Showing posts with label Melirik Sastra. Show all posts
Showing posts with label Melirik Sastra. Show all posts

Saturday, 25 May 2013

SIBAGANDING SIRAJAGODA


SIBAGANDING SIRAJAGODA
karya  Mansur Samin

Tengah siang
di pojok nun, ke dalam restoran
berbondong para kuli berlesuan
duduk di sebaris bangku
dari bisik dan keluh :
Telah berbulan
tak ada kapal pulang!

Sedang sama menatap ke bandar sana
terkuak pintu muka
bunyi siul mengalun
dari mulut kumis brenteng
Tegap melangkah lagak parlente
bertopi pandan, bercekak pinggang
menatap awas ke tiap ruang
dengan sikap angkuh
menggeser sebuah bangku

Kuli-kuli pada menyisih
terserak pergi
dari pandang yang heran
hati terus bertanya :
Dari mana pula munculnya
ini Sibaganding Sirajagoda
tidakkah dirnya 
sudah lama dipenjara?

Sambil mengunyah kacang
ia buka topi pandannya
tiba-tiba sekepal tinju
menghantam meja
dengan megahnya :

Kasi bir! Sambal udang!
Rokok kowa dan Sate Padang!

Saturday, 2 July 2011

Hari Depan Indonesia



Aku bertanya : Apakah gunanya pendidikan bila hanya akan membuat seseorang menjadi orang asing di tengah kenyataan persoalan keadaannya? Apakah gunanya pendidikan bila hanya mendorong seseorang menjadi layang-layang di ibu kota kikuk pulang ke daerahnya? Apakah gunanya seseorang belajar filsafat, sastra, tehnologi, kedokteran, atau apa saja, bila pada akhirnya. ketika pulang ke daerahnya, lalu berkata: "Di sini aku merasa asing dan sepi" (RENDRA. Seonggok Jagung di Kamar)  

Pergi ke dunia luas, anakku sayang pergi ke dunia bebas! Selama angin masih angin buritan dan matahari pagi menyinari daun-daunan dalam rimba dan padang hijau. Pergi ke laut lepas, anakku sayang pergi ke alam bebas! Selama hari belum petang dan warna senja belum kemerah-merahan menutup pintu waktu lampau. Jika bayang telah pudar dan elang laut telah pulang ke sarang angin bertiup ke benua Tiang-tiang akan kering sendiri dan nakhoda sudah tahu pedoman boleh engkau datang padaku! .. ............................ (ASRUL SANI. Surat dari Ibu)  


Siapa cinta anak, jangan jual tanah sejengkal. Siapa cinta tanah, jangan lupakan bunda meninggal Siapa ingat hari esok mesti sekarang mulai menerjang. .................... (RAMADHAN K.H. Priangan si Jelita) 


Hari depan Indonesia adalah duaratus juta mulut yang menganga Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu l5 wat, sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam karena seratus juta penduduknya. Kembalikan Indonesia padaku ............................................. (TAUFIQ ISMAIL.Kembalikan Indonesia Padaku)

Wednesday, 22 June 2011

Gereja dan Pabrik Cerita

oleh Ayu Utami

Alkisah, bahtera Gereja berlayar karena cerita. Imannya berpusaran pada kisah seorang manusia yang mati di kayu salib dekat Yerusalem dengan istimewa (ribuan, mungkin sejuta, orang mati disalib, tapi hanya dia yang menjadi cerita). Dua ribu tahun kemudian, melalui lautan panjang seram, kisah itu telah berbiak di tanah Jawa dan kepulauan lain yang kini menjadi Indonesia.

Puisi-puisi Joko Pinurbo tentang Yesus

Marcus Cornish, "Jesus in Jeans," 2009


Kredo Celana

Yesus yang seksi dan baik hati,
kutemukan celana jeans-mu yang koyak
disebuah pasar loak.
Dengan uang yang tersisa dalam dompetku
kusambar ia jadi milikku.

Puisi-puisi Joko Pinurbo

PuisiPuisi Joko Pinurbo

Wednesday, 6 April 2011

Malin Kundang hingga Di Bawah Kibaran Sarung Joko Pinurbo

Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung


Malin Kundang


Malin Kundang pulang menemui ibunya
yang terbaring sakit di ranjang.
Ia perempuan renta, hidupnya tinggal menunggu
matahari angslup ke cakrawala.

"Malin, mana isterimu?"
"Jangankan isteri, Bu. Baju satu saja robek di badan."

Wednesday, 16 March 2011

Gea (cerpen Anton Chekhov dalam bahasa batak)

Menerjemahkan karya sastra bukan sekedar mengalih-bahasakan karya pengarang asli ke bahasa yang dimengerti oleh si pembaca. Tapi ia juga adalah upaya menafsirkan gagasan (baik itu mengenai benda atau non-benda) berkaitan dengan budaya yang ada dalam karya asli sehingga bisa dipahami oleh budaya si pembaca karya terjemahan. (MULA HARAHAP).
Gea
Oleh: Anton Chekhov
Penerjemah ke dalam bahasa Batak: Sal Hutahaean

Judul asli: A Nincompoop

Tar piga ari na salpu hujou do si Julia Vassiliyevna, i ma guru-parorot ni anakhonhu, tu bilut parsiajaran.

“Pahundul ma jolo, Julia Vassiliyevna,” ningku. “Beta tapature ma dabudabunta. Nang pe ringkot di ho hepeng, alai diingot ho do ruhut ni adat, ai ndang hea disungkun ho garar ni upam. Saonari, huingot nunga satolop hian hita tolupulu rubel sabulan …”

“Opatpulu do.”

“Ndang. Tolupulu do. Husurat do tangkas dison. Tolupulu. Saleleng on pe, i do upa ni guru-parorot hugarar. Saonari, ala dung dua bulan ho, ba …”

“Dua bulan lima ari.”

“Dua bulan do. Husurat do tangkas dison. Dua bulan. Ala ni i onompulu rubel ma sijaloonmu. Alai, orui ma sian i sia rubel, ai tangkas diboto ho, ndada adong diajari ho si Kolya di ari minggu, holan mardalan-dalan do hamu. Adong do muse tolu ari maradian sikola …”

Marrara antong bohi ni si Julia Vassiliyevna i, haohao nang tanganna mamudunmudun rambu ni abitna. Sangkababa pe ndada adong be didok hata.

“Tolu ari maradian sikola, gabe moru ma sampuludua rubel. Hea do muse marsahit si Kolya opat ari, ndada adong parsiajaran disi, holan marmeam-meam sambing do ho dohot si Vanya. Angkup ni i muse, tolu ari ho marsahit, manombo tungkolmu, diloas inanta do ho dang pola mangula uju i. Sampuludua tamba pitu … sampulusia. Oruhon … tading ma opatpulu sada rubel. Tutu?”

Lam tu rarana bohi ni si Julia Vassiliyevna i, marnambur simalolongna, angkahitir nang osangosangna. Mongkol ibana saloni, munsohunsok saloni nari, siala guga ni rohana. Alai tung sangkababa pe ndada adong be didok hata.

“Andorang so ari pesta na salpu, mapuntar do dibahen ho pinggan dohot panginuman: orui ma muse dua rubel nari. Gumodang sian i dope nian arga ni pinggan i, ai tading-tadingan do i, alai padiar ma disi. Ndada dia sipata ia agoan iba. Dungkon ni i, hea hape lalap ho marorot, dipasombu ho si Koyla manjangkiti hau, gabe mabikbik ina ni bajuna: orui ma sampulu nari. Suang songon i muse, ndang dirohahon ho angka ugasan ni dakdanak, gabe sanga ditangko pangurupi na salpu sipatu ni si Vanya. Ingkon radotanmu do sude! Sigararonmu do nang i. Moru ma muse lima rubel nari. Dungkon ni i, di ari sampulu Januari hulehon di ho sampulu rubel …”

Monday, 24 January 2011

Puisi Soe Hok Gie

Sebuah Tanya
(oleh Gie)

“akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”

(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”

(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)

“manisku, aku akan jalan terus membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru”


"Pesan"

(oleh Gie)

Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran

Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi

Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?


MANDALAWANGI - PANGRANGO
(oleh Gie)
Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu

walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku

aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

"hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya "tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
'terimalah dan hadapilah

dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu

aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup

 
Sebuah puisi Gie, yang tak berjudul :
 
 
(Puisi Gie)


ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza
tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku

bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi
ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra

tapi aku ingin mati di sisimu sayangku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu

mari, sini sayangku
kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
tegakklah ke langit atau awan mendung
kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa”

Saturday, 25 December 2010

Natal dimata Seorang Komunis Leo Tolsyoy

 
Kisah berikut ini adalah karangan sang maestro sastra Rusia Leo Tolstoy yang berjudul  “Where Love Is, God Is”  ditulis tahun 1885.

“Sebab pada waktu Aku lapar, kalian memberi Aku makan, dan pada waktu Aku haus, kalian memberi Aku minum. Aku seorang asing, kalian menerima Aku di rumahmu. Aku tidak berpakaian, kalian memberikan Aku pakaian. Aku sakit, kalian merawat Aku. Aku dipenjarakan, kalian menolong Aku.”

Adalah seorang tukang sepatu yang bernama Martin Avdeich, dia tinggal di satu apartemen bawah tanah dengan satu jendela kecil. Dari jendela itulah dia bisa melihat orang yang lalu lalang dari kakinya. Martin yang karena pekerjaannya sebagai tukang sepatu, tidaklah sulit buat dia mengenali orang yang lalu lalang itu dari sepatu yang dipakainya.

Martin adalah pekerja keras, dia tidak pernah menipu pelanggannya, dia selalu menggunakan bahan terpilih untuk membuat sepatu, dia juga selalu tepat janji, pendek kata Martin selain pekerja keras juga pekerja yang baik.

Martin pernah mengalami kekecewaan dengan Tuhan saat istri dan anak-anaknya meninggal, di tengah kekecewaannya dia pernah minta supaya Tuhan juga memanggilnya, karena dia sudah tidak melihat arti hidupnya ini. Di saat keadaan yang paling susah itulah dia bertemu orang yang mengingatkan kalau Tuhan sudah memberinya hidup, dan mengingatkan Martin bahwa hidupnya harus diberikan kepada Tuhan.

Di tengah ketidak mengertiannya dan usahanya bagaimana caranya memberikan hidup untuk Tuhan, tiba-tiba dia bermimpi, mendengar suara Tuhan, “Martin … Martin .. berjaga-jagalah Aku akan datang ke tempatmu esok”.

Besoknya Martin menanti-nanti. Kadang-kadang ia berpikir suara itu hanya mimpi, kadang-kadang ia meyakini ia benar-benar mendengar suara itu. Martin duduk di samping jendelanya sambil bekerja. Tiap kali dia menatap ke jalan menunggu Tuhan datang. Akhirnya dari jendelanya Martin melihat orang berpakaian usang, dengan sepatu penuh jahitan dan sebuah sekop di tangan.

Dari sepatunya Martin tahu bahwa orang tua itu Stephanich, orang miskin yang menumpang di rumah orang lain dan melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil seperti membersihkan salju. Ia mulai membersihkan salju di depan jendela Martin. Martin mengamati Stephanich sampai Stepanich meletakkan sekop, dan kelihatan menggigil mencari tempat istirahat dan berlindung dari hawa dingin. Orang tua ini kelihatan sangat rapuh.

Martin mengundangnya masuk. Stephanich begitu gemetar sampai hampir jatuh waktu masuk. “Masuklah ke dalam dan aku punya teh hangat,” demikian seru Martin kepada Stepanich. Stepanich yang ragu-ragu masuk ke rumahnya bertanya apakah Martin sedang menunggu seseorang?

Martin menjawab, “Saya sebenarnya malu untuk mengatakan pada anda bahwa memang saya sedang menunggu Tuhan, seperti yang saya pahami melalui Alkitab bahwa betapa betapa besar kasih Tuhan sampai Dia mau turun ke bumi”. Begitulah Martin bukan hanya memberikan teh tetapi juga bagian makan siangnya yang sangat sederhana. Stephanich pamit dengan air mata di pipi karena rasa terimakasihnya yang dalam.

Martin menunggu lagi. Berbagai orang lewat lalu lalang. Tuhan belum juga muncul. Sampai dilihatnya seorang wanita miskin dengan bayinya. Wanita ini hanya berpakaian musim panas, wanita ini tidak punya uang untuk menebus syal nya yang digadaikan. Martin bangkit dan memanggil wanita itu untuk masuk kerumahnya. Martin menyambut wanita dan bayinya ini. Memasak bubur untuk bayi itu dari persediaannya yang tipis dan memberikan uang kepada wanita itu supaya ia bisa menebus syal yang dia gadaikan untuk memberi makan bayinya. Ia juga memberikan satu-satunya mantel cadangannya yang juga sudah tua dan benangnya yang sudah menipis. Wanita miskin tersebut mengambil pemberian Martin dengan air mata yang berlinang.

Martin, duduk lagi, hari mulai sore. Dia makan sisa makanan yang masih tersedia, bekerja lagi. Tapi dia tetap berkali-kali memandang ke jalan. Menunggu dan menunggu datangnya Tuhan.

Tidak lama seorang wanita tua penjual apel lewat. Punggungnya menggendong kayu bakar, dan tangannya menjinjing keranjang dagangan yang hanya berisi beberapa butir apel. Kayu bakarnya sangat berat sehingga ia berhenti, membetulkan gendongannya. Ia meletakkan keranjangnya di tanah. Tiba-tiba seorang anak laki-laki kecil lari dan mengambil beberapa apel. Tapi nenek ini dengan cekatan menjambret baju anak itu.

Nenek itu menarik rambut anak kecil itu dan berteriak akan membawa dia ke kantor polisi. Martin meminta-minta agar si nenek tidak membawa anak itu ke polisi. Martin akan membayar apelnya.

Akhirnya nenek melepaskan pegangannya dan anak itu langsung melarikan diri. Martin menangkapnya dan berkata, “Mintalah maaf kepada nenek itu, dan saya tidak ingin melihat engkau mengambil apelnya lagi”.

Anak itu minta maaf. Malahan dia menawarkan diri mengangkat kayu bakar si nenek. Mereka berjalan berdampingan.
Martin menunggu lagi, hari mulai malam. “Tampaknya hari sudah gelap”, pikir Martin. Dia membersihkan peralatannya. Menyalakan lampu. Mengambil Alkitabnya. Dan dia merenung menantikan Tuhan. Tetapi sudah malam., apakah Tuhan masih akan datang?

Martin kembali merenung akan mimpinya yang mendengar suara Tuhan, kalau Dia akan datang kerumahnya… Tiba -tiba dia mengalami situasi yang sama dalam mimpinya, dia mendengar lagi suara yang berkata di telinganya “Martin … Martin, apakah kamu tidak mengenal aku?”

“Siapa?” tanya Martin ,

“Aku”,  jawab suara itu. Di tengah kegelapan malam Martin melalui kaca jendelanya samar-samar melihat Stephanich yang tersenyum.

“Ini adalah Aku”, terdengar ada suara itu lagi, dan Martin sama-samar melihat wanita tua dan bayinya dan lenyap.

“Ini adalah Aku”, terdengar suara lagi, dan Martin samar-samar melihat wanita tua dan apelnya bersama dengan anak laki-laki.

Melihat itu jiwa Martin gembira karena dia teringat apa yang tertulis di Alkitabnya, “Sebab pada waktu Aku lapar, kalian memberi Aku makan, dan pada waktu Aku haus, kalian memberi Aku minum. Aku seorang asing, kalian menerima Aku di rumahmu. Aku tidak berpakaian, kalian memberikan Aku pakaian. Aku sakit, kalian merawat Aku. Aku dipenjarakan, kalian menolong Aku.”

Impian Martin menjadi kenyataan, Tuhan memang sudah datang dan makan bersamanya hari itu. Martin akhirnya boleh mengerti, makna ayat ini: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.” (Matius 25:45).

Cerita ini diambil dari “Where Love Is, God Is” karangan Leo Tolstoy, 1885. Cerita yang dari 14 halaman, dicoba diringkas menjadi 1 halaman, mudah-mudahan pesannya masih bisa kita nikmati sebagai renungan Natal.

Refleksi:
Jikalau 2000 tahun yang lalu Tuhan hadir ke dunia dalam bayi Jesus, saat ini Tuhan bisa hadir diantara kita melalui orang -orang di sekitar kita, bukalah pintu hati kita, sama seperti Martin Avdeich yang selalu menyambut hangat sesamanya.

Keinginan Tuhan datang ke dunia ini adalah untuk menghampiri dan melayani orang-orang yang miskin dan menderita, terutama mereka yang miskin secara rohani.   

“Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” -Markus  2:17.
sumber : Inspirasijiwa
sumber gambar :  inter-pix.com

Thursday, 7 October 2010

Perihal Orang Miskin yang Bahagia

oleh Agus Noor

1.

“AKU sudah resmi jadi orang miskin,” katanya, sambil memperlihatkan Kartu Tanda Miskin, yang baru diperolehnya dari kelurahan. “Lega rasanya, karena setelah bertahun-tahun hidup miskin, akhirnya mendapat pengakuan juga.”

Kartu Tanda Miskin itu masih bersih, licin, dan mengkilat karena di-laminating. Dengan perasaan bahagia ia menyimpan kartu itu di dom­petnya yang lecek dan kosong.

“Nanti, bila aku pingin berbelanja, aku tinggal menggeseknya.”

2.
Diam-diam aku suka mengintip rumah orang mis­kin itu. Ia sering duduk melamun, sementara anak-anaknya yang dekil bermain riang me­nahan lapar. “Kelak, mereka pasti akan men­jadi orang miskin yang baik dan sukses,” gumamnya.

Suatu sore, aku melihat orang miskin itu me­nik­mati teh pahit bersama istrinya. Kudengar orang miskin itu berkata mesra, “Ceritakan ki­sah paling lucu dalam hidup kita….”

“Ialah ketika aku dan anak-anak begitu kelaparan, lalu menyembelihmu,” jawab istrinya.

Mereka pun tertawa.

Aku selalu iri menyaksikan kebahagiaan me­reka.

3.
Orang miskin itu dikenal ulet. Ia mau bekerja serabutan apa saja. Jadi tukang becak, kuli angkut, buruh bangunan, pemulung, tukang parkir. Pendeknya, siang malam ia membanting tulang, tapi alhamdulillah tetap miskin juga. “Barangkali aku memang run-temurun dikutuk jadi orang miskin,”ujarnya, tiap kali ingat ayahnya yang miskin, kakeknya yang miskin, juga simbah buyutnya yang miskin.

Ia pernah mendatangi dukun, berharap bisa mengubah garis buruk tangannya. “Kamu memang punya bakat jadi orang miskin,” kata dukun itu. “Mestinya kamu bersyukur, karena tidak setiap orang punya bakat miskin seperti kamu.”

Kudengar, sejak itulah, orang miskin itu berusaha konsisten miskin.

4.
Pernah, dengan malu-malu, ia berbisik pada­ku. “Kadang bosan juga aku jadi orang miskin. Aku pernah berniat memelihara tuyul atau babi ngepet. Aku pernah juga hendak jadi pelawak, agar sukses dan kaya,” katanya. “Kamu tahu kan, tak perlu lucu jadi pelawak. Cukup bermodal tampang bego dan mau dihina-hina.”

“Lalu kenapa kau tak jadi pelawak saja?”

Ia mendadak terlihat sedih, lalu bercerita, “Aku kenal orang miskin yang jadi pelawak. Ber­tahun-tahun ia jadi pelawak, tapi tak pernah ada yang tersenyum menyaksikannnya di panggung. Baru ketika ia mati, semua orang tertawa.”

5.
Orang miskin itu pernah kerja jadi badut. Kos­tumnya rombeng, dan menyedihkan. Setiap meng­hibur di acara ulang tahun, anak-anak yang menyaksikan atraksinya selalu menangis ketakutan.

“Barangkali kemiskinan memang bukan hi­buran yang menyenangkan buat anak-anak,” ujarnya membela diri, ketika akhirnya ia dipecat jadi badut.

Kadang-kadang, ketika merasa sedih dan la­par, orang miskin itu suka mengibur diri di depan kaca dengan gerakan-gerakan badut paling lucu yang tak pernah bisa membuatnya tertawa.

6.
Orang miskin itu akrab sekali dengan lapar. Se­tiap kali lapar berkunjung, orang miskin itu selalu mengajaknya berkelakar untuk sekadar me­lupakan penderitaan. Atau, seringkali, orang mis­kin itu mengajak lapar bermain teka-teki, untu­k menghibur diri. Ada satu teka-teki yang selalu diulang-ulang setiap kali lapar da­tang ber­tandang.

“Hiburan apa yang paling menyenangkan ke­tika lapar?” Dan orang miskin itu akan menja­wabnya sendiri, “Musik keroncongan.”

Dan lapar akan terpingkal-pingkal, sambil menggelitiki perutnya.

7.

Yang menyenangkan, orang miskin itu memang suka melucu. Ia kerap menceritakan kisah orang miskin yang sukses, kepadaku. “Aku punya kolega orang miskin yang aku kagumi,” katanya. “Dia merintis karier jadi pengemis untuk membesarkan empat anaknya. Sekarang satu anaknya di ITB, satu di UI, satu di UGM, dan satunya lagi di Undip.”

“Wah, hebat banget!” ujarku. “Semua kuliah, ya?”

Friday, 28 March 2003

Memento Mori

oleh sitok srengenge

Pada parasmu yang pucat
kubaca gurat isyarat:
cambuk angin
musim dingin,
perusuh yang kembali
dengan sisa dengki laskar Stasi

Cahaya terkubur di kota yang tisur,
anak-anak dan perempuan dari Timur
mimpi sekerat roti dan seteguk anggur

Sungguh, kausuguhkan padaku
malam itu:
letus tulang di tungku krematorium
dan kuntum-kuntum gandum yang alum

Selebihnya selingkup selimut,
selembut dan selembab kabut
digetar guruh yang meronta
jauh di relung hutan cemara

Dan kita pun tiarap,
dan napas pun tersekap
Kamar jadi sesunyi ruang kremasi
lenguh luluh terpanggang api birahi

Di balik matamu yang terpejam,
seorang perempuan membakar Mein Kampf diam-diam
Kata-kata perkasa si Fuhrer lantak ke dalam sekam,
seperti bara tubuhmu yang gemeretak padam
Sejarah, remah, gairah, kembali susut ke tanah,
tempat awal dan akhir langkah bertaut di satu noktah

“Bahkan kau yang berjalan dengan khayal
kelak istirah di sebuah negeri oriental:
sejenak jiwa
di sejengkal Jawa.
Tapi sukmaku akan senantiasa mengembara
mencari tanah yang dijanjikan, entah di mana.”

Selapang yang kaubayangkan, ribuan mil,
terbentang antara Eifrat dan Nil
Tapi kaummu merebut,
tapi kaummu terenggut

Burung-burung
lintas di remang bayang gedung,
tapi kaulihat diri sendiri, gamang di kegelapan
bicara dalam bahasa orang Selatan

Langit bagai telungkup nyiru
dengan geletar cahaya sohal
“Aku ingin kembali, Ibu.
Anakmu masih bocah nakal.”

1997
(Dikutip dari Nonsens, Kalam & KITLV, Jakarta, 2000, hal. 104-106)

Sajak Buah-buahan

oleh Saut Situmorang

seorang raja dengan kepala jambu monyet kuping jengkol
sedang ngisap ganja
sebesar M-16 yang diimpor dari Amerika
dalam lemari besi berkaca besi
yang tergantung di dinding kamar mandi istana kerajaan

betapa menyedihkan

laba laba main layangan
di kepala dan kuping yang sudah terlalu masak betul itu
dan lalat lalat hijau loreng loreng
main sembunyi sembunyian di kedua
lobang hidungnya yang mirip lobang kakus berjamur
dari mana menetes lahar berbau amonia

ini adalah sebuah sajak sentimental
yang ingin sekali kelak jadi kekal

seorang raja dengan kepala jambu monyet kuping jengkol
sedang jongkok semedi di sehelai daun keladi
yang terapung di air kuning kencing di bak mandi
monyet monyet berbulu hijau loreng loreng
tegak berdiri mengelilinginya
sambil masturbasi

betapa menyedihkan

di luar
tergantung di pintu

sebuah pengumuman: JANGAN DIGANGGU!
ATAU KULIBAS KAU!!!

Saturday, 14 September 2002

Ode Untuk Teman

Oleh bagus takwin (Bermain-main dengan cinta)

Pertemuan denganmu
sebuah kebetulan
- tentu saja bukan kecelakaan –
Kau di luar rencanaku
menggembirakan diri
tampil saja di sela-sela kemanjaanmu
Beginikah rasanya punya teman?
Hiruk pikuk hari-hari
lewat saja, ringan saja
dan kau memenuhi kekosongan
Kita berteman saja,
aku tak mempunyai niat terlalu jauh
Hanya kurasakan kesegaran
yang penuh saat bersamamu
Kurasakan kelancaran nafas hidup
Kurasakan detil dunia dalam matamu
Kurasakan suka cita waktu dalam gerakmu
Aku jadi temanmu saja
menyediakan detik-detik untukmu,
rauplah sesukamu,
datanglah mengeluh,
hiruplah kebaikan
sejauh ada padaku
Kita berteman saja ;
sebuah kenyataan
yang sangat mungkin abadi
menjelma kupu-kupu indah di suatu pagi
dengan bunga-bunga dan suara burung
Meski kau berlayar jauh dengan kekasih
aku adalah pelabuhan kala kau sendiri
Kita berdua memecah kesunyian,
membikin dunia terjaga
dan bersama bergembira
Kita berteman saja
Sambil tetap berdoa
demi ketulusan hati
yang kuingin tetap begitu
Ya, kita berteman saja
dalam hidup ini
dan nanti.

Tanpa Hati

Oleh bagus takwin, (Bermain-main dengan cinta)


Telah kubiarkan hatiku bunuh diri. Masih kuingat geleparnya yang terakhir, dan darah menggenang memantulkan bayang-bayang luka, merobek kegembiraan masa lalu. Kenangan yang masih membias sinarnya, memerah, melemah. Pupus.
 
Sejak lama aku berkemas, berjalan tanpa hati. Kubina diri tanpa rasa, mengupas suka-duka, melepas manis-getir, menebas keindahan dan buruk rupa. Jauh dan dekat darimu akan kutempuh, mengambang di telaga tanpa riak, mengapung di lautan datar. Hidup yang tanpa gemuruh, tanpa hiruk-pikuk, tanpa liuk-liuk, tanpa gelora. Hidup tanpa rasa.

Tapi cinta seperti kanker, menyebar pesat ke sekujur tubuh. Dan dirimu seperti cahaya, menyusup lorong-lorong tersempit. Dan diriku menyerapmu penuh, menghisap luruh.
Kau menari dalam darahku, menggenang, menggerayang, mengacak-acak sukma. Diriku tak lagi tertata seperti dulu. Wajahmu memompa jantung, banjiri benak.

Nafasku menghirup gerakmu
Lidahku mengecap nafasmu
Mataku mengeja bibirmu
Jiwaku memburu hatimu.
Lalu gelakmu, gegapmu, lenguhmu.
Lalu hidupku dipaku hidupmu
Tanpa hati memandangmu, aku tetap
gemetar
Menggelepar

Friday, 6 September 2002

Na Sonang Do Hita Na Dua


Oleh Goenawan Mohamad

Derun-derum daun Ithaca
seperti lagu
di radio masa kecilnya
Na sonang do hita na dua

Tapi tak ada lagi
orang yang berdua
(itulah komposisi
dalam nasibnya)

Yang ada hanya seseorang
yang membetulkan rambutnya
yang menipis, di pelipis
dan melihat ke akhir agenda

“Cinta kami adalah
dua nomor telepon yang hilang
dalam perpindahan
yang panjang”

Derum daun-daun Ithaca
brisik kersen tua
angin musim ketiga
mengontak ketakacuhannya

Tapi kamar telah menyetop
surat-surat
Juga Tuhan, kematian
dan rasa sakit di kejauhan
dengan siapa kita akhirnya
akan berada, akan berdua
seperti lagu
di radio masa kecilnya

1991

Thursday, 22 August 2002

surat cinta ke 11

oleh ihsan abdul salam 

ada orang yang masuk ke dalam kehidupan kita
dan berlalu dengan cepat,
ada yang tinggal beberapa lama dan meninggalkan jejak dalam hati kita
dan diri kita pun tak akan pernah sama seperti sebelumnya
kita akan menemukan kata-kata baru,
pengertian-pengertian baru dan juga sikap-sikap yang baru
kenal dan bersahabat dekat dengan seseorang
itu memang membutuhkan banyak pengertian, waktu dan rasa percaya
sahabat adalah harta yang paling berharga
sahabat adalah duka yang paling nestapa

Wednesday, 14 August 2002

Lima Komposisi tentang Belajar Mencintai Tuhan


oleh Ahmad Yulden Erwin

1

selamat pagi, tuhan. biarkan aku berjalan.

2

han, harus kuakui, saat ini bagiku segala yang ada di langit dan di bumi telah tak berarti. hidup yang terus-terusan dihantam obesesi, ditendang ke kanan dan ke kiri, dipermainkan ilusi.
han, semakin kucari makna hidup ini, semakin aku tersesat di dalam rimba kontradiksi. kebaikan atau kejahatan? kenyataan atau pembodohan? kebenaran atau kebohongan? kebebasan atau penindasan? keadilan atau perbudakan?
han, siang ini: tak ada yang bisa kupahami.

3

tuhan, kulihat kelaminku berwarna-warna.

4

han, malam ini: aku berdosa.
namun, aku tak tahu, apakah saat ini engkau tengah menangis atau tertawa. hanya sebatas kesadaran yang tersekat dalam waktu, selebihnya aku sama sekali tak mengenalmu.
han, malam ini: aku terluka.

5

tuhan pun menjelma pada sekuntum bunga: akulah madunya!

Thursday, 25 July 2002

Dan Duka pun Mengalir seperti Air


Oleh Ahmad Yulden Erwin

Kesaksian bagi Muhtar Ali

1
Di alam terbuka: kita bicara tentang cinta.
Di alam terbuka: kita bicara tentang duka.
"Cinta hanya membuat kita terlibat dalam prasangka, dalam mimpi-mimpi atau kenangan yang mungkin sudah kelewat percuma," ujarmu sambil menundukkan kepala. Ya, kini kulihat kau seperti telah kehilangan kendali, seperti telah kehilangan diri. Hanya garis kecewa yang tersisa pada guratan dahimu, tetapi kau selalu saja gigih mencoba mengalahkan rindu, meski kau selalu saja terjerat oleh perasaan cinta, meski akhirnya cuma duka yang kau terima.
Ada hampa yang menjerat bola matamu.
Ada benci yang mengikat garis senyummu.
Ah, tiba-tiba aku membayangkan: ada sungai yang mengaliri hatimu, ada sungai yang mengaliri dukamu.

2
Dan duka pun mengalir seperti air. Kau berkata: "Mungkin kita harus selalu tertawa, meski hidup cuma permainan yang getir." Kulihat wajahmu menyimpan kebimbangan yang enggan kauucapkan. Kedua bola matamu yang hampa, bersinar gelisah memburu cinta.
Betapa cemas kini kaurasakan perjalanan waktu. Betapa kuasa tangan-tangan sunyi menyekap ruang hatimu. Betapa banyak langkah yang kaupertaruhkan demi menuntaskan dahaga pencarianmu.
Astaga! Kini kulihat kau tak lagi berpijak di bumi. Kini kau telah menjelma kupu-kupu yang hinggap dari bunga ke bunga, namun kau pun merasa makin asing dengan dirimu sendiri: ya, cinta telah membuatmu jadi hampa.

3
"Bila kausakiti hati orang yang kaucintai, maka pedihnya akan menggores hatimu sendiri."

4
Dan duka pun mengalir seperti air. Kini kau jadi seorang lelaki yang berjalan sendirian di bawah gerimis hujan. Betapa pun pedih duka kaurasakan, kau tetap bertahan. Hitam rambutmu basah tergerai di dahi, kini tiada kauhiraukan.
"Kekasih, mengapa cinta, mengapa penuh dengan kebencian?" lirihmu, sambil memandang butiran hujan dan awan hitam yang bergerak perlahan. Namun kini matamu tak lagi basah oleh airmata, maka tak ada lagi duka merayapi sepanjang garis senyummu yang sederhana, maka kebencian berlalu bersama angin yang berhembus perlahan sehabis hujan. Mungkin kini kau berharap cinta sejatilah yang akan menuntunmu menjadi manusia, menghapus cemas pada sukma, membasuh debu-debu hatimu dengan cahaya.
Namun, siapakah kekasih yang selalu kautunggu itu?

Saturday, 20 July 2002

Soneta XVII

(oleh Pablo Neruda)

aku tak mencintaimu seolah-olah kau adalah serbuk mawar atau batu topaz
atau panah anyelir yang menyalakan api
aku mencintaimu seperti sesuatu dalam kegelapan yang harus dicintai
secara rahasia, di antara bayangan dan jiwa

aku mencintaimu seperti tumbuhan yang tak pernah mekar
tetapi membawa dirinya sendiri cahaya dari bunga-bunga yang tersembunyi
terimakasih untuk cintamu suatu wewangian padat
bermunculan dari dalam tanah, hidup secara gelap di dalam tubuhku

aku mencintaimu tanpa tahu mengapa, atau kapan, atau darimana
aku mencintaimu lurus, tanpa macam-macam tanpa kebanggaan
demikianlah aku mencintaimu karena aku tak tahu cara lainnya

beginilah: dimana aku tiada, juga kau
begitu dekat sehingga tanganmu di dadaku adalah tanganku
begitu dekat sehingga ketika matamu terpejam akupun jatuh tertidur

Poster Setengah Telanjang

~ untuk AM

Si kecil yang suka makan es krin itu sudah besar
dan perawan, sudah tidak pemalu dan ingusan
Ia gemar melucu dan pintar juga menggodamu
"Kau penyair ya? Kutahu itu dari kepalamu yang
botak dan licin seperti semangka."

Kau tergoda dan ingin lebih lama terpana ketika
matanya mengerjap dan bulan muncrat di atas
rambutnya yang hitam pekat.

Malam heboh sekali. Orang-orang mulai
resah menunggu kereta.
"Perempuan, kau mau ikut?"
"Emoh ah," katanya.

Kereta sudah siap. Para pelayat berjejal di dalam
gerbong sambil melambai-lambaikan bendera.
"Perempuan, ikutlah bersama kami.
Kita akan pergi menyambut revolusi."

"Ah revolusi. Revolusi telah kulipat
dan kuselipkan ke dalam beha."

"Lancang benar ia. Berani menantang kita
dengan senyumnya yang sangat subversif.
Ia sungguh berbahaya."

Lonceng terakhir telah selesai menyanyikan
Sepasang Mata Bola. Tinggallah malam yang redam,
langit yang diam. Tinggallah air mata yang menetes
pelan ke dalam segelas bir yang menempel pada
dada yang setengah terbuka, setengah merdeka.

(1997)
Joko Pinurbo 


~ dikutip dari kumpulan Joko Pinurbo " Celana" (1999)