Gadisku sudah terlelap. Senyum masih menghias di bibirnya yang kecil. Rambutnya tergerai di atas bantal. Ujung bajunya sedikit tersibak. Aku merapikannya, dan memberi selimut, yang merangkul hangat.
“Hmm…. selamat tidur sayang, dewi mimpi akan mengajakmu terbang ke peraduannya.” Dan aku beranjak menuju kamarku. Yang sepi dan tak ada gairah. Kekosongan yang terhampar, sedingin kasur yang terbentang.
* * * * *
“Semua sudah siap? Makan yang banyak ya sayang. Jangan takut gemuk, itu ketakutan milik orang dewasa,” kataku di meja makan pagi itu. Aku memandang lahapnya bidadari kecilku. Kecantikannya sedikit terusik dengan noda makanan di pipi. Aku menyingkirkannya dengan ujung sapu tangan.
Seperti biasa setelah makan, aku membiasakannya untuk menyambut pagi dengan keceriaan. Dan gadisku pun mulai bernyanyi,
“Dikepak-kepakkan tanganku. Digoyang-goyangkan badanku. Agar tubuh sehat dan kuat. Untuk dapat memuji Tuhan. Digoyang-goyangkan kakiku. Digeleng-gelengkan kepalaku. Agar tubuh sehat dan kuat. Untuk dapat memuji Tuhan. Goyang kiri, goyang kanan. Putar kiri, putar kanan.”
Tawanya berbinar. Aku terkekeh sendiri memandang badannya yang sedikit gemuk berlenggak-lenggok ke sana kemari. Aku rasa sudah cukup olahraga paginya, sebelum isi perutnya akan tersedak ke luar. Dan selanjutnya seperti biasa aku mengantarnya pergi, ke tempat tuntutan ilmu yang bermuara.
* * * * *
“Pa aku takut sendiri tidur di kamar,” katanya sambil merapatkan tubuh di pinggangku. Seperti biasa aku selalu memberinya dongeng sebelum matanya redup terpejam.
“Takut pada apa? Tuhan akan menjaga mu. Kan kamu selalu berdoa sebelum tidur,” kataku menenangkannya.
“Suara-suara yang memanggilku. Sudah seminggu begini terus Pa,” katanya sambil menatapku. Ada ketakutan di bening bola matanya yang kecil itu. Matanya tak menipu.
“Itukan hanya mimpi. Tuhan memberimu bunga-bunga malam. Sungguh indah teman yang diberikannya,” kataku menjelaskan, mengusap keningnya. Mencubit pipinya yang bulat. Dan bibirnya mengingatkanku pada seseorang yang meninggalkanku, yang mencari jawab atas segala keresahan. Aku mengajarkannya sebuah lagu lagi.
“Dengar Dia panggil nama saya. Dengar Dia panggil namamu. Dengar Dia panggil nama saya. Juga Dia panggil namamu. O…giranglah. O…giranglah. Tuhan amat cinta pada saya.. O…giranglah. Ku jawab ya, ya, ya. Ku jawab ya, ya, ya. Ku jawab ya Tuhan, Kujawab ya Tuhan, Ku jawab ya, ya, ya.”
Gadisku tertawa senang mendapatkan lagu barunya. Dia terpingkal manja, sambil duduk di pangkuanku.
“Kalau ada yang memanggilmu, kau harus ingat itu. Nyanyikan. Mungkin Tuhan memanggilmu dan kau belum menjawabnya,” kataku sambil tersenyum. Gadisku menganggukkan dagunya yang indah. Kuncirnya bergoyang. Dan matanyapun mulai redup.
* * * * *
“Pa aku sudah menjawabnya,“ suara kecil itu membangunkanku. Rambutnya mengenai muka dan jalan nafasku. Aku mengangkat badannya tinggi-tinggi, dia menjerit manja dan terpingkal-pingkal. Aku terbangun olehnya.
“Dia bilang apa?” tanyaku mencoba menanggapi celotehnya.
“Hanya tersenyum, tapi indaahhh bangett…. Papa mesti menjumpainya.”
Aku coba menyimak isi mimpinya, tapi yang pasti tak ada lagi ketakutan itu di matanya. Dan kami pun seperti biasa menyambut pagi dengan ritual yang sama.
* * * * *
Setiap kali aku menemukan gadisku, dia tak lelah menceritakan mimpinya. Keceriannnya makin bertambah, milik wajah-wajah lugu. Tak ada lagi ketakutan akan malam. Sungguh aku telah memberikannya keberanian. Tidak seperti yang aku alami di masa kecil. Aku selalu ketakutan akan malam. Pada bayangan di kaca luar kamarku. Dibawah kolong tempat tidur. Seakan-akan ada makhluk malam yang memperhatikanku. Akan menculikku ke dalam mimpi hingga tak bangun lagi. Dan ibu hanya bisa menjagaku hingga aku lelap, tanpa bisa membuatku percaya akan penjelasannya.
“Pa, sepertinya papa harus bertemu dengannya,” kata gadisku, menyentakkan lamunan.