Friday, 6 September 2002

Haatzaai Artikelen

Di sebuah sore puluhan orang digelandang ke kantor polisi. Disebuah negeri antah berantah nun jauh di sana di bawah awan mendung dipagari cerobong-cerobong asap dan pipa-pipa darah manusia. Entah apa yang akan terjadi pada mereka, tapi yang pasti mimpi mereka terusik malam kemarin. Operasi itu tak bernama segelap malam itu. 

Dibagi dalam dua kamar gelap, dan harus saling berdesak-desakan. Untungnya badan mereka tidak begitu subur dan sudah terbiasa dengan bau keringat. Kebanyakan hanya diam, bingung. Mencari jawab pada pandangan sekelilingnya. Hanya wajah-wajah garang petugas dengan seribu halaman berkas di meja sana.

Satu persatu nama mulai dipanggil. Dua orang di periksa di meja tak jauh dari sel-sel. Jelas terdengar pembicaraan yang terjadi.

Petugas : “Kamu yang bernama Kursi dan Mimbar?”

Dua orang : “Benar pak. Apa salah kami hingga ditangkap? Kami masih ngantuk berat”

Petugas : “Justru kami sudah tidak tidur lebih dari seminggu. Karena kalian-kalian ini. Kurang kerjaan aja. Apa yang kalian lakukan hari Rabu siang, empat hari yang lalu? Di depan istana sang Presiden?”

Kursi : “Kami hanya berdemo. Melakukan protes melalui teaterikal. Bukankah tidak kerusuhan yang timbul. Tidak ada kekerasan yang timbul”

Mimbar : “ Kami tidak ada menghasut, hanya menampilkan sebuah dagelan”

Petugas : “Justru kalian telah mempermalukan kepala negara. Beliau berang melihat photonya dibakar dan kalian mempertontonkan kebencian kalian. Kepala negara malu mendapatkan telepon dari negeri keju sana. Mereka bilang dagelan itu telah menurunkan rating talk show di berbagai stasiun tv mereka. Dan ribuan produser ingin membeli hak paten atas skenario itu. Ini kan memalukan, memangnya penghinaan kepala negara layak dikomersilkan?”

Kursi : “Justru kami anti kapitalis. Kami tak ada konspirasi dengar mereka. Ini hanya konspirasi kaum para rakyat miskin. Para seniman kapitalis, justru telah kehilangan ide dan nafas seni. Mereka rasa demokrasi dan HAM menguntungkan bila di komersilkan melalui film. Atau mungkin kapitalis mempertontonkan sosialis sebagai dagelan mereka”

Petugas : “Aku tak mengerti bahasa-bahasa kalian itu. Yang aku tahu kalian telah meresahkan kepala negara. Menjelek-jelekkan beliau. Saya hanya di tugaskan memeriksa kebenaran akan kejadian di depan istana itu. Kalian yang melakukan bukan?”

Mimbar : “Benar pak, tapi kami punya alasan…”

Petugas : “Simpan alasanmu itu. Untuk saat ini kalian akan dikurung sekian lama. Sampai beliau memberi maaf. Atau tunggu ampunan rezim berikutnya. Saya hanya melaksanakan perintah majikan saya”

Keduanya dipaksa berjalan menuju sel jauh disana. Sepertinya itu bakal menjadi tahanan mereka untuk seterusnya.

Berikutnya seorang pematung di hadapkan pada pemeriksa. Wajahnya berkeringat, ketakutan. Tangannya tak lagi bersahabat, gemetaran.

Petugas : “Mengapa tanganmu? Tangan ini yang membuat patung-patung itu ya?”

Pematung :“Saya memang pematung pak. Tapi hari ini sepertinya tangan saya gelisah. Berontak”

Petugas : “Berarti tanganmu tahu kesalahannya. Tangan kamu pemberontak. Wajar kalau orang bersalah takut didepan petugas”

Pematung :“Tangan saya tak pernah salah pak. Patung segala tokoh politik saya buat mirip, bahkan seperti hidup. Melihatnya saja orang langsung takut dan lumayanlah laku dibeli para pengusaha. Lebih manjur dari katabelece.”

Petugas :“Mengapa patung kepala negara kamu bakar? Kamu mau menghina beliau?”

Pematung :”Tidak pak. Saya tak ada niat menghina beliau. Saya hanya tak tahan..”

Petugas :”Maksud kamu?”

Pematung :”Bagaimana ya….hmmm. Saya sudah sebulan dikejar-kejar hutang. Kayu makin lama makin mahal. Dan sekarang patung-patung itu tak laris seperti dulu, empat tahun yang lalu. Saat rakyat banyak mengharapkan perubahan dan keadilan. Kata orang-orang mereka telah jadi penipu walau sedikit masih ada yang memberhalakannya. Mereka tak mau berharap banyak pada tokoh-tokoh itu, apalagi patungnya. Sementara para pengusaha juga tak ambil pusing, mereka hanya menunggu saat-saat menguntungkan. Patung-patung ini tak lagi dianggap benda kramat.”

Petugas :”Apa hubungannnya dengan pembakaran yang kamu lakukan?”

Pematung :”Sudah seminggu saya tak makan. Hanya bisa memandang patung-patung yang tak laku-laku itu. Dan senyum mereka sepertinya mengejekku. Aku tak tahan kelaparan ditatapi mereka. Sementara mata dan bibir mereka begitu segar. Bekas anggur dan hidangan-hidangan mahal. Dan sepertinya nafas mereka bau oleh janji-janji bohong. Begitu hidupnya patung-patung itu, seakan aku dibiarkan saja kelaparan. Tak sedikitpun ada nurani mereka. Tapi aku sadar mereka hanya patung seperti wujud aslinya yang tetap tak bernurani. Lalu…..aku bakar. Lapar tak tertahan.”

Petugas :”Sudah jelas kamu yang bakar. Kamu mengakuinya. Kamu ditahan untuk penghinaan itu.”

Pematung : “Tapi pak…”

Polisi : “Tak ada tapi-tapi….”

Pematung digelandang ke sel. Tangannya berontak. Sang pemberontak itu berbau minyak tanah. Tangan itu dendam.

Berikutnya diperiksa para pengamen yang dianggap menyebarkan hasutan melalui lagu-lagunya. Padahal mereka tak mengharapkan jabatan dari suatu kejatuhan rezim kelak, hanya recehan-recehan saja. Dan mereka tak bersenjata atau memiliki bom. Mereka tak juga punya massa atau partai, hanya krecekan dan gitar. Tak juga membawa koper untuk penyimpan uang hanya plastik bungkus permen.

Diperiksa pula para pelawak-pelawak dan badut-badut, karena mereka terlampau lucu memerankan para tokoh-tokoh politik itu, hingga susah membedakan mana yang asli dan yang palsu. Para tokoh-tokoh politik itu cemburu, lawakan mereka tak laku lagi. Perhatian masyarakat tumpah ruah pada seniman pelawak-pelawak. Sepertinya guyonan ini lebih segar. Dan mereka tak mau disaingi, mereka memaksa para petugas menagkap para seniman pelawak dan badut jalanan itu.

Para dalang juga ditangkap dan diperiksa. Pementasan wayang banyak diberedel. Ijin dipersulit. Karena simbol-simbol perlawanan telah menggantikan tokoh-tokoh Rahwana, Arjuna, Sinta, Kurawa , Gatot Kaca. Penonton sudah muak dengan cerita-cerita lama, babad yang dianggap usang. Dan prediksi ke depan negeri ini, sedikit banyak dibahas disini. Mereka cemburu, masa depan negeri ini bukan dibahas di pementasan wayang. Dan para dalang negeri ini tak mau diatur dengan teori-teori atau skenario dari Ki dalang itu.

Lima lagi mereka yang kurus dikeluarkan dari sel tahanan sementara. Mata mereka liar, dan cekung. Tapi bukan pemakai narkoba. Beli beras saja tak mampu lagi.

Petugas :”Kalian tahu kesalahan kalian?”

Kurus :”Tidak pak, kami salah apa?”

Petugas :”Kalian melalaikan tugas kalian mengisi perut. Kalian membiarkan perut kalian kelaparan”

Ceking :”Memang kami tak punya uang lagi. Kami tak sanggup beli ubi, apalagi beras”

Krempeng :”Perut kami tak sudi diisi hasil todongan, penjambretan, atau uang kotor lainnya. Kami tak mau menyakiti orang lain demi menyembuhkan sakit perut kami”

Petugas :”Dan kalian telah mengekspos diri kalian ke media-media luar negeri”

Cacingan :”Wah…itu kami baru tahu sekarang pak. Kami tak menolak untuk diphoto bukan karena apa-apa. Mungkin hanya kenang-kenangan bila kami mati nanti. Dan mereka membeli sedikit uang pada kami. Bukankah itu bukan kejahatan, atau uang haram?”

Petugas :”Mereka memberi berita di bawah photo-photo itu. Inilah gambaran perjuangan pemuda Indonesia. Lima orang mogok makan sampai mati. Demi menjatuhkan pemerintahan yang ada. Jelas ini sebuah konspirasi menjelek-jelekkan pemerintah”

Takgendut :”Pak kami tak ada bermaksud begitu. Kami bukan mahasiswa, kami bukan aktivis. Mereka mogok makan karena demo, kami bukan mogok makan, tapi memang tak bisa makan lagi. Apakah tak makanpun dilarang di negeri ini?”

Petugas : “Selain berita yang menjelek-jelekkan itu, suara perut kalian begitu mengganggu kepala negara?”

Kurus :”Itu pemberontakan para cacing-cacing di perut. Mereka mendemo kami. Demi demokrasi kami biarkan saja suara-suara aspirasi mereka. Tapi begitu sensitifkah telinga beliau mendengar jerit perut kami? Mungkin beliau sedih”

Petugas :”Bukan begitu. Tapi mbok ya, kalau perut kalian lagi berbunyi, jangan sebut-sebut nama beliau. Beliau terusik kalau kalian sebut-sebut namanya. Bukankah nenek-nenek kita dulu bilang, kalau kita menyebut nama seseorang berkali-kali, orang yang disebut namanya itu akan bersin-bersin. Dan itu terjadi ketika beliau berpidato di depan para kepala negara pemberi bantuan hutang-hutang, akan perkembangan negeri ini yang dikatakannya berhasil. Beliau bersin-bersin dan yang keluar suara dari mulutnya bukan “haaatsyimm”. Tapi “laaphhaarrr””

Kelimanya bingung, bengong, hingga sampai di perhentian mereka ditahanan. Dihukum oleh pasal penghinaan kepala negara, penyebaran rasa kebencian (Haatzaai Artikelen). Tapi perut mereka tak akan lapar lagi, tapi mereka masih ingat nama beliau. Entah apa yang akan mereka sebut-sebut nanti. Mungkin “tapol” atau “otoriter.”

Dukaku buat penangkapan kaum militan revolusioner. Rezim ini telah memakai kembali pasal karet.

Friday, 30 August 2002

SMS


(Jatuh Cinta Pada Bip yang pertama)

Hembusan nada dari lagu yang menenungku menghentikan kehidupanku. Suaranya lamat-lamat kedengaran di malam yang menyepi ini. Walau pegal sedari tadi tak mampu hentikan jemariku menari, karena otakku kencang berlari. Kata-kata terus meluncur, mengalir, memecah selayaknya sel-sel yang membelah diri terus menerus membentuk jaringan. Dan tubuh dari tulisan mulai rampung, tinggal diperlukan sedikit nyawa untuk menghidupkannya. Aku ingin menyihir pada segala pembacanya.

Kebiasaanku mengatakan apa yang aku yakini pada semua huruf-huruf yang berbaris rapi terkadang membuahkan sebuah tulisan walau itu terkadang adalah dialog pada diriku. Dan itu menjadi begitu nyata ketika semua nyawa-nyawa di rumah ini telah singgah pada keheningan malam. Aku mendapatkan segala percakapan pada keheningan ini, tak ada yang lebih indah dari mengungkapkannya. Bukan seperti mengigau diketidak sadaran yang aku yakini juga merupakan dialog yang terjadi di dalam mimpi. Realita yang terjadi sama, tapi mimpi kadang tak bisa dikenang kembali dengan sempurna, ingatan selalu memungkirinya. Bukankah ia hanya bunga mimpi, mekar di saat akal tertidur.

Kopi dan rokok teman yang setia, satu pelepas kantuk dan satunya lagi bagiku adalah penyambung nyawa. Hembusan yang aku yakini mampu mengalirkan kebuntuan, tercekatnya kebingungan dari mana aku harus memulai semua percakapan. Terkadang aku sedikit konyol, mengharapkan malam mampu berbicara, hanya sang penujum dan ahli bintang yang mampu bertahan menatap di kegelapan. Mataku merasa hampa pada kegelapan, pandanganku masih tak mampu menembusnya, andai aku bisa membaca segala hal di balik kegelapan. Malam bisakah kau berbicara?

Radio dari bilik tetanggaku sedikit mulai bersahabat, lagunya menemani. Tak terdengar suara-suara pemilik bilik, mungkin sudah tertidur atau mungkin ia sedang berpikir sepertiku. Lagu lama kembali melantun, sebuah lagu kenangan oleh Slank berjudul Anyer 10 maret.

Malam ini, kembali sadari ku sendiri
Gelap ini, kembali sadari kau telah pergi
Malam ini, kata hati harus terpenuhi
Gelap ini, kata hati ingin kau kembali
Hembus dinginnya angin lautan
Tak hilang ditelan bergalas-gelas arak
Dan kuterdampar…

Pengembaraanku pada jelajah ruang syair itu tergelincir, sebuah bip dari telepon genggamku (HP). Sepertinya ada SMS baru.

Apa kabarmu malam ini, aku rindu kamu
Sender : Bidadari
Sent: 12 januari 2002
1:30:14

Aku tersenyum sendiri, dia belum tidur. Bidadariku. Ingin aku membalasnya, tapi sudah dua minggu pulsaku habis. Isi dompet hanya cukup bertahan untuk makan dan membeli rokok hingga akhir bulan ini. Hanya bisa berharap dari gaji bulan berikutnya. Gaji bulan kemarin telah kupakai, sebahagian untuk membeli HP ini, sesuatu yang kurasakan kini sangat dibutuhkan untuk kemudahan komunikasi dilapangan selama peliputan berita atau tugas yang di jadwalkan padaku sebagai wartawan pemula.

…………
Malam ini, kita bernyanyi lepas isi hati
Gelap ini, kita ucap berjuta kata maki
Malam ini, bersama bulan aku menari
Gelap ini, ditepi pantai aku menangis
Tanpa dirimu ada disisiku, Aku bagai ombak tanpa air
Tanpa dirimu dekat dimataku, Aku bagai hiu tanpa air
Tanpa dirimu dekat dipelukku, Aku bagai pantai tanpa lautan
Kembali lah kasihku
Oooo…
Kembalilah kasih

Lagu itu masih melantun, belum selesai. Lagu dan isi pesan SMS, masa lalu…..

Ketika itu aku masih kuliah, diperguruan tinggi negeri yang katanya gudang ilmu. Kenyataannya justru lumbung itu penuh tikus, semua yang ada hanyalah calon-calon plagiator. Dosennya tukang jiplak penelitian dosen dari kampus lain, mahasiswa menjiplak penelitian para senior yang telah tamat duluan. Sesama tukang jiplak sungguh damai, tak ada saling menyalahkan. Rektor memberi label baru, kampus industri. Penghasil robot-robot manusia, yang telah diseting tanpa kesadaran dan nurani. Dan mahasiswa dikenal sebagai angka-angka, isi otaknya diperam dalam bilangan-bilangan jam lama perkuliahan dan kapasitas otaknya dinilai dengan bilangan-bilangan, skala 4 atau 5. Begitu juga mahasiswa, menilai dosennya dengan rupiah-rupiah.

Istilah kampus industri dipakai mbah rektor untuk mengimbangi pesan Mendiknas –Menteri Mendikte Nasib- dalam rangka penghapusan subsidi. Para peneliti kalang kabut mencari dana penelitian. Meneliti semut yang mengapa gandrung kerja, tinjauan kentut dalam etika kedokteran dihubungkan dengan adat istiadat atau pembelaan atas pembelaan atas pembelaan atas pembelaan studi kasus di partai beringin.

Mahluk yang selalu kutunggu di DPR (Dibawah Pohon Rindang) ini bukanlah tikus atau sejenisnya. Walau rambut sama hitam, jangan sangka ia akan terjebak oleh keju seperti tikus. Memandang kejupun ia akan berlari apalagi tikusnya. Berbaju biru celana jeans hitam dia menyapaku. Berbicara panjang kali lebar, tidak ada makna menyempit atau meluas. Semua lugas dan tak berbekas salah prasangka. Kutahu ia orang yang paling jujur kukenal setelah Tuhan.

Bunyi yang paling ku benci itu mulai bersuara. Bukan mendecit seperti tikus. Atau mengeong seperti kucing. Hanya bip. SMS masuk ke inbox.

“Lagi-lagi sms masuk, siapa sih dia?” tanyaku curiga. Aku bukan membenci teknologi atau karena aku tak memilikinya, tapi sungguh itu kurasakan terlalu mubajir. Mungkin karena aku dapat ditemukan dimana-mana karena aku selalu ada untuk tempat yang sama di tiap-tiap hari. Pagi hingga siang di kampus, sore di sekretariat, malam di rumah. Habis perkara.

“Temanku yang di Jakarta. Aku kan pernah cerita, abang ini yang membantuku dulu mencari bahan skripsi nantinya” katanya sambil tersenyum, sejuta arti ada dibibirnya.

“Isi pesannnya apa?’ tanyaku lagi menyelidik.

“Hanya biasa, tentang sekarang dia ada dimana. Dan pertanyaan apakah aku sudah makan siang”

“Bah. Kurang kerjaan dia, ibumu pun takkan seramah itu padaku. Memangnya dia mau kasih makan apa?” aku sedikit berang.

“Walah abang… inikan basa-basi. Bunga-bunga percakapan”

“Siapa pula yang merasa berbunga-bunga? Aku tak suka dengan segala keramahannya. Semua pria itu sama”

“Abang berarti melawan teknologi” ia coba mengalihkan pembicaraan, perdebatan yang kemarin-kemarin juga.

“Bukan aku melawannya. Tapi kuakui semua teknologi ada baik dan buruknya”

“Keburukannya apa sih bang?”

“Dia merayumu. Kata-kata itu berbisa, dapat meracunimu. Sejuta janji sejuta mimpi. Kebenaran dan kebohongan beda tipis bila dipakai sebagai rayuan”

“Abang marah nih, bukannya kata-kata abang lebih mengena dihati. Inikan hanya tulisan bukan elusan”godanya.

“Tapi kau akan ketagihan, seperti kerinduan bila kebiasaan itu hilang. Kau akan mengharap akan kabarnya. Mungkinkah kau sudah bosan denganku?”

“Walah bang kok segitunya. Aku juga sudah bosan menasehati abang menghentikan merokok. Bukannya itu juga ketagihan?”

“Jangan disamakan dong. Kamu melarikan pokok permasalahan nih”

“Biar abang tahu kalau abang juga egois. Mari berdemokrasi. Saling menghargai privasi.” Dia berargumentasi.

“Oh ini yang kau definisikan privasi? Oke aku tak akan memarahimu”aku meradang.

“Aku juga tak akan melarang abang merokok” dia naik pitam.

Kami diam, bisu. Angin terpana menangkap suasana dihadapannya. Suasana sejuk dibawah pohon ini mendinginkan panas di kepala perlahan-lahan. Seperti sudah ditakdirkan, lelakilah yang merayu wanita, mencoba untuk melunakkan hatinya.

“Maaf ya, aku cemburu. Aku takut kata-kata itu menculikmu dari ku” aku meminta maaf.

Dia hanya tersenyum, dia mengecup pipiku. Tapi matanya masih awas menatap pada genggamannya, HP itu.

“Bagaimana dengan deal tadi, berarti aku boleh merokok lagi dengan bebas”

“Boleh tapi tak ada ciuman” katanya ketus, marahnya bangkit lagi

Aku bengong.

Memikirkan antara pilihan berhenti merokok atau membiarkan hobi barunya, membuat aku bingung. Merokok sangat aku butuhkan, aku tak lengkap sebagai lelaki. Mencium juga kubutuhkan, aku tak lengkap sebagai pacarnya. Sama-sama kecut dibibir bila tak ada rokok dan cium. Tapi mengapa nyaliku hilang, bukannya aku bisa merayunya.

Hayalku terhenti sejenak, ada sebuah bip dari telepon genggamku . Ada SMS baru.

Yang bisa ku katakan malam ini, aku ingin selalu dekat denganmu
Mimpiku akan indah bila kau hadir di mimpiku,
peluk dan jangan lepaskan aku
Sender : Bidadari
Sent: 12 januari 2002
1:44:08

Isi pesan seperti ini, yang tak aku inginkan dikirim pada gadisku. Bukannya ini akan membuainya, seperti apa yang aku rasakan sekarang. Walau itu hanya kata-kata.

“Ok, aku setuju. Aku berhenti merokok, kau hentikan menerima sms darinya. Atau dari yang lain. Biarlah kau katakan aku kolot, tapi aku percaya kalau kata-kata dapat menghipnotismu, seperti mereka yang bercinta di cyber, di MIRC” kataku menyerah, bendera putih terkibar.

“Berhenti merokok total. Aku tak mau mendengar kau juga curi-curi merokok di belakang ku” dia memastikan kembali kesepakatan kami.

Sejak itu, jatahku kembali lancar berjalan, tak ada sunatan. Tapi bibirku tetap kecut pahit. Nikotin telah mengikat liurku. Mencium asap rokok di sekeliling aku jadi ketagihan, tak ubahnya melihat orang makan nasi goreng dan aku hanya bisa menatap sambil berlalu mencium aroma yang gratis terbang. Di kebiasaanku berkumpul dengan teman-teman, membuat aku jadi bahan cemoohan, lelaki yang penakut pada wanita. Wanita ternyata jadi sukarelawan yang terbaik dalam mengkampanyekan anti merokok. Selain rumah sakit yang menakuti dengan poster penyakit kankernya.

Kebiasaan itu tak berlangsung lama, sekali waktu aku mencuri-curi merokok setelah kami berpisah pulang. Dan kupuaskan seperti tak ada esok hari. Sungguh puas menarik asapnya. Menelan dan membuang sisanya. Dan lengkaplah kejantananku, tak perlu membeli viagara.

Namun sepertinya ia pun tak jauh berbeda denganku. Sunyi rasanya dunia tanpa bunyi bip itu. Tak ada nada yang lebih panjang dan merdu selain dari sebuah nada. BIP. Sepertinya ku bukan gagap teknologi, tapi keindahan nada tak dirasakannya lagi dari musik-musik atau siulanku. Atau bisikanku. Aku cemburu. Dia jatuh cinta? Pada BIP yang pertama?

Aku pernah curi-curi melihat beberapa pesan dari inbox di messages, ketika dia lengah meletakkan HPnya. Sejak kesepakatan kami itu, dia makin tak sembarangan meletakkan HPnya. Aku pernah protes untuk itu, tapi dia bilang ia tak mau HPnya hilang, karena memang ia sedikit agak pelupa. Pesan ini tak sempat di hapusnya :

Tadi malam sejak pembicaraan terakhir
Aku tak bisa tidur, ingat kamu terus
Sender : pangeran

Sungguh siapakah yang terindah di dunia?
Bungapun tak bisa menyangkal,
Dan mereka cemburu padamu
Sender : pangeran

Bangsat. Percakapan yang panjang tentunya di tiap malam. Dan mengapa aku harus cemburu? Pada pangeran? Pangeran kodok? Sialan, aku marah. Padanya aku bongkar semua itu, aku merasa tertipu. Dia terdiam, sudah kodratnya wanita diam. Mengapa harus ada kodrat lagi?

“Sejauh ini aku tak tahu tentang perkembangan apa yang kau rasa. Mungkin cinta tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Apakah kau telah terasuk dan diracuni oleh cintanya” aku menatapnya tajam.

“Dia bisa menulis apa saja. Dan haruskah kita marah oleh semua kata-katanya. Aku akui aku tetap mencintaimu. Aku hanya bersahabat dengannya. Tak lebih” dia menatapku, mencumbui amarahku.

“Tak ada asap kalau tak ada api. Aku tak mau kau terbakar oleh perbuatanmu sendiri”

“Percayalah padaku untuk itu. Semua kata-kata itu hanyalah sekedar huruf-huruf yang tak ada makna. Ikon-ikon yang tak punya rasa dan ekpresi”

“Tetapi bila terangkai dan bersanding di suasana yang manis, sebuah katapun dapat melambangkan banyak hal. Apalagi bila kata-kata itu terus menerus hadir, penegasan makna akan lebih jelas”

“Haruskah kau cemburu pada kata-kata. Dia tak dapat mengelusku. Hanya kau” dia merayuku, dan aku lemah oleh kutukan segala kodrat ini.

“Aku orang yang paling percaya akan kejujuranmu. Itu sudah aku katakan dulu dan berkali-kali. Tuhan pun cemburu untuk itu. Tapi untuk terakhir kalinya, aku tak ingin kau membohongiku lagi. Hentikan saling membalas sms itu. Aku tak mau mengatakan pilih aku atau sms. Sungguh hina aku memberi pilihan itu. Cukup ini kesalahan yang terakhir, aku tak mau ditipu lagi” kataku menegaskan. Dia mengiyakan dipelukku. Amarahku mereda, jauh direlung hatiku aku menyadari penipuanku. Sepertinya kebohonganku dengan rokok membuahkan hal ini. Sejak saat itu aku berjanji berhenti merokok total.

Tapi yang kupandang - di minggu-minggu yang indah setelahnya - tak bisa menipu, didepanku sendiri aku membacanya. Bukan halusiansi atau mimpi :

Biar kupagut bibirmu, kuremas dadamu, indah berlekuk.
Nafasku tak putus mendapatkan
segala keindahan milikmu
Sender : pangeran

Jangan malu melakukannya, ikuti nalurimu
Buang jauh segala ragu, biarkan aku merasukimu
Segala kerinduan mencair kini
Sender : pangeran

Malam ini aku bahagia mendapatkanmu
Dalam pelukanku, jauh dilubuk hatiku
Aku tak ingin kau menjadi milik orang lain
Sender : pangeran

Aku begitu marah padanya. Segala alasan susah kuterima.

“Dia marah ketika aku cerita bahwa kau membaca sms nya yang dikirim dulu. Dan dia memancing kemarahanmu dengan mengirim sms ini. Sungguh aku tak melakukan apa-apa dengannya. Sungguh, jangan kita terjebak oleh permainan kata-katanya”, ia menangis, aku tak perduli lagi. Aku telah berjanji. Kami dulu telah sepakat. Dan aku memutuskan untuk pisah dulu. Kini sudah 4 bulan lamanya aku tinggalkan dia. Aku beri waktu untuk memikirkan semua itu.

Apa kabarmu? Semoga kau bahagia dengan kata-kata nya.

Lagu dari bilik tetangga tak pernah terhenti, mencuri hening. Seperti sebuah narasi musik bagi ziarahku. Kasidah Cinta milik Dewa mengganggu, seperti mengejek. tapi kini aku merasakan hal yang lain. Sungguh indah kini. Apakabar bidadariku :

Kujatuh cinta kepadamu
Saat pertama bertemu
Salahkah aku terlalu mencintai
Dirimu yang tak mungkin mencintai aku
Oh Tuhan tolong…
Aku langsung jatuh cinta kepadamu
Cinta pada pandangan pertama
Cinta yang bisa merubah jadi
hidupku jadi lebih berarti
Oh mungkin hanya keajaiban Tuhan
Yang bisa jadikan hambanya yang cantik
Menjsdi milikku
……………..
Aku bukanlah lakilaki
Yang mudah jatuh hatinya

Dan sms kembali datang, tapi aku tak punya pulsa :

Rasuki aku dengan nalarmu dengan lenguh mu
Bibirku masih kering, tubuhku haus oleh keringatmu
Sender : Bidadari
Sent: 12 januari 2002
2:10:27

Bang, aku hamil 4 bulan. Oleh kata-kata
Bagaimana ini bang? Dia tak mau bertanggung jawab.
Selain hanya kata-kata. Maafkan aku dulu. SMS balik aku
Sender : gadis
Sent: 12 januari 2002
2:15:47

Maaf Dika, aku salah kirim sms.
Maaf yaaa…. :)
Sender : Bidadari
Sent: 12 januari 2002
2:17:27

Aku terpana, tapi aku tak punya pulsa. Untuk memaki.
Dan radio itu masih bernyanyi, untuk semua wanita, untuk semua setan yang menemaniku.

Sender : andika
Sent : 4.10 wib, 27 Agustus 2002

Tuesday, 27 August 2002

Lingkaran


[ Siska dan dua malaikat atau dua setan (?) ]

Pagi beranjak dengan tenang, selembut langit yang pelan bersolek diri. Dan matahari mengusir gelap dengan senyum manis kelak berujung sinis. Embun-embun tak lagi bersantap masa, hilang berselingkuh digoda rona hangat angin yang mengusir mimpi. Beratus juta kebangkitan mencicipi kesadaran, melanjutkan rajutan keping-keping nasib yang berserakkan. Benang-benang nafas terpilin kusut tak jelas ujung. Sang penabur benih tersenyum suci memandang tuaian pada segala tanah yang subur, penuh bebatuan dan segala hamparan ladang kehidupan.

Pada kehidupan yang bermula di pagi, bunga berdandan molek. Kelaminnya memikat kumbang-kumbang nakal pemagut cinta, semuanya berjalan biasa. Tak ada yang merasa digerayangi, tak yang terlecehkan, tak ada dosa. Mungkinkah tak ada berahi pada mereka?

Kumbang akan menatap sedih pada bunga-bunga yang tertata rapi di meja ini. Dingin dan pelan-pelan berbisik mati. Tapi ia tidak mati sia-sia, hidup memberi arti. Keindahan dan kematiannya memberi damai, tak ada yang perlu terusik. Terusikkah mereka bila aku tetap sendiri?. Pelan pikirannya mendesah. Untuk kesekian puluh kalinya bunga-bunga ini dikirimkan padanya, pengirim yang sama. Beratus kalimat terangkai pada kertas-kertas kecil tulisan tangan, dan selalu berujung inisial yang sama. CT. Siapakah kau?

Kertas-kertas di meja jadi santapan pagi, setelah sarapan hangat dan segelas susu sajian Bik Miah di rumah tadi. Kembali ke kantor menikmati kesibukan diri, dan sorenya pulang mendapati rumah masih dingin dan sepi. Tak ada celoteh-celoteh menyambut atau kecupan hangat dari pria yang akan melindungi hingga pagi menepi kembali. Mengapa aku menjadi lemah begini? Pikiran yang tak pernah menjadi persoalan bagiku dulu, tak semenarik segala kasus yang kutangani. Aku bisa memenangi segala ajal bagi mereka kaum pesakitan, mengapa aku tak bisa membela nasibku? Ia merenung panjang.

Batinnya menari-nari, segala tanya terburai. Mungkinkah karena bunga-bunga ini, aku menjadi ingat kembali akan cinta? Akan kesendirian? Akan sepi? Bukankah itu pilihan yang aku yakini? Hidup tanpa pria bukanlah kematian. Karena patah hati bukanlah milik dewa maut lagi, itu hanya berlaku pada roman-roman usang. Gambaran lemahnya peradaban. Aku wanita mandiri yang punya hidup sendiri. Semua garis hidupku hanya satu, sendiri dan selalu menjadi nomor satu. Seperti di kantor ini, karirku telah cukup berarti. Aku memiliki kantor pengacara sendiri, dengan pegawai yang lumayan banyak. Tak ada yang pernah menatap kasihan padaku atau nada-nada ejekan sebagai perawan tua. Malah kumpulan wanita-wanita korban lelaki yang bertameng wanita karir itu, menobatkanku sebagai wanita karir untuk tahun ini. Bukanlah sebuah prestasi bagiku, tapi bergabung dengan mereka adalah sebuah penghinaan. Begitu bencinya mereka pada lelaki memunculkan pemikiranku bahwa mereka adalah kaum lemah. Bukankah Hawa dulu telah berhasil menipu Adam?

Bila dikatakan lelaki kejam, marahlah pada Adam.
Tiadalah harus keluar dari firdaus yang kekal, tiada lain bukan oleh karena bujuk Hawa. Kalah oleh kaum peng-ingin, mengidam sebelum waktunya.

Bila dikatakan lelaki itu kejam, tamparlah Adam.
Karena hanya itu yang bisa dilakukan, sebelum tangis mengalir.
Dari turunan Adam yang lemah, bibir yang kelu, lahirlah banyak kaum peng-iya.

Dan telah tertulis, Adam dungu oleh cinta.
Menjadi santapan wanita.

Tetapi tak dipungkiri, ia masih bisa ingat dia. Lelaki kecilnya pada waktu yang lalu. Matinya sebuah cinta oleh manusia berkelamin lelaki. Kini ia bukanlah mahluk pembenci lelaki, telah terlupakan semua itu. Itu justru akan melecehkan dan kesendirian bukanlah sebuah bentuk sakit hati. Ini hanya ekpresi keinginan menjadikan hidup sungguh berarti. Sungguh tiada benci. Dan ia menikmati hingga posisinya kini. Tapi sampai kapan kah aku begini? ucapnya pelan. Ohh bunga mawar, sungguh berbahaya sihirmu? Belasan tahun yang telah menguatkan, janganlah kau pergi…..

Sebuah langkah menjajari gadis yang berjalan pelan. Sepatunya seperti diseret. Rambutnya masih terkepang dua. 

“Apa kabar gadisku, kok melamun? Mikirin aku ya”

“Ah kamu Tom. Jangan suka ngageti begitu, entar jantungku copot”

“Waduh udah jadi nenek-nenek nih? Tapi neneku ini makin manis aja deh” goda Tomy.

“Sejak kapan kakekmu kawin dengan aku? Hehehe…” Mereka tertawa, rona asmara membaui langkah mereka.

“Sis, besok datang ya, ke pesta ulang tahunku. Kamu harus jadi yang paling cantik disampingku” pinta Tomy.

“Emang jadi jadi pestanya? Boleh juga tuh. Kamu mau aku dandan yang gimana?” kata Siska manja, coba lebih memikatnya.

“Hmm… apa ya? Yang membuat aku tak kan melupakanmu. Itu harus!” tegas Tomy.

“Seperti apa itu? Pakaian malam aja deh. Pasti takkan terlupakan” ejek Siska.

“Boleh kalau berani, entar kita samakan. Aku juga pakai itu”

“Emang pakaian malam mu warna apa? Kan kita harus seragamin. Lagi trendi kalau ultah memakai dress coat yang dipilih tuan rumah. Seperti pesta si Dian yang dress coatnya pesta taman ” usulnya

“Pakaian malamku, ya hanya celana dalam doang. Abisnya kamarku panas Sis”

“Sialan dasar mupeng. Muka pengen”. Siska berlari mengejar Tomy. Habis tubuhnya dicubiti.

Pesta berjalan meriah, musik mengalun indah mengantar segala resah menepi jauh. Siska tetap merapat dekat Tomy. Keduanya begitu ceria, semua mengagumi. Pada ruangan yang tertata indah, pada makanan yang bermacam-macam rasanya, pada acara yang begitu mengasikkan. Orang tua Tomy benar-benar ingin memberikan kebahagiaan pada ulang tahun anaknya yang ke 17 ini. Siapa yang tak memimpikan bisa merayakannya di ruangan ber-AC ini, di hotel berbintang lagi. Dengan mengundang penyanyi local tentunya.

Ditengah acara Tomy mengambil mikrofon, dan coba menarik perhatian. Tamu-tamunya yang terdiri dari teman-teman SMUnya mendadak tenang. Menunggu Tomy berbicara.

“Terimakasih saya ucapkan pada teman-teman yang telah hadir pada malam ini. Semua menjadi semarak tak lain bukan hanyalah oleh kehadiran anda semua. Pada usia saya yang ke tujuh belas ini saya mempunya kekasih yang cantik bernama Siska. Dan pada pesta ini, anda-anda akan menjadi saksi bahwasannya pada detik ini saya memutuskan hubungan dengan Siska” ucap Tomy dengan nada bangga. Sebuah senyum kemenangan menghiasi bibirnya.

Semua tertegun, diam hening. Menjadi saksi runtuhnya sebuah mimpi. Siska menampar muka Tomy dan berlari keluar. Membawa isak tangis, dan sejuta benci. Begitu teganya Tomy melakukan semua ini didepan semua orang. Dan segala kebohongan begitu nyata dari mahluk berkelamin lelaki, Siska bersumpah demi segala kebencian.

Sunday, 25 August 2002

I MIGHT BE WRONG

I might be wrong
I might be wrong
I could have sworn
I saw a light coming on

I used to think
I used to think
There is no future left at all
I used to think

Open up, begin again
Let's go down the waterfall
Think about the good times
Never look back
Never look back
What would I do?
What would I do?
If I did not have you..

Open up and let me in
Let's go down the waterfall
Have ourselves a good time
It's nothing at all
Nothing at all
Nothing at all

by Radiohead

Aku Menggugat Tuhan

Aku menatap gedung itu, mereka berteduh di sana. Bersenda gurau sambil merogoh kantong, jemarinya tak cukup menggenggam segala keping keberuntungan. Beratus juta nyawa bergayutan dileher mereka, tapi wangi parfum mereka menutupi bau keringat dan mulut dari perut yang lapar. Kuping mereka tersumbat dengan segala negosiasi kapitalisasi dan globaliasi, dering tiada henti. Mereka makelar kehidupan, sementara kami hanya coba untuk memperpanjang hidup. Untuk detik-detik nanti.

Aku hanya seorang nyawa yang mencari hidup. Bagian dari jutaan korban pembangunan, keberhasilan dari meningkatnya angka yang melek huruf. Tercampak dari gerbang pendidikan diterlantarkan pada ladang tandus, dipagari konglomerasi. Lahan subur hanya milik mereka dengan segala kemudahan fasilitas. Kami bukan pemalas, tapi hawa panas mengeringkan keringat. Dan tanah itu tak lagi bersahabat. Bukankah telah didongengkan bahwa negeri kami subur makmur, kaya raya.

Aku tak membawa massa, mereka telah terbeli. Oleh janji-janji partai. Oleh hasutan kaum agamawan bahwa semua ini takdir, ini cobaan Tuhannya. Mereka telah dihasut oleh janji-janji revolusi mereka menyembah berhala demokrasi. Bukankah ketika demokrasi lahir menumbalkan kematian, sebuah kepala yang terpenggal. Bukankah Jesus Kristus disalibkan oleh karena tuntutan suara terbanyak. Mereka membebaskan Barabas. Mereka semua berseru “Ia harus disalibkan”. Namun Pilatus, wali negeri, mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan banyak orang dan berkata “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini………”

Kinipun tak ada ubahnya, mereka mencuci tangan dengan tameng atas nama rakyat. Bukankah ini tindakan yang tidak ksatria. Ksatria akan bertarung oleh keyakinan yang benar, bukan oleh hasutan diri. Sekali pedang keadilan terhunus, kebenaran akan tegak pada mereka yang berdiri terakhir. Tapi mereka telah tuli, buta, bisu, tak punya nurani. Apakah mereka bukan manusia lagi?
Dan aku berdiri di sini, menantang untuk itu. Suaraku mungkin tak kan terdengar, tapi keyakinanku akan menjadi gunung es bagi waktunya nanti. Sebuah poster kecil bertuliskan:

“ENYAHLAH SETAN YANG MENGATAS NAMAKAN RAKYAT!!!. 
Sebuah perjalanan menggugat Tuhan.”

Aku meneguk racun itu, pelan terasa pahit. Panas menjalar tubuhku, menggelepar.

Aku terbawa terbang, terangkat dari jasadku. Jauh dibawah, keduniawianku tergeletak dikerubungi oleh pemburu berita yang menemaniku selama 3 hari sebelumnya. Tangan-tangan merengkuhku, membawa ketepian perhentian. Mereka tersenyum, ruh-ruh itu. Dan yang berwajah bercahaya menyambutku “Selamat datang anakku. Damai sejahtera dibumi dan di surga”. Aku ingin protes untuk persamaan kalimat terakhir itu, tapi tak elok untuk sebuah awal perjumpaan.

“Aku ingin bertemu Tuhan. Aku menggugatNya” kataku tegas, seakan tiada waktu lagi.

“Bukankah kasihNya melingkupi kita semua disini, di surga. Berbahagialah orang percaya tapi tak melihat” Dia sepertinya mencoba mensugestiku.

“Aku hanya ingin memuaskan Nietzsche, tentang pendapatnya bahwa Tuhan sudah mati,” aku coba berkelit.

“Justru Tuhan sangat ingin berjumpa dengannya, agar ia tahu bahwa Tuhan itu hidup”

“Ajak aku menuju taman di Eden ketika sang tukang kebun hidup”

Dan kami berpindah ke sebuah waktu yang berjalan, pelan dan indah. Kedamaiaan yang mengalir menghanguskan segala gelisah dan pada cahaya yang berpendar ada sejuta garis-garis pengharapan yang menembus segala pikiran dan hati. Kami berhenti diatas sebuah taman. Disebelah timur Eden. Ada suatu sungai mengalir dari Eden membasahi taman. Berbagai pohon tumbuh indah. Sesubur negeriku. Hewan-hewan hidup damai tiada kebuasan. Apakah tidak ada hewan pemakan daging? Sebuah tanya yang urung aku tanyakan, ketika aku melihat sebuah pohon ditengah taman. Mungkin itu pohon yang memikat Hawa. Dimanakah kau ular? Aku mencari dengan sudut mata.

“Apa yang ingin kau tanyakan anakku?”, ia menatapku lembut.

“Aku ingin bertanya tentang penciptaan manusia. Sepertinya Tuhan salah memilih tanah yang menjadi bahan pembentuk manusia. Kini manusia tak ubahnya dengan setan. Semakin berkuasa semakin biadab. Semakin bersenjata semakin buas. Mungkinkah tanah itu telah tercemar sebelumnya oleh kotoran setan atau Singa atau binatang buas lainnya?”

Dia tersenyum, “Tidak anakku, Tuhan itu benar adanya. Allah melihat segala yang dijadikanNya dan semua itu sungguh amat baik”

“Tapi mengapa Hawa begitu gampangnya dihasut oleh ular. Bukankah tak ada teori-teori kehidupan yang telah menyesatkannya.”

“Ular adalah hewan yang paling cerdik dari segala binatang darat dan setan berada padanya. Setan memberinya janji untuk menjadi sama dengan Allah. Bukankah Tuhan menciptakan manusia sebagai mahluk yang tertinggi. Mempunyai akal.”

“Bagaimana dengan malaikat dan setan?”

“Malaikat melayani Tuhan, hidupnya selalu melakukan hal yang benar. Setan jatuh ke dalam dosa, hidupnya menghasut manusia untuk menemaninya nanti di neraka.”

“Sungguh yang terjadi di negeriku, para politikus itu ingin menjadi Tuhan. Mereka memaksa rakyat untuk menjadi malaikat. Mereka ingin membuat aturan agama menjadi aturan politik, undang-undang. Mungkin suatu saat akan mengundang-undangkan agama. Karena agama sendiri telah dipolitisir. Bukankah manusia diberi akal untuk memilih yang benar dan salah. Menjadi pengikut setan atau Tuhan. Tuhan bisa membinasakan manusia bila terlalu kotor seperti Sodom dan Gomora. Atau menghancurkan menara Babel untuk mimpi berlebihan internationale atau globalisasi”

Dia hanya tersenyum.

“Sepertinya buah itu telah menjadi mimpi nyata bagi mereka. Keinginan menjadi sama dengan Allah. Dan mereka terpengaruh oleh mimpi Hawa. Sungguh wanita telah menggodanya.”

“Tapi Adam tak mencegahnya, bukankah mereka menginginkan. Dan Adam mempersalahkan Hawa untuk dosanya. Hawa mempersalahkan setan. Begitulah keturunannya. ”

“Seperti suatu saat nanti, dengan gampangnya akan mempersalahkan bujukan bantuan asing itu, padahal mereka telah lama tahu akibatnya. Mereka mengatakan suara rakyat adalah suara Tuhan, tapi mereka sendiri menjadi Tuhan bagi mereka. Sesungguhnya aku ingin menggugat kembali, tidakkah Tuhan salah mengambil tanah untuk menjadi pembentuk manusia? Mungkin tanah itu telah terkontaminasi kotoran setan atau singa buas.”

“Tidak anakku. Setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa, Tuhan mengutuk tanah. Manusia dengan bersusah payah akan mencari rezeki dari tanah seumur hidup, dengan berpeluh akan mencari makanan, sampai kembali ke tanah, karena dari situlah manusia diambil, sebab engkau debu dan akan kembali menjadi debu”

“Dan kami adalah tubuh yang terkutuk. Seperti ada tanah yang subur, ada yang gersang. Tapi tanah kami subur, mengapa rezeki kami tidak subur pula?”

“Tuhan menghembuskan nafas hidup yang sama ke pada manusia.”

“Seperti panas yang dimiliki oleh bumi, seperti dingin dimiliki bumi, hidup kami tidak damai lagi. Mungkinkah tanah-tanah itu telah dikontaminasi oleh kesuburan, oleh minyak yang melimpah, oleh emas yang tertanam, oleh perak yang terpendam, oleh air yang mengalir. Atau oleh dendam mayat-mayat mati tak bersalah, tak jelas kuburannya. Atau oleh jerit darah yang terkucur deras dari perang saudara. Tanah kami yang subur telah dikutuk kembali. Oleh keserakahan, oleh pembangunan, oleh air liur yang menetes, oleh dendam, oleh kebiadaban sepatu berderap, oleh bayi-bayi tercekik, oleh mani-mani kaum sundal. Oleh decak kagum kepongahan akan masa lalu”

Dia hanya kembali tersenyum.

“Kami tak lagi memelihara tanah kami, dan tubuh kami menjadi jahat, terkutuk kembali. Dan kembali berlipat peluh ditulahkan pada kami. Tiada lagi damai. Oleh karena apa yang kami miliki, mereka menjadi serakah karena mereka punya kuasa. Sungguh mereka menikmati semua itu. Dan nun jauh di negeri lain, mereka menatap segala kesuburan dan kekayaan tanah dan air kami. Dengus rakusnya panas terasa. Tapi mengapa politisi itu mau menjadi budaknya?”

“Anakku, Adam dan Hawa telah memakan buah itu. Engkaupun menjadi tahu mana yang baik dan jahat”

“Kembalikan aku ke tubuhku, aku akan mengatakan pada bangsaku untuk memelihara tanah agar tak terkutuk ketiga kalinya. Aku ingat sesuatu, hmm…..apa yang terjadi dengan ular setelah ia berhasil membujuk Hawa?”

“Ular menjadi terkutuk. Manusia akan meremukkan kepala ular, dan keturunan ular akan meremukkan tumit manusia.”

“Baiklah. Kembalikan aku ke tubuhku”

Aku kembali menjadi cahaya yang terbang, melayang menghinggapi tubuhku. Meregang dan menyatu. Sedikit bergoncang.
Suara-suara itu menyentuh telinga, menampar ketidaksadaran. Mereka masih berkerumun, menatapku penuh tanya. Mulutnya membentuk kata-kata.

“Apa yang anda dapatkan di sana?”. Mereka menantikan hasil perjalananku. Seperti janjiku pada mereka untuk keinginanku menggugat Tuhan.

“Mari kita remukkan kepala ular di parlemen, sebelum tumit kita diremukkan mereka. Sebelum kita tak dapat lagi berjalan, berdiri pada hidup kita. Aku tak lagi melihat ular di sana. Ia telah diusir dari Eden. Mungkin ada di gedung itu, dikantung baju mereka, di mulut mereka, di hati mereka, di kelamin mereka”

Pkl 2.30 wib, 23 Agustus 2002