sederhana yang mungkin tak sebanding dengan karya agung mas Guruh di atas. Berikut ini yang aku tuliskan :

sendiri


di manakah kau yang kini terapung dalam waktu terentang
yang melaju terhunus menuju pelukan malam
udara kini terasa kosong membuat ada tanya meringis
dan kabut samar hilangkan sebuah bayangan
kian tenggelam bersama keringat malam


sementara waktu mendayu membisik sinis
mengejek bulan mematut diri
akalku terbenam pada mata kakimu
yang melangkah entah membaui apa


esok aku hanya menanti sejuta cerita dari derita yang kau tatap
dan selanjutnya, aku tak lagi merasa terbaring di lantai yang miring

Sendiri termenung dan melangkah di larut malam ini, sementara mata hati basah menatap resah yang semakin gundah. Entah suasana apa yang ada dibenak mas Guruh saat itu namun sesosok fajar yang dinanti kembali, semoga lahir bersama sinar yang berpendar.

Seperti juga diriku yang menantikan seseorang yang merapat di pelabuhan dialektika menuju Indonesia tanpa resah dan gundah. Semoga ia tiba bersama fajar yang ditentengnya pulang.

Thursday, 5 May 2005

Simpan Saja Suaramu

Simpan dulu suaramu. Saat ini mulut tak perlu menganga. Hanya hening terkesima pada alunannya. Suara perut-perut kita. Tak perlu membaca nada, ada tenor di belakang sopran. Indonesia raya menjadi nasi basi. Hanya itu yang bisa dimamah biak. Seperti cerita pengantar tidur. Dan penat kita dielus ibu, menuju negeri khayalan.

Simpan rapat suaramu. Serigala pulas di leher-leher mereka. Sedikit berderak akan memancing liurnya. Sementara pundak-pundak kejang menahan berat. Beban yang kita tutup rapat di antara gigi-gigi. Menimbun tuaian semusim, itupun penuh dengan tikus-tikus lumbung. Bisikan yang dititipkan angin globalisasi.

Simpan saja suaramu. Teriakan mereka ekstasi. Melukai langit mendung yang lama paceklik. Tanpa bintang-bintang, awan tetap indah. Berarak di antara masa yang mengambang. Massa yang berserak. Tetap sebagai awan. Tetap dilaga menjadi petir. Yang menghantam bumbung atap rumah sekolah. Dan anak-anak kita lari dari didikan. Tak percaya ada banyak warna pada pelangi.

Simpan saja suaramu. Kotak-kotak* itu bukan surga, bukan pula neraka. Hanya jerat yang memperalat. Alas bagi sang waktu yang minta disunting, menuju tahta. Setelahnya akan menjadi titik-titik pasir yang lamat-lamat ditelan lumut. Memeluk rakus, akarnya serakah menghujam.

Simpan saja suaramu. Jiwa-jiwa hadir sebelum tanda titik. Bahasa menjadi pelacur, bugil berlari tanpa syahwat. Bola mata jujur menggelinding.
Basah, kering.
Membelalak, menyipit.
Berpura-pura, was-was.
Terpejam.

Dan suaramu menjadi suci, menyebut sebuah nama……
RahimNya.

Grogol, 22-12-2003
*gambar-gambar dalam surat suara pemi
lu

gelisah

mengalirlah…
mengalirlah mimpi panjang
telaga yang meluap
menggapai-gapai, hantarkan bulan ketepian
biarkan ikan-ikan berkecipak menciumnya
bagai dialektika yang terus berpusar
mana awal dan akhir

berhembuslah..
berhembuslah kabar yang kian tak pasti
amarah yang membabi buta
gelisahgelisah, ketika kata tak lagi terucap
orang-orang kalah bebisik menyayat malam
semoga esok Tuhan beri kiamat

pagi di depok,18september2004