Thursday, 28 November 2002

Kubus-kubus

Garis-garis datang memagari nafas sunyi. Membentuk
kubus yang tentu sama sisi. Kamarku berbentuk kubus,
jiwaku berwujud kubus, hatiku menyerupai kubus, bayangan
di cermin retak tetap kubus. Isi dompetku bukan lembaran-lembaran lusuh,
tapi kini kubus-kubus yang masih juga lusuh. Gambarmu juga kubus,
sungguh tak elok hidung mancungmu tersihir kubus.

Entah dentang apa waktu menjadi gila. Logikaku terkotak-kotak
sama sisi. Logika kubus. Debar jantung berdentum di delapan sisi.
Sudut-sudutnya runcing menusuk langkah yang bolak-balik. Sekali
berjalan ku harus berguling di tiap sisi. Sulit menjadi petak-petak bermuka sama.
Nyeri-nyeri terlukis dari delapan penjuru angin. Tapi sesal tetap sesal.
Hidup buntung bukan bunting menanti orok.

Aku terpasung tanpa rantai. Oh.... jiwa-jiwaku dipagari delapan sisi yang sama
jahanamnya. Nafasku tersenggal berat. Bulu-bulu hidungku menggelitik nakal
merayu bersin. Haaatttssyimm..... Kubus-kubus tak memasung bandul lagi.
Berubah wujud menjadi kubus yang panjang.
Kutu Busuk.

28november2002

Wednesday, 27 November 2002

LIMA SURAT UNTUK IBU

Surat Pertama: Jakarta Bertambah Harum
Kapal telah terantuk di dermaga. Kakiku pincang melangkah di antara sampah-sampah Jakarta. Di antara bualan politik di serambi istana, botol-botol parum globalisasi, liur-liur yang menetes di pinggiran real estate, map-map lusuh bundelan lamaran, mayat-mayat hidup di kolong-kolong. Udaranya menyesakkan, tidak seperti nafasmu bu. Pagi tadi saudara kita juga tiba di kota ini. Aku sambut tidak dengan sirih, tapi lirih yang menetes. Tes. Tes. Tes..... Sungai memeluknya, menghantarkan mayat di tepi ini. Jakarta bertambah harum. Keringat, tangis, liur, bangkai penuh belutang.

Surat Kedua : Siapa Yang Menanak Nasiku Kelak?
Ingatkah ibu pada nasi yang dulu ditanak? Tutupnya naik turun, uap panas menyeruak. Rinduku pun tak bisa tersimpan rapat. Padamu dan manusia berkelamin sepertimu. Aku yakin dia cantik - seperti ibu - dalam gaun pengantin putihnya, setetes darah di sudutnya. Darah itu milik suaminya kini. Aku tak menyisakan apa-apa, perih-perih dari gaun putih di jemuran esok. Airnya menetes pelan, lamat, lambat, mampat benak sesaat. Mungkin pagi-pagi berikutnya, nasi di tanak untuk lelaki yang memeluk tubuh bugilnya. Dan tutunya naik turun. Siapa yang akan menanak nasiku?

Surat Ketiga : Kelelawar Menari di Purnama
Aku berada di antara keringat-keringat. Di antara dengus-dengus. Di sela-sela mimpi dan ronta tercekat. Tangan tak diam, otak menari gila. Beratus-ratus rantai mengikat jiwa-jiwa pada pilar-pilar roda yang meludahi keping-keping emas. Tiada yang berani berbisik akan gaji tak cukup atau istri yang belum pernah menggoreng ayam, atau anak-anak menanti baju baru di gerbang sore. Ada kelelawar berbaju emas menari cha cha di bumbungan atap. Telinga lebar amat awas. Taringnya meneteskan mazmur-mazmur nabi palsu, ia penetrasikan ruh-ruh kemerdekaan diri. Mandul dan robot berjalan, menanti di akhir bulan, ketika kelelawar menari di purnama.

Surat Keempat : Hewan Itu Tertawa Puas
Dulu si Iwan jadi gila karena menggigit anjing gila. Orang-orang menertawai ulahnya dan jadilah dia gila yang sejati. Dikumpulkan bersama manusia-manusia gila di rumah yang gila. Kemerdekaan ada di sana, kebebasan santapan utama layak dicicipi. Manusia adalah harimau bagi dirinya, harimau adalah manusia bagi dirinya? Mereka tercipta berkulit manusia. Mereka bukan bangkai walau jiwa dikucilkan bagai binatang. Dan binatang itu tampil di TV sore. Tertawa puas. Sebuah kemerdekaan tersimpul di bibirnya dari panggung dagelan. Bersama binatang-binatang lain, mereka berhasil memusnahkan manusia-manusia di Legian.

Surat Kelima : Biarlah Aku Kembali Lalui Vaginamu.....
Sepi di antara mimpi. Akal-akal yang palsu terselubung debu waktu. Malam dan siang bagiku kembar. Gendang telinga rindu akan omelan ibu atau cerewetnya betinaku dulu. Memakan hari, memuntahkan syair-syair. Tapi syair-syair tak kan menyilaukan betina-betina yang tak berpemilik. Peta harta karun di kain lurik lusuhmu telah menipu, walau bapak memukul manja pantatku untuk beranjak ke kota ini dan tapaknya jelas terlihat Mungkin Desember ini aku tak pulang, jangan risaukan aku. Jangan kirimi aku Sinterklas. Aku tak mengidam itu. Yang kuingin bila Tuhan ijinkan, biarlah aku kembali melalui vaginamu dan tidur untuk selamanya di hangat rahimmu. Aku rindu peluk dan kasihmu, bu. Di situlah kejujuran bersumber dari seorang wanita.

Bekasi, 27 November 2002

Tuesday, 26 November 2002

ANDAI IA TAHU

Andai ia tahu,
mungkin ini bukan sebuah onggokan muntah
yang baunya mengecutkan nyali semut-semut hitam itu.
Tersedak sudah sumpalan yang tercekat lama.
Gema jiwa dibaui himpitan gunung es galau.
Entah kapan 'kan mencair, basuhi lereng curam,
menyusuri mata hati yang lama kering merentang,
isi pundi-pundi sang musafir di oasenya.

Andai ia tahu,
mungkin ini bukan sebuah igauan sang pemabuk,
dari berbotol-botol kekosongan mimpi yang berlubang.
Tarian ku lincah dengan sayap-sayap patah.
Bumi usil tanah tiada landai.
Ahh....jiwaku adalah gempa yang mengabarkan racau.
Jangan tatapi aku dengan sinar tajam dari atap berlubang.
Biarkan angin membawa bisik ku di antara
buluh-buluh yang saling cemburu.

Andai ia tahu,
aku adalah anak sang waktu.
Pagi adalah kesadaran yang celikkan matamu,
aku nuzumkan embun basuhi asamu.
Malam adalah peraduan kasih setiamu,
aku selimuti engkau dengan pekat cinta
setiada sinar kebohongan di langit hitam
kita warnai malam dengan garis-garis keabadian.

Andai ia tahu,
kata itu belum pernah terucap,
tapi mulutku telah membauinya.
Dan aku hanya bisa menatap,
sang bulan di dalam botol arak

26 November 2002, 23.40 wib.

Friday, 15 November 2002

buat tanya yang meruap

kerakkerakkerakyatan
kepikkepikkepicikan
diamdian kebajikan
samasara di bumi prahara
jauh di ufuk sana
akankah sang fajar mati muda?

Kita sang hamba

Kaki kita masih kaki yang dulu
dua tungkai yang tak letih berjalan
Dan kerikil-kerilik tajam teman yang lalim

Tangan kita masih tangan yang lalu
tak tahan terlena sedetik pun jua
Mengais di tepi kemakmuran yang terpenjara

Mulut kita masih tetap mulut terkunci
Baunya sesakkan nafas yang terhirup
Bungkam menelan aroma kenikmatan
bongkahan emas di lumbung sang tuan.

Ajal kita masih ajal yang meretas
Menanti tak pasti, berharap tak berbekas
Sirik bukan milik kita, tapi mimis masih mengalir
Akankah kita menjual diri,
bagai kambing-kambing sang kurban nabi kebajikan

Di tepi kemakmuran, kita berdiri
Menjadi hamba hina di negeri sendiri

14 november 2002