| Manipulasi foto saat Gottwald dan Clementis berdampingan (sumber : http://www.internationalschoolhistory.net/central_eastern_europe/1945-1953.htm) |
Sejarah boleh terus bertambah baru, seiring dengan ingatan yang kian tua dan memudar, namun sebuah peristiwa tak boleh dimanipulasi untuk diturunkan pada generasi yang lebih baru. Karena oleh kepentingan, sebuah kekuasaan terkadang tega untuk menghilangkan jejak-jejak sejarah yang tak sejalan dengan kepentingan penguasa yang memerintah.
Seperti yang dikatakan oleh Milan Kundera, pengarang terkenal Cekoslowakia bahwa perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa. Milan Kundera mewujudkan perkataan itu lewat sosok Mirek, tokoh yang ditulisnya dalam The Book of Laughter and Forgetting (Great Britain: Penguin, 1980). Mirek mengatakan kalimat itu pada tahun 1971, sementara peristiwa yang dimaksud terjadi di bulan Febuari 1948. Berikut ini sekilas kisah yang terjadi :
Bulan Februari 1948, pemimpin komunis Klement Gottwald berdiri di balkon Istananya di Praha untuk berpidato di hadapan ratusan ribu warga yang berdesak-desak sampai Old Town Square. Gottwald didampingi oleh kawan-kawannya. Salah satunya adalah kamerad Clementis. Mendadak saat itu salju turun dan udara menjadi sangat dingin, sementara Gottwald tidak menggunakan topi hingga kepala Gottwald basah. Lalu Clementis membuka topinya dan memasangkan ke kepala Gottwald.
Bagian propaganda partai segera mencetak foto kejadian itu dan membagikan ratusan ribu foto bersejarah itu ke seluruh negeri. Orang-orang menjadi saksi tentang Gottwald yang memakai topi didampingi kamerad Clementis di balkon Istana berbicara kepada bangsanya. Di atas balkon itu lahir sejarah Partai Komunis Cekoslowakia. Setiap murid Cekoslowakia tentu mengetahui foto tersebut melalui poster, museum dan buku-buku pelajaran sekolah.
Dalam perjalanan sejarah berikutnya, empat tahun kemudian, Clementis dituduh berkhianat kepada negara dan dihukum gantung. Partai mengambil sikap untuk menghapus Clementis dari sejarah., menghapus Clementis dari ingatan rakyat Cekoslowakia. Maka sejak itu dalam foto resmi hanya Gottwald yang berdiri di atas balkon Istana. Di tempat Clementis berdiri hanya terlihat dinding Istana. Namun yang tetap tinggal adalah topi Clementis yang dipasang di kepala Gottwald.
Clementis bisa dienyahkan, tapi tak mungkin hal itu dilakukan pada pada topi bulu yang dipinjamkan pada Gottwald. Topi bulu Clementis tetap tersisa di kepala Gottwald. Ketika memandang topi bulu itu, orang akan ingat apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Ingatan boleh lupa, sejarah boleh dibelokkan, namun foto itu jujur bercerita.
Manipulasi Proklamasi, PKI dan Janur Kuning
Di sebuah hari kemerdekaan di negeri ini, 17 Agustus 2006, pada cara KickAndy di MetroTV, Moelyono, mantan fotografer koran KR (Kedaulatan Rakyat) Yogyakarta menampilkan foto mayat yang terbunuh dalam peristiwa 1965 dalam keadaan tangannya terikat satu sama lain. Moelyono mengatakan foto itu menggambarkan jenazah dua pemuda Marhaenis yang dibunuh oleh anggota PKI.
Namun menurut Asvi Warman Adam, Ahli Peneliti Utama LIPI, pernyataan Moelyono itu jauh berbeda dengan keterangan yang disampaikannya kepada Karen Strassler yang mewawancarainya untuk penulisan disertasi di Universitas Michigan. Karen telah mewawancarai Moelyono beberapa kali selama setahun termasuk yang direkam tanggal 5 Mei 1999 dan 6 April 2000. (Karen Strassler Photographs and the Making of Reformation Memory dalam Mary Zurbuchen (ed) Beginning to Remember, The Past in the Indonesian Present, 2005).