Showing posts with label Jejak Opini. Show all posts
Showing posts with label Jejak Opini. Show all posts

Wednesday, 6 July 2011

Pram dan Maria di Beranda Belakang Rumah Kaca


Pram dan Maria (polesan oleh edisantana)
Pram dan Maria (polesan oleh edisantana)
Banyak orang mengutip kalimat berikut sebagai sebuah kata-kata bijak yang disukai, disenangi, penyemangat hidup hingga menjadi kalimat yang melahirkan sikap Revolusioner. Kata-kata ini tertulis di halaman terakhir novel Rumah Kaca (Tetralogi Buru) karangan Pramoedya Ananta Toer. Kata-kata tersebut adalah :

“Deposuit Potentes de Sede et Exaltavat Humiles”

yang diterjemahkan oleh orang banyak sebagai :
“Dia rendahkan mereka yang berkuasa dan naikan mereka yang Terhina.”

Kalimat ini juga ada di dalam Alkitab yaitu di :
Luke 1 : 52 : Deposuit potentes de sede, et exaltavit humiles

atau :
Lukas 1:52 : Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah.

Sementara itu di dalam Kidung pujian Magnificat (juga disebut Nyanyian Pujian Maria) kalimat itu ada juga disebutkan. Kidung ini diambil dari Injil Lukas (Lukas 1:46-55) yang tersisip di tengah naskah prosa. Nama Magnificat diambil dari kata pertama kidung tersebut dalam versi Bahasa Latinnya.

Bahasa Yunani Koine:
Μεγαλύνει ἡ ψυχή μου τὸν Κύριον καὶ ἠγαλλίασε τὸ πνεῦμά μου ἐπὶ τῷ Θεῷ τῷ σωτῆρί μου,
ὅτι ἐπέβλεψεν ἐπὶ τὴν ταπείνωσιν τῆς δούλης αὐτοῦ. ἰδοὺ γὰρ ἀπὸ τοῦ νῦν μακαριοῦσί με πᾶσαι αἱ γενεαί.
ὅτι ἐποίησέ μοι μεγαλεῖα ὁ δυνατός καὶ ἅγιον τὸ ὄνομα αὐτοῦ, καὶ τὸ ἔλεος αὐτοῦ εἰς γενεὰς γενεῶν τοῖς φοβουμένοις αὐτόν.
Ἐποίησε κράτος ἐν βραχίονι αὐτοῦ, διεσκόρπισεν ὑπερηφάνους διανοίᾳ καρδίας αὐτῶν·
καθεῖλε δυνάστας ἀπὸ θρόνων καὶ ὕψωσε ταπεινούς, πεινῶντας ἐνέπλησεν ἀγαθῶν καὶ πλουτοῦντας ἐξαπέστειλε κενούς.
ἀντελάβετο Ἰσραὴλ παιδὸς αὐτοῦ, μνησθῆναι ἐλέους, καθὼς ἐλάλησε πρὸς τοὺς πατέρας ἡμῶν, τῷ Ἀβραὰμ καὶ τῷ σπέρματι αὐτοῦ εἰς τὸν αἰῶνα.

Bahasa Latin (Vulgata):
Magnificat anima mea Dominum
Et exultavit spiritus meus in Deo salutari meo.
Quia respexit humilitatem ancillæ suæ: ecce enim ex hoc beatam me dicent omnes generationes.
Quia fecit mihi magna qui potens est, et sanctum nomen eius.
Et misericordia eius a progenie in progenies timentibus eum.
Fecit potentiam in brachio suo, dispersit superbos mente cordis sui.
Deposuit potentes de sede et exaltavit humiles.
Esurientes implevit bonis et divites dimisit inanes,
Suscepit Israel puerum suum recordatus misericordiæ suæ,
Sicut locutus est ad patres nostros, Abraham et semini eius in sæcula.

Bahasa Indonesia (Alkitab Terjemahan Baru Lembaga Alkitab Indonesia) :
Jiwaku memuliakan Tuhan,
dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,
sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,
karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.
Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.
Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;
Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;
Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;
Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya,
seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.

Magnificat di antara segala anak bangsa
Pada era 1980-an, para diktator di Guatemala melarang keras pembacaan Magnificat di depan umum karena mengandung nada revolusioner. Sementara itu di Nikaragua, Magnificat merupakan doa favorit di kalangan petani dan kerap dibawa ke mana-mana sebagai jimat. Selama tahun-tahun kekuasaan Dinasti Somoza, para campesinos (petani atau buruh tani) diwajibkan membawa-bawa surat bukti bahwa mereka telah memberikan suaranya bagi Somoza sehingga dokumen tersebut disindir dengan julukan Magnificat.

Tafsiran singkat Magnificat (Lukas 1:46-55)
Menurut Stanley Jones : “Magnificat adalah dokumen paling revolusioner di dunia.”

Ada 3 tindakan revolusioner yang terdapat dalam magnificat ini :
- revolusi moral :
“… sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hambaNya.” ; “…mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya.” [ay.48a&51b]
- revolusi sosial :
“Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;” [ay.52]
- revolusi ekonomi :
“Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa” [ay.53]

Terlihat kental akan spirit pemberontakan Maria dalam Magnificat (Magnificat Anima Mea Dominum atau Jiwaku Memuliakan Tuhan). Doa ini menjadi ringkasan iman dan kepercayaan Maria pada Tuhan. Dan dalam Women’s Bible Commentary, penulis Jane Schaberg ada mengatakan bahwasannya Magnificat adalah sebagai nyanyian pembebasan, baik pembebasan personal, sosial, moral, maupun ekonomi. Schaberg juga mengatakan, ini merupakan catatan revolusioner dari jiwa seorang bernama Maria
Cover novel Rumah Kaca oleh Pramoedya Ananta Toer
Cover novel Rumah Kaca oleh Pramoedya Ananta Toe

Di sebuah sore di beranda belakang Rumah Kaca
Dan dalam Magnificat atau Kidung Maria, Pram menemukan kalimat Deposuit potentes de sede, et exaltavit humiles yang membuatnya terpukau hingga harus menutup isi novel dengan menuliskannya di halaman terakhir di novel Rumah Kaca.

Tapi apapun itu, kalimat itu telah membuat Pram sadar bahwa ada kekuatan yang mampu meRendahkan mereka yang berkuasa dan meNaikan mereka yang Terhina. Kekuatan itu lahir karena Magnificat anima mea Dominum (Jiwaku memuliakan Tuhan), kekuatan itu lahir kalau kita bisa memuliakan jiwa-jiwa anak bangsa pada jalan kebenaran, pada cita-cita bersama. Mari mempersiapkan pemberontakan itu. Seperti pemberontakan Maria yang menginginkan perubahan.

Edi Sembiring

Betis Ken Dedes

Legenda mengisahkan, Ken Arok ngotot ingin mempersunting Ken Dedes karena melihat betis wanita cantik itu bersinar.

Seorang Empu memaknai pertanda itu sebagai wanita yang akan melahirkan raja-raja di tanah Jawa.

Maka patut dicurigai, bahwa kisah betis bersinar itu sekedar tindakan SENSOR untuk mempersopan legenda itu. Sebenarnya, yang bersinar adalah vagina Ken Dedes.

Hal ini lebih selaras dan sesuai dengan ramalan sang Empu. Sebab tak lazim wanita melahirkan lewat betis.

Dan menurur Prof. Dr. Budi Darma, berdasarkan naskah Jawa kuno yang pernah beliau baca, yang bersinar itu sebenarnya rambut kemaluan.

Deja Vu.

Foto ini adalah foto ilustrasi "Puncak gunung es" yang terkenal.

Para ahli "otak" sering menggunakan ilustrasi di disamping ini untuk menunjukkan seperti apa pikiran kita yang sebenarnya. Permukaan air adalah batas kesadaran kita. Pikiran Sadar kita adalah bongkahan yang muncul di atas permukaan laut. Sedangkan pikiran bawah sadar adalah bongkahan raksasa yang ada di dalam laut.

Menurut mereka, sesungguhnya sebagian besar informasi yang kita terima tersimpan di pikiran bawah sadar kita dan belum muncul ke permukaan. Hanya sebagian kecil dari informasi yang kita terima benar-benar kita ingat atau sadari. Prinsip ini adalah kunci penting untuk memahami Deja Vu.

Déjà vu(/ˈdeɪʒɑː ˈvuː/ (bantuan·info)) adalah sebuah frasa Perancis dan artinya secara harafiah adalah "pernah lihat / pernah merasa."

7 Detik Saja

Hal yang salah bila menganggap keperkasaan lelaki di atas ranjang dikatakan seperti jantannya Harimau.

Karena ketika melaksanakan senggama, harimau paling jantan hanya bertahan 7 detik saja. Harimau jantan jarang melakukan kegiatan seksual. Kegiatan seks bagi harimau memang murni fungsional demi reproduksi dan harimau jantan harus menunggu masa birahi harimau betina yang memang tidak sesering manusia.

Maka kalau ada paham pengobatan tradisonal Cina yang meyakini bahwa penis dan zakar harimau sangat mujarab bagi pembangkit potensi seksual pria, itu tak benar. Yang mereka inginkan hanyalah bulu dan lainnya.

Saturday, 2 July 2011

Adam yang lahir dari Ketiak TUHAN


Orang beragama adalah orang yang mengakui KETERBATASANNYA sebagai manusia dan mempercayai Tuhan sebagai semesta ketakterbatasan. Pengakuan ketidakberdayaan manusia di depan Tuhan adalah MORALITAS keberagamaan.

Sementara Filsafat adalah pergulatan daya pikir dalam melacak jejak kebenaran. Maka filsafat menjunjung tinggi HARKAT manusia sebagai mahluk BERMORAL. Harkat itu terletak pada daya pikirnya.

Dan Sastra adalah jagat cermin. Cermin hidup yang memantulkan bayangan realitas kemanusiaan atau buruk rupa wajah zaman. Sehingga sastrawan bukanlah nabi yang diutus untuk menyampaikan ajaran-ajaran moral dan bukan pula harus berkontemplasi bak filsuf untuk menemukan mata air kebajikan.

Maka pena-pena sastarawan bebas meliuk-liuk, menggambarkan Adam lahir dari ketiak kanan Tuhan (novel Adam Hawa karya Muhidin M Dahlan, Yogyakarta, 2005), atau tafsir bahwa Tuhan lebih sayang pada Adham (nabi Adam) dibanding Gabal (nabi Musa), Rifa'a (Isa Almasih) dan Qasim (Muhammad) seperti kisah tersirat dalam novel Aulad Haratyna (1962) karangan Naguib Mahfouz (berkebangsaan Mesir) pemenang nobel 1988.

Seperti Muhidin M Dahlan yang dianggap sesat (padahal ia seorang santri), Naguib Mahfouz juga dicibir ulama garis keras Mesir dengan mengatakan apabila Naguib Mahfouz tak menulis novel Aulad Haratyna barangkali Salman Rushdie tak akan menulis The Satanic Verses.

Thursday, 30 June 2011

Mantra Dodolitdodolitdodolibret-nya Seno Gumira Ajidarma Bukan Plagiat

image Dodolitdodolitdodolibret oleh putu edy asmara putra
Orang meributkan Dodolitdodolitdodolibret -nya Seno Gumira Ajidarma adalah hasil memplagiat cerpen Leo Tolstoy yang berjudul Tiga Pertapa.  Sebaiknya jangan secepat itu menuduhnya, karena justru baik Tolstoy maupun SGA menuliskan cerpennya terinspirasi pada kisah Yesus yang mengajarkan doa Bapa Kami dan melarang untuk bertele-tele dalam berdoa (Injil Matius 6: 7 – 8. : Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.)

Selanjutnya Tolstoy dan SGA serta lainnya, juga terinspirasi dari kisah Yesus berjalan di atas air, dan bagaimana Petrus yang mencoba mendekatiNya hampir tenggelam (Matius 14 :30-31 : Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?")

SGA dan Tolstoy menceritakan ulang kisah ini dalam konteks kekinian, dan hal ini adalah hal baik dalam pencerahan pada jamannya. Namun ada perbedaan bangunan cerita, lihat saja :
1.      Tolstoy berkisah diawal tentang Uskup dan para peziarah yang berlayar. Uskup menuju Biara sementara para peziarah menuju tempat suci.  Bedakan dengan SGA yang  memulainya dari daratan saja dan berfokus pada Guru Kiplik.
2.      Tolstoy sejak awal tak ada menyebut-nyebut tentang bagaimana doa yang benar dan tak ada menyampaikan misi sang Uskup untuk menyebarkan doa yang benar itu. Tolstoy hingga beberapa halaman hanya bercerita tentang kejadian selama mereka di kapal, hanya di halaman kedelapan baru ada ungkapan tentang doa yang benar. Sementara SGA dari awal memperjelas tentang apa itu doa yang benar. Karena doa yang kata-katanya salah tak akan sampai.

Sunday, 26 June 2011

Bung Karno Melihat Indonesia


"..Kalau kita tidak bisa menyelenggarakan sandang-pangan di tanah air kita yang kaya ini, maka sebenarnya kita yang tolol, kita yang maha tolol" (Bung Karno Pidato Konferensi Kolombo Plan di Yogyakarta, 1953.

Dalam sebuah puisinya, Bung Karno menuliskan, "Wahai engkau rakyatku, saudara sebangsaku, putra-putri dan sahabatku. Aku ingin mengajakmu mendengarkan lautan membanting di pantai bergelora. Aku ingin mengajakmu melihat awan putih berarak di angkasa. Aku ingin mengajakmu mendengarkan burung perkutut di pepuhunan. Aku ingin mengajakmu mengetahui lebih dalam bagaimana aku melihat Indonesia."