Orang beragama adalah orang yang mengakui KETERBATASANNYA sebagai manusia dan mempercayai Tuhan sebagai semesta ketakterbatasan. Pengakuan ketidakberdayaan manusia di depan Tuhan adalah MORALITAS keberagamaan.
Sementara Filsafat adalah pergulatan daya pikir dalam melacak jejak kebenaran. Maka filsafat menjunjung tinggi HARKAT manusia sebagai mahluk BERMORAL. Harkat itu terletak pada daya pikirnya.
Dan Sastra adalah jagat cermin. Cermin hidup yang memantulkan bayangan realitas kemanusiaan atau buruk rupa wajah zaman. Sehingga sastrawan bukanlah nabi yang diutus untuk menyampaikan ajaran-ajaran moral dan bukan pula harus berkontemplasi bak filsuf untuk menemukan mata air kebajikan.
Maka pena-pena sastarawan bebas meliuk-liuk, menggambarkan Adam lahir dari ketiak kanan Tuhan (novel Adam Hawa karya Muhidin M Dahlan, Yogyakarta, 2005), atau tafsir bahwa Tuhan lebih sayang pada Adham (nabi Adam) dibanding Gabal (nabi Musa), Rifa'a (Isa Almasih) dan Qasim (Muhammad) seperti kisah tersirat dalam novel Aulad Haratyna (1962) karangan Naguib Mahfouz (berkebangsaan Mesir) pemenang nobel 1988.
Seperti Muhidin M Dahlan yang dianggap sesat (padahal ia seorang santri), Naguib Mahfouz juga dicibir ulama garis keras Mesir dengan mengatakan apabila Naguib Mahfouz tak menulis novel Aulad Haratyna barangkali Salman Rushdie tak akan menulis The Satanic Verses.