Showing posts with label Jejak Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Jejak Cerpen. Show all posts

Friday, 15 July 2011

Aku mencari tuhan tanpa kartus pos.




sebuah pesan di pintu mesin pendingin makanan. 
tuhan pagi ini sengaja tak membangunkanku, ia hanya menempelkan secarik kertas :

"ketika kau membaca ini, engkau telah terbangun."


lalu aku menuju meja makan, perut begitu lapar. ketika aku membuka tudung saji, aku berharap tuhan telah memasakkanku sepiring nasi goreng. dan aku dapatkan, secarik kertas di atas piring. tertulis, "ketika kau membaca ini, kau sudah kenyang."

di pintu lemari, akupun melihat sebuah kertas kecil, "ketika kau membaca ini, hatimulah pakaianmu yang terindah." aku tahu, baju-bajuku telah membusuk di pojok kamar mandi.

Friday, 1 April 2011

Catatan pada Sebuah Perjalanan

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
Oleh Edi Sembiring
dimuat di Kompas.com tanggal 31 Maret 2011

Arakan berjalan lambat, meliuk mengikuti alurnya. Terkadang bunyi gaduh timbul dari benturan sesamanya, ritme jeg-jes-jeg-jes melantun statis tiada tinggi tiada rendah. Pepohonan belari kencang di kiri dan kanan, petak-petak sawah tersusun rapi bagai teka-teki hidup yang belum terpecahkan. Air mengalir jauh di bawah sana, tiada kebosanan pada riak-riak hidup yang terasa kaku, tapi laut membutuhkan luapan kasihnya. Sungguh sungai cermin hidup yang agung, memberi namun ia tak merasa kekurangan, laut adalah nama kumpulan kasihnya, tapi ia tak perlu memilikinya, ia tak perlu posesif. Karena mata-mata hatinya masih bening mengalir di relung-relung nadi tanah. Mata hatinya adalah mata kasihnya, kejujuran dan ketulusan tanpa pamrih.

Telunjuk Sang Presiden

ilustrasi oleh Bian Harnansa/Persda (Kompas.com)
Oleh Edi Sembiring
dimuat di Kompas.com tanggal 17 Maret 2011
 
Ruangan ini seperti gurun panas tak berbatas. Entah mengapa tiba-tiba keringat dinginnya menjalar membasahi punggung. Dahinya berkerut menyerupai garis-garis ombak yang berenang menuju tepian. Matanya tak berkedip, sejenak ingin lompat menggelinding jatuh.

Sunday, 20 March 2011

Terlukis (Telanjang)

13003876701802349209
Venus Verticordia 1864 - 1868 oleh Dante Gabriel Rossetti


Aku hanya bisa geleng-gelengkan kepala, tersenyum dan tak sedikitpun waktu untuk berniat melepaskan pandanganku dari matamu. Aku takut bila mata ini terpejam sejenak, engkau raib atau malah menjadi wujud lain.

Ya, sudah 11 tahun kami tak bertemu. Usia ku sudah menginjak 30 tahun dan engkau setahun lebih muda dariku. Tapi engkau tak berubah. Mata, bibir beserta senyumnya. Apalagi dadamu, hehehe.... Bila melihatnya hilanglah susah. Selanjutnya pasti sendal jepitmu akan melayang ke mukaku, dulu.

Apa yang dulu sering ku ejek padamu, kini sudah tak ada lagi, rambut gaya Nike Ardila itu. Mungkin kau sudah malu, atau mungkin diprotes oleh pacarmu. Pacar?

Aku terdiam, saat kau tanyakan apa yang juga ada dipikiranku untuk kutanyakan padamu, 3 detik yang lalu.

"Pacar? Belum terpikirkan, hehehehe..."

"Bohong! Atau... susah memilih satu dari sekian? Hehehe..."

"Belum nafsu untuk memacari mereka, hehehe..."

Tawa selanjutnya mengalir. Membawa kami ke masa-masa lalu saat begitu akrab di SMA. Tapi bukan sebagai sepasang kekasih. Hal yang tak pernah terpikirkan. Karena yang kami pikirkan hanyalah, bagaimana bisa membuat orang tua percaya pada kami selayaknya kakak dan adik. Bayangkan bila hari libur, tiba-tiba kami sudah ada di Jogya atau di Surabaya. Dan ibunya akan panik saat mendapat kabar itu melalui telpon di stasiun kereta api di sebuah subuh.

"Wah... anak gadis kok senekat kamu. Nanti siapa yang akan menjagamu?"

"Kan ada mas Heru, bu. Kami mau mendaki gunung."

Selanjutnya ibunya akan tenang saat kupingnya mendengar suaraku. Aku seperti biasa mencoba memintaa maaf untuk kesekian kalinya karena lupa pamit oleh alasan mengejar jadwal kereta api. Dan untuk kesekian kali ibunya akan kena damprat ayahnya yang mampu bersikap kasar demi anak semata wayangnya.

********

"Masih melukis?"

"Masih, beberapa pesanan belum bisa aku penuhi."

"Wah, aku mengganggu jadwal kerja mas Heru."

"Ndak apa-apa. Lagian aku ingin rehat sejenak. Penat."

"Aku mau dilukis lagi."

Aku memandangnya. Tersenyum melihat bibirnya. Senyum nakal itu.

Asap dari rokok yang baru kubakar meliuk menuju hidungnya. Dan ia segera meraihnya dari jepitan jariku. Menghisapnya dalam. Dan selanjutnya akan berpindah ke bibirku. Dulu, hal seperti ini merupakan ritual sebelum dirinya aku lukis. Tapi yang terbakar berbeda, daun ganja. Biasanya beberapa menit ke depan, tiada lagi rasa kecanggungan di antara kami.

"Apakah ada model lukisanmu yang juga telanjang?"

"Ada, sedikit. Tapi tak sepertimu. Perut mereka bagai tas pinggang."

"Hahahaa.... mas Heru tak pernah berubah."

Aku memang tak berubah. Menantimu. Hmmm... entah mengapa pertemuan kita di pagi tadi membuat hidupku kembali ada. Sangat berbeda dari apa yang aku rasa kini. Goresan kuasku begitu bernafsu, memindahkan dirimu ke dalam kanvas ini. Lekuk yang aku hapal. Dan kini masih sama. Dengan kulitmu yang bening serta rambut-rambut halusmu. Di tangan.

"Ke mana semua lukisan tubuhku?"

"Terjual habis. Aku sisakam satu di kamarku."

"Jangan-jangan gara-gara lukisan itu, tak ada cewek yang mau mendekatimu."

"Hahahaha... kau benar. Aku katakan wanita ini sudah mati di gunung Semeru hehe..."

"Sialan! Tapi mas..."

"Hmmm...."

"Kau selalu memandang lukisan itu?"

Aku diam.

"Menatapnya sebelum mata mengantuk?"

Aku terhenyak. Malamku hilang memandang dirimu.

"Menyentuhnya saat engkau rindu?"

Aku menelan ludah. Mataku terpejam. Berkelebat sejuta potongan-potongan akan dirimu. Senyummu. Gigi marmutmu. Tawamu yang berderai. Anak-anak rambutmu. Kupingmu. Leher jenjangmu. Punggungmu yang putih. Dadamu yang bulat. Perutmu yang rata. Dan halusnya......

*************

Cahaya dari luar jendela menepis mimpiku. Ternyata hari sudah tinggi. Aku bangkit saat menatap jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Hari ini aku ada janji dengan klien yang meminta untuk dilukis, di sebuah tempat di selatan Jakarta. Dan....

Aku menatapnya..... Rambutnya yang panjang tergerai menutup buah dadanya. Sutra merah meliuk di sekitar pinggangnya. Senyum begitu dingin. Dan matanya damai.... tertutup.

Ini bukan senyum dan mata yang ku dapat semalam, saat kami bercumbu di atas ranjang. Entah mengapa kali ini kami tak mampu menahan semua hasrat itu. Kegilaan di masa-masa SMA tak membuat kami tergoda untuk melakukannya, dulu. Padahal begitu seringnya kami berduaan saat berjalan tak ada ujung pangkal, entah itu menuju kota lain atau memasuki hutan. Mungkin karena seperti sebuah kebutuhan untuk menjadi abang dan adik.

Sebuah dering telpon mengusir lamunanku. Mataku berpindah dari wujud yang tergantung sebagai lukisan di dinding ini. Mencari arah suara berasal. Di atas meja.

"Halo....."

"Ya, bu. Apa kabar ibu?"

"Masih ingat dengan Raden Mas Harto? Tetangga kita dulu. Dia tadi pagi menelpon ibu dan meminta maaf. Nak.... ibu mau kabarkan, Ayu telah meninggal tadi malam. Dan suaminya pagi ini telah tertangkap."

Aku terhenyak. Terlukis sebagai air mata yang mengalir di dekat sebuah pohon tua yang kokoh.

sumber gambar : ArtSunLight

Ingatan Perempuan Buta

1295151899383855468
Perempuan Tua oleh Rembrandt

 "Pilihanku untuk membawanya kabur lalu mengawininya adalah pilihan terbaik bagiku. Walau ku tahu, ibu pasti tak akan menerima, ia begitu membenciku berpindah agama. Aku kawin lari karena ibu tak menyetujui. Ayahpun hanya bisa terdiam menatap ibu yang menangis sepanjang malam. Dan di sudut kamar, ibu tergantung ketika air matanya telah kering. Di belakangnya jendela melukis malam dengan bulan yang selalu ku tatap dari pulau seberang."

Asap-asap rokok itu sedang tidak menari, tak juga lama terbujur kaku. Silih berganti menyapa hidungnya, mungkin juga bagian dari niat mereka untuk membuatnya tak betah berlama-lama duduk di sini. Tapi mereka tetap menahannya untuk ketidakpuasan jawab atas pertanyaan yang dibangun entah untuk apa. Sementara perih mulai terasa kian menusuk. Ia tak diberi makan.

"Sudah tiga hari lamanya kau begitu memuakkan. Kami masih ada tugas lain yang lebih penting untuk dikerjakan!" hardik lelaki yang mulutnya begitu bau menyengat. Seperti endapan tembakau yang manja bergantung di rongga mulutnya.

"Bukankah sudah aku katakan, aku tak mengenal lelaki yang kau maksud," ucap perempuan itu dengan kesal, kata bapak telah berubah menjadi kau.

"Walah... apa susahnya untuk mengaku. Atau kau ingin hidupmu lebih payah lagi? Busuk di penjara?"

"Hentikan ucapan sinismu itu. Beruntung aku tak mengenal wajahmu, bila aku bisa melihatmu entah apa yang akan ada di benak ibumu, saat sepotong wajah bengismu ku bawa kehadapan ibumu. Hai anak muda, lupakah kau pada wajah teduh ibumu?"

"Bangsat! Perempuan sundal itu tak patut dinamakan ibu! Manusia apa yang tega menjual anaknya pada sekumpulan preman. Untuk diperas sebagai peminta-minta. Aakhhh..." Lelaki muda yang mulutnya bau itu menjerit marah. Ia menendang pintu dan sepertinya berlari menuju ruangan lain.

Jejak-jejak yang tersisa di ruangan ini hanyalah dengus nafas yang tak henti berpacu. Sepertinya teman-temannya bergumam tak jelas. Dengus mereka membakar lebih banyak lagi tembakau yang menggoda.

"Wah... perempuan buta ini ternyata mampu menakuti. Sudah tiga temanku, kau buat lari pada masa silamnya. Seharusnya kami yang menginterogasimu, ternyata kebalikannya."

Perempuan buta itu terdiam. Tentu tak salah ia berucap selama ini. Menegur lelaki dengan suara serak yang tega menggerayangi dirinya saat pertama kali dirinya dibawa ke ruangan ini. Lelaki dengan suara serak itu menghimpitnya ke dinding. Mencekiknya dengan sebelah tangan, teramat keras. Sementara tangan yang lain menelusuri lekuk tubuhnya dengan begitu rakus. Dengus nafasnya terlihat makin berat. Liurnya menetes di sudut bibirnya yang hitam.

"Apa yang kau inginkan dari tubuhku? Bukankah tubuhku sama dengan tubuh ibumu? Apakah kau merindukannya kembali? Perempuan yang kau rindu untuk selalu mengisi malam-malammu, saat ia pulang mabuk dari meja-meja judi. Kau diperbudak nafsu mudamu." Meskipun sakit melingkari lehernya, perempuan itu berusaha menegurnya, menepis agar dengus panas lelaki itu tak kian merangsek masuk ke hidungnya.

Sanin Lupa, Kalau Ternyata Tuhan Tak Boleh Beristri Dua


12951505291191987241
Jakarta Menjadi Gila, karya Imam Abdillah. (sumber ilustrasi : www.jakartaartawards.com)

Suara motor itu sudah tak asing. Seperti biasa ia datang sambil terkekeh-kekeh. Tubuh kurus yang kian menghitam hadir dengan peluh di bajunya. Mungkin kerah bajunya sudah penuh dengan daki, tapi untunglah rambut yang memerah itu menutupi hingga ke bahu.

"Bang, aku bawa uang koinan lagi. Dua ratus lima puluh ribu, hehehe..."

"Wah, lancar juga pendapatanmu. Gimana dengan rencanamu?"

"Rencana yang mana nih bang?"

"Wah, emang banyak kali rencana mu? Ya, rencanamu untuk punya bini muda."

"Hahahaha.... si abang masih ingat saja. Kalau rencana punya motor baru untuk bini sudah berhasil bang. De-pe (down payment) kebetulan hanya Rp.300.000,-. Untung si Gendut punya bos yang mau nerima. Nah, siasat untuk nyogok bini udah berhasil, tinggal dengan rencana selanjutnya, ngawini si Ipeh, hehehe...."

"Binimu emang udah setuju?"

"Mau tak mau dia pasti setuju bang. Paling-paling entar cuma nangis, lalu ngambekkan. Tapi pasti nggak bisa lama. Pasti dia rindu ke pelukanku hehehe.... Lagian rumah udah aku perbaiki, pakai bata merah. Nggak lagi pakai gedek. Dan kemarin udah aku buatkan warung kecil di depan rumah. Nah, sekarang lagi musetin pikiran buat ngumpulin uang untuk nikahan dengan si Ipeh hehehe..."

"Kapan rencana nikahnya?"

"Empat bulan lagi, bang. Kalau pendapatan lancar, pasti cepat terkumpul dananya, bang. Doain ya, bang, hehehehe...."

Selepas menghitung jumlah uang koin yang dibawanya, aku menukarnya dengan lima lembar uang lima puluh ribu rupiah.

**********************

Kian lama Wartel (warung telekomunikasi) ini kian sunyi. Hanya beberapa orang saja yang datang untuk menggunakannya. Paling-paling mereka yang ingin menggunakan fasilitas faksimili. Atau orang tua yang tak memiliki atau tak tahu menggunakan handphone namun ingin menghubungi anak atau saudaranya di perantauan. Seperti biasa, mereka akan meminta ku menekan nomor sesuai dengan nomor tujuan yang ditulis di kertas lusuh.

Padahal ketika awalnya tujuh tahun lalu, begitu susahnya memiliki perijinan dan mengumpulkan modal untuk membuka usaha jasa warung telekomunikasi ini. Malah ada syarat harus disurvei dulu oleh petugasnya, agar antara satu wartel dengan wartel lainnya tak berdekatan. Akhirnya setelah menunggu enam bulan lamanya, aku baru mendapatkan ijin untuk mendirikan wartel dengan 5 KBU (kamar bicara umum).

Hal yang tak terlupakan, di saat awal beroperasinya wartel ini, setiap malam minggu para konsumen ku berjejer antri. Malah terpaksa dibuatkan daftar antri, agar tak ada saling menyerobot. Apalagi ketika tarif murah diterapkan mulai dari jam sembilan malam, antrianpun kian menyibukkan. Waktu pun tak terasa kian larut saat aku menutup wartel dengan senyum ceria.

Senyum itu tak lagi hadir. Disamping suasana yang sepi yang menyebabkan kantuk selalu menggoda, terkadang ucapan sinis konsumen ketika aku menyebutkan sebuah nilai atas biaya percakapan yang terjadi membuat ku tersinggung.

"Kok mahal banget, bang? Ini mah nggak benar lagi. Argo kuda. Masak ngomong baru lima menit aja mahalnya minta ampun. Kok beda jauh dengan pulsa ha-pe (handphone)."

Wah, kalau kata-kata ini datang, mukaku langsung memerah. Seakan aku menjadi perampok pulsa yang berkuda hitam. Aku selalu mencoba menjelaskan, tapi sebelum kata-kata berakhir, suara lonceng di pintu telah berbunyi. Mereka berhembus pergi tanpa pernah kembali untuk menagih penjelasan yang selalu disiapkan di sela-sela heningnya ruangan ini.

Lonceng sakti itu tak lagi berbunyi. Aku namakan lonceng sakti karena ia mampu membuatku bersemangat dan menjadi begitu tampan dengan senyum yang terbuka lebar. Bayangkan saat orang hilir mudik datang, saat itu pula lonceng itu berbunyi akibat gerakan pintu. Saat mereka menyapaku dan menanyakan bilik mana yang bisa digunakan. Saat mereka memohon bantuanku untuk menemukan kode daerah tertentu yang ditekan sebelum nomor telpon tujuan. Saat mereka memintaku untuk berbicara di awal percakapan, karena ayah pasangannya ternyata yang mengangkat telepon di seberang sana.

Ada kalanya aku sekejab menjadi seorang pastor yang mendengarkan pengakuan dosa umatnya. Dari bilik sana beberapa kali terdengar isak tangis dan janji kepada pasangannya di seberang kabel. Ada yang berjanji akan selalu setia dan tak akan mengulangi perbuatannya yang mungkin menyebabkan sang pasangan sudah sekian lama tak pernah mau menerima telponya. Atau pengakuan yang sebenar-benarnya dari seorang cowok pada kekasihnya tentang alasan tidak datangnya ia kemarin.

Terkadang aku ingin memiliki sayap dan menjadi seperti Cupid, sang dewa cinta. Memanah cinta, agar di bilik sana tak terlalu bertepuk sebelah tangan. Terkadang aku ingin menjadi Khalil Gibran, membagikan syair-syair cinta sebagai mantera, sehingga mulut kelu yang susah berucap mampu mengungkapkan perasaannya. Tak hanya sekedar pembicaraan yang ngalor ngidul hingga tak sadar uang di kantong kian mengering.

Aku selalu mengingat muka mereka. Muka si Awan yang seakan masih tertinggal di ujung percakapan dan untuk kesekian kalinya ia tak mampu mengungkapkan perasaannya. Mata si Inong yang selalu memerah seusai melepas rindu dengan ibunya sementara sejujurnya ia ingin hadir malam itu di sisi ibunya yang sekarat di rumah ditemani ayahnya yang tua di Banda Aceh. Dan mulut si Kinanti yang terus menggerutu ketika tak mendapatkan pacarnya di setiap nomor yang ditelponnya. Entah mengapa pacarnya selalu menghilang saat malam minggu.

Di ruangan ini, aku menemukan wajah Indonesia melalui nomor-nomor tujuan. Percakapan berbagai bahasa yang membuat ku mengenal arti berbagai sapaan saat menutup atau membuka percakapan. Aku mendengar tak hanya kata tapi juga gerak tubuh. Ketika menerima pembayaran, aku mendapatkan tak hanya uang tapi juga menemukan kabar Indonesia kecil di ruangan milikku ini.

Tapi kini semua itu telah berlalu. Tehnologi begitu cepat berkembang. Alat komunikasi bukan lagi barang langka dan mewah, kini bisa dimiliki dengan harga murah. Bahkan didukung oleh pulsa-pulsa murah yang tiap hari ditawarkan oleh para providernya.

Lihat, iklan mereka begitu marak di televisi maupun media koran. Bahkan tak tanggung-tanggung, mereka menjanjikan bonus atau gratisan yang menghebohkan. Kalau perusahaan besar seperti mereka sudah menawarkan bonus dan gratisan, bagaimana pula kelak nasib orang-orang seperti aku. Ahh.... akhirnya kami tergilas, padahal dulu kami pernah menyambungkan nusantara dengan modal yang tak sedikit. Menutupi kurang baiknya sarana telepon umum yang disediakan pemerintah.

Aku harus berubah usaha. Atau mengekor mereka-mereka yang menjual pulsa atau aksesoris ha-pe (handphone). Atau mungkin menjual perangkat ha-penya. Hal yang mudah sebenarnya untuk dilakukan, karena tak sesusah dulu saat membuka wartel yang harus memiliki perijinan dan modal yang besar. Aku mencoba merenunginya di ruangan kecil Indonesia yang kian lama kian sepi.

**************

Sudah beberapa hari ini Sanin tak datang, sudah hampir seminggu. Padahal sebenarnya akupun tak membutuhkan uang koin-koin itu sebagai alat tukar, karena kian lama tak lagi banyak yang memakai fasilitas wartelku. Sejujurnya uang koin yang selama ini aku terima, untuk ditukar, bukan untukku. Kebetulan Ci Melan, pemilik warung sembako tak jauh dari sinilah yang membutuhkannya. Aku sudah menyarankan pada Ci Melan untuk berhubungan langsung saja dengan Sanin, tapi Ci Melan takut melihat wajahnya yang sangar. Kata Ci Melan, tak bersuarapun si Sanin, angkot hingga truk-truk besar di pertigaan Mangunjaya tunduk pada arah tangannya.

Ke mana dia? Apakah mungkin rencana perkawinannya dipercepat oleh alasan sesuatu hal? Kalau batal, aku meragukannya. Pendapatannya sungguh memukau. Bayangkan setiap harinya ia mendaptkan uang receh sejumlah Rp.200.000,- hingga Rp.250.000,- sebagai polisi cepek yang mengatur pertigaan yang sangat ramai. Hilir mudik angkutan pribadi, angkutan umum hingga truk-truk besar milik belasan pabrik yang terletak di salah satu jalan di sebelah dalam. Semua tentu memakai jasanya untuk mengatur agar keramaian itu tak membawa kemacetan, karena pertigaan itu lumayan sempit.

Untuk uang yang sebegitu besar setiap harinya tentu tak sepenuhnya ia miliki. Ia akan membaginya pada petugas yang tak segan-segan menyapanya. Atau membelikan teman-temannya yang datang dengan sebungkus rokok atau kopi atau mie kuah. Dan yang mencengangkan durasi yang dilakoninya hanya dari jam 6 pagi hingga 10 siang. Dia telah mendapatkan uang sejumlah itu. Selebihnya yang lain menggantikan posisinya. Jam kerja milik Sanin tak bisa diganggu gugat, walau banyak meminta jam yang sama untuk beberapa hari. Sanin telah membuktikan kengototannya dengan meninggalkan bekas luka dikeningnya.

Ahhh... lima ratus meter lagi ia akan tampak. Dari dalam angkutan umum ini aku akan melihat ia berdiri dengan seragam yang dibelinya dari pasar. Seragam pengatur lalu lintas. Pelan-pelan antrian berjalan menuju arahnya. Dan aku melihatnya berdiri di sana. Di trotoar tengah pembatas jalan.

Dengan seragam hijau (yang menyala saat malam), aku melihat ia berdiri sigap. Tegak menatap sambil memberi hormat. Ujung telunjuk tangan kanannya menyentuh kening. Aku mengeluarkan kepalaku ke balik kaca, sambil memanggil namanya.

Aku yakin ia pasti mendengar. Tapi ia tak menyambut sapaku. Menolehpun tidak. Ia tetap setia dengan sikapnya. Memberi hormat kepada lampu lalu lalu lintas yang menyala. Aku baru sadar ternyata di pertigaan ini baru saja dipasang peralatan lampu lalu lintas.

Seseorang yang duduk di sampingku berucap lirih, "Bang Sanin tak percaya, kalau akhirnya mereka tega memasang lampu lalu lintas itu. Padahal sebelum semua itu ada ia tetap setia mengatur lalu lintas dengan baik, termasuk setoran yang rapi. Tapi.... oleh karena niatnya untuk menikah, ia menjadi stress berat. Malu dengan keluarga dan ribut dengan istrinya yang minta cerai."

Aku menatap tak percaya pada gadis itu. Juga tak percaya ada tuhan baru yang menggantikannya di pertigaan ini. Masih terngiang ucapan Sanin dulu,

"Bang, niat awalku tulus mengatur lalu lintas. Kalau akhirnya diberi recehan aku anggap sebagai rejeki. Aku tak pernah memaksa yang tak memberi. Aku berdiri di tengah persimpangan seperti tuhan yang mengatur lalu lintas hidup."

Nasib kita kini sama, oleh tehnologi kita kalah. Bedanya Samin menjadi gila oleh mimpinya berbini dua. Sanin lupa suatu hal, kalau ternyata tuhan tak boleh beristri dua.

15januari2011

Edi Sembiring

sumber ilustrasi : klik

Friday, 7 January 2011

Telunjuk Sang Tuan

lukisan karya Agus Suwage
Ruangan ini seperti gurun panas tak berbatas. Entah mengapa tiba-tiba keringat dinginnya menjalar membasahi punggung. Dahinya berkerut menyerupai garis-garis ombak yang berenang menuju tepian. Matanya tak berkedip, sejenak ingin lompat menggelinding jatuh.

Di atas meja ini benda itu teronggok diam. Pemandangan yang mungkin terasa sangat menakutkan, memikirkan bagaimana ia bisa berpindah. Mulutnya tak terkunci, sudah lebih dari menit yang kesembilan bibirnya bergetar tanpa mampu menghasilkan suara apa-apa.

Entah siapa yang nekat mengirimkan benda ini. Atau kalau memang ia sudah terbiasa melakukannya, mengapa pula ia iseng mengirimkan ke alamatnya. Bukankah masih banyak jutaan alamat lain yang bisa dituliskan. Bahkan masih banyak nama lain yang serupa yang bisa ditujukan.

Ia mengeja yang tertulis. Benar, tak salah lagi, paket barang ini memang ditujukan kepadanya : Iwan Supomo. Alamatnya pun tak salah, lengkap dengan kodeposnya. Yang tersisa tentang si pengirim tak ada, hanya beberapa sisa tetes darah.

Sepertinya benda ini sudah mulai mengering. Semula terbungkus dalam sebuah kotak kecil bersampul kertas coklat. Kertas yang dulu menjadi sampul buku-buku saat SD. Dan di dalam kotak terdapat bungkusan plastik bening yang tertutup rapat. Di dalamnyalah benda yang membuat siapapun pasti tercengang bersemayam. Sepotong telunjuk.

Belum lagi ia dapat mengerti maksud benda itu dikirimkan kepadanya, tiba-tiba terdengar suara lain yang minta dipahami. Di seberang seseorang berkata,

“Halo, siang pak Iwan. Tolong diatasi segera demonstrasi yang terjadi. Saya ingin besok semua karyawan harus mulai bekerja. Saya tak ingin produksi kita terhenti. Pecat saja bagi yang membangkang, tak ada ampun bagi para provokator. Cukup hari ini mereka berkoar-koar. Saya tunggu realisasinya.”

Ia hanya mampu mengangguk. Keputusan yang sejak dari tadi pagi belum terpikirkan sudah ditambah lagi dengan datangnya benda yang mengejutkan ini. Ia lalu bangkit dan mengantongi benda itu yang kembali bersemayam di dalam kotaknya. Seperti sebuah kotak pulpen mahal.

*****************

Pemberitaan di televisi kali ini sangat berbeda dibanding beberapa bulan sebelumnya. Bila isu sebelumnya sempat reda oleh demam bola dimana nasionalisme berdiri membelakangi tiang gawang sendiri, yang terjadi kini menjadi buah bibir baru.

Para pengamat politik melihat gebrakan baru dari sang Presiden, saat tiga orang mentri dipecat karena usahanya untuk mensejahterakan rakyat malah menyeret-nyeret rakyat ke perdebatan rumusan siapa yang layak dikatakan miskin. Sementara hukum bergulir seperti mata dadu yang dilempar, susah ditebak. Dan agama yang seharusnya menjadi milik pribadi-pribadi, dijadikan komoditas politik murahan hingga menimbulkan bahaya laten yang baru.

Tak hanya di layar beling atau media cetak, di pasar-pasar para pedagang masih termangu, saat sang Presiden berjalan menghampiri mereka. Operasi pasar membuat para spekulan lari terbirit-birit dan lumbung-lumbung persembunyiannya disita oleh negara. Tak hanya itu, ia akan berjanji memberi tempat yang layak bagi para pedagang, sehingga tak akan ada lagi penggusuran lapak-lapak yang sesukanya terjadi.

Para guru, petani, nelayan dan buruh-buruh pabrik tak lupa dihampiri. Walau tak semua disapa, namun di tengah-tengah mereka sang Presiden berkata akan memperbaiki kehidupan mereka. Ia sudah muak oleh laporan-laporan yang menutupi kelemahan kerja para mentri. Ia bersama para staf ahlinya akan membuat skala prioritas terdepan. Skema terbaru adalah sang Presiden akan menampung langsung segera permasalahan dan membuat penyelesaian terbaik.

Pergunjingan ini tak hanya dikalangan bawah, kalangan wangipun terpesona. Mereka membicarakan raut muka wajah sang Presiden yang serius menatap kekesalan buruh sepatu yang tak mampu membelikan anaknya sepatu buatannya sendiri. Mereka membicarakan payung yang dipakai sang Presiden saat terjebak dalam gerimis ketika berdiri di pematang sawah bersama ratusan petani yang mengelilinginya.

Dan yang terbaru adalah tentang sarung tangan yang dipakai sang Presiden. Lambaian tangannya meneduhkan, bagai kipas mencuri angin.

Thursday, 6 January 2011

Ketika Waktu Terlelap

15 Ordnance Street (sumber : www.lilfordgallery.com)
Ia membayangkan ayam-ayam di belakang rumah beratap rumbia itu tak akan lagi berkokok jantan membangunkan tuannya. Ia membayangkan pagi akan sunyi saat ia menimba air untuk mengisi bak penampungan air untuk memandikan ketiga putrinya. Ia membayangkan istrinya menangkap kelima ekor ayam jantan itu sambil menggendong bayi mereka. Lalu menjualnya ke pasar.

Suaranya sayup-sayup terdengar di kamar sebelah. Suara batuk yang terdengar berat. Dan sebentar lagi pintu kamar itu akan terbuka, lalu ia melangkah menuju kamar mandi. Suara dari mulutnya akan terdengar seperti sedang mencoba mengeluarkan sesuatu. Seperti sedang meludah, atau seperti mencampakkan dahak.

Tidurnya malam ini tak kan puas. Dan esok aku akan menjumpainya dalam kondisi setengah mengantuk dan mendapatkan kenyataan ada aroma baru di rumah kami yang kecil. Bau yang menyeruak dari kamar mandi. Bekas kencingnya yang selalu lupa disiram.

Entah mengapa, semenjak kakek ditinggal mati oleh nenek setahun yang lalu, sikapnya terlihat begitu lamban. Ingatannya tak lagi berdiri tegak, seperti tubuhnya yang mencoba selalu bersandar saat menonton TV. Ia tak mampu bertahan lama duduk tegap. Ia tak lagi seperti kisah-kisah yang selalu dituturkannya saat kami selalu bertemu.

Ayah menitipkan kakek pada kami dengan alasan ia ingin menjauh dari saat-saat kematian nenek dulu, di rumah ayah. Ayah menyadari kakek masih terpukul oleh situasi yang di luar dugaannya. Usia kakek 83 tahun dan nenek tak terpaut jauh, 80 tahun. Usia yang sangat jarang dijumpai di negeri ini, apalagi bisa hidup bersama pasangannya hingga usia demikian tanpa ada percekcokan rumah tangga berarti.

**********

Wajah manis ketiganya membuat hari-hari terasa indah. Bahkan menjadi hiasan menawan saat para tetangga datang bertamu, walau mereka hidup di sebuah rumah beratap rumbia dan berlantai tanah. Namun senyum dan tawa ceria mereka, mengosongkan kekalutan.

Ini sudah bulan yang kesembilan ia tak kembali. Dan ini sudah bulan kedua anak mereka yang ketiga lahir. Namun wajahnya tak pernah hadir menatap ketiga anaknya yang masih kecil-kecil. Ketiga putri yang tak pernah merengek-rengek berlebihan. Ketiganya sadar, wajahnya menanti kabar tentang ayah mereka.

Siang itu begitu terik, hingga bayangan sang pembawa kabar tertinggal entah di mana. Sejenak ia berdiri menjadi tanda seru hingga begitu banyak jeda di mulutnya saat mendengar. Lalu ia memberi salam perpisahan dan samar menghilang di ujung jalan.

Selepas kepergiannya, matahari tak mau juga berpindah. Tepat di atas kepala, ia menelanjangi kekalutan. Haruskah  pergi?

Namun ia tak punya lagi pertimbangan lama. Bergegas ia masuk ke dalam rumah, mengangkat bayinya dari dipan bambu dan menggendongnya dengan sebuah kain. Ia berjalan menuju halaman belakang rumah, menuju sebuah kandang dan dengan sebuah harap.

Gadisku di Pulau Seberang

lelap (sumber gambar : www.chanchangirl.blogspot.com)
Malam ini langit begitu kelam, bintang tak ada lagi yang bercanda. Mereka pergi entah ke mana. Langit berjubah hitam begitu dingin, hawanya membuat segala mahluk menggigil. Begitu kencang angin menggoyang-goyangkan dedaunan. Pelepah pohon sawit melambai-lambai, bersorak-sorai bagai sebuah tarian meminta hujan. Mungkin akan turun hujan malam ini. 

Lelaki muda itu mengeluarkan sesuatu dari kantong kiri celananya. Lembaran uang lusuh, beberapa koin recehan. Bibirnya bergerak-gerak menyebut beberapa angka. Menghitung butir-butir keringat. Menyusun carikan-carikan penat. Nafasnya berat terhembus, seperti hari-hari kemarin, hidup seperti memanggul beratus-ratus kilo batu besar. Badan membungkuk pada nasib. Tulang bukan lagi dibanting, sudah hancur. Serpihannya justru mengaburkan mimpi-mimpi. Sebuah mimpi yang mungkin terwujud 1001 tahun lagi, kenyataannya bagai sebuah dongeng Abunawas. Akankah kau masih mau menungguku?

Angin malam ini begitu nakal. Menusuk-nusuk tulang. Kaki masih terasa kebas, terasa sendi-sendi mau lepas. Dia menarik sarung lusuhnya. Baunya sungguh tak sedap. Bau keringat mengenyangkan perut, sungguh nikmat, gantikan lezatnya wangi ikan teri goreng atau terasi bakar. Sungguh nikmat dengan nasih bungkus hangat. Tapi malam ini ia puasa, cukuplah siang tadi ia menikmati. Dan bibirnya tak lagi merasakan asap tembakau pengusir sepi, dadanya terasa sesak sudah sejak tiga minggu yang lalu. Sementara ia harus bisa terus bekerja. Atau ia akan kalah.
 
Kalah? Ini bukanlah sebuah pertarungan, bukan pula sebuah kesombongan. Tapi sebuah janji, dan ia akan kembali untuk memenuhi itu. Aku akan mengawinimu, bisiknya. Gadisnya tersenyum indah, matanya yang kecil mencari kebenaran pada ucapan lelaki itu. Ia tak meragukan, tapi ia menatap sebuah lautan yang luas. Beribu ombak dengan bibir-bibirnya yang begitu ganas. Dan pulau impain nun jauh di sana, di sebuah mimpi yang terkapar, terkubur.

Sungguhkah bijaksana kehidupan yang kita jalani? Adat yang begitu agung, terasa sangat kaku. Untuk sebuah perkawinan, belasan malah bisa puluhan babi harus tersaji. Aku tak mampu untuk itu, tapi aku harus mengawinimu, biarkan aku pergi untuk membayar mimpi, katanya kembali. Jangan ragukan aku, kasihmu ini bukan ahli nujum, tapi aku bisa menciptakan pundi-pundi uang dari butir-butir keringat.  

Gadisnya hanya bisa tersenyum, ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia senasib dengan puluhan mungkin ratusan gadis-gadis lain. Dan para pemuda, pergi berlari jauh dari pulau ini. Mengumpulkan keping-keping keberuntungan dari dompet-dompet mereka yang bernasib baik. Terasa mahal sebuah keinginan, sebuah alur kehidupan mereka. Walau banyak yang kembali melunasi janji-janji. Banyak pula yang tak jelas kabarnya. Anginpun tak pernah kembali membawa jawab atas ratap kerinduan mereka. Angin tak sampai hati mendapati gadis-gadis masih runtuh pada puing-puing harapan.  

Angin masih kembali tak bersahabat, ia membuyarkan lamunan. Bersamaan dengan itu, gumpalan awan hitam berteriak nyaring, menyeringai malam. Jutaan butiran air terjatuh ke tanah. Semua berhamburan. Belasan mahasiswa yang dari sore berkumpul di bawah pohon-pohon sawit itu, tampak jelas di kejauhan berlari mencari perlindungan. Permainan judi mereka buyar, lilin-lilin mereka padam. Tak jauh dari dirinya, di atas sebuah becak, pasangan itu masih mengayuh birahi, mereka tak terusik. Masih berdekapan, makin mendekap, dingin menambah birahi mereka.  

Lelaki itu kembali menarik sarung, badannya melingkar mencari hangat. Ia tak terusik dengan taburan uang di tanah pada permainan mereka. Dentingan uang mereka. Ia tak terusik oleh suara-suara birahi pasangan temannya. Ia sama seperti pasangan itu, menikmati malam di atas sebuah becak. Dan pada tempat parkir sepeda motor kampus ini, mereka berteduh. Atap ini adalah rumah mereka. Ia harus beristirahat, esok adalah kerja dan kerja. Untuk membayar mimpi, hidup.  

Gadis itu masih menunggu. Untuk waktu yang tak pasti. Mungkin ia akan bernasib sama dengan gadis-gadis lain, menjadi penunggu kembalinya mereka para pengembara. Atau mungkin kelak harus menjadi perawan tua. Dan ombak-ombak masih terus berlari-lari, menjilati sang mpu, di sebuah pantai Sorake, Nias.  

catatan perenungan :
sumber gambar : klik

Tuesday, 19 October 2010

Penggali Kubur

Penggali Kubur (sumber image : http://ratihkumala.com/)
Sementara mereka berkata tidak, aku berkata ia. Karena aku yakin, kubur yang merekah itu adalah milik orang-orang kalah. Tersebab kemarin malam, aku bertemu sang penggali kubur tepat saat bulan berada di atas ubun-ubunku. Kalau kau tak percaya, ikuti saja bekas jejak-jejaknya. Tak pincang dan tetap seperti sepasang kaki melangkah.

Ia pulang ke balik bukit, menuju rumah tersamar dalam malam. Menutup pintu yang dari dalamnya tak ada cahaya menyapa. Lalu dari kejauhan, ia terlihat menyalakan lilin besar. Duduk di dekat jendela sambil membuka sesuatu. Berlembar-lembar kertas lusuh dari sebuah buku. Mungkin nama-nama kita. Esok siapa?

Aku bertanya dan gemetar sambil berpegangan pada malam. Maka terlihatlah olehnya rona merah kegelisahan di bawah rerimbunan ini. Tatapnya menghentikan nalarku, hingga tak sadar segelas teh telah terhidang di depanku. Meja tua berbunyi kasar.

Esok siapa? Kalimat itu terucap berulang-ulang di otakku. Bibirku tanpa sadar terbuka, dari dalamnya keluar gema pertanyaan yang berulang. Hingga kelelawar-kelelawar di luar sana panik menyelamatkan diri, terlukis bulan tertusuk ribuan benda-benda hitam yang melayang.

Usah kau pusing, aku hanya diberi pekerjaan untuk membuat kubur orang-orang yang mati dalam kegelisahan. Mati dalam ketidak wajaran. Entah mengapa nama-nama itu semakin bertambah di buku tebal ini. Setiap jam tertulis nama-nama baru, mereka memang malas memutar otaknya, ucapnya.

Tertuliskah namaku?

Aku tak bisa memberi tahu. Tapi nasehatku berjaga-jagalah. Menarilah dalam waktu hingga tak terasa semua berjalan indah. Karena semua sudah dipersiapkan sang Tuan dengan sangat baik. Masing-masing punya kehidupan, masing-masing punya kematian. Dan tahukah kau, bahwa semua orang masing-masing juga punya penggali kuburnya.

Menatapnya, aku menemukan waktu berpuluh tahun yang mengecil di titik hitam mataku.
 Edi Sembiring

Sunday, 18 April 2010

Lelaki Telanjang di Cermin

Aku adalah seorang perempuan. Mempunyai buah dada dan vagina. Kian lengkap pula dengan rambutku yang panjang sepinggang. Hanya ini yang menandakan kelamin ku sebagai aku, selebihnya aku bertingkah bak kesatria yang tak berpedang. Walau berpedang pun mereka, selebihnya menjadi bayangan banci bagiku.

Di rumah yang tak sepi namun kerap ditemukan laba-laba menenun diri, aku menatap kaca jendela yang buram. Bukan ingin bergenit ria, karena semua cermin di rumah ini telah pecah berpasir-pasir saat amuk tak mau menyingkir. Aku muak menatap diriku di cermin itu di waktu yang lalu. Terlihat bayangan perempuan dengan dada yang ranum dan rambut yang panjang. Walau kadang aku sempat mematut diri dengan menatap vaginaku di tubuh yang telanjang.

Aku teringat saat dulu aku mematut diri di cermin, seorang lelaki memeluk erat tubuhku yang telanjang dan memainkan buah dadaku. Tak lupa ia menghampiri vaginaku. Dengus malam itu adalah basah setelah hujan lama datang. Aku terkapar. Menjadi mimpi gelap saat pagi tak menemukan dirinya di cermin itu. Oh, aku menantikanmu.

Penantian berikutnya hanya membuahkan sepi, walau aku mencoba berhias diri. Meluruskan rambut dengan jari-jari lurusku. Memuluskan kulit tubuh dengan lulur di kamar mandi. Bersenandung indah menepis sepi. Tapi cermin ini tak menitipkan dirimu, bertelanjangpun tak membuat mu hadir. Hingga berhari-hari aku bosan menatap tubuhku sendiri. Dan aku campakkan kursi yang juga menjadi tempat penantianmu. Dan tentangmu hanyalah serpihan-serpihan kaca yang tak lagi mempesonakan.

Aku mirip dengan ibuku, kecantikannya mengalir di tubuhku. Namun aku tak memiliki kekerdilannya dan tangis yang merenda hari. Aku juga tak memiliki kesabarannya. Aku hanya memiliki kerasnya watak ayah, awasnya mata ayah dan kerasnya kemauan ayah. Tapi aku tak ingin memiliki keduanya. Karena keduanya tak mampu melindungiku sebagai anak dan sebagai teman di sepanjang hidupku.

Saat ayah marah, ibu hanya bisa terkapar di sudut rumah. Menangis sejadi-jadinya. Sementara ayah dengan beringasnya mencambukku dengan tali pinggangnya. Ada sebuah korps terkenal di gesper miliknya. Lambang pemilik negeri ini.

Aku akan menangis dan lari memeluk ibu, setelah ayah puas melampiaskan amarahnya. Dan ibu hanya mampu membasahi rambutku dengan air matanya. Tak ada kata-kata, hanya tangis yang berkepanjangan. Dan aku melonglong hingga pagi, merasakan perihnya tubuh saat terbaring tidur. Dan mimpi tak mungkin hadir untuk memeluk manja atau sekedar merasa sama sebagai perih..

Aku malu untuk berenang, saat teman-teman mengajakku bermain di tepi sungai, di dekat barak kami. Bekas pecutan ayah masih berbekas dan akan berbekas lagi oleh pecutan yang lain. Dan mata itu selalu menjadikan malam yang menakutkan untuk setiap malam yang akan kujumpai saat ia pulang dari dinasnya.

Ibu penuh nasehat, dia melarangku bermain di belakang rumah. Di kejauhan sana ada hutan lebat, penuh pepohonan yang jarang dilalui manusia, terkecuali teman-teman kecilku yang berusaha mencari buah hutan. Atau ingin menangkap burung-burung dengan ketapel mereka. Dan biasanya, esoknya mereka akan menunjukan kepadaku hasil tangkapan mereka. Ahh,… aku iri dan ingin seperti mereka.

Mereka mengangguk dan menyatakan akan ada rencana perjalanan berikutnya. Saat itulah untuk pertama kalinya aku menepis nasehat ibu, aku ada di antara teman-temanku dan aku berjalan menuju ke kedalaman hutan itu. Hanya aku seorang yang perempuan dan lima temanku adalah lelaki. Kami bersenandung riang dan temanku memperkenalkan aku pada tumbuh-tumbuhan hutan. Pada anggrek hutan, pada belukar yang mempunyai bunga indah, pada rotan yang memeluk pohon, pada pepohonan besar dengan batang putih. Kata mereka itu pohon raja, dan di atas sana bertahta kaum bunian. Dan mereka berlari meninggalkan ku dalam ketakutan.

Di kabut yang turun tergesa-gesa di sore itu, kami tersesat. Lupa jalan pulang. Dan mereka menangis memanggil ibu dan ayahnya. Aku terdiam. Begitu lemahnya mereka. Kami beristirahat di tepi sungai di atas batu besar. Dan pekat malam mulai turun.

Esok paginya kami mulai berjalan, mencoba mengikuti aliran sungai, semoga ada perkampungan yang akan kami temukan. Kami jalan beriringan tak berjarak, takut terpisah dan hilang ditelan hutan lebat. Aku yang berjalan di belakang menatap bunga indah di atas bukit sana, aku ingin memetiknya, buat ibu pikirku. Kapan lagi aku bisa memberikan sesuatu baginya. Hingga tak sadar aku tinggalkan mereka dan berjalan sendiri. Namun malang, kakiku tergelincir ketika sudah ada di dekat bukit itu dan masuk ke dalam jurang.

Semua gelap terpapar, hanya aku bisa membaui kayu terbakar dan perutku menandai sebuah bau. Sesuatu yang dimasak. Oh, aku sudah di rumah? Aku bangkit bersama nyeri yang menyertai, namun tempat ini hanya gubuk beratapkan rumbia. Aku menatap pintu kecilnya dan sebuah bayangan mendekat. Aku bergeser dan meringkuk ketakutan di sudut ruangan.

Dia menatapku, dan memberiku sebuah cangkir. Wajahnya kaku dan tak bersenyum. “Minumlah, kau sudah lelah.”

Aku memegang cangkir yang dihantarkan ke arahku. Lalu meminumnya. Selanjutnya ia pergi ke luar gubuk ini dan kembali dengan sepiring ubi yang telah membaui ruangan ini. Aku menelan liurku, perutku tanpa dusta bersuara. Aku malu.

Esonya ia berjanji akan menghantarkanku, maka berjalanlah kami melalui pinggiran sungai. Aku menatap tubuhnya yang berjalan di depanku, kekar walau hitam legam. Dan pagi tadi, aku sempat melihat ia membersihkan tubuhnya di tepi sungai dan baru kali ini aku melihat kelamin laki-laki dewasa.

Tak terasa perjalanan kami sudah lebih tiga jam dan kami belum menemukan perkampungan. Kami masih terus berjalan dengan hanya berbekal air dan sebungkus ubi rebus sebagai pengisi perut. Tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara besar.

“Woiii, kau apakan anak ku?” tanyanya, dan itu bukan lagi tanya, karena dewa penolongku sudah terjerembab ke tanah dan diikut dengan tendangan kasar yang mengayun ke arah perutnya. Selanjutnya ada yang menarik tubuhku.

“Ayo pulang,” kata ayah dengan keras. Dia menarik tangaku untuk menjauh. Sayup-sayup aku dengar erangan kesakitan dari mulut lelaki itu yang telah dipukuli dan ditendang oleh teman-teman ayah. Ada yang meneriaki dia dengan sebutan pembunuh ada yang meneriakinya dengan sebutan gila.

Sesampainya di rumah, ibu hanya bisa mengusap rambut panjangku dan tangisnya mengalir membasahi. Dan kembali aku tak bisa tidur dengan bekas-bekas pecutan tali pinggang ayah yang tercetak manis di kulitku.

Dan aku masih mematut diri di jendela yang tak lagi bening, sementara laba-laba masih terus menenun diri. Aku terhenyak dalam keheningan mengingat tentang lelaki yang menyelamatkan hidupku. Pada senyumnya yang kaku, pada tubuhnya yang kekar nan legam, pada kelaminnya. Dan pada setiap cermin ia selalu memelukku.

Dapat dibaca di Kompasiana.com/edisantana

Gambar : Naked Young Woman in Front of the Mirror (Giovanni Bellini)
sumber gambar klik

Tuesday, 2 December 2003

Tak Ada Lagi Lorong yang Menatap Curiga


Banyak bocah berlari-lari. Berkecipak pada genangan air yang tak selesai mematut diri. Membiarkan usia tak cepat berjalan, hanya dunia anak yang tak mengenal hukum, hanya kepatuhan. Bukan karena bodoh mereka harus bersikap seperti itu, orangtua seperti layaknya gembala mengantarkan menuju dataran luas, berkerumunnya rumput-rumput segar. Menghalau menuju impian, menggiring ke arah pemangsa-pemangsa. Kekal peristiwa makan memakan menjadi rimba yang harus diwaspadai

Dan lorong-lorong itu masih menatap curiga. Sesekali tubuhnya tak sunyi kala pejalan kaki pasrah pada tatapnya. Meninggalkan jejak yang bukan satu-satu, patah-patah menuju ujung yang lain. Senyumnya basah, hari lembab sejak hujan enggan berlari jauh. Sudah tiga hari langit menangis, awan-awan diam menyimpan rapat peristiwa. Yang berarak hanya kabar-kabar kosong dan guntur menggelegar garang, kilat memberi tanda seru.

* * * *

Mataku menatap langkah yang berulang. Sesekali gerundelan tak jelas singgah dikupingku. Sementara si Cipluk terus–menerus mengoceh. Entah apa ucapnya, tapi badannya terus bergoyang-goyang, kaki kecilnya seperti menunggang kuda.

Cipluk menjerit. Ia menangis kencang seperti lari kuda saat tubuhnya dipukul. Pantatnya dicubit emak. Sepertinya emak kewalahan antara menyusun barang-barang dan menggendong adik. Mulut emak kian tak jelas menggerutu, yang itu-itu juga. Sudah lebih seminggu emak tak punya cerita yang lain. Tapi aku tak mengerti apakah emak ingin bercerita cerita atau bertanya. Suasana semakin tak jelas saat Cipluk kian bercerita banyak lewat tangsinya yang bersahutan.

Aku berlari menjauh. Tak ingin kena getahnya. Semenit lagi emak bakal melahapku. Tatapan itu, ya tatapan itu. Selanjutnya emak akan mengumpat, yang tetap itu-itu juga.

“Mana bapakmu? Lelaki yang tak bertanggung jawab itu. Kalau sudah begini, siapa yang akan membantu kita? Semua akan hilang. Mampuslah kita!”

Ahh… wajahku memang mirip bapak. Lelaki yang kami rindukan kabarnya. Dan emak selalu menatapku bila rindu, bila marah. Tapi bapak tak hilang. Ia akan kembali. Pasti. Kabarnya ia ada di Penang. Katanya sih di Serawak. Mungkin di Sabah. Ahh…. entah yang mana. Yang pasti bapak ada di seberang sana. Pasti kembali mak!

Liat saja, rumah kami lebih cantik. Tak bocor atapnya seperti dulu. Lantainya tak lagi tanah. Dan emak…. tak lagi berdiam diri hanya di rumah. Emak sudah sibuk berjualan. Sedikit banyak aku kecipratan permen atau kerupuk yang tak lagi garing, masuk angin.

Bapak masih ada. Dia ingat kami. Sudah dua kali mengirim uang sejak dua tahun ia tak lagi mengelus kakiku menjelang tidur, walau ia tak punya dongeng yang indah. Hanya cerita tentang hujan nakal yang membasahinya. Matahari yang tak ramah senyumnya. Dan cerita ada manusia yang menyakiti manusia lain, yang ingin merebut becaknya untuk dibuang.

Ia pasti bangga bila pulang, karena ibu tak boros memakai uang. Pintu rumah akan terbuka untuknya. Pintu yang bukan lagi malas berdiri. Pintu itu tak lagi dari lempengan bekas kaleng-kaleng roti yang dulu disusun rapat bapak. Pintu itu sudah diganti emak. Kayu yang dipasang kuat, walau hanya dari pintu bekas. Kata emak, agar maling tak masuk, maklum tak ada lelaki di rumah ini.

Dan aku akan menatapnya tajam. Merapatkan mulut. Menyusun kata-kata yang terus mengalir tapi tak mampu dimuntahkan.

“Kenapa? Kamu marah? Ahh… kamu seperti bapakmu, bila disindir seperti itu. Nak, cepatlah besar dan banyak belajar. Agar kau jadi lelaki. Lelaki dibutuhkan di rumah ini.”

Aku akan menjadi seperti bapak. Lelaki yang dibutuhkan emak. Yang berjaga di balik pintu di setiap malam. Menjaga lelap emak dan Cipluk. Tapi, bapak belum bercerita banyak tentang orang-orang-orang jahat yang harus diwaspadai. Bapak belum mengajarkan bagaimana menjadi lelaki. Emak tak sempat bercerita. Hanya tingkah lakunya yang penuh rasa was-was. Lagi pula emakkan bukan lelaki.

Cepatlah pulang! Kami butuh bapak. Esok kami mungkin tak di sini lagi. Kami akan diusir dengan kasar, kata emak sejak tiga minggu lalu. Akan ada yang datang. Ratusan. Mungkin ribuan lelaki tegap. Seperti bapak besar dan tegap. Andai ada bapak, kita berdua akan menghadapinya. Melindungi emak dan Cipluk. Rumah kita yang sudah indah tak akan bisa dirusak mereka.

Tapi… atau aku harus menghadapinya sendiri?

* * * * *

Jarinya memutar keras. Dan anak kunci itu kini berpindah tempat di antara celah tas mungil di bahunya. Ia menghela nafas. Tak ada gunanya mengunci rapat, esok mungkin tak lagi disinggahi, pikirnya.

Badannya membungkuk. Meraih tas besar. Agak berat hingga langkahnya tak gemulai. Tertatih di atas sepatu indah berhak tinggi. Bukan hanya sepatunya yang indah, kakinya pun indah. Putih. Kulit bersih yang membalut tubuhnya yang aduhai. Wajar bila mata-mata haus meraup tatap. Seperti ingin mencicipi, mengimpikan wanita seperti itu di ranjang. Pengganti pacarnya, mungkin istrinya.

Senyumnya masih ada. Senyum yang tersisa di antara perasan otak yang berputar kencang. Dan pada yang menatap, ia menitip senyum. Kadang menyapa. Sekedar basa-basi atau entah apalah. Tapi ujung matanya masih mencari seseorang lelaki, yang pernah menemaninya, walau ia tahu lelaki itu tak bisa diharapkan terlalu banyak. Otak mudanya masih ingin berkelana bebas.

Ya, dia ada di sana. Di atas bumbungan atap. Membongkar sisa-sisa rumah. Dadanya yang berisi terbakar panas. Dada yang pernah membakarnya pula, menindih tubuhnya di malam dingin. Dan senyum itu terlempar ke arahnya. Senyum jantan yang mampu merontokkan hati, mendidihkan birahi ganasnya.

“Mau ke mana?” suara jantan itu menyapa.

“Pergi. Mungkin takkan kembali. Mereka jadi datang?”

“Jadi. Bangsat-bangsat itu tak mampu luntur hatinya. Pindah ke mana?” tanya pemuda itu penuh harap. Wajahnya menyimpan ingin. Keinginan untuk tetap bisa selalu melewati malam-malam kosong. Atau dikosongkan untuknya.

“Entahlah…. Tapi, nanti aku kabari. Aku belum tahu mau ke mana,” ucap wanita itu. Ia menelan ludah. Berat mengakhiri percakapan. Tapi ia memaksa langkah untuk tak malas. Tatapan ibunya yang berdiri di dekat sana begitu mengancam. Berjuta maki siap dihunus.

Ia tak mencoba memalingkan wajah, walau sempat ia dengar pemuda itu masih berkata-kata, memanggilnya. Tapi suara itu kini tak lagi memburu, karena ibunya sudah memakinya dari bawah. Biarlah tatapan sinis itu adalah tatapan terakhir dari perempuan-perempuan di sini. Mereka selalu memandangnya hina, sejak banyak lelaki wangi yang mengusik hawa pengap kerumunan rumah-rumah reot datang kepadanya. Atau karena suami-suami mereka terlalu rakus menatap dirinya. Walau di ujung malam, terkadang ada yang memaksanya untuk membuka pintu, ingin tidur bersamanya dari pada dengan istrinya yang selalu memaki kasar.

Langkahnya meninggalkan jejak. Jejak yang tak elok, sarat dengan beban. Biarlah langkah ini tak lekang seperti jalan hidup yang susah berubah. Dan wanita itu menanti harap, pada jejak yang akan diendus lelaki itu. Ia menantinya di ujung langkah. Menantinya di sudut-sudut malam, entah di masa apa yang akan disediakan oleh waktu.

* * * * *

Ini puntung yang kesekian belas. Tak jauh dari kakinya berserak bersama abu-abu yang terkapar. Matanya merah meradang. Marah. Mungkin juga karena sudah tak tidur beberapa hari. Tangannya mengetuk-ngetuk meja. Benaknya menulis segala rencana walau kakinya tak teratur bergetar. Tatapnya mengancam, sesekali ia mendengus kasar.

“Pak, sudahlah. Ayo, kita siapkan barang-barang. Besok tak ada lagi masa. Kau sejak tadi tak jelas berpikir apa, marah-marah sendiri.”

“Bu, kita tak boleh menerima perlakuan mereka. Harus kita lawan!”

“Mau lawan pakai apa? Mereka bersenjata.”

“Tangan kita. Kita punya kemarahan!”

“Kita hanyalah kayu kering yang terikat. Kita akan tersulut marak.”

“Kita punya Tuhan. Akan ada hujan yang meredamnya.”

“Apa Tuhan kita sama dengan mereka? Bukannya mereka telah jadi hamba uang dan kuasa.”

“Mereka dendam….. Ya, aku tahu itu. Sejak aku membawa ratusan warga sini untuk berdemo. Mendukung lawan gubernur yang terpilih sekarang.”

“Kita kalah dan akan terus dikalahkan. Ah, sudahlah. Itu salahmu juga, yang terperdaya oleh janji-janji mereka. Mereka yang bertikai, kita yang terjepit. Siapapun yang kau dukung, kita tetap pada posisi yang salah. Sadarlah, tanah ini tak jelas statusnya.”

“Tapi kitakan bisa meminta waktu. Mengitung ganti rugi yang layak. Apa mereka tak berpikir, kita akan digiring ke mana?”

“Negeri ini tak dipimpin oleh gembala yang baik. Hanya serigala-serigala rakus yang kita beri jubah. Hmm…. kita akan berarak bersama lautan yang lain. Suatu saat iringan itu akan berkumpul di suatu titik.”

“Siapa yang menggiring kita?”

“Jangan tanya siapa. Bukan siapa-siapa. Tapi tanya apa.”

“Ya, apa bu?”

“Hahaha…. Jangan panik. Kau perlu belajar pada cacing.”

“Lho kok?”

“Menggeliat. Cacingpun menggeliat bila dipijak. Walau sangat lemah ia tak pasrah. Dan suara komandonya akan menggiring perut-perut kita untuk berkumpul.”

“Hmm… bahasa yang sama. Bahasa lapar.”

“Siapa bilang sama. Belum tentu. Berhati-hatilah! Kita lapar tapi tak rakus. Ada lapar karena tak pernah puas, serakah. Di antara kita akan ada siluman kerdil yang berselingkuh. Matanya nanar menatap peristiwa. Bila kita lengah, cacing-cacing lain akan menyantap kita di tanah.”

“Kemarin siang ada muka-muka manis menatap duka. Mereka bilang akan membantu, bantuan hukum. Apa mereka siluman yang ibu maksud?”

“Ah, bapaklah yang lebih tahu. Liat sampai mana mereka mau terus beriringan. Mungkin sekedar mencari popularitas.”

“Ada-ada saja kau bu. Bangunan-bangunan ini akan rata, tak ada panggung yang megah buat mereka.”

“Bisa saja mereka yang membuat panggung, atau kita yang jadi panggungnya. Sudahlah, aku hanya memperingatkan untuk berjati-hati. Aku mau mengurus barang-barang kita.”

Kembali senyap. Tak ada lagi ucap di bibirnya. Tak ada lagi sebatang rokok untuk disulut. Sekedar untuk mengusir penat di benak. Sekedar untuk meredakan amarah cacing-cacing yang menari kelaparan, bertalu-talu menabuh genderang perang.

* * * * *

Suara-suara itu hilang berganti dengus-dengus mengancam udara. Bagai dewa-dewa yang berperang di atas kuda kencana mereka merebut jajahan. Membumi hanguskan yang ada. Panji-panji kebesaran membatasi tanah jajahan. Mengibarkan kemenangan bersama debu-debu yang terbang menuju mega-mega yang berarak di atas sana.

Punah sudah peradaban kaum-kaum yang tak rakus. Manusia-manusia yang sudi hidup seadanya. Hari-hari mereka seperti hidup yang diatur oleh bocah-bocah ingusan. Pada permaianan rumah-rumah kardus dan boneka-boneka kertas.

Aku tak seperti lorong-lorong yang menatap curiga. Hanya berdiri memagari hidup yang berjalan. Saat perempuan-perempuan menggiring anak-anaknya menjauhi algojo-algojo yang menggasak para lelaki-lelaki mereka. Saat jerit-jerit mengoyak langit yang mengangkang. Saat harapan pecah berurai bersama darah dan air mata. Mereka dihalau bagai binatang-binatang yang dianggap merugikan. Tubuh mereka, perut mereka yang penuh cacing-cacing lapar.

Entah di mana mereka berada sekarang. Arakan yang tak pernah menemukan damai di setiap perhentiannya. Kembali berserak mencari hidup yang mau menaungi walau itu sesaat. Mencari remahan sisa-sisa hidup yang kinipun diincar tikus-tikus got yang juga kelaparan.

Kini aku terduduk sunyi. Di hadapanku tak ada lagi lorong-lorong yang menatap curiga. Toh semua kerakusan jujur terlihat jelas. Aku mencoba bertahan untuk tetap tegar. Untuk sebuah pesan yang dituliskan di tubuhku, oleh bocah itu.

“Bapak, kami dipaksa pergi. Suatu saat kita akan berkumpul bersama lapar yang menggiring. Carilah kami dalam bahasa lapar.”

Grogol, 7 November 2003


gambar : penggusuran warga taman BMW
sumber gambar klik (http://saksimelawan.blogspot.com/2009/04/pemutaran-film-sesi.html)

Friday, 21 November 2003

Pinokio Menulis

Jika anda sudah biasa berbohong, mengapa tidak menyalurkan kebiasaan yang penuh dosa itu dengan menulis fiksi?
(Josip Novakovich)


Angin malam itu duduk tergeletak di sudut kamar. Tak mampu berjaga. Sementara lampu redup tak sudi berkhianat. Matanya lelah menatap. Hanya daun jendela memancing pandang, melambai-lambai di luar sana. Dan cicak terbaring menelan ludah untuk tanya yang tak pernah terjawab.

Ia mengusap peluh. Peluh yang tak jujur hadir di malam yang datang dingin. Otaknya berputar bagai memeras anggur-anggur yang tergilas roda waktu. Menetes ke pipi dan menitipnya pada hidung yang kian bersinar. Ia mengusap mata. Mata malasnya.

Ahh…. sudah empat jam. Buntu, batinnya. Membakar tembakau. Menciptakan awan-awan kecil yang mencoba menggoda hayal yang menerawang.

“Apa yang akan aku ucap esok? Mereka sudah menungguku. Aku datang untuk menang,” ucapnya dalam. “Tapi aku harus berkata apa?”

Terbayang olehnya Bukhori akan menepuk dada. Dan mulutnya akan menyala-nyala. Seperti sebuah pertunjukan sirkus keliling di kota-kota kecil. Dan badut Bukhori akan menciptakan bola-bola api dari mulutnya. Mereka terpesoan. Berdiri dan memberi sejuta tepuk.

Atau mungkin Ahmadi akan meninju langit. Memecah awan-awan yang menggumpal. Memberi lautan jawab yang menetes bagi mereka yang lama menengadah di musim-musim berjalan. Jadilah dia malaikat pongah yang lupa akan sayapnya telah lama digadai pada borjuis-borjuis itu.

Sialan! Mengapa otakku terkunci rapat. Ruangan-ruang apa pula yang membius kecerdasanku terperangkap tanpa pintu. Aku telah berkeliling pada semua sudut kota. Telah menyapa pada semua peristiwa. Tapi adakah yang bisa kubaca? Dia bertanya dalam tanya.

Semua sudut terpapar di depan mata. Mata malas. Antara fakta dan fiksi. Atau percampuran kedua kelamin itu. Bila keduanya dituliskan dalam gaya bahasa Ibrani kuno, yang keduanya dituliskan tanpa huruf hidup, keduanya akan ditulis FK dan cara membedakannya tergantung pada cara melafalkannya. Begitu tipis……

Bukakah fiksi bisa menggunakan banyak fakta? Aku bisa bermain-main dalam ruang fakta untuk merangkainya menjadi cerita. Sejarah adalah batu-batu yang kuat untuk membangun pondasinya. Pramoedya bilang, nasion kita tak sadar sejarah. Sejarah itu tempat kita memulai perjalanan. Kalau tempat berangkat itu kita tak tahu, bagaimana kita tahu tujuan kita? Itu sebabnya Pram berkenalan dengan realisme sosialis. Karena realisme sosialis harus mengangkat orang-orang yang tak punya sikap dan menjadi hamba keadaan.

Tapi aku bukan hidup dalam penindasan. Tak melahirkan sikap perlawanan (atau mungkin dendam) oleh akibat penindasan seperti yang dialaminya. Tapi aku punya sedikit sikap memberontak, walau itu memberontak terhadap kemampanan berpikir.

Setidaknya aku bisa mencoba meramu sejarah itu dan memolesnya menjadi sebuah fiksi. Tentu tak membosankan. Karena di saat orang-orang perlu makan dan lapangan kerja, mereka akan muak oleh kehebatan raja-raja di tanah Jawa yang menyisakan feodalisme dalam birokrasi. Artefak-artefak bukan lagi bukti warisan kehebatan budaya, karena turunannya hanyalah budaya kepasrahan ditindas dan dibodohi, sudah mengakar di akar rumput.

Aku harus menemukan sejarah-sejarah baru. Sejarah kolonialis, feodalis, militeristis, dan paham ketunggalan sudah telanjang. Bugil tanpa malu-malu ditatap dan yang menatapnya tak jengah. Aku akan membuat mereka sadar sejarah dan bersatu mengahalaunya. Hanya dalam prosa sejarah akan gampang dicerna.

Tapi jari ini masih tak bersahabat. Diam tak sudi menari, walau nyanyianku adalah nyanyian jiwa yang melantun keluar dari gendang telinga. Sedangkan nadiku terpacu kencang dengan sejuta kata yang ingin tumpah di jemari. Tapi jemari diam. Aku ingin menulis. Menjadi pengarang. Menjadi resi-resi sejarah, julukan yang diberikan Ben Okri (novelis Afrika) bagi pengarang. Karena pengarang adalah barometer zaman. Pengarang adalah orang yang menulis melawan arus zaman, pengibul tentang kebenaran yang dapat dipertanggung jawabkan dan penebar janji-janji yang bisa dipercaya. Aku ingat, ucapan itu dikatakan lantang oleh Gunter Grass pada pidato pengukuhannya sebagai laureat Nobel Sastra 1999.

Oh….. aku kini sudah mulai berdamai. Aliran darah dan oksigen berjalan tenang, bergerak maju. Jari-jemari menjadi kepanjangan otak. Syaraf-syaraf mulai saling memangut, bermesraan. Sebuah emosi ternyata mampu mendorong untuk menulis. Mampu menjiwai alam pikir orang lain. Mampu menjiwai suara seseorang. Jerit orang-orang. Harap yang masih tersisa dari nafas tersenggal-senggal sebelum pintu kubur ditutup.

Mengalir bagai banjir yang menggenangi rumah-rumah di dataran rendah di sekeliling perumahan megah. Menerjang kaki-kaki alas tidur di pinggir kali. Menyapu nafas manusia-manusia yang menjajakan peluh di tepi-tepi jalan karpet mobil mewah. Menenggelamkan hak-hak pemilik negeri hingga terlihat teduh keruh menjadi lautan, terpasung pada waduk angker yang dijaga berabad-abad pada pintu airnya.

Lelaki itu mengamini. Cerita fiksi mirip dengan dusta. Memulainya dengan suatu yang nyata. Mengubah menjadi alur yang bisa diatur bermuara untuk tujuan tertentu. Dan esok, di atas podium itu, membuai jelata dengan kata-kata indah. Ia akan menang pada pemilu kali ini. Wakil dari kaum pendongeng.

Grogol,20nopember2003

Friday, 7 November 2003

Pada Akhirnya, Lelaki Harus Kembali Sendiri

Jalanan becek. Udara dingin menemani riak-riak kecil, langit tak lagi menangis. Sedu-sedan itu telah berakhir setelah langit terlihat muram sekian lama, awan-awan berat tadi malas menari. Tinggallah tetes-tetes yang malas bunuh diri dari jubah hitam yang membentang.

Bibirnya bergetar. Oleh dingin yang sama kembar dengan akal yang membatu. Gerimis patah-patah. Pedang-pedang tajam tak mampu kikis niat di setiap langkahnya. Hanya menemani sunyi dengan bisik-bisik pelan yang bergelantungan di udara menuju peraduan di bumi basah. Kini setelah berjalan lama akhirnya ia mendapatkan sebuah perhentian, tempat berteduh.

Otaknya tertawa miring. Tak ada guna ia berteduh. Toh tubuh telah basah kuyup. Begitu modrennya kota ini sehingga tak tersisa sejengkal perhentian yang mampu menaungi dari hujan dan panas. Pohon-pohon yang ada tangan-tangannya tak rindang. Kurus memanjang ke atas. Hanya fungsi keindahan dan sedikit kemampuan menyerap udara kotor.

Tapi tak apalah, pikirnya. Setidaknya ia bisa meringankan beban kaki. Pantatnya beralas besi tua, terlihat berkarat. Titik-titik air yang terbawa turun manja. Memeluk besi tua, semburat rona merah terlihat malu-malu. Melukis pantat yang bergetar, kaki gemetar. Dingin yang tak gentar mengganggu.

Kilat menyambar, memperkosa malam. Guntur pongah menggelegar di udara. Gigi yang gemertak, bius angin memutihkan bibir. Ia tak mampu tersenyum tapi matanya menyiratkan tawa. “Akhirnya,” ucapnya dalam. Jantungnya tak lelah berdetak, sekian juta detak menyusun rencana. Dan, “Binggo! Aku berhasil. Aku bebas,” teriakannya menggema. Memenuhi rongga dada. Keluar melalui lobang telinga. Mengancam udara. Dan guntur kecut. Langit hitam kini tak lagi kusut.

Ia masih duduk. Kaki yang gemetar. Bibir putih dengan mata tertawa. Di pekat bola hitam, ada selembar layar putih. Ada cerita yang berjalan pelan. Sebuah rumah indah dengan pagar besar. Perabot mewah memeluk penghuninya. Wanita cantik dengan kacamata membaca novel, tangannya teratur menghantar benda-benda kecil nan gurih ke mulutnya.

Rriiiinng………..

“Halo. Ini ibu ya?”

“Ya. Ada apa Nina?” sepertinya wanita itu mengenal suara di seberang.

“Perutku sakit. Bayi ini nakal. Menendang-nendang terus. Ibu kemari ya.”

“Wah, cubit saja bayimu. Mana suamimu?”

“Ibu ini gimana. Ya sakit perutku. Mas Anton belum pulang.”

“Dasar anak nakal. Belum lahir sudah bikin susah. Sudah, kamu ke mari saja.”

“Mana mungkin. Ini udah jam sebelas malam. Ayah mana?”

“Entah. Dia mengurung di kamarnya. Ayahmu kini aneh. Selepas pensiun dia tak mau keluar rumah.”

“Gedor pintunya. Aku tak mau bayiku lahir di ranjang ini. Kalau ada darah, bisa pingsan aku.”

“Ha? Memangnya kandunganmu sudah berapa bulan?”

“Yah ibu… ya udah hampir sembilan bulan.”

“Sudah, sudah. Jangan panik. Ibu juga dulu seperti kamu. Untung ada ayahmu. Oh… lagi ngapain dia?”

Hening. Hanya suara berjingkat pergi. Dan wanita itu tak lagi mendengarkan rengekan. Kini ia ada di depan pintu. Kamar suaminya.

Tok! Tok! Tok!

“Pak! Paaakkk! Buka! Anakmu mau melahirkan!”

Gedoran pada pintu itu kian lama bukan lagi seperti ketukan. Menyerupai kampak-kampak yang ingin menghancurkan. Tapi tetap masih tak ada jawaban. Tetap diam. Hening menatap.

Wanita itu tak sabar. “Dasar manusia tak berguna!” umpatnya.

Anjing! Bangsat! Maki yang diucap bergetar pada bibir yang masih saja tetap putih. Matanya tak lagi tertawa. Merah membara membakar layar yang terkembang. Dengusnya kasar, dadanya naik turun. Tetes air meronta jatuh dari helai rambutnya. Bergelimangan di bibir. Tak asin. Entah apa rasanya. Tapi, lidah selanjutnya menjilati tepian. Mencari rasa. Memecahkan murka. Menggigit bibir.

Tertunduk, kedua lengannya meremas rambut yang basah. Wajahnya kian basah. Matanya berkubangan, bercermin jarak. Penuh dan menetes. Membelah pipi menjadi banyak keping. Hidungnya menerima sapaan tangis, menangis tersendat-sendat. Entah mengapa pula mulutnya latah ikut berduka. Otaknya berputar menjauhi sumbu, melingkar kembang. Menggeleng-geleng bagai mengguncang benak kesadaran yang tertidur mengigau. Melemparkannya ke dinding-dinding rongga yang mengukung. Dan terhempas. Menggelembung bulat besar. Meletus ganas.

Bajingan! Dasar manusia tak tahu diri!
Kakinya menghantam lantai. Pecah cermin-cermin yang mematut diri, berlarian menghambur sejauh-jauhnya, berserak ketakutan. Berselingkuh bersama genangan lain yang menatap curiga.

Tawa entah lari ke mana dari mata itu. Hanya ada tetes-tetes yang sama beningnya dengan ingatan saat itu. Mengalir cerita lama begitu lugas. Jenih berbayang dari setiap masa yang ada dulu. Pada tetesan masa muda yang penuh gairah. Lajang yang tak berpuan. Bebas menjamah hari dan mencengkram keinginan. Meraup ilmu tanpa ragu seakan hari depan adalah ladang tuaian. Menari dalam langkah di jejak-jejak jaman. Memberontak pada rezim. Menelanjangi kebodohan yang lama dikemas dalam nilai-nilai masyarakat. Memecah tabu, menghantam langit batas. Dinding-dinding yang membutakan pandangan.

Di tetes yang lain, harapan ada di negeri ini. Ambisi ada bagai api yang sangat kalap menyala di musim kemarau yang panjang. Akar-akar rumput kering itu mulai bangkit. Tapi masih tetap kering. Kemakmuran tanah negeri ini tak menyimpan kesuburan yang cepat datang. Kemarau lama mematisurikan dewi sri. Malah terkadang serimbun rumput dianggap sampah dan dibakar. Merah. Menyala. Akar-akar lain ciut. Panasnya menempa dendam yang terkubur diam-diam. Bagai bara di bawah ladang gambut yang terhampar pasrah.

Di masa itu ada tetes lain. Kebahagian ketika melepas lajang. Gadis cantik itu menjadi miliknya. Bening, suci mengucap ikrar. Sepertinya langkah tak lagi panjang., ia terhenti untuk membangun dunia baru. Dunia kecil bernama keluarga. Ada bapak, istri dan anak.

Masa tak terlupakan ada saat ia merawat keduanya. Istrinya yang selalu harus diawasi. Penyakit asamanya selalu kumat. Terkadang di saat malam ia harus melarikan istrinya keluar rumah. Menuju jalanan sepi. Mencari udara segar hingga ke puncak. Dan saat pagi menyapa, ia harus pulang membawa istri, dan anaknya tertidur pulas di kursi belakang. Kemudian bergegas bertarung mencari keping-keping di antara serpihan-serpihan hidup.

Kian waktu terus menetes, kasihnya tak mampu luntur. Istrinya masih tetap istri yang perlu udara segar. Dan anaknya masih anak yang menanti dimanja. Menyiapkan sarapan kesukaannya. Membantu menyelesaikan tugas sekolah. Memenuhi apa yang dibutuhkannya. Semuanya ada disaat dia ada. Dan dia merasa ada untuk mereka. Dia telah mengada..

Dan tetes itu terhenti. Di wajahnya tak terlukis tangis. Kini keras bagai batu yang membesar menemani sungai yang tak pernah henti mengalir. Ia menggeleng-gelengkan kepala. Jejak-jejak itu terantuk-antuk di dinding ingatan. Dan meninggalkan keping hati yang tercecer. Berdarah.

Aah…. mereka telah berubah, batinnya. Istrinya bukan lagi istri yang ramah dan menanti dimanja. Anaknya bukan anak yang bisa mengabdi. Mereka menjadi mahluk aneh di malam hari. Ada dan tak bersembunyi. Sejak ia memasuki masa pensiunnya, mereka mentertawai resah yang dimiliki lelaki itu. Mereka menari-nari di atas tiang-tiang galaunya.

Ketakutannya adalah ketakutan mereka yang tak siap dengan pengasingan dari dunia kerja. Ia ingin beristirahat tapi ingin mengais hidup. Ia ragu pada masa depan. Oleh mulut besar istrinya yang selalu pamer harta. Oleh rengekan anaknya yang tak puas akan gaji suaminya. Sepertinya semua ini tak cukup menjalani sisa-sisa hidup. Tapi ia tak mampu buat apa. Mereka hanya mampu mentertawai.

Di saat gelisah kian datang, tubuhnya kian kurus. Sedikit demi sedikit melemah. Tubuh terkadang panas tak beraturan, lemas. Atas saran dokter pribadinya, ia dinyatakan terkena kangker prostat. Dan harus dioperasi.

Berangkatlah ia ke Singapura, diagnosanya tetap sama. Harus dioperasi. Ia terpana menatap meja operasi. Bagai peti mati yang ingin memeluk. Refleks ia melompat dan berlari menjauhi meja operasi, kursi dorong, dokter dan suster yang terperangah.

Mereka bukan terpana pula. Malah tertawa. Menganggapnya gila. Lelaki tua yang bodoh tanpa pengharapan. Sesungguhnya ia berharap mereka ada menemaninya saat itu. Tapi entah setan apa yang membisikkan istrinya untuk tidak membatalkan kehadirannya pada sebuah arisan kumpulan ibu-ibu gemuk itu. Sedangkan putrinya tak mungkin dibujuk pula, ia tengah hamil dan sibuk mempermasalahkan suaminya yang katanya kurang perhatian.

Lelaki itu sadar ia kini sendiri. Tak ada yang mengenali derita yang dialaminya. Sebenarnya saat menuju operasi ia tersadar. Bukan takut untuk mati. Ia takut istrinya akan lebih kejam memvonis keberadaan dirinya. Cap-cap baru akan jadi ucap yang terus mengiang dan menyakitkan disetiap pertengkaran. Ia tak siap dikatakan lelaki lemah. Lelaki yang tak sejati. Lelaki yang mungkin akan mandul.

Hujan telah berhenti. Langit merah menyiratkan kemegahan hari. Waktu ada di depan. Lelaki itu bangkit untuk melaluinya, ia ingin berjubah detik-detik yang manja menyapa, dan membuat sejarah baru. Biarlah yang lama hanyut dibawa gelombang sungai yang meluap-luap. Setidaknya mereka pasti mengiranya telah mati tenggelam, setelah membaca surat yang ditinggalkannya di ranjang malam tadi.

Dan pagi menuntun langkah tuanya, tak lagi gemetar. Tak lagi gentar. Udara segar membusungkan dadanya, bukan dada yang rapuh menyimpan gunungan resah. Di benaknya hanya ada satu ingatan, “Pada akhirnya, lelaki harus kembali sendiri.”

grogol,9oktober2003