Sunday, 3 July 2011

Butet : Sir, do you like mie ?


Di tepi Danau Toba, si Butet berkenalan dengan seorang bule muda. Entah karena menghemat koceknya atau memang ingin merasakan masakan lokal, si Bule memesan makanan. Ia melahap Mie Bakso dengan lahapnya, ditemani tatapan Butet yang tak sedingin udara Toba di tepian danau ini. Butet ingin mencoba kemampuan bahasa Inggrisnya :  

Butet : Sir, do you like mie ? 

Bule : (agak kaget) well, yes offcourse. 

Butet : Enjoy mie, still hot you know... 

Bule : *pingsan*

Ajarkan padaku bagaimana caranya memeluk seekor landak?



Kehormatan dan Sopan Santun
Pada suatu hari yang dingin sekumpulan landak duduk berdesak-desakan agar tubuh mereka hangat.
Tapi rupanya duri-duri landak itu membuat kenyamanan kerumunan itu menjadi terganggu. Karena itu mereka memencar.
Tapi kemudian kedinginan lagi.  
Setelah memencar dan berkerumun sampai beberapa kali akhirnya mereka bisa menemukan suatu jarak dimana mereka bisa merasa cukup hangat tapi tanpa harus saling menusuk.  
Dan sejak saat itu jarak ini mereka sebut kehormatan dan sopan santun. 
(Arthur Schopenchauer) 

Ajarkan padaku bagaimana caranya memeluk seekor landak? 
Ada sebuah kisah aku baca di dunia maya, seorang ibu dan bapak terdiam. Malam itu mereka kembali hanya makan berdua. Dalam kesunyian berpikir dengan hati terluka : Mengapa anakku sendiri, yang kubesarkan dengan susah payah, dengan kerja keras, nampaknya tidak suka menghabiskan waktu bersama-sama denganku? Apa salahku? Apa dosaku? Ah, anak jaman sekarang memang tidak tahu hormat sama orangtua! Tidak seperti jaman dulu. 
Dari balik pintu kamar, sang anak mengamati dua orang yang paling dicintainya dalam diam. Dari jauh. Dari tempat di mana ia tidak akan terluka. “Mama, Papa, katakan padaku, bagaimana caranya memeluk seekor landak?” 
Satu cara terpenting dalam membantu anak-anak tumbuh dewasa adalah : kita harus tumbuh dewasa terlebih dahulu.

Saturday, 2 July 2011

Hari Depan Indonesia



Aku bertanya : Apakah gunanya pendidikan bila hanya akan membuat seseorang menjadi orang asing di tengah kenyataan persoalan keadaannya? Apakah gunanya pendidikan bila hanya mendorong seseorang menjadi layang-layang di ibu kota kikuk pulang ke daerahnya? Apakah gunanya seseorang belajar filsafat, sastra, tehnologi, kedokteran, atau apa saja, bila pada akhirnya. ketika pulang ke daerahnya, lalu berkata: "Di sini aku merasa asing dan sepi" (RENDRA. Seonggok Jagung di Kamar)  

Pergi ke dunia luas, anakku sayang pergi ke dunia bebas! Selama angin masih angin buritan dan matahari pagi menyinari daun-daunan dalam rimba dan padang hijau. Pergi ke laut lepas, anakku sayang pergi ke alam bebas! Selama hari belum petang dan warna senja belum kemerah-merahan menutup pintu waktu lampau. Jika bayang telah pudar dan elang laut telah pulang ke sarang angin bertiup ke benua Tiang-tiang akan kering sendiri dan nakhoda sudah tahu pedoman boleh engkau datang padaku! .. ............................ (ASRUL SANI. Surat dari Ibu)  


Siapa cinta anak, jangan jual tanah sejengkal. Siapa cinta tanah, jangan lupakan bunda meninggal Siapa ingat hari esok mesti sekarang mulai menerjang. .................... (RAMADHAN K.H. Priangan si Jelita) 


Hari depan Indonesia adalah duaratus juta mulut yang menganga Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu l5 wat, sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam karena seratus juta penduduknya. Kembalikan Indonesia padaku ............................................. (TAUFIQ ISMAIL.Kembalikan Indonesia Padaku)

Teringat pada Ibu


Memelukmu, mengingatkan aku pada sabarnya dirimu. 
Saat bajumu basah oleh kencingku yang panas.
Menuntun langkahmu, menyadarkan aku. 
Ketika dengan sempoyongan aku berusaha berlari, 
dan kau dengan takutnya menjaga agar aku tidak terbentur.

Bilapun kau kini selalu banyak bicara dan mengeluhkan nyeri di badanmu, 
mulutku mencoba ramah. 
Tersenyum seperti ketika kau dulu sabar mengajarku bicara 
dan mengajak tertawa.

Setiap malam selalu ada dongeng pengantar tidurku. 
Dan untukmu, kini aku berikan doa, di sisimu dengan nafas malammu yang serak. 
Semoga selalu ada pagi untukmu.

Adam yang lahir dari Ketiak TUHAN


Orang beragama adalah orang yang mengakui KETERBATASANNYA sebagai manusia dan mempercayai Tuhan sebagai semesta ketakterbatasan. Pengakuan ketidakberdayaan manusia di depan Tuhan adalah MORALITAS keberagamaan.

Sementara Filsafat adalah pergulatan daya pikir dalam melacak jejak kebenaran. Maka filsafat menjunjung tinggi HARKAT manusia sebagai mahluk BERMORAL. Harkat itu terletak pada daya pikirnya.

Dan Sastra adalah jagat cermin. Cermin hidup yang memantulkan bayangan realitas kemanusiaan atau buruk rupa wajah zaman. Sehingga sastrawan bukanlah nabi yang diutus untuk menyampaikan ajaran-ajaran moral dan bukan pula harus berkontemplasi bak filsuf untuk menemukan mata air kebajikan.

Maka pena-pena sastarawan bebas meliuk-liuk, menggambarkan Adam lahir dari ketiak kanan Tuhan (novel Adam Hawa karya Muhidin M Dahlan, Yogyakarta, 2005), atau tafsir bahwa Tuhan lebih sayang pada Adham (nabi Adam) dibanding Gabal (nabi Musa), Rifa'a (Isa Almasih) dan Qasim (Muhammad) seperti kisah tersirat dalam novel Aulad Haratyna (1962) karangan Naguib Mahfouz (berkebangsaan Mesir) pemenang nobel 1988.

Seperti Muhidin M Dahlan yang dianggap sesat (padahal ia seorang santri), Naguib Mahfouz juga dicibir ulama garis keras Mesir dengan mengatakan apabila Naguib Mahfouz tak menulis novel Aulad Haratyna barangkali Salman Rushdie tak akan menulis The Satanic Verses.