Saturday, 30 October 2010

Agus Salim sang Pemberani

Agus Salim adalah manusia merdeka. Merdeka dalam berhadapan dengan penjajah, merdeka dalam berurusan dengan keluarga, kerabat dan bangsanya sendiri. Merdeka dalam memilih lapangan pekerjaan, merdeka dalam berbusana (yang baik), merdeka dalam bersuara. Merdeka dalam bidang pendidikan.

Agus Salim menguasai tujuh bahasa asing yaitu Inggris, Jerman, Prancis, Belanda, Turki, Jepang dan Arab. Agus Salim adalah manusia yang serba bisa, Agus Salim adalah penerjemah, ahli sejarah, wartawan, sastrawan, diplomat praktisi pendidikan, filsuf dan ulama. Agus Salim adalah tokoh kosmopolitan yang tidak hanya berkiprah domestik saja seperti HOS Tjokroaminoto tetapi sudah mendunia. Agus Salim juga dikenal kalangan cendikiawan diluar negeri sebagai seorang jenius dalam bidang bahasa yang mampu menulis dan berbicara dalam banyak bahasa asing.

Tetapi tidak ada gading yang tak retak, Prof. Schermerhorn menulis dalam catatan hariannya tanggal 14 Oktober 1946 bahwa hanya satu kelemahan Agus Salim, yaitu selama hidupnya selalu melarat dan miskin.

Asal nama Agus Salim.
Ayahnya adalah seorang petinggi saat itu. Ketika Agus Salim berusia 6 tahun, ayahnya menjadi jaksa tinggi pada pengadilan untuk daerah Riau dan sekitarnya.

Ketika dilahirkan Agus Salim bernama Masyudul Haq, nama seorang tokoh dari sebuah buku yang dibaca ayahnya. Nama adalah doa, kata nabi, maka dalam pemberian nama itu terkandung harapan agar sang putra kelak menjadi "pembela kebenaran".

Ketika Masyudul kecil, ia diasuh oleh seorang pembantu asal Jawa yang memanggil anak majikannya "den bagus", yang kemudian dipendekan jadi "gus". Kemudian teman sekolah dan guru-gurunya pun ikut memanggilnya "Agus".

Kisah-kisah lucu dari keberanian Agus Salim berkata-kata

Adakah Paduka mengenali aroma rokok ini?"
Suatu hari pada 1953, Agus Salim -- mewakili Pemerintah Indonesia -- menghadiri penobatan Elizabeth II sebagai Ratu Inggris. Acara penobatan diselenggarakan di Istana Buckingham.
 
Dalam acara itu, Agus Salim melihat Pangeran Philip -- yang masih muda -- agak canggung menghadapi khalayak ramai yang hadir. Ia tampaknya belum terbiasa menempatkan diri sekadar sebagai pasangan (suami) ratu. Begitu canggungnya, sehingga ia lalai meladeni tamu-tamu asing yang datang dari jauh menghormati peristiwa penobatan isterinya

Untuk sekadar melepas ketegangan Pangeran Philip, Agus Salim menghampirinya seraya mengayun-ayunkan rokok kreteknya sekitar hidung sang pangeran. Kata Agus Salim kemudian, "Paduka (Your Highness), adakah Paduka mengenali aroma rokok ini?"

Rehat Politik ala Agus Salim dan Mr. Roem

agus salim
“Ajo, Pak Salim, naek keatas papan lontjatan (sprinkplank)."
 
"Ah, soedah toea sdr. Roem” kata Pak Salim, sambil tersenjoem dan mengeloes-eloes djenggotnja.
 
Tentoe, Pak Salim tida dapet lagi melontjat seperti Esther Williams. Tapi.....pelan-pelan dia mendekati aer, dan sampai dipinggir bak, kakinja doeloe jang dimasoekan kedalem aer. Dia mao rasakan dingin atau tidak kemoedian baroe badanja.
 
Diharie liboer, hari Minggoe atawa hari laennja, begitoelah pekerdjaan orang terkemuka itoe. Dan dihari itoe marika loepa kepada politiek. Besoek soedah segar kembali dan politiek dapet dilanjoetkan” ( Sunday Courier, Tahoen 1 No. 3) 

 
Itulah sepotong percakapan H.Agus Salim dan Mr. Moh Roem yang terekam oleh Sunday Courier. Salim dan Roem bukan nama asing di jagat politik Indonesia. Salim pernah menjabat sebagai menteri luar negeri pada masa kabinet Sjahrir (1946).

Akhir September 1949 juru foto Sunday Courier berhasil membidikan kameranya ke arah Salim dan Roem ketika berenang mengaso di hari minggu di permandian Kaliurang Jogjakarta (Tlogo Putri?) di mana keduanya hanya memakai celana renang.

Foto itu diambil pada hari kedua saat mengadakan perundingan dengan Belanda dan UNCHI di Kaliurang. Kebetulan pada hari Minggu tidak ada perundingan. Salim dan Roem menggunakan hari itu untuk rehat politik.

sumber : http://rhomayuliantri.blogspot.com

Tuesday, 19 October 2010

Penggali Kubur

Penggali Kubur (sumber image : http://ratihkumala.com/)
Sementara mereka berkata tidak, aku berkata ia. Karena aku yakin, kubur yang merekah itu adalah milik orang-orang kalah. Tersebab kemarin malam, aku bertemu sang penggali kubur tepat saat bulan berada di atas ubun-ubunku. Kalau kau tak percaya, ikuti saja bekas jejak-jejaknya. Tak pincang dan tetap seperti sepasang kaki melangkah.

Ia pulang ke balik bukit, menuju rumah tersamar dalam malam. Menutup pintu yang dari dalamnya tak ada cahaya menyapa. Lalu dari kejauhan, ia terlihat menyalakan lilin besar. Duduk di dekat jendela sambil membuka sesuatu. Berlembar-lembar kertas lusuh dari sebuah buku. Mungkin nama-nama kita. Esok siapa?

Aku bertanya dan gemetar sambil berpegangan pada malam. Maka terlihatlah olehnya rona merah kegelisahan di bawah rerimbunan ini. Tatapnya menghentikan nalarku, hingga tak sadar segelas teh telah terhidang di depanku. Meja tua berbunyi kasar.

Esok siapa? Kalimat itu terucap berulang-ulang di otakku. Bibirku tanpa sadar terbuka, dari dalamnya keluar gema pertanyaan yang berulang. Hingga kelelawar-kelelawar di luar sana panik menyelamatkan diri, terlukis bulan tertusuk ribuan benda-benda hitam yang melayang.

Usah kau pusing, aku hanya diberi pekerjaan untuk membuat kubur orang-orang yang mati dalam kegelisahan. Mati dalam ketidak wajaran. Entah mengapa nama-nama itu semakin bertambah di buku tebal ini. Setiap jam tertulis nama-nama baru, mereka memang malas memutar otaknya, ucapnya.

Tertuliskah namaku?

Aku tak bisa memberi tahu. Tapi nasehatku berjaga-jagalah. Menarilah dalam waktu hingga tak terasa semua berjalan indah. Karena semua sudah dipersiapkan sang Tuan dengan sangat baik. Masing-masing punya kehidupan, masing-masing punya kematian. Dan tahukah kau, bahwa semua orang masing-masing juga punya penggali kuburnya.

Menatapnya, aku menemukan waktu berpuluh tahun yang mengecil di titik hitam mataku.
 Edi Sembiring

Saturday, 9 October 2010

Happy Birthday, JOHN!

Yoko Ono and EMI Music Partner with Youtube to Honour John with Worldwide 70th Birthday Tributes

John Lennon Receives a YouTube Homepage Spotlight and YouTube Yoodle, and Google Doodle Celebrates Lennon's Life and Music!

Following the worldwide release of eight remastered John Lennon studio albums and several new collections on October 5 (October 4 internationally), Yoko Ono and EMI Music have partnered with YouTube for exciting global tributes honoring the music legend on the occasion of his 70th birthday (October 9).

Check out the new Google Doodle! Google.com

The John Lennon Youtube Channel is here: youtube.com/johnlennon

Following the worldwide release of eight remastered John Lennon studio albums and several new collections on October 5 (October 4 internationally), Yoko Ono and EMI Music have partnered with YouTube for exciting global tributes honoring the music legend on the occasion of his 70th birthday (October 9).

YouTube will honour John with a homepage spotlight starting at 9pm PT on Friday, October 8th and staying active for 24 hours. The spotlight will include a personal video from Yoko Ono, asking people around the world to submit videotaped tributes to John Lennon at www.youtube.com/johnlennon. Video testimonials from many of Lennon's famous friends and fans, including Ringo Starr, Brian Wilson, Aerosmith, the Jonas Brothers, Jeff Bridges, Tony Hawk, Bret Michaels, DMC (Run-DMC), Brandon Boyd (Incubus), Bill Walton, and others, will also be included in YouTube's homepage spotlight.

"I hope you'll join me and a family of peace around the world to celebrate this very special day," said Yoko Ono. "Send in your own video tribute to YouTube, and we will share in keeping John's memory alive."

Yoko Ono - John Lennon 70th Birthday Message