Showing posts with label Jejak Esai. Show all posts
Showing posts with label Jejak Esai. Show all posts

Monday, 21 March 2011

Suara dan Rakyat

Menurut Kamus Bahasa Indonesia, rakyat itu adalah : (1) penduduk suatu negara: segenap -- Indonesia berdiri di belakang pemerintah; (2) orang kebanyakan; orang biasa (3) anak buah; bawahan.

Pada perjalanan waktu, suara mereka yang digusur, ditindas dan resah hingga turun ke jalan tak pernah didengar, maka yang dimaksud rakyat tentu bukanlah mereka. Karena pemerintah sering berkata : "Jangan sakit hati rakyat," "Dengarkan suara rakyat," hinggga menganggap diri "Wakil Rakyat."

Dan perkataan pemimpin harus merakyat menjadi sebuah teka-teki, apa yang dimaksud dengan merakyat? Menjadi rakyat yang mana?

Ada pula yang perlu digugat defenisi dari :
# rumah Rakyat : Gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat
# kedaulatan rakyat : kekuasaan tertinggi ada pada rakyat; demokrasi
# pendidikan rakyat : pendidikan yg ditujukan kepada semua anak dan diselenggarakan oleh atau dengan bantuan pemerintah

Maka defenisi rakyat harus ditinjau ulang, karena dalam kenyataannya terdapat apa yang dikatakan :

# rakyat biasa : orang kebanyakan; bukan bangsawan; bukan hartawan
# rakyat gembel : [Jk] orang (golongan orang ) yang sangat papa, tidak mempunyai tempat tinggal dan tidak mempunyai pekerjaan tetap
# rakyat jelata : rakyat biasa (bukan bangsawan, bukan hartawan); orang kebanyakan
# rakyat kebanyakan : rakyat biasa
# rakyat kecil : orang yang tingkat sosial ekonominya sangat rendah; orang kebanyakan bukan penguasa pemerintahan)

Rakyat itu seharusnya adalah orang kebanyakan, orang biasa. Maka bila ia sudah berada dalam lingkar penguasa, pembuat kebijakan hingga memiliki kemampuan ekonomi, maka ia bukanlah rakyat.

Bila dikatakan "Mari dengar suara rakyat" maka itu adalah hal yang mustahil di republik ini. Karena suara rakyat adalah suara orang-orang yang tak memiliki kemampuan apa-apa, suara yang tak terlibat dalam keputusan politis. Kalaupun dipaksakan ada, suara rakyat seharusnya adalah suara orang kebanyakan, suara orang kelaparan, suara orang yang menanti pekerjaan, suara orang yang butuh pendidikan. Suara kebanyakan yang minta diperjuangkan bukan diperjual belikan dalam pertaruhan kekuasaan.

Ungkapan Vox Populi Vox Dei, suara rakyat suara Tuhan, tak mungkin ada di republik yang bertuhan namun anti rakyat. Dan perkataan suara dan rakyat adalah dua kata yang tak bisa disandingkan lagi. Rakyat dan suara adalah kata-kata yang bertolak belakang.

Saturday, 12 February 2011

Mengurung Tuhan

Tuhan milik nenek moyangku dulu itu, kini entah ke mana. Ingin bertanya, apa yang salah pada masa kini.

Tapi pohon-pohon besar itu sudah ditebang, menjadi altar dan penyangga atap rumah ibadah agama pendatang. Batu-batu besar itu pun juga dipecahkan untuk menjadi pondasi kuat melindungi penganutnya. Sungai-sungai telah kotor, padahal dulu kejernihan dan kedamaiannya menjadi inspirasi hidup, bahwa hidup tak perlu serakah (tak perlu mendominasi/menindas keyakinan orang lain), mengalir menuju lautan teduh (menuju pelukan Tuhan yang Kuasa).

Dan kesuburan bumi menjadi bukti alam memelihara manusia. Sementara kini, kesuburannya hilang bersama suburnya pemeluk agama yang ketakutan saat gunungan kemunafikan memuntahkan laharnya. Saat gunung-gunung tua menunjukkan sabdanya. Saat Lautan Teduh meratakan desa dan kota serta rumah-rumah tempat mengurung Tuhan.

Republik Sebelanga

Apakah bisa susu setitik ‘merusak’ nila sebelanga? Tentu tidak bisa. Namun nila setitik mampu 'merusak' susu sebelanga. Susu yang berwarna putih itu tak akan mungkin membuat nila yang berwarna indigo (antara biru dan violet) berubah menjadi putih apalagi hanya setitik. Warna putih jelas tidak dominan terhadap warna indigo.
Sebaliknya warna nila bisa merusak warna putih. Tak heran bila ada pepatah mengatakan : "Karena Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga." 
Karena sifat warna putih yang tidak dominan terhadap warna nila itu maka meskipun jumlah susunya ratusan titik bahkan sama banyaknya dengan nila pun takkan membuat isi belanga menjadi putih. Seratus kali lebih banyak pun susu tak bisa membuat nila menjadi putih bersih.

Cara yang paling mujarab untuk membuat isi belanga seputih susu yakni membuang semua nila ke selokan lalu mencuci belanga bersih-bersih dan kemudian mengisinya dengan susu murni.
Begitukah yang harus dilakukan di republik ini?

Friday, 24 December 2010

Oost-indisch doof

Sudah Tercapaikah Cita-cita Proklamasi? (Sumber image : www.rnw.nl/bahasa-indonesia)
Esai ini diikutsertakan dalam sayembara Cita-cita Proklamasi yang diadakan oleh  Radio Nederland Wereldomroep (RNW) atau Ranesi. Dan pemenang pertama adalah tulisan Oost-indisch doof. Berikut ini isi lengkapnya.

Oost-indisch doof 
Oleh: Edi Santana Sembiring
(Diterbitkan di Radio Nederland Wereldomroep (RNW)16 Agustus 2010)

Pada masa dulu, orang Belanda punya suatu ungkapan yang sangat pedas bagi bangsa Indonesia yaitu “Oost-indisch doof,” yang secara harfiah berarti "tuli gaya Hindia-Timur." Oleh Y.B. Mangunwijaya (Ragawidya, 1986) perkataan Oost-indisch doof diartikan untuk menunjuk keseseorang (biasanya pelayan/jongos) yang sungguh-sungguh sadar, bahwa ia dipanggil, tetapi karena tak senang ditambahi pekerjaan atau soal, pura-pura tidak mendengar. Dan saat sang Tuan marah, mereka hanya berkilah, "maaf, saya tidak mendengar perkataan, Tuan."

Istilah ini terasa pedas di hati, ungkapan ‘tuli’ dicap pada mereka-mereka yang punya telinga dan baik pendengarannya, tapi tak mau mendengar perintah. Namun menjadi jenaka oleh alasan berpura-pura tidak mendengar karena malas diberi tugas. Seperti dagelan dalam Srimulat, menjadi sangat menghibur penonton ketika seorang pemain pura-pura tak mendengar atau berperan tuli, namun ketika mendengar kata uang, ia bertanya, “uang? mana?”

Bulan ini kita merayakan kemerdekaan bangsa Indonesia yang ke 65 tahun, dan ternyata budaya “Tuli gaya Hindia-Timur" masih nyata bersarang tidak saja pada lapisan masyarakat terendah namun juga sudah merasuki para pejabat negeri ini, para abdi (pelayan) masyarakat.

Setiap waktu tertentu kita mendengar jeritan orang-orang yang rumahnya kebanjiran, namun tetap saja banyak masyarakat yang membuang sampah ke kali. Kita mendengar banyak orang menangisi anaknya yang mati karena DBD, namun kita tak pernah ingat menguras dan membersihkan selokan. Suatu kali kita terperangah saat seorang anak SD gantung diri, karena malu tak mampu ikut berdarmawisata atau tak bisa lagi sekolah. Peristiwa itu mungkin tak jauh dari pintu-pintu rumah kita, namun kita selalu menutup pintu hati kita.

Kebanyakan dari kita mendengarnya, namun kita pura-pura tak mendengarnya. Diam seribu bahasa, seakan ini bukan persoalan kita. Untuk apa repot-repot. Toh, semua itu tugas pemerintah yang telah mendapat mandat dari rakyat dan digaji oleh rakyat.

Lalu mata kita berarak pada pemimpin-pemimpin yang telah kita pilih. Apakah mereka juga mendengar?

Mereka begitu berwibawa membuka tangan menyambut para demonstran yang datang ke rumah rakyat, selanjutnya bak berlakon Pontius Pilatus mereka mencuci tangan. Tak ubahnya juga dengan pemerintah yang sibuk membuat resep kemakmuran, namun kita yang dulu makan tidak teratur kini berubah menjadi teratur tidak makan.

Tahun depan kita akan menemukan perayaan ini kembali, namun seperti biasa kita hanya puas dengan suguhan panjat pinang, balap karung atau lomba makan kerupuk. Sementara di atas pentas mereka berlomba memanjat dinding hukum yang membatasi, berlari dengan karung-karung uangnya sambil tak lupa saling berbagi porsi kekuasaan.

Dirgahayu bangsaku, dirgahayu jerit-jerit yang tak pernah sunyi walau kita menutup kuping sekalipun.

Tampilan tulisan “Oost-indisch doof” di situs Radio Nederland Wereldomroep (RNW) klik
Dan pengumuman pada tanggal 27 Agustus 2010, juara pertamanya yang dimenangkan oleh tulisan “Oost-indisch doof “ klik.

Thursday, 16 December 2010

Si Kaki Lima


Pedagang Kaki Lima di Kediri (sumber : http://kediriku.wordpress.com/2008/08/01/hak-pejalan-kaki/)
Banyak orang salah mengerti  tentang arti dari kalimat Kaki Lima atau kita kenal juga sebuah sebutan lain yaitu Pedagang Kaki Lima (PKL) bagi mereka yang mencari nafkah ditepi jalan atau di trotoar. Nasib sang Pedagang Kaki Lima dan asal-usul dari nama itu tak jauh berbeda, sama-sama kabur. Padahal setiap hari kita melintasi dan mendapati mereka, seperti juga dengan keberadaan mereka yang diakui dengan adanya restribusi entah itu kebersihan, kemananan dan lain sebagainya. Ini pertanda mereka ada dan diakui, namun di saat tertentu mereka diusir dan dikejar-kejar, berusaha dienyahkan dari modrenitas kota yang bersolek angkuh.

Pedagang Kaki Lima kini dipakai untuk menyebut mereka yang berdagang dengan menggunakan gerobak. Tafsir penamaan kaki lima bagi pedagang itu adalah karena adanya kesan 2 roda ditambah 1 penopang gerobak ditambah 2 kaki pedagang. Sehingga ada 5 “kaki” terlihat. Tafsir ini tak saja melekat di otak kita, tapi juga telah ditelan bulat-bulat oleh media asing.

Misalnya apa yang dikatakan oleh R. William Liddle tentang sebuah artikel di Sydney Morning Herald (ditulis oleh seorang wartawan bernama Matthew Moore) yang mengangkat kisah pedagang kaki lima di Indonesia. Pada artikel itu tertuliskan:
‘Kaki limas’ or five legs is the name given to the hundreds of thousands of mobile food stalls that line the streets and are so named because, from a distance, they seem to have five legs if you count those of the operators sx (‘Kaki lima’ atau lima kaki adalah nama yang diberikan kepada ratusan ribu warung makanan beroda yang berada di tepi jalan dan diberi nama tersebut sebab, dari jauh, kereta itu memberi kesan berkaki lima kalau kaki penjaja ikut dihitung).
R. William Liddle menemukan tak hanya itu saja artikel yang salah mendefenisi arti pedagang kaki lima. Banyak juga artikel dalam bahasa Inggris yang mengulangi kesalahan tersebut. Malah menurut R. William Liddle, belum ada orang Indonesia yang menjelaskan bahwa sebutan sebenarnya adalah pedagang kaki lima, bukan kaki lima saja. Dan banyak yang perlu disadarkan bahwa kaki lima adalah nama lain buat trotoar atau sidewalk.

Sebenarnya istilah Kaki Lima berasal dari masa penjajahan Belanda. Peraturan saat itu menetapkan bahwa setiap jalan raya yang dibangun harus menyediakan sarana bagi pejalan kaki atau yang kita kenal sebagai pedesiran (trotoar). Lebar pedesiaran itu adalah 5 feet atau lima kaki atau berkisar satu setengah meter. Tak hanya di Indonesia, Raffles yang juga pernah berkuasa di Indonesia menerapkan peraturan yang sama bagi Singapura. Sir Stamford Raffles dalam 'Town Plan of 1822' juga merancang ruang five foot ways itu. Dan hal ini juga terjadi di Malaysia yang dijajah juga oleh Inggris.
Five Foot Way di Singapura (sumber http://www.pbase.com/timpassey/image/73654118)

View of the 5-foot way in front of Garibaldi. 5-foot ways used to be a very important aspect of Singapore in the early days. (sumber gambar : http://365days2play.wordpress.com/category/1-9-others/yy-kafei-dian-others/)
Dalam Kamus Bahasa Indonesia, terbitan Pusat Bahasa Departeman Pendidikan Nasional, Kaki Lima diartikan atau mempunyai pengertian sebagai berikut antara lain : 1 ark lantai diberi beratap sbg penghubung rumah dng rumah; 2 serambi muka (emper) toko di pinggir jalan (biasa dipakai tempat berjualan); 3 (lantai di) tepi jalan;.

Bila menilik dari pengertian kamus ini, maka Kaki Lima yang sebenarnya adalah sama dengan five foot ways di Singapura. Mempunyai fungsi untuk melindungi pejalan kaki (juga menghindarkan pejalan kaki dari panas/hujan). Kalaupun pada akhirnya menjadi tempat berdagang sehingga mengganggu pejalan kaki, ini dikarenakan mereka juga ingin mendapatkan remahan rejeki dari para warga yang berbelanja ke toko-toko tersebut. 
Five foot way is the typical architecture style that is unique and native in South East Asia shophouses. The covered walk way is within shophouse property but is for public use, providing shade from sun and rain. This design is by law requirement for shophouses since British Malaya era. Thus the footway infront of shophouses must be at least five feet in the clear.This photo was taken in Malacca. (http://shutterpace.com/2009/five-foot-way#more-112)
DEMI Piala Adipura 2010, Pemkot Jakarta Timur melakukan penertiban pedagang kaki lima (PKL) di sejumlah titik. (sumber http://www.surya.co.id/2010/03/23/demi-adipura-pkl-dikorbankan.html)
Hanya mereka yang memiliki modal besar sajalah yang mampu berjualan di toko-toko tersebut, sehingga dengan segala usaha mereka (PKL) pun ingin bertahan hidup, walau pada akhirnya mereka selalu waspada dari incaran petugas penertiban ataupun satpol PP. Dan kalaupun esok lusa, nasib para PKL tak juga jelas keberadaannya (dengan ‘kewajiban’ yang telah mereka laksanakan), maka sebutan Pedagang Kaki Lima dapat diartikan dengan sepasang kaki pedagang diburu oleh sepasang kaki petugas yang dibekali oleh negara dengan sebuah pentungan yang dibeli dengan uang rakyat.
Edi Sembiring


Sumber bacaan :
R. William Liddle adalah seorang Indonesianis, guru besar di Jurusan Ilmu Politik Universitas Negara Bagian Ohio (OSU), Colombus, Ohio, Amerika Serikat.

Tuesday, 5 October 2010

Jenderal, turunkan tanganmu…



“Jenderal, turunkan tanganmu…
apa yang kau hormati siang dan malam itu?
apa karena mereka yang di depanmu itu memakai roda empat?



Bah!!!

Tidak semua dari mereka pantas kau hormati !
turunkan tangan mu Jenderal… “

Lalu Nagabonar pun maju ke depan dan mulai memanjat patung Jenderal Sudirman di Jalan Sudirman, Jakarta. Di kaki patung Jendral Sudirman, dia melihat ada seutas tali menggelantung dari tangan kanan sang Jendral yang sedang memberi hormat. Ia menarik tali itu dan memanjatnya.

Nagabonar menengadah sambil menangis, dari mulutnya terucap pinta :
“turunkan tanganmu, Jenderal !
turunkan tanganmu, Jenderal !
turunkan tanganmu, Jenderal !
turunkan tanganmu, Jenderal !”

Patung Jendral Sudirman berdiri sepi di antara riuhnya kehidupan belantara hutan beton. Ia berdiri menghadap ke arah istana Presiden. Tangannya dalam sikap hormat, menghormati keputusan Soekarno sebagai pemimpin negeri ini saat itu walau dalam beberapa hal mereka berbeda pandangan menyikapi kelicikan diplomasi Belanda.

“…kalau Belanda menyakiti Soekarno, bagi mereka tak ada ampun lagi. Belanda akan mengalami pembunuhan besar-besaran”, janji Soedirman di hadapan Soekarno. Saat itu Soedirman berusia 32 tahun dan Soekarno lebih tua 15 tahun darinya. Hubungan mereka berdua baik, seperti kakak dan adik. Dalam sebuah suratnya sebulan sebelum Soedirman wafat, Soekarno ada menulis : "Nanda doakan kepada Tuhan, moga-moga Dinda segera sembuh....."

Kini penjajah Belanda sudah tak ada lagi. Nagabonar pun sudah ke kota. Jendral Sudirman juga tak lagi ditandu. Ia bisa berdiri gagah berani bersama Indonesia merdeka. Kalau dulu di belantara hutan dan sepi, kini beliaupun masih berada di antara belantara keterasingan. Indonesia kini yang mungkin tak akan dikenalinya lagi.

Modrenitas membuat penduduk negeri ini, pelan-pelan mengucilkan diri dari nilai-nilai sejarah. Patung dan taman makam pahlawan hanya menjadi sejarah dingin, sehening tunduk sujud mereka diharibaan ibu pertiwi. "Panggilan ibu pertiwi" (seperti yang diucapkan Nagabonar) menjadi igauan di siang hari. Kata "mengisi kemerdekaan” menjadi hilang makna. Bangga hanya mampu memegang teguh Pancasila tapi tak dijalanlan apalagi dengan didasari keikhlasan.

Melihatnya, patutlah kita pun ramai-ramai meminta :
Turunkan tanganmu, Jendral !
Mereka tak patut kau hormati.
Mereka telah lama menggadaikan negeri ini.
Mewariskan utang pada anak cucu kami.
Meninggalkan bara panas di kegelisahan antara sesama anak negeri, saling tindas menindas, saling curiga mencurigai.
Menyumbang kebobrokan moral dengan menyuburkan mental korupsi di tubuh birokrat.
Menebar kantong-kantong kemiskinan yang mendulang penyakit-penyakit sosial.
Menjerat kami pada sistem politik dan hukum yang tak berpihak, daulat rakyat telah dikebiri.

Kami minta :
turunkanlah tanganmu, Jendral.
Kau tak perlu beri hormat. Biarkanlah kami yang memberi hormat kepadamu, bukan kepada Dia.

Kepada pemimpin yang takut dengan Belanda yang telah kau TUNDUKKAN dan USIR dari negeri ini.

(ketika negeri ini merayakan HUT TNI hari ini, bersama itu pula kita menyaksikan ketakutan pemimpin kita pada sekelompok orang di Belanda, hingga tiba-tiba SBY membatalkan kunjungannya ke Belanda. Dulu Soedirman berkata : "...kalau Belanda menyakiti Soekarno, bagi mereka tak ada ampun lagi. Belanda akan mengalami pembunuhan besar-besaran." Mengapa SBY takut bahwa TNI akan tak bersikap sama seperti Soedirman?)

Thursday, 30 September 2010

Bermula dari Ucapan para Pelacur



Boeng, Ajo Boeng karya Affandi (1945)
Kata “bung” terdengar sangat heroik bersama letupan tabik “merdeka!” Di setiap pertemuan kaum-kaum berbambu runcing dulu, mereka menyapa tajam, setajam niat untuk membelah negeri dari penjajahan si mata biru. “Bung" adalah para pemuda pejuang berambut panjang dan tangan terkepal. “Bung” menjadi hasutan yang menggiring pemuda-pemuda mengenal arti kata merdeka. “Bung” adalah keberanian, kebebasan dan kemerdekaan itu.

Di kalangan pemimpin kemerdekaan, kata bung juga disematkan di depan Soekarno dan Hatta. Di sela-sela diskusi kaum-kaum gelisah, kata bung menunjuk hidung bagi mereka yang mau berpikir segera dan menyurutkan langkah bagi kaum peragu. Kata “bung” menjadi ruh yang menobatkan diri bahwa kemerdekaan harus direbut dengan cara pasti. Sehingga segerombolan pemuda dengan yakin “menculik” Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok untuk sebuah kepastian : kemerdekaan!

Melalui Radio Pemberontakan, Soetomo berbicara lantang. Sang “bung” menjadi mesiu yang membakar semangat, hingga perlawanan berkobar di Surabaya tanggal 10 November 1945. Bung Tomo adalah bung dengan penuh kepastian, ketika debat telah mengalir panjang dalam penemuan kelamin dari arti kemerdekaan, kata bung menjadi keteguhan. Bangkit dan melawan!

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diterangkan arti "bung" sebagai abang; panggilan akrab kepada seorang laki-laki. Sederhana dan apa adanya. Namun kisah heroik masa lampau menyeret kata bung tak jauh dari kata perlawanan, berkalung derita dan bermandi darah. Dan kata bung ada dalam ketulusan memilih pondasi yang tepat pada mimbar-mimbar pledoi pembelaan di depan pengadilan Hindia Belanda. Bung tak mampu dikurung dalam penjara-penjara dingin, karena di luar sana semangat si bung tetap menyala.

Dinding-dinding tercakar kata, bertulis “Merdeka atau Mati” ataupun di gerbong-gerbong Kereta Api. Kata-kata itu diambil dari penutup pidato Bung Karno, 1 Juni 1945, “Lahirnya Pancasila”. Hingga menggiring beberapa pelukis ambil bagian untuk menambah daftar penyemangat. Mereka ingin membuat poster yang bertendensi mengobarkan semangat juang rakyat, atas permintaan Soekarno. Salah satunya adalah seorang pelukis bernama Affandi.

Sebuah poster yang idenya dari Bung Karno terlukis sebagai gambar orang yang dirantai tapi rantai itu sudah putus. Yang menjadi model saat itu adalah pelukis Dullah. Namun terasa kering, ketika belum ada kata-kata yang tertoreh di poster itu. Soedjojono, bapak seni lukis modern Indonesia, berinisiatif menanyakan kepada Chairil Anwar yang kebetulan baru datang ke sebuah pertemuan.

Tuesday, 14 September 2010

Jangan Bodohi Anak Kami

Pembodohan Siswa Tersistematis karangan M. Joko Susilo, PINUS Book Publisher Yogyakarta
Pembodohan Siswa Tersistematis
karangan M. Joko Susilo, PINUS Book Publisher Yogyakarta
Kita sadari bahwa “Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa lain” (Jalan Raya Pos, Jalan Deadels: hlm. 70); sementara “Semua yang terjadi di kolong langit ini adalah urusan setiap orang yang berfikir” (Rumah Kaca, hlm. 38) maka ketahuilah bahwa “Seorang tanpa prinsip adalah sehina-hina orang, setengik-tengiknya” (Rumah Kaca: hlm. 73).

Dan juga sama-sama kita pahami bahwa “Selama penderitaan datang dari manusia, dia bukan bencana alam, dia pun pasti bisa dilawan oleh manusia" (Anak Semua Bangsa: hlm. 204);

Untuk itu aku katakan padamu wahai penguasa, “Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap tangis manusia; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput” (Bumi Manusia: hlm. 119).

Mari merdekakan negeri, dimulai dengan memerdekakan anak-anak, calon anak-anak panah yang akan menghujam jantung sang Penindas. Untuk itu didiklah mereka dalam kemerdekaan.

"Kami orangtua ini tidak boleh menguasai jiwa anak. Kami cuma berkewajiban memasukkan paham merdeka dan kejujuran dalam jiwa yang masih bersih itu. Kami tidak boleh mempengaruhi dan menguasai batinnya. Dan cinta yang suci itu hanya bisa tumbuh bila batinnya merdeka..." (Menggelinding 1).

Wahai huruf……
Alangkah akan tinggi ucapan
Terima kasihku, bilalah kamu
Menjadi buku terbuka
Bagi manusia yang membacanya

(Menggelinding 1).

Catatan : Semua judul buku di atas adalah karangan Pramoedya Ananta Toer.
Masyarakat yang demokratis harus menyediakan kesempatan pendidikan yang sama bagi semua warganya serta kualitas pendidikan yang sama. Hakikat pendidikan yang demokratis adalah pemerdekaan. Tujuan pendidikan dalam suatu negara yang demokratis adalah membebaskan anak bangsa dari kebodohan, kemiskinan dan berbagai “perbudakan” lainnya. (M. Joko Susilo).
  Edi Sembiring

Tuhan Tak Lagi di Atas

Suatu ketika, Tuhan mengeluh kepada malaikat, karena dikejar-kejar terus oleh doa-doa manusia.

“Dengarkanlah, mereka memintaKu untuk menjaga rumahnya. Menghantarkannya dengan selamat hingga ke tujuan. Membantunya menjawab segala ujian di sekolah. MengharapkanKu agar mampu menaikkan jabatan mereka atau mengelakkan mereka dari tugas rutin kantor bahkan memaksaKu agar teman yang diinginkannya mau menjadi pacarnya atau teman hidupnya.”

Malaikat pertama menyarankan Tuhan agar bersemayam di puncak gunung yang sangat tinggi. Sementara malaikat yang kedua mengusulkan agar Tuhan bertahta di dasar samudera yang paling dalam.

Namun, Tuhan rasa itu percuma, karena manusia mampu ke sana. Doa manusia selalu kepada “Yang Di Atas” atau “Pintanya sedalam lautan.”

Malaikat ketiga unjuk bicara, ia mempersilahkan Tuhan bersemayam di hati manusia. Menurutnya, “pasti tak terjangkau, karena manusia tak pernah menyapa hatinya sendiri. Manusia kadang tak berdamai dengan hatinya sendiri.”

Tuhan ternyata bersemayam di bagian yang paling halus dalam hati manusia yang dinamakan sirr (rahasia) atau disebut juga tahta kesadaran (Manunggaling Kawula Gusti, 1990 : 2140).

Mari berziarah ke dalam hati kita, tahta kesadaran kita. Kesadaran bahwa Tuhan ternyata juga ada di hati-hati mereka yang lapar dan terluka.
Edi Sembiring

Sunday, 18 April 2010

Membunuh Germo


"seorang pelacur yang sukses lebih baik dari seorang suci yang sesat"


Doa seorang WTS


Pelacuran atau prostitusi dianggap sebagai pekerjaan yang tertua di dalam sejarah manusia, namun pelacuran kian kelam tanpa jelas warna profesinya. Hal yang sangat aneh, ketika masyarakat membenci dan menghina pelacur  dan di saat itu pula banyak pemerintah daerah tak malu-malu minta upeti dari hasil usaha mereka. Dimulai dari pejabat rendah dan setingkatnya lalu menanjak ke atas. Ini bukan rahasia umum lagi.

Ada himbauan yang didengungkan dan dianggap sebagai pembenaran tentang pelacuran yang dianggap sebagai gejala patologi sosial atau penyakit sosial.  Seakan-akan ini menjadi penyakit yang begitu menakutkan, padahal mereka adalah manusia-manusia biasa yang tak sehebat manusia-manusia seperti pelacur-pelacur politik yang wangi-wangi.

Hidup sebagai pelacur adalah menyakitkan dan mereka tentu tak menghendakinya. Dunia kerja yang mempertaruhkan jiwa  dan raga. Dan mereka tak punya pilihan, harus mampu melayani semua tamu. Seperti perihnya sajak yang ditulis oleh Subagio Sastrowardoyo , di tahun 1987, yang berjudul :

Doa Seorang WTS

Tuhan jangan harapkan saya sempurna
Kesucian saya tak mungkin bisa pulih
Laki saya kerja di pabrik rokok.
Yang dibawa pulang saban bulan cuma
10.000. Selebihnya dihabiskan di mainan
judi buntut. Sedangkan anak-anak masih
kecil, tiga. Yang sulung baru kelas dua SD.
Mereka perlu makan, perlu obat kalau sakit.
Belum lagi pakaian untuk lebaran, hiburan ke kebun binatang.
Mana bisa cukup uang segitu.
Pernah saya coba jualan kain di pasar
dan menjaga toko juragan beras. Tapi hasilnya cuma pas-pasan.
Badan saya jadi kurus tidak terpelihara.
Lalu saya beginilah jadinya. Sekali-kali
saya diajak hidung belang ke Jakarta
bermalam di hotel mewah. Lumayan pendapatannya.
Berapa sudah lelaki yang sempat tidur sama saya.
Bisa saya renteng sepanjang jalan dari
Solo ke Jogya. Saya tidak sedih,
tidak berkeluh kesah, justru ini
nasib yang saya pilih. Saya tak peduli
pada neraka. Yang saya cari cuma Surga.
Bilanglah mana yang disebut dosa
Kalau memang butuh menyambung nyawa
Ah, Tuhan, jangan harapkan saya sempurna.

Membacanya seperti sebuah tumpukan maaf kepada Tuhan atas perbuatannya, karena ia dilahirkan pada keadaan yang tak berpihak baik kepadanya. Justru kehidupan yang kian menakutkan, kemiskinan yang kian mencengkram, tak adanya lagi harapan dan manusia-manusia yang kuat memangsa dan menjebak wanita sebagai kaum yang lemah. Dan inilah kekuatan-kekuatan yang kian menceburkan perempuan-perempuan yang terjepit ke dalam dunia pelacuran. Mereka dikalahkan oleh masyarakat sendiri.

Banyak cerita mengapa mereka terjebur ke dalam dunia pelacuran, dimulai dari perdagangan manusia, disakiti pria, ditinggalkan suaminya, jebakan-jebakan dalam perangkap utang dan sebagainya. Terlihat mereka pada posisi yang lemah dan rapuh. Namun ketika mereka mulai bekerja dengan segala keterpaksaan itu, mereka menjadi obyek lelaki, namun ketika pemakainya harus membayar mereka menjadi subyek. Dengan kata lain ia melayani bukan gratis atau dikatakan oleh Gadis Arivia, pelacur adalah tipe manusia  yang amat kompleks.

Dalam novel berjudul Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Saadawi, bercerita tentang seorang pelacur Mesir yang dihukum mati oleh karena membunuh germonya. Ia sebenarnya bisa bebas, bila mau menandatangani petisi untuk mendapatkan grasi dari presiden, tapi ia menolaknya.

Pembunuhan itu dilakukannya dengan sadar sebagai bentuk protes untuk menentang pemerintahan, presiden dan sistem yang telah menjadikannya budak nafsu laki-laki hidung belang. Padahal dalam hidupnya ia ingin menjadi seorang pelacur yang bebas, bukannya seorang budak.

Itulah sebabnya ketika sang germo terlalu banyak mengatur, ia membunuhnya. Dan ia rela untuk semua itu menebusnya dengan kematian pula. Kematian yang menghantarkannya kepada kesadaran bahwa ia adalah bukan manusia yang dicitrakan masyarakat baginya, tetapi ia adalah manusia bagi dirinya, yang bertanggung jawab dan memiliki kuasa untuk memilih yang terbaik bagi dirinya sendiri.

Jean Paul Sartre menyebutnya sebagai entre-pour-soi atau ada bagi dirinya. Kematiannya akibat membunuh germo itu untuk membuat dirinya ’lebih hidup’ dibandingkan jika ia hidup. Ia menjadi arsitek bagi dirinya bukan oleh masyarakat yang sudah sekian lama ia terima cibirannya.

Pelacur menata dirinya walau sekitarnya berkoar-koar akan nasibnya. Seolah-oleh mereka bagai malaikat yang hanya bisa mematung namun bibirnya cerewet mengejek dan memaki. Mereka marah tanpa pernah memberi jalan keluar, bahkan pelacur-pelacur itu kian terjepit. Padahal pelacur itu menjalani hidupnya untuk membuat dirinya lebih hidup walau mereka menganggapnya redup dalam hidup yang terlihat  remang-remang.

Berikut ini pengakuan seorang pelacur Pasar Kembang bernama Surti, 35 tahun, asal Solo, Jawa Tengah yang saya kutip dari buku Mampir Mas karya Wahyudin :

Malam lebaran 18 January 1999. gema takbir mengharu biru kota Yogya. Tapi Pasar Kembang sepi ngelangut. Hanya segelintir pelacur yang tersisa, sebahagian besar lainnya telah pulang kampung atau entah ke mana. Belakangan ini kami dicekam rasa takut. Salah satu kelompok pendukung partai politik telah mengancam untuk menggerebek Pasar Kembang. Malam ini saya seharusnya sudah berada di rumah. Tapi isi dompet membuat nyaliku ciut untuk pulang dan menghadapi pertanyaan-pertanyaan lugu empat orang anakku tentang sekeranjang oleh-oleh lebaran,. Karena itu saya terpaksa ‘berdinas’ lagi, sekalipun gemuruh suara orang-orang yang memuji dan mengagungkan nama Tuhan seperti menuding-nuding mukaku.

Ia begitu berharga di mata anak-anaknya, saat malam itu ia mendapatkan pelanggan yang bermurah hati dan memberinya Rp.200.000,- penghasilan yang besar bagi pelacur yang tak muda, dan ia berkata, “Tuhan mengasihiku.” Ia menyebut namaNya.

Pelacur kehidupan.
Pelacur tidaklah mesti dimateraikan bagi mereka-mereka yang menjadi pekerja seks komersial (PSK). Dalam kehidupan sehari-haripun kita banyak menjumpai para pelacur-pelacur yang bergentayangan dan tanpa sadar berkuasa pada kehidupan kita. Bahkan terkadang mulut-mulutnya menjadi kata-kata suci bagi kita.

Sementara dari balik jeruji besi penjara Qanatir, seorang pelacur terpidana mati mengungkapkan kata-kata : seorang pelacur yang sukses lebih baik dari seorang suci yang sesat. Itulah kata-kata yang diucapkan oleh pelacur bernama Firdaus dalam novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal El-Saadawi.

Apa lacur, nasi sudah menjadi bubur, itulah kalimat yang sering terucap ketika mencoba untuk tak menyesali apa yang sudah terjadi. Seperti saat seseorang mendengarkan kabar anak gadisnya hamil di luar nikah, atau suami yang terlanjur menghamili selingkuhannya. Termasuk juga dengan seseorang yang tak bisa menjadi idealis karena lingkungan kerja mengharuskan ia mempersulit yang gampang, membudayakan sogok sana-sogok sini.

Pekerjaan sogok sana-sogok sini bukan hanya terjadi di kamar remang-remang milik PSK, tapi juga terjadi di ruang terang dan di atas sumpah jabatan. Di belakangnya sang pemimpin tersenyum di dinding menatap segala kebohongan. Apa lacur, beliau-beliau telah diangkat menjadi pemegang kekuasaan-kekuasaan untuk kebijaksanaan yang harus melewati meja-mejanya. Banyak meja yang menjadi alas pelacuran, banyak upeti yang melewati tangan-tangan, tanpa perlu bersolek dan berkucing ria dengan satpol PP. Sementara mereka sudah jelas mandi kucing dengan keringat-keringat jelata yang mengurus KTP atau surat keterangan domisili atau keringat-keringat pekerja proyek yang di mark up untuk memenangkan tender.

Pejabat melacurkan diri demi karir, upeti untuk atasan atau simpanan untuk persiapan naik jabatan. Tak mau kalah pula pejabat-pejabat di bawahnya yang mengejar setoran untuk keluarga di saat kehidupan begitu mahalnya dan ruh konsumtif begitu belianya dan merangsang sang istri atau anak memiliki kebendaan.

Di tingkatan langit yang maha luas, para politisi yang meniduri ibu pertiwi telah pongah melacurkan diri pada kuasa. Dengan segala cara mencari dukungan saat kampanye, janji-janji manis dan rayuan maut. Bermanuver atas nama rakyat dan menjelma menjadi germo-germo kekuasaan, selanjutnya memeras rakyat dalam segala kebijaksanaan yang membuat kelamin politisi kian mengkilat. Selanjutnya liurnya menetes dalam desah menuju pemilu tahun 2014.

Hidup yang lambat berjalan melahirkan pelacur-pelacur kehidupan. Mereka-mereka yang bekerja tanpa hati. Uang menjadi Tuhan. Ini tampak pada dinamika kota-kota besar seperti Jakarta. Gaya hidup tinggi bagi kaum urban menjadi harga diri. Hingga mereka dengan bayaran yang tinggi  untuk menunjang gaya hidup yang tinggi pula. Dan stress menghampiri oleh rutinitas dan penat yang kian bertambah oleh macetnya perjalanan. Terlihat hanya keterpaksaan bekerja dan tak cinta pada pekerjaannya. Mari kita sandingkan mereka dengan pelacur-pelacur lainnya.

Mereka seperti pemain sinetron/film yang bermain sempurna di layar kaca/lebar dengan cerita yang fiktif. Tampil sempurna dengan kesungguhan, namun hati tak terima oleh beban pekerjaan. Alangkah baiknya mereka menikmati setiap pekerjaan dan menganggap gaji adalah bonus atas kesungguhan yang diperbuatnya. Dengan kata lain menganggap kerja adalah ibadah.

Bandingkan dengan beberapa pekerja seks yang mencintai pekerjaannya di banding dengan mereka yang melakoni hidupnya dengan keterpaksaan. Siapakah yang sebenarnya menjadi pelacur?

Mari membunuh germo-germo

Mengutip kembali kalimat di atas : kematiannya akibat membunuh germo itu untuk membuat dirinya ’lebih hidup’ dibandingkan jika ia hidup. Ia menjadi arsitek bagi dirinya bukan oleh masyarakat yang sudah sekian lama ia terima cibirannya.

Marilah menjadi diri sendiri. Marilah menjadi apa yang disebut Jean Paul Sartre sebagai entre-pour-soi atau ada bagi dirinya.  Marilah kita membunuh germo-germo yang banyak mengatur dan menjerat kita hingga tanpa sadar kita telah menjadi pelacur-pelacur kehidupan. Mungkin oleh gaji yang tak setimpal, kita tak punya hati pada pekerjaan. Mungkin oleh jerat gurita birokrasi kita terjebak dalam KKN dan meninggalkan idealisme berbalut nurani. Mungkin oleh politik yang tak sehat, negeri ini kian diperas oleh segelintir orang yang tak malu mempertontonkan kelamin demokrasi ala opurtunis.

Germo-germo itu mungkin ada di diri kita, saat kerja tanpa hati mungkin juga ada pada pinta-pinta rakus dewa konsumtif di keluarga. Germo-germo itu ada pada sistem yang membuka celah KKN yang kian seksi mengangkang. Dan germo-germo itu ada serta bertambah pongah oleh keluguan kita memberi kuasa pada mereka di bilik-bilik suara. Bukan di bilik-bilik remang sang pelacur yang mencari makan hanya untuk hari ini saja.

            Mari membunuh germo-germo itu, yang mengatur dan mencetak kesempatan menjadi pelacur-pelacur kehidupan. Saatnya kita sadar bahwa kita adalah manusia bagai diri kita, yang bertanggung jawab dan memiliki kuasa untuk memilih yang terbaik bagi diri kita sendiri.

Dapat juga dibaca di Kompasiana.com/edisantana

Thursday, 28 August 2003

Manusia Indonesia Multi Dimensi :

Otak : sosialis
Hati : humanis
Perut : kapitaslis
Kelamin : liberalis

Trus, Tuhannya siapa ?

Wednesday, 2 July 2003

Mak Engket, Mak Erot dan Mak Mega

Entah siapa dia sehingga Koes Plus begitu berharap. Memberi harap akan ada sebuah pertolongan. Dengarlah nyanyiannya :

Mak Engket maukah kau menolongku
tunjukkan jalan ke telaga biru
di sana kekasihku selalu menunggu
aku ingin segera bertemu...
Mak Engket dengarkanlah kata-kataku
ku rindu kekasihku
Mak Engket luluskanlah
permintaanku di sisa hidupku


Lagunya cukup tua, setua jawaban yang tak kunjung didapat. Bukan berarti kita sudah pikun apalagi bangkotan. Biarlah mereka saja yang tahu. Tentang Mak Engket.

Tonny K, sang pencipta, teringat telaga biru, di sana ada tempat bersua yang indah, mungkin takkan terlupakan. Ia ingin bertemu kekasihnya. Tetapi mengapa ada Mak Engket di antara mereka? Ada apa dengan Mak Engket.

Sebuah permintaan di sisa hidup, permintaan yang tidak rakus. Permintaan yang tulus. Ia mempertaruhkan penantian, ia ingin bertemu di telaga biru. Ohhh.... Mak Engket malaikat berkain apa?

Mengapa hanya meminta pada Mak Engket? Mungkinkah manusia lain tidak ada yang tahu jalan? Yang pasti bisa dimengerti, Mak Engket tidak pikun. Ia tidak pelupa. Ia tahu jalan. Ia tidak pelupa. Ia tahu jalan. Ia ramah dan tahu kemauan para pecinta. Ia tahu.......

Di sana kekasihku selalu menunggu. Selalu? Ini menandakan kekasihnya setia menunggu, walau hingga detik itu ia tak pernah ke situ. Ia tak tahu jalan. Ia hanya tahu kekasihnya selalu menuggu. Mengapa berjanji di tempat yang tak pasti? Mengapa Mak Engket yang hanya tahu? Tapi Mak Engket bukanlah nama yang menyeramkan, tak ada ingin menuduhnya sebagai penyamun atau mungkin sejenis dedemit menculik perawan. Ia bukan setan, hanya malaikat entah berkain apa. Mak Engket luluskanlah permintaanku. Ohh... begitu berharapnya.

Seperti Mak Engket, saat ini ada Mak Erot. Ia juga tempat berharap yang baik. Panjang, besar dan tahan lama. Itu yang diketahui Mak Erot. Dan tak perlu memelas-melas untuk pergi ke telaga biru, berenang di sanapun akan terwujud. Ada uang ada panjang. Besar dan tahan lama. Mah Erot mengumumkan dirinya. Ia seakan 'menyandera' kenikmatan. Terbersit padanya ada jalan 'memuaskan' sang kekasih untuk bertemu. Ia tak tulus. Ia perlu fulus dengan akal bulus (atau minyak bulus?) lelaki (oknum lelaki) mempercayakan penisnya. Sebuah rasa tidak PeDe (percaya diri). Tidak berani memiliki apa adanya dan berkata, "inilah aku! Ini PeDe (penis dhewe)"

Ini sebuah penyakit sosial. Ada banyak "orang pintar" yang mengobral jasa untuk itu. Mereka sangat 'pintar.' Mengemas isu sehingga memunculkan kerisauan, rasa percaya diri luntur. Dan pada mereka ada jalan. Dan tak disangka, para perempuan (ini juga oknum) 'terinspirasi' pada nilai kesempurnaan. Seakan panjang, besar dan tahan lama bisa menghantar menuju 'telaga biru.' Terbukti dengan banyaknya minuman vitalitas 'dijajakan' perempuan (sekali lagi oknum) di layar beling. Dan para pria (masih tetap oknum) makin ketakutan melihat kuencengnya putaran pinggul Mak Inul, eh Inul rek!!

Ternyata hari-hari menawarkan banyak perubahan. Gamblang tergambar di muka kita. Tak semisteriusnya Mak Engket milik Koes Plus, semua kini bugil di depan mata, tak risih mengeliat, bergoyang, menggerang. Ada banyak iklan tentang Mak Erot. Di iklan baris, di bibir-bibir, di dinding, di otak-otak kita. Virus yang tak mematikan namun mengkhawatirkan. Ada perubahan nilai yang diurutnya. Anehnya, semakin banyak orang mengaku 'sepintar' Mak Erot. Mengaku diri anaknya, muridnya, cucunya, mungkin tetangganya.

Saya teringat sebentar lagi akan ada pemilu, ada arena jual 'obat.' Berkoar-koar di tengah masa dan massa. Saya dapat kabar, Mak Mega masih akan juga menjual 'obatnya.' Katanya penawar penyakit masyarakat. Korupsi. Kebodohan. Rendah diri namun mau menang sendiri. Ramah hati tapi anarkis. Dan kabarnya pula akan ada 'obat' mujarab pengobat lapar. Janjinya tak hanya di jalan dan di pasar. Media cetak dan elektronik memburunya. Mencari tahu jenis formula obat itu. Sekaligus mencari tahu efek sampingan, cara pakai dan harganya. Olala..... Mak Mega seolah-olah jelmaan Mak Engket (malaikat yang entah berbaju apa).

Sebelum jemu, ada sebuah jeda dan aku akan menyanyi :

Mak Mega maukah kau menolong kami
tunjukkan jalan menuju Indonesia baru
di sana kemakmuran menunggu
kami ingin segera menggapainya...
Mak Mega dengarkanlah suara nurani
kami tak ingin ditindas lagi
Mak Mega bersikaplah jujur
permintaan ini disisa harap menuju revolusi


Akan ada begitu banyak janji. Tidak hanya Mak Mega menual 'obat. Ada Mak Haz, Mak Rasis eh Rais, Mak Sby, Mak dll. Mereka menokohkan diri, mencari panggung sandiwara semusim. Teringat pada pemilu yang lalu, adakah janji yang terkabul selain sebuah janji yang tak terucap yaitu : bohong.

Perebutan yang saling menyikut seperti anjing berebut tulang (atau supaya tak terkesan kasar dipakai saja kata : tongkat estafet). Tak seperti Mak Engket yang tulus. Atau bila pun disandingkan dengan Mak Erot yang mencari fulus, pada Mak Erot selalu ada jalan keluar Diberi fulus dan dihadiahkan olehnya 'surga.' Mak Erot masih realistis dan 'permainannya' tak kasar dan hina. Bagaimana dengan Mak Mega dan kawan-kawan? Bila mereka mendapat mandat (atau tulang) dari rakyat, akan terbayarkah/terpuaskan rakyat?

Meminjam sebuah jerit kaum militan, aku berucap lantang "bersatulah!!!!"
Mari merapat, akan bergema kata : MAK! (baca Maki)
Untuk mereka yang merampas tulang-tulang kita.
Merampas tulang-tulang kawan juang di nisan yang kini menganga.

Memilih untuk tidak memilih adalah hak pilih !!!
(pembelajaran untuk tidak terlalu berharap pada Pemilu atau siap dengan lapang dada menerima pembodohan)

jakarta,2juli2003