Thursday, 31 March 2011

Senjata Itu Bernama Exorbitante Rechten

Lukisan Laat Maar oleh Jerry Thung,
pada pameran "Dari Penjara ke Pigura" (Salihara, Jakarta 17 Oktober - Desember 2008)


Exorbitante Rechten adalah hak menangkap siapa saja yang dianggap membahayakan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda sebelum Perang Dunia II. Hak luar biasa ini dipakai untuk meringkus pemimpin-pemimpin nasional saat itu. Bersama  hak exorbitante rechten ini, ada juga dinamakan pasal "de Haatzaai Artikelen" yaitu pasal-pasal pencegahan rasa benci. Ini adalah pasal karet yang mampu menuduh seseorang telah menyebarkan rasa benci pada pemerintah yang berkuasa. Dan bila tak mempan, maka dipakai hak exorbitante rechten itu sebagai senjata pamungkas.

Pigura di Luar Penjara

Perupa kita memang terbiasa bekerja dengan bahan sejumput. Bertolak dari yang secuil, mereka mengarang-ngarang atau mengembangkan gubahan visual atau sensasi artistik untuk menggugah yang indrawi. Imajinasi personal kiranya adalah alat ampuh untuk itu.


Ya, imajinasi dan peristiwa diracik secara longgar, menurut "logika imajinasi" seniman. Simsalabim, maka lahirlah karyakarya seni rupa yang menampilkan gambaran tokoh dan teks (ber)sejarah. Inilah pameran "Dari Penjara ke Pigura", yang diikuti 30 perupa (Jakarta, Bandung, Yogya, dan Bali), untuk menandai pembukaan Galeri Salihara di Jakarta (17 Oktober6 Desember 2008).

Wednesday, 30 March 2011

Gundik Tak Kentut alias Guling

Tak sadar tiap malam kita memeluk gundik tak kentut. Ya, dikenal sebagai Dutch Wife atau (bantal) guling. Guling lahir dari kesepian orang Belanda saat tiba di negeri ini. Guling takkan ditemukan dalam sastra Jawa lama maupun sastra Melayu. Dan guling juga tak ditemukan di Eropah, hanya di beberapa negara Asia Tenggara. 
Guling juga terdapat di negara lain di Asia Tenggara. Variannya di Asia Timur dinamakan “istri bambu”, jukbuin, chikufujin, atau zhufuren yang terbuat dari anyaman bambu. Varian ini kemungkinan memengaruhi Dutch wife, karena keberadaan jukbuin sudah jauh sebelumnya.

Perempuan yang membawa pulang senjA

13009663281768375653
Sunset Woman by Nikhil Gangavane
perempuanku, jangan kau hitung umur dengan guratan di wajahmu. sudah berjuta kali ombak mampu meratakan pantai, saat setiap pagi para umang berjalan mencari hidupnya. selepas menatap fajar di horizon sana, mereka berlomba menguburkkan diri, dalam waktu milik mahluk lainnya.

Senyum dalam Sebotol Bir

Champagne Popping
aku simpan senyummu dalam kitab tua,
sepotong bibir yang tak pernah jemu mengucap namaku
bentuknya sudah mampu mengucap sejarahku
apa lagi lekuk tubuhku,
dan desahnya jangan ditanya, bagai debur ombak yang mampu menyeret bulan