Thursday, 5 May 2005

Simpan Saja Suaramu

Simpan dulu suaramu. Saat ini mulut tak perlu menganga. Hanya hening terkesima pada alunannya. Suara perut-perut kita. Tak perlu membaca nada, ada tenor di belakang sopran. Indonesia raya menjadi nasi basi. Hanya itu yang bisa dimamah biak. Seperti cerita pengantar tidur. Dan penat kita dielus ibu, menuju negeri khayalan.

Simpan rapat suaramu. Serigala pulas di leher-leher mereka. Sedikit berderak akan memancing liurnya. Sementara pundak-pundak kejang menahan berat. Beban yang kita tutup rapat di antara gigi-gigi. Menimbun tuaian semusim, itupun penuh dengan tikus-tikus lumbung. Bisikan yang dititipkan angin globalisasi.

Simpan saja suaramu. Teriakan mereka ekstasi. Melukai langit mendung yang lama paceklik. Tanpa bintang-bintang, awan tetap indah. Berarak di antara masa yang mengambang. Massa yang berserak. Tetap sebagai awan. Tetap dilaga menjadi petir. Yang menghantam bumbung atap rumah sekolah. Dan anak-anak kita lari dari didikan. Tak percaya ada banyak warna pada pelangi.

Simpan saja suaramu. Kotak-kotak* itu bukan surga, bukan pula neraka. Hanya jerat yang memperalat. Alas bagi sang waktu yang minta disunting, menuju tahta. Setelahnya akan menjadi titik-titik pasir yang lamat-lamat ditelan lumut. Memeluk rakus, akarnya serakah menghujam.

Simpan saja suaramu. Jiwa-jiwa hadir sebelum tanda titik. Bahasa menjadi pelacur, bugil berlari tanpa syahwat. Bola mata jujur menggelinding.
Basah, kering.
Membelalak, menyipit.
Berpura-pura, was-was.
Terpejam.

Dan suaramu menjadi suci, menyebut sebuah nama……
RahimNya.

Grogol, 22-12-2003
*gambar-gambar dalam surat suara pemi
lu

gelisah

mengalirlah…
mengalirlah mimpi panjang
telaga yang meluap
menggapai-gapai, hantarkan bulan ketepian
biarkan ikan-ikan berkecipak menciumnya
bagai dialektika yang terus berpusar
mana awal dan akhir

berhembuslah..
berhembuslah kabar yang kian tak pasti
amarah yang membabi buta
gelisahgelisah, ketika kata tak lagi terucap
orang-orang kalah bebisik menyayat malam
semoga esok Tuhan beri kiamat

pagi di depok,18september2004

cerita di sebuah ponsel (di waktu lalu)



Aku hanya ingin seorang istri yang menyayangiku dan memberiku manusia-manusia kecil yang kerap menggangguku. Seperti adam, aku tak ingin seorang malaikat, hanya setan kecil bernama hawa yang penuh pinta. Untuk itulah aku hadir untuk memenuhinya dan memaklumi kelemahannya.
Aku cinta manusia merdeka.
14:03:48
19-05-2003

bila pembicaraan terlalu berat, mari lunakkan saja
atau…. lupakan
06:22:41
20-05-2003

Dongeng fajar adalah dongeng tentang kita,
tentang embun kerinduan.
Untuk datang dan dilupa?
Tapi kau milik sang waktu,
sedang aku hanya sepi di detik diantaranya.
Pelengkap yang tak bermakna.
Entah aku bernama apa…
06:32:21
20-05-2003

banyak orang kehilangan kebahagiaan, BUKAN karena mereka TIDAK PERNAH MENEMUKANNYA, tetapi karena mereka MELEWATINYA….
16:10:11
20-05-2003

“Indah tepat pada waktunya!” itu janji Tuhan
08:48:12
31-05-2003

…..tentangmu masih tersisa diingatan,
perbincangan esok dan nanti.
sejak kita temukan perca-perca,
ada simpul menenunnya.
esok bukan lagi mati suri,
lajang harus ditamatkan….
01:08:19
04-06-2003

Rendra :
….sementara kau bertanya berapa jumlah pacarku dulu….
Di lantai yang sejuk lalu kita bertiarap atau berbaringan,
menggambar rumah yang kita angankan.
Kau gambar 2 orang berdampingan. Kau tunjuk, “Ini aku. Ini kau”
Lalu aku gambar selusin orang di kanan kirinya.
Kau merengut dan bertanya siapa mereka?
Aku menjawab, “Anak-anak kita!”
06:33:08
13-06-2003

….semoga rencana kita adalah juga rencanaNya
08:40:28
15-06-2003

....suatu saat akan aku jemput ke sarangku
11:48:03
15-06-2003

….kapan kita tak lagi berjarak?
00:52:54
26-07-2003

semoga Tuhan bantu aku,
atau Dia ingin aku terluka kembali.
dan menghadapi hidup untuk tetap menjadi orang kalah.
aku pasrah dalam kebebalanku untuk tetap mengasihimu…
Bila esok ada mati, di surga tak perlu asmara (kata Rendra)
00:59:38
27-07-2003

Bibirmu menitip sihir,
bagai lipstik yang tak lekang di bibirku.
Ah…
Aku haus kasihmu, beri itu melalui pagutmu
21:18:28
11-08-2003

semper videlis
selalu setia
22:53:39
11-08-2003

Aku hanya yakin, hidup ada untuk saling melengkapi.
Malaikat ada untuk mencegah setan lebih menyesatkan.
Setan ada untuk membantu malaikat mendapatkan jiwa suci.
Air mengalir ke hilir. Dari tempat tinggi ke tempat rendah..
Alamiah…..
Hawa ada tanpa dipilih adam di etalase.
23:00:02
15-08-2003

malam, pekat,
maki, pinta….
tangis jadi samudera.
di botol terakhir yang terapung menujuku,
tangan-tangan Tuhan menghantarkanmu
pada riak-riak menuju hamparan perca hatiku.
tubuh hanyalah puzzle,
tak jelas warna, bentuk.
apalagi bebet, bobot.
kelak aku hanya pantai milik laut yang membelaiku.
atau ditinggalkan sebagai gosong.
23:20:44
15-08-2003

entar aku punya sejuta dongeng untuk mereka (anak-anak kita)
16:45:46
30-08-2003

jangan banyak begadang
entar kurus kayak nyamuk
lalat gemuk karena nggak suka begadang
00:00:29
01-09-2003

Malam pekat. Badan penat
Rindu lebat. Peluk erat.
Sayang kian hangat.
Lekas cepat.
Dapatkan kasihmu menanti penuh harap.
23:54:41
02-09-2003

kangen itu kayak dodol, yaitu :
rindu yang lengket, pekat, manis
bisa bikin orang bertingkah aneh, melamun kayak orang bodoh (dodolz, dudul)
15:30:00
07-10-2003

Malam dengan gerimis patah-patah.
Di manakah dinda yang menyelimuti kerinduan dengan kabut tipis?
19:16:32
19-11-2003

wanita berasal dari kata va (sansekerta) yang artinya, “Yang diinginkan, yang dicari.”
pria berarti, “Yang dicintai.”
19:41:34
10-12-2003

Tuesday, 2 December 2003

Tak Ada Lagi Lorong yang Menatap Curiga


Banyak bocah berlari-lari. Berkecipak pada genangan air yang tak selesai mematut diri. Membiarkan usia tak cepat berjalan, hanya dunia anak yang tak mengenal hukum, hanya kepatuhan. Bukan karena bodoh mereka harus bersikap seperti itu, orangtua seperti layaknya gembala mengantarkan menuju dataran luas, berkerumunnya rumput-rumput segar. Menghalau menuju impian, menggiring ke arah pemangsa-pemangsa. Kekal peristiwa makan memakan menjadi rimba yang harus diwaspadai

Dan lorong-lorong itu masih menatap curiga. Sesekali tubuhnya tak sunyi kala pejalan kaki pasrah pada tatapnya. Meninggalkan jejak yang bukan satu-satu, patah-patah menuju ujung yang lain. Senyumnya basah, hari lembab sejak hujan enggan berlari jauh. Sudah tiga hari langit menangis, awan-awan diam menyimpan rapat peristiwa. Yang berarak hanya kabar-kabar kosong dan guntur menggelegar garang, kilat memberi tanda seru.

* * * *

Mataku menatap langkah yang berulang. Sesekali gerundelan tak jelas singgah dikupingku. Sementara si Cipluk terus–menerus mengoceh. Entah apa ucapnya, tapi badannya terus bergoyang-goyang, kaki kecilnya seperti menunggang kuda.

Cipluk menjerit. Ia menangis kencang seperti lari kuda saat tubuhnya dipukul. Pantatnya dicubit emak. Sepertinya emak kewalahan antara menyusun barang-barang dan menggendong adik. Mulut emak kian tak jelas menggerutu, yang itu-itu juga. Sudah lebih seminggu emak tak punya cerita yang lain. Tapi aku tak mengerti apakah emak ingin bercerita cerita atau bertanya. Suasana semakin tak jelas saat Cipluk kian bercerita banyak lewat tangsinya yang bersahutan.

Aku berlari menjauh. Tak ingin kena getahnya. Semenit lagi emak bakal melahapku. Tatapan itu, ya tatapan itu. Selanjutnya emak akan mengumpat, yang tetap itu-itu juga.

“Mana bapakmu? Lelaki yang tak bertanggung jawab itu. Kalau sudah begini, siapa yang akan membantu kita? Semua akan hilang. Mampuslah kita!”

Ahh… wajahku memang mirip bapak. Lelaki yang kami rindukan kabarnya. Dan emak selalu menatapku bila rindu, bila marah. Tapi bapak tak hilang. Ia akan kembali. Pasti. Kabarnya ia ada di Penang. Katanya sih di Serawak. Mungkin di Sabah. Ahh…. entah yang mana. Yang pasti bapak ada di seberang sana. Pasti kembali mak!

Liat saja, rumah kami lebih cantik. Tak bocor atapnya seperti dulu. Lantainya tak lagi tanah. Dan emak…. tak lagi berdiam diri hanya di rumah. Emak sudah sibuk berjualan. Sedikit banyak aku kecipratan permen atau kerupuk yang tak lagi garing, masuk angin.

Bapak masih ada. Dia ingat kami. Sudah dua kali mengirim uang sejak dua tahun ia tak lagi mengelus kakiku menjelang tidur, walau ia tak punya dongeng yang indah. Hanya cerita tentang hujan nakal yang membasahinya. Matahari yang tak ramah senyumnya. Dan cerita ada manusia yang menyakiti manusia lain, yang ingin merebut becaknya untuk dibuang.

Ia pasti bangga bila pulang, karena ibu tak boros memakai uang. Pintu rumah akan terbuka untuknya. Pintu yang bukan lagi malas berdiri. Pintu itu tak lagi dari lempengan bekas kaleng-kaleng roti yang dulu disusun rapat bapak. Pintu itu sudah diganti emak. Kayu yang dipasang kuat, walau hanya dari pintu bekas. Kata emak, agar maling tak masuk, maklum tak ada lelaki di rumah ini.

Dan aku akan menatapnya tajam. Merapatkan mulut. Menyusun kata-kata yang terus mengalir tapi tak mampu dimuntahkan.

“Kenapa? Kamu marah? Ahh… kamu seperti bapakmu, bila disindir seperti itu. Nak, cepatlah besar dan banyak belajar. Agar kau jadi lelaki. Lelaki dibutuhkan di rumah ini.”

Aku akan menjadi seperti bapak. Lelaki yang dibutuhkan emak. Yang berjaga di balik pintu di setiap malam. Menjaga lelap emak dan Cipluk. Tapi, bapak belum bercerita banyak tentang orang-orang-orang jahat yang harus diwaspadai. Bapak belum mengajarkan bagaimana menjadi lelaki. Emak tak sempat bercerita. Hanya tingkah lakunya yang penuh rasa was-was. Lagi pula emakkan bukan lelaki.

Cepatlah pulang! Kami butuh bapak. Esok kami mungkin tak di sini lagi. Kami akan diusir dengan kasar, kata emak sejak tiga minggu lalu. Akan ada yang datang. Ratusan. Mungkin ribuan lelaki tegap. Seperti bapak besar dan tegap. Andai ada bapak, kita berdua akan menghadapinya. Melindungi emak dan Cipluk. Rumah kita yang sudah indah tak akan bisa dirusak mereka.

Tapi… atau aku harus menghadapinya sendiri?

* * * * *

Jarinya memutar keras. Dan anak kunci itu kini berpindah tempat di antara celah tas mungil di bahunya. Ia menghela nafas. Tak ada gunanya mengunci rapat, esok mungkin tak lagi disinggahi, pikirnya.

Badannya membungkuk. Meraih tas besar. Agak berat hingga langkahnya tak gemulai. Tertatih di atas sepatu indah berhak tinggi. Bukan hanya sepatunya yang indah, kakinya pun indah. Putih. Kulit bersih yang membalut tubuhnya yang aduhai. Wajar bila mata-mata haus meraup tatap. Seperti ingin mencicipi, mengimpikan wanita seperti itu di ranjang. Pengganti pacarnya, mungkin istrinya.

Senyumnya masih ada. Senyum yang tersisa di antara perasan otak yang berputar kencang. Dan pada yang menatap, ia menitip senyum. Kadang menyapa. Sekedar basa-basi atau entah apalah. Tapi ujung matanya masih mencari seseorang lelaki, yang pernah menemaninya, walau ia tahu lelaki itu tak bisa diharapkan terlalu banyak. Otak mudanya masih ingin berkelana bebas.

Ya, dia ada di sana. Di atas bumbungan atap. Membongkar sisa-sisa rumah. Dadanya yang berisi terbakar panas. Dada yang pernah membakarnya pula, menindih tubuhnya di malam dingin. Dan senyum itu terlempar ke arahnya. Senyum jantan yang mampu merontokkan hati, mendidihkan birahi ganasnya.

“Mau ke mana?” suara jantan itu menyapa.

“Pergi. Mungkin takkan kembali. Mereka jadi datang?”

“Jadi. Bangsat-bangsat itu tak mampu luntur hatinya. Pindah ke mana?” tanya pemuda itu penuh harap. Wajahnya menyimpan ingin. Keinginan untuk tetap bisa selalu melewati malam-malam kosong. Atau dikosongkan untuknya.

“Entahlah…. Tapi, nanti aku kabari. Aku belum tahu mau ke mana,” ucap wanita itu. Ia menelan ludah. Berat mengakhiri percakapan. Tapi ia memaksa langkah untuk tak malas. Tatapan ibunya yang berdiri di dekat sana begitu mengancam. Berjuta maki siap dihunus.

Ia tak mencoba memalingkan wajah, walau sempat ia dengar pemuda itu masih berkata-kata, memanggilnya. Tapi suara itu kini tak lagi memburu, karena ibunya sudah memakinya dari bawah. Biarlah tatapan sinis itu adalah tatapan terakhir dari perempuan-perempuan di sini. Mereka selalu memandangnya hina, sejak banyak lelaki wangi yang mengusik hawa pengap kerumunan rumah-rumah reot datang kepadanya. Atau karena suami-suami mereka terlalu rakus menatap dirinya. Walau di ujung malam, terkadang ada yang memaksanya untuk membuka pintu, ingin tidur bersamanya dari pada dengan istrinya yang selalu memaki kasar.

Langkahnya meninggalkan jejak. Jejak yang tak elok, sarat dengan beban. Biarlah langkah ini tak lekang seperti jalan hidup yang susah berubah. Dan wanita itu menanti harap, pada jejak yang akan diendus lelaki itu. Ia menantinya di ujung langkah. Menantinya di sudut-sudut malam, entah di masa apa yang akan disediakan oleh waktu.

* * * * *

Ini puntung yang kesekian belas. Tak jauh dari kakinya berserak bersama abu-abu yang terkapar. Matanya merah meradang. Marah. Mungkin juga karena sudah tak tidur beberapa hari. Tangannya mengetuk-ngetuk meja. Benaknya menulis segala rencana walau kakinya tak teratur bergetar. Tatapnya mengancam, sesekali ia mendengus kasar.

“Pak, sudahlah. Ayo, kita siapkan barang-barang. Besok tak ada lagi masa. Kau sejak tadi tak jelas berpikir apa, marah-marah sendiri.”

“Bu, kita tak boleh menerima perlakuan mereka. Harus kita lawan!”

“Mau lawan pakai apa? Mereka bersenjata.”

“Tangan kita. Kita punya kemarahan!”

“Kita hanyalah kayu kering yang terikat. Kita akan tersulut marak.”

“Kita punya Tuhan. Akan ada hujan yang meredamnya.”

“Apa Tuhan kita sama dengan mereka? Bukannya mereka telah jadi hamba uang dan kuasa.”

“Mereka dendam….. Ya, aku tahu itu. Sejak aku membawa ratusan warga sini untuk berdemo. Mendukung lawan gubernur yang terpilih sekarang.”

“Kita kalah dan akan terus dikalahkan. Ah, sudahlah. Itu salahmu juga, yang terperdaya oleh janji-janji mereka. Mereka yang bertikai, kita yang terjepit. Siapapun yang kau dukung, kita tetap pada posisi yang salah. Sadarlah, tanah ini tak jelas statusnya.”

“Tapi kitakan bisa meminta waktu. Mengitung ganti rugi yang layak. Apa mereka tak berpikir, kita akan digiring ke mana?”

“Negeri ini tak dipimpin oleh gembala yang baik. Hanya serigala-serigala rakus yang kita beri jubah. Hmm…. kita akan berarak bersama lautan yang lain. Suatu saat iringan itu akan berkumpul di suatu titik.”

“Siapa yang menggiring kita?”

“Jangan tanya siapa. Bukan siapa-siapa. Tapi tanya apa.”

“Ya, apa bu?”

“Hahaha…. Jangan panik. Kau perlu belajar pada cacing.”

“Lho kok?”

“Menggeliat. Cacingpun menggeliat bila dipijak. Walau sangat lemah ia tak pasrah. Dan suara komandonya akan menggiring perut-perut kita untuk berkumpul.”

“Hmm… bahasa yang sama. Bahasa lapar.”

“Siapa bilang sama. Belum tentu. Berhati-hatilah! Kita lapar tapi tak rakus. Ada lapar karena tak pernah puas, serakah. Di antara kita akan ada siluman kerdil yang berselingkuh. Matanya nanar menatap peristiwa. Bila kita lengah, cacing-cacing lain akan menyantap kita di tanah.”

“Kemarin siang ada muka-muka manis menatap duka. Mereka bilang akan membantu, bantuan hukum. Apa mereka siluman yang ibu maksud?”

“Ah, bapaklah yang lebih tahu. Liat sampai mana mereka mau terus beriringan. Mungkin sekedar mencari popularitas.”

“Ada-ada saja kau bu. Bangunan-bangunan ini akan rata, tak ada panggung yang megah buat mereka.”

“Bisa saja mereka yang membuat panggung, atau kita yang jadi panggungnya. Sudahlah, aku hanya memperingatkan untuk berjati-hati. Aku mau mengurus barang-barang kita.”

Kembali senyap. Tak ada lagi ucap di bibirnya. Tak ada lagi sebatang rokok untuk disulut. Sekedar untuk mengusir penat di benak. Sekedar untuk meredakan amarah cacing-cacing yang menari kelaparan, bertalu-talu menabuh genderang perang.

* * * * *

Suara-suara itu hilang berganti dengus-dengus mengancam udara. Bagai dewa-dewa yang berperang di atas kuda kencana mereka merebut jajahan. Membumi hanguskan yang ada. Panji-panji kebesaran membatasi tanah jajahan. Mengibarkan kemenangan bersama debu-debu yang terbang menuju mega-mega yang berarak di atas sana.

Punah sudah peradaban kaum-kaum yang tak rakus. Manusia-manusia yang sudi hidup seadanya. Hari-hari mereka seperti hidup yang diatur oleh bocah-bocah ingusan. Pada permaianan rumah-rumah kardus dan boneka-boneka kertas.

Aku tak seperti lorong-lorong yang menatap curiga. Hanya berdiri memagari hidup yang berjalan. Saat perempuan-perempuan menggiring anak-anaknya menjauhi algojo-algojo yang menggasak para lelaki-lelaki mereka. Saat jerit-jerit mengoyak langit yang mengangkang. Saat harapan pecah berurai bersama darah dan air mata. Mereka dihalau bagai binatang-binatang yang dianggap merugikan. Tubuh mereka, perut mereka yang penuh cacing-cacing lapar.

Entah di mana mereka berada sekarang. Arakan yang tak pernah menemukan damai di setiap perhentiannya. Kembali berserak mencari hidup yang mau menaungi walau itu sesaat. Mencari remahan sisa-sisa hidup yang kinipun diincar tikus-tikus got yang juga kelaparan.

Kini aku terduduk sunyi. Di hadapanku tak ada lagi lorong-lorong yang menatap curiga. Toh semua kerakusan jujur terlihat jelas. Aku mencoba bertahan untuk tetap tegar. Untuk sebuah pesan yang dituliskan di tubuhku, oleh bocah itu.

“Bapak, kami dipaksa pergi. Suatu saat kita akan berkumpul bersama lapar yang menggiring. Carilah kami dalam bahasa lapar.”

Grogol, 7 November 2003


gambar : penggusuran warga taman BMW
sumber gambar klik (http://saksimelawan.blogspot.com/2009/04/pemutaran-film-sesi.html)

Friday, 21 November 2003

Pinokio Menulis

Jika anda sudah biasa berbohong, mengapa tidak menyalurkan kebiasaan yang penuh dosa itu dengan menulis fiksi?
(Josip Novakovich)


Angin malam itu duduk tergeletak di sudut kamar. Tak mampu berjaga. Sementara lampu redup tak sudi berkhianat. Matanya lelah menatap. Hanya daun jendela memancing pandang, melambai-lambai di luar sana. Dan cicak terbaring menelan ludah untuk tanya yang tak pernah terjawab.

Ia mengusap peluh. Peluh yang tak jujur hadir di malam yang datang dingin. Otaknya berputar bagai memeras anggur-anggur yang tergilas roda waktu. Menetes ke pipi dan menitipnya pada hidung yang kian bersinar. Ia mengusap mata. Mata malasnya.

Ahh…. sudah empat jam. Buntu, batinnya. Membakar tembakau. Menciptakan awan-awan kecil yang mencoba menggoda hayal yang menerawang.

“Apa yang akan aku ucap esok? Mereka sudah menungguku. Aku datang untuk menang,” ucapnya dalam. “Tapi aku harus berkata apa?”

Terbayang olehnya Bukhori akan menepuk dada. Dan mulutnya akan menyala-nyala. Seperti sebuah pertunjukan sirkus keliling di kota-kota kecil. Dan badut Bukhori akan menciptakan bola-bola api dari mulutnya. Mereka terpesoan. Berdiri dan memberi sejuta tepuk.

Atau mungkin Ahmadi akan meninju langit. Memecah awan-awan yang menggumpal. Memberi lautan jawab yang menetes bagi mereka yang lama menengadah di musim-musim berjalan. Jadilah dia malaikat pongah yang lupa akan sayapnya telah lama digadai pada borjuis-borjuis itu.

Sialan! Mengapa otakku terkunci rapat. Ruangan-ruang apa pula yang membius kecerdasanku terperangkap tanpa pintu. Aku telah berkeliling pada semua sudut kota. Telah menyapa pada semua peristiwa. Tapi adakah yang bisa kubaca? Dia bertanya dalam tanya.

Semua sudut terpapar di depan mata. Mata malas. Antara fakta dan fiksi. Atau percampuran kedua kelamin itu. Bila keduanya dituliskan dalam gaya bahasa Ibrani kuno, yang keduanya dituliskan tanpa huruf hidup, keduanya akan ditulis FK dan cara membedakannya tergantung pada cara melafalkannya. Begitu tipis……

Bukakah fiksi bisa menggunakan banyak fakta? Aku bisa bermain-main dalam ruang fakta untuk merangkainya menjadi cerita. Sejarah adalah batu-batu yang kuat untuk membangun pondasinya. Pramoedya bilang, nasion kita tak sadar sejarah. Sejarah itu tempat kita memulai perjalanan. Kalau tempat berangkat itu kita tak tahu, bagaimana kita tahu tujuan kita? Itu sebabnya Pram berkenalan dengan realisme sosialis. Karena realisme sosialis harus mengangkat orang-orang yang tak punya sikap dan menjadi hamba keadaan.

Tapi aku bukan hidup dalam penindasan. Tak melahirkan sikap perlawanan (atau mungkin dendam) oleh akibat penindasan seperti yang dialaminya. Tapi aku punya sedikit sikap memberontak, walau itu memberontak terhadap kemampanan berpikir.

Setidaknya aku bisa mencoba meramu sejarah itu dan memolesnya menjadi sebuah fiksi. Tentu tak membosankan. Karena di saat orang-orang perlu makan dan lapangan kerja, mereka akan muak oleh kehebatan raja-raja di tanah Jawa yang menyisakan feodalisme dalam birokrasi. Artefak-artefak bukan lagi bukti warisan kehebatan budaya, karena turunannya hanyalah budaya kepasrahan ditindas dan dibodohi, sudah mengakar di akar rumput.

Aku harus menemukan sejarah-sejarah baru. Sejarah kolonialis, feodalis, militeristis, dan paham ketunggalan sudah telanjang. Bugil tanpa malu-malu ditatap dan yang menatapnya tak jengah. Aku akan membuat mereka sadar sejarah dan bersatu mengahalaunya. Hanya dalam prosa sejarah akan gampang dicerna.

Tapi jari ini masih tak bersahabat. Diam tak sudi menari, walau nyanyianku adalah nyanyian jiwa yang melantun keluar dari gendang telinga. Sedangkan nadiku terpacu kencang dengan sejuta kata yang ingin tumpah di jemari. Tapi jemari diam. Aku ingin menulis. Menjadi pengarang. Menjadi resi-resi sejarah, julukan yang diberikan Ben Okri (novelis Afrika) bagi pengarang. Karena pengarang adalah barometer zaman. Pengarang adalah orang yang menulis melawan arus zaman, pengibul tentang kebenaran yang dapat dipertanggung jawabkan dan penebar janji-janji yang bisa dipercaya. Aku ingat, ucapan itu dikatakan lantang oleh Gunter Grass pada pidato pengukuhannya sebagai laureat Nobel Sastra 1999.

Oh….. aku kini sudah mulai berdamai. Aliran darah dan oksigen berjalan tenang, bergerak maju. Jari-jemari menjadi kepanjangan otak. Syaraf-syaraf mulai saling memangut, bermesraan. Sebuah emosi ternyata mampu mendorong untuk menulis. Mampu menjiwai alam pikir orang lain. Mampu menjiwai suara seseorang. Jerit orang-orang. Harap yang masih tersisa dari nafas tersenggal-senggal sebelum pintu kubur ditutup.

Mengalir bagai banjir yang menggenangi rumah-rumah di dataran rendah di sekeliling perumahan megah. Menerjang kaki-kaki alas tidur di pinggir kali. Menyapu nafas manusia-manusia yang menjajakan peluh di tepi-tepi jalan karpet mobil mewah. Menenggelamkan hak-hak pemilik negeri hingga terlihat teduh keruh menjadi lautan, terpasung pada waduk angker yang dijaga berabad-abad pada pintu airnya.

Lelaki itu mengamini. Cerita fiksi mirip dengan dusta. Memulainya dengan suatu yang nyata. Mengubah menjadi alur yang bisa diatur bermuara untuk tujuan tertentu. Dan esok, di atas podium itu, membuai jelata dengan kata-kata indah. Ia akan menang pada pemilu kali ini. Wakil dari kaum pendongeng.

Grogol,20nopember2003