By Bread
If a picture paints a thousand words
Then why can't I paint you
The words will never show
The you I've come to know
If a face could launch a thousand ships
Then where am I to go
There's no one home but you
You're all that's left me too
And when my love for life is running dry
You come and pour yourself on me
If a girl could be in two places at one time
I'd be with you tomorrow and today
Beside you all the way
If the world should stop revolving
Spinning slowly down to die
I'd spend the end with you
And when the world was through
Then one by one the stars would all go out
Then you and I would simply fly away
Sunday, 29 September 2002
Saturday, 28 September 2002
Nyanyian semut pekerja
Remahan beronggok-onggok bertimbun,
dikelilingi tarian tetesan-tetesan liur
Keringat tak mampu meluberkannya, utuh harus dijamah
Tiada suara, senyap, kaki dan tangan tak lelah
otak tak perlu dipintal, berpikirpun tak sempat
Pecut dan senyum sangar jilati wajah-wajah keras,
kaku terpancar...
Kapan semi berakhir, berganti dingin di bawah lubang-lubang kelam
tapi barisan belum terpencar, cahaya itu hanya di satu titik
ujung sebuah perjalanan curi masa yang menjepit
Hidup dan waktu sama berdenting
nyaring sungguh menyakitkan...
Suara perut tak lebih menggelegar,
istri dan anak bukan binatang peminta
Lautan keringat tak mampu sekedar basahi bibir mereka
atau hentikan mimik belas di muka pintu
Pagi dan senja bagai neraka dan kubur
sungguh terpasung.....
Barisan masih panjang, di batasan cakrawala yang terbentang
Memanggul remahan yang beronggok-onggok milik sang tuan
di tiap detik, hidup masih dikungkungi kumpulan onak marah
di tiap detik mereka masih bertanya-tanya
Bertahan atau mati!
dikelilingi tarian tetesan-tetesan liur
Keringat tak mampu meluberkannya, utuh harus dijamah
Tiada suara, senyap, kaki dan tangan tak lelah
otak tak perlu dipintal, berpikirpun tak sempat
Pecut dan senyum sangar jilati wajah-wajah keras,
kaku terpancar...
Kapan semi berakhir, berganti dingin di bawah lubang-lubang kelam
tapi barisan belum terpencar, cahaya itu hanya di satu titik
ujung sebuah perjalanan curi masa yang menjepit
Hidup dan waktu sama berdenting
nyaring sungguh menyakitkan...
Suara perut tak lebih menggelegar,
istri dan anak bukan binatang peminta
Lautan keringat tak mampu sekedar basahi bibir mereka
atau hentikan mimik belas di muka pintu
Pagi dan senja bagai neraka dan kubur
sungguh terpasung.....
Barisan masih panjang, di batasan cakrawala yang terbentang
Memanggul remahan yang beronggok-onggok milik sang tuan
di tiap detik, hidup masih dikungkungi kumpulan onak marah
di tiap detik mereka masih bertanya-tanya
Bertahan atau mati!
Thursday, 19 September 2002
Tuhan Telah Mati
Bayangan dirinya terlihat jelas di dinding kusam yang tak dapat lagi ditebak warnanya. Tubuh kurus yang sedikit membungkuk, rambut putih yang sudah menghilangkan kemudaannya, nafasnya terdengar saling tarik menarik. Terkadang batuk, gemanya tak kalah nyaring. Terkadang menggumam sendiri. Tubuh-tubuh lain terbujur di lantai diam tak terusik. Malam dan siang tak ada ubahnya, sinar matahari tak pernah mau singgah, pengap dan lembab. Butiran-butiran pasir pada jam kehidupan lamban berjatuhan, tercekat pada mulut pipa kaca. Tiada yang pernah perduli pada hari dan waktu, sebab kemarin, hari ini dan esok tiada bedanya. Semua cerita usang.
Bayangan itu masih jelas terlihat di dinding kusam, seakan telah terpatri untuk seumur zaman, tiada berpindah, tiada berubah. Seperti lukisan kelam pada ruang-ruang waktu, hantu-hantu masa lalu yang melekat di semua benak. Bagi mereka yang kalah, pada bayangan tak ada tangisan Bagi mereka kaum pemenang, pada bayangan tak ada senyum kepongahan. Semua sama, sebuah sisi gelap dari kehidupan adalah bayangan.
Baginya bayangan adalah hantu masa lalu yang selalu mengikuti. Tapi bayangan itu telah menjadi teman untuk seumur hidupnya, sejak ia berlari ketakutan ke dekapan ibunya, mendapati manusia hitam yang menyeret-nyeret langkahnya dalam keheningan. Kelak akhirnya ia sadar, bayangan adalah kejujuran. Ia tak pernah menikam, ia teman yang jujur di saat sepi. Andai bayangan dapat berbicara, ia akan bercerita banyak tentang bentuk yang diserupainya. Mungkinkah bayangan adalah malaikat sang pencatat buku putih kehidupan?
Bayangan itu masih terlihat jelas di dinding kusam, tangannya bergerak-gerak. Menuliskan sesuatu. Terkadang terhenti, mengusap-usap matanya. Lampu itu jelas terlihat redup seperti mata tuanya. Pandangannya kembali tertuju pada lembaran-lembaran kertas putih. Belum sebaris katapun ia toreh. Otaknya buntu mencari awal kata yang bagus. Ia tak ingin pada kalimat awal akan mencerminkan kedangkalan isi, atau akan membosankan untuk membaca kelanjutannya. Nafasnya mencari kata-kata, dan ia mulai menulis :
Buat sahabatku,
Sungguh malam ini (bila saat ini memang malam) aku susah untuk memulai. Dari mana awal kata aku akan menuliskannya. Karena hingga kinipun kita masih memperdebatkan tentang awal. Apakah dimulai dari telur atau ayam? Apakah dimulai dari monyet Darwin atau Adam? Tapi kali ini aku tak ingin memperdebatkan soal penciptaan itu, aku hanya ingin mengatakan tentang Sang Pencipta. Aku telah temukan bahwa Tuhan telah mati. Ya, sudah mati.
Sahabatku, jangan engkau cepat tertawa, mengatakanku si atheis yang tak pernah berubah. Karena aku telah lama menderita oleh simbol-simbol atheis itu. Aku muak dengan sikap arogan para pengawal-pengawal tuhanmu. Bukankah kebenaran yang mereka katakan itu melebihi dari dari kuasa tuhannya? Penghakimanan yang mereka lakukan mendahului nereka yang kalian hayalkan. Aku takut di neraka nanti (bila neraka itu ada), justru mereka akan menjadi kayu bakarnya. Aku tahu surga dan neraka itu adalah ciptaan manusia, seperti penjara untuk kaum “pendosa” dan istana untuk kaum “yang benar”. Klaim kebenaran yang tunggal tak ubahnya dengan kekuasaan yang tunggal. Sama-sama menyesatkan. Adalah hak setiap orang bertanya tentang penciptaan dirinya, hak setiap orang memandang tentang tuhan.
Sahabatku seandainya saat ini mulutku dipaksa berkata saya adalah manusia yang bertuhan, aku akan mengatakan tuhan itu adalah saya. Tapi aku akan muntah berkata seperti itu, karena aku tak mau seperti tuhan. Bukankah tuhan simbol dari keabsloutan, sesuatu yang tak bisa dipertanyakan, esa adanya (itu teori-teorimu). Dan aku adalah mahluk yang masih terus berpikir dan bertanya-tanya. Aku bukan manusia absolut, kebenaranku masih bisa di perdebatkan, aku tak ingin menyesatkan oleh klaim-klaim kebenaran tunggal. Tapi aku pun bukan nabi, walau nabi selalu tak bisa diterima pada jamannya. Karena kebenaran bukanlah milik tunggal sang nabi, kebenaran adalah pencarian dari pencerahan kehidupan. Mata sang nabi saat itu mungkin lebih beruntung dapat membaca kebenaran itu, tapi sekali lagi aku katakan, kebenaran itu bukan miliknya. Dan itu bukan harga mati lagi.
Aku tak akan memberi nubuatan-nubuatan atau perkara-perkara keajaiban. Tak akan ada ramalan akan masa depan, atau akhir dari dunia ini yang akan aku katakan. Aku hanya berpikir dan berbicara. Melihat dan mendengar. Merasakan dan menyimpulkan. Semua itu penuh gejolak, seperti saat menerima kotbah-kotbahmu pada puluhan-puluhan kertas surat yang aku terima sepanjang hidupku. Aku berperang dengan diriku sendiri, hingga akhirnya logika-logika ku pun kalah. Dan pada suratmu yang terakhir kau berkata, bahwa tuhan menciptakan manusia bukan untuk menderita, tapi untuk bahagia.
Sahabatku, aku mencari kebahagiaan yang kau tawarkan. Aku ingin merasakan cuilannya. Tapi aku tak pernah mendapatkannya, aku tak menemukan kebahagian itu, aku tak menemukan tuhanmu. Apakah ia telah tuli dan buta? Aku telah terus mengetuk pintunya, dan tanganku telah bernanah. Aku telah meminta, mulutku berbusa tak ubahnya bagai orang kesurupan (mungkinkah aku kerasukan setan tuhanmu).
Jangan kau katakan aku terlalu lemah dan tak penyabar, bukan hanya aku yang merasakan itu. Jutaan anak negeri ini pun seperti itu. Negeri ini tak bertuan, negeri ini tak bertuhan lagi. Aku tak sendiri. Jutaan orang sudah muak dengan dogma usang yang mengatakan setiap penderitaan adalah kehendak tuhan, cobaan darinya. Tidakkah dia tahu bahwa manusia juga punya batas kelemahan dan kesabaran. Aku rasa dogma itu membunuh pikiran kita. Membunuh kesadaran kita untuk berusaha dengan akal sehat sendiri. Aku bukan mengajak berpikir soal materialis. Aku juga tak mau diajak berpikir tentang hal-hal suci yang semu, terlalu mistik bagiku.
Aku juga bukan hendak membujukmu untuk berpaling pada komunisme yang tak bertuhan. Justru komunisme itu bertuhan, malah bertuhan dari orang-orang yang bertuhan. Komunis memberhalakan tuhan, tuhan yang paling tolol dibanding tuhan-tuhan lainnya. Mereka memperjuangkan sistim aturan kehidupan, yang diperjuangkan itu adalah tuhan mereka. Komunis adalah tuhan yang dibangun dengan cara paling sadar. Kesadaran bahwa mereka adalah lemah, penuh ketakutan sehingga memerlukan sang penolong, sesuatu yang lebih agung dari mereka. Tuhan adalah kesadaran akan kelemahan. Tuhan adalah sistim aturan yang abadi bagi mereka. Sama seperti tuhan milik agama-agama yang menakuti manusia dengan neraka dan surga, tuhannya komunisme pun menciptakan surga dan neraka.
Neraka dan surga itu diciptakan untuk menimbulkan kekhawatiran, sehingga ketakutan pada hukuman dan ketidakpastian itulah yang menyebabkan berlindung di bawah ajaran-ajaran yang dianggap sebagai kebenaran dan kepastian. Aku bisa menyimpulkan, komunis bukanlah pilihan hidup seperti juga halnya dengan agama-agama, selama kalian berpikir dengan cara pandang hasil yaitu surga. Sebuah perjuangan kebenaran yang suci tidak mengenal perhitungan, tidak memikirkan imbalan, semua seharusnya penuh pengorbanan dan kasih.
Kembali ke perkataanku tadi bahwa negeri ini tak bertuan, tak bertuhan lagi. Aku telah menyaksikan kaum penyabar ini telah menjadi berang. Doa-doa tak mempan lagi, puja-puji pada tuhan tak didengar lagi. Kebenaran yang diyakini menjadi pedang bermata dua, melukai sekaligus terlukai. Semua mencoba untuk bertahan di jalan kebenaran, semua mencoba untuk menghadapi cobaan, karena katanya sang penyabar akan mendapat rahmat yang berlimpah. Tapi ketika kita menarik nafas, kitapun harus bergantian menghembuskannya. Ketika dada kita mulai sesak, kita pun harus mengosongkannya. Kita tak bisa menerima sekaligus, cobaan yang bertubi-tubi dan rahmat yang tak kunjung datang.
Sahabatku, kemanakah tuhanmu? Apakah ia telah bosan mendengar doa-doa kita? Atau tuhan telah lama mati? Manusia berserakkan kelaparan, negeri ini kaya tapi kita bodoh. Tak seperti Israel yang miskin tapi pintar, mereka tak bertanah tapi diakui keberadaannya. Negeri ini subur tapi banyak yang mati diatasnya (tapi aku tak mau bila kita disamakan dengan semut yang mati di dalam karung gula). Kita bukan mati kekenyangan, kita mati kelaparan. Tak ada lagi peruntungan di negeri ini.
Jutaan manusia resah dengan harga yang makin melambung, semua tak terbeli. Barang-barang itu dihasilkan oleh keringat kita, tapi kita tak mampu mengecapnya, memimpikannyapun akan memenjarakan kita. Melihatnya akan menimbulkan iri, sirik. Bukankah itu dilarang oleh tuhanmu? Tapi kita tak buta oleh itu, kita perlu makan. Kita perlu hidup. Dan agama tak mampu mengenyangkan itu. Surga hanya untuk orang mati, apakah neraka untuk orang hidup?
Dan banyaklah orang yang memilih jalan itu. Perampasan milik orang lain menjatuhkan korban. Pembunuhan tak lagi menakutkan. Semua menikam untuk dapat bertahan hidup detik itu. Semua bersenjata untuk dapat membela diri. Lapar membunuh kesabaran. Keputusasaan mengiris keyakinan bahwa tuhan masih mau mendengar doa-doa mereka.
Lihatlah moral tak lagi ada, nilai-nilai itu semua telah sirna. Kakek memperkosa cucunya, paman meniduri keponakannya, bapak menindih anaknya. Para suami berselingkuh, istripun tak mau kalah (mungkin bentuk emanispasi gaya baru). Para gadis tak mau lama-lama menyandang gelar perawan, para pemuda matanya buas. Aborsi jadi barang mainan. Para sundal bukan lagi barang langka, ia jadi dagangan laris bak menjual kacang tanah yang dimasak pada pasir panas. Lembaran-lembaran media penuh gambar telanjang, media elektronik mempertontonkan erotisnya senggama. Dengusnya merasuki hari-hari, udara sangat najis penuh dengus nafas, kini tak lagi tertahan sudah lepas.
Penipuan tak lagi menyajikan simbol-simbol seram, seperti cerita dongeng-dongeng pengantar tidur dulu. Mereka tak lagi bertaring, air liurnya tak kelihatan menetes. Mulut mereka manis walau tak ada desis seperti ular atau setan. Tak bau. Mereka lebih mulia terlihat dari para malaikat. Terdidik dan sopan. Tapi otaknya sungguh lihai mencari kaum yang lemah. Mulutnya sungguh pintar mengumbar janji mengalahkan pemuka agama yang menjanjikan surga. Surga dunia lebih realistik dari pada surga milik tuhan untuk saat ini. Hari-hari saling menipu, saling mengintip, saling mencari kelemahan.
Kesabaran juga tak bisa ditahan oleh sistem. Demokrasi menjadi setan bertopeng badut. Buruh tak mau lagi berlama-lama bertahan dalam perjuangannya. Mogok kerja seperti pekerjaan sia-sia. Mogok makan pada saat perut telah lama lapar sama saja dengan kebodohan. Dialog sama saja memberi mimbar agar mereka dibohongi selalu, janji-janji sudah jadi mitos pembelaan tanpa hasil. Sakit hati mengalahkan niatan yang suci. Mereka ramai-ramai membakar pabrik, membakar lumbung padi mereka, membakar meja makan mereka, menjungkir balikkan tempat menanak nasi. Dan menari di atas perapian dapur, mengencingi tungku api. Sungguh mereka mematikan jalan hidup mereka sendiri, dendam dan emosi yang lebih berkuasa.
Sahabat kemana tuhanmu?
Tapi aku tak juga pungkiri di daerah sana ada yang masih menaikkan panji-panji kebesaran tuhan-tuhan mereka. Mereka saling berperang demi nama besar tuhan masing-masing. Apakah tuhan mereka mahluk lemah sehingga harus dibela? Mungkin sama seperti para preman yang saling membunuh untuk merebut daerah kekuasaannya, lahan parkir. Mungkin mereka pikir, tuhan juga perlu wilayah kekuasaan baru. Perlu manusia-manusia jajahan baru untuk dijadikan bala tentara tuhannya. Sungguh sebenarnya mereka melemahkan harga diri tuhan mereka. Atau ada hal lain selain itu? Atau tuhan sedang menikmati segala tontonan pertempuran itu sehingga melupakan daerah lainnya?
Aku tadi telah mengatakan negeri ini tak bertuan, negeri ini tak bertuhan lagi. Sungguh itulah yang terjadi, negeri ini tak bertuan. Bukankah tuan negeri ini adalah rakyat. Itu telah lama dikebiri, rakyat menjadi obyek bukan subyek. Kekuasaan telah menjadi milik penguasa, kekuasaan adalah tuhan mereka. Kuasa tuhan telah diganti dengan kuasa uang. Sesuatu yang maha suci diganti dengan yang maha hina. Rakyat dipecah berserakkan dan meratap pada perut mereka. Kedaulatan tak mampu lagi diambil rakyat, karena rakyat tak lagi bisa bersatu, semua memikirkan perut-perut mereka. Sungguh negeri ini tak lagi bertuan, tak ada lagi kedaulatan rakyat. Yang ada hanyalah, negeri ini dikuasai oleh mereka yang menetapkan dirinya sendiri menjadi wakil rakyat. Mereka menjadi tengkulak negeri ini, mereka para pedagang-pedagang keringat rakyat, mereka menggadaikan negeri ini.
Sungguh cermin negeri ini bertuhan tak ada lagi. Lihatlah para pemimpin-pemimpin itu. Mereka bertuhan, mereka panutan, mereka tokoh-tokoh agama. Apakah prilaku cermin manusia yang suci ada pada mereka? Melihat suatu negeri bertuhan atau tidak dapat di lihat pada tindak laku pemimpinnya. Mereka mengangkat panji-panji agama, merekapun menyuarakan suara-suara kebohongan. Mereka mengobral janji-janji pada pemilu seperti mengobral surga. Agama telah dijadikan komoditi politik, agama dipakai untuk menenangkan kaum tertindas (memakai tameng takdir). Tuhan telah dipakai sebagai bodyguard, cecunguk yang akan dibuang bila tak lagi jawara.
Sahabatku, mungkin dari mulutmu sudah terlontar berjuta kata maki padaku. Aku tahu perasaanmu, ketika aku mengatakan tuhan telah mati. Aku tahu perasaan mereka yang telah terbius agama tanpa pernah berpikir merdeka dan mempertanyakan kebenaran yang diyakininya. Jangan pernah jadi pengikut agama, karena kau akan seperti kerbau yang dicucuk hidungnya dan ditarik kesana ke mari tanpa berontak, pasrah. Menjadi pengikut agama akan membutakan akal sehatmu, memenjarakan kemerdekaan pikiranmu untuk mempertanyakan yang kau yakini itu. Kalau aku boleh memberi saran, mungkin ini yang terbaik bagimu dan yang terjelek bagiku, jangan pernah jadi pengikut siapa pun (menjadi pengikutku pun jangan pernah), jadilah bertuhan saja.
Sahabatku akhir kata aku ucapkan banyak terimakasih atas waktu yang telah kau berikan untuk membaca surat ini atau surat-surat yang terdahulu. Jangan pernah ejek aku sebagai atheis (karena aku telah lama menderita oleh simbol-simbol atheis itu), aku tidak atheis. Dari awal telah aku katakan, bahwa tuhan telah mati, bukankah itu berarti aku mengakui keberadaan tuhan? Kalau dadamu saat ini berdegup marah, dadaku saat ini berdegup kencang. Aku sedih. Aku menangis sahabat, akan kematian tuhan. Semoga aku salah duga, kalau tuhan masih hidup kabari aku segera, aku telah rindu jamahanNya, kasihNya yang tulus. Telah lama aku tak memanjatkan pujian suci padaNya, telah lama pula Tuhan tak bersenandung di hatiku, menghibur resahku, mengusir galauku. Tapi aku masih ragu akan itu, jikalau tuhan hidup bukankah ia akan mendengar darah yang menangis, jerit kesakitan, nyawa-nyawa yang melayang entah di mana, tangis kaum lemah yang tertipu, dengus najis birahi, doa-doa pengobral kebohongan.
Di sini aku mendapatkan banyak manusia-manusia yang di hatinya tuhan itu telah lama mati, mungkin juga di tempatmu dan di tempat lainnya. Dan aku masih mencari kuburannya.
Dari sahabatmu,
Pagi itu adalah hari kemerdekaan yang telah lama dilupakan, kebebasannya. Hampir separuh hidup lelaki tua itu dihabiskan di sini, bersama mimpi dan bayangannya. Tak ada kekhawatiran, karena hidup tak lagi mau menjamahnya. Tak lagi ada masa lalu, kini dan masa depan. Semua telah lenyap dalam keterbatasannya.
Pria yang berseragam rapi itu masuk ke dalam biliknya, menyerahkan sebuah surat pembebasan. Di atas meja ia mendapatkan lelaki tua itu kaku tertelungkup bersama sebuah surat yang kemarin malam ditulisnya. Untuk seorang sahabatnya, teman seperjuangan dulu di tahun 1965. Di balik amplop tertulis sebuah pesan :
Bila aku mati lebih dahulu, aku tak akan mencari kuburNya,
biarlah Tuhan yang mencari kuburku.
Dan aku akan mencoba untuk bertemu dengan Tuhan, semoga Ia mau.
biarlah Tuhan yang mencari kuburku.
Dan aku akan mencoba untuk bertemu dengan Tuhan, semoga Ia mau.
Saturday, 14 September 2002
Bayi kita mati
Saat ini, hari begitu lama dan panjang berjalan,
Tidak seperti dulu lagi kawan,
ketika bayi revolusi telah bergeliat di kandungan,
Kita menjaganya, penetrasi kita menyuburkan rahim harapan jelata
bukan impian kaum semusim, gejolak itu telah membunting, menggunung
Perut telah lama berisi tanah, cacing-cacingnya sangat gemuk
tapi tinja kita sangat bau, nafas sangat busuk
Kerajaan angin sungguh terusik, menaranya menebar wangi
membaui udara dengan segala kebohongan, sungguh harum
Saat ini, hari begitu lama dan panjang berjalan,
Tidak seperti dulu lagi kawan,
ketika bayi revolusi masih di kandungan, geliatnya mulai lemah
Tubuhnya tak lagi memerah, tangannya bukan lagi terkepal, kakinya tak mampu menerjang
Sampai saatnya tinja terlalu banyak teronggok di depan istana, di jalanan
anjing-anjing itu menghabiskannya, sangat buas, liar mencari mangsa
Bayi kita tak berteriak, ia diam
Darah membanjiri, revolusi mati
Revolusi aborsi
Kawan, bayi itu sungguh lemah
Mungkinkah penetrasi kita tak punya gairah, tak punya jiwa
Atau kita kaum penghayal, revolusioner pingitan
ini dosa kita, sebuah kutukan dari jaman keemasan dulu
Kawan,
Walau bayi itu kelak lahir,
Ibu pertiwi sudah tak punya susu lagi,
Dadanya telah rata, mungkin ia akan mati muda
Karena negeri ini telah lama digadaikan
11 September 2002
Tidak seperti dulu lagi kawan,
ketika bayi revolusi telah bergeliat di kandungan,
Kita menjaganya, penetrasi kita menyuburkan rahim harapan jelata
bukan impian kaum semusim, gejolak itu telah membunting, menggunung
Perut telah lama berisi tanah, cacing-cacingnya sangat gemuk
tapi tinja kita sangat bau, nafas sangat busuk
Kerajaan angin sungguh terusik, menaranya menebar wangi
membaui udara dengan segala kebohongan, sungguh harum
Saat ini, hari begitu lama dan panjang berjalan,
Tidak seperti dulu lagi kawan,
ketika bayi revolusi masih di kandungan, geliatnya mulai lemah
Tubuhnya tak lagi memerah, tangannya bukan lagi terkepal, kakinya tak mampu menerjang
Sampai saatnya tinja terlalu banyak teronggok di depan istana, di jalanan
anjing-anjing itu menghabiskannya, sangat buas, liar mencari mangsa
Bayi kita tak berteriak, ia diam
Darah membanjiri, revolusi mati
Revolusi aborsi
Kawan, bayi itu sungguh lemah
Mungkinkah penetrasi kita tak punya gairah, tak punya jiwa
Atau kita kaum penghayal, revolusioner pingitan
ini dosa kita, sebuah kutukan dari jaman keemasan dulu
Kawan,
Walau bayi itu kelak lahir,
Ibu pertiwi sudah tak punya susu lagi,
Dadanya telah rata, mungkin ia akan mati muda
Karena negeri ini telah lama digadaikan
11 September 2002
Pada Mulanya Tuhan Menciptakan Uang
Suasana kelas begitu gaduh, murid-murid semua mengangkat tangan. Berlomba menjawab pertanyaan sang guru. Mereka sungguh tampak cerdas, tak ada ketakutan seperti yang diramalkan dahulu. Oleh ahli-ahli pangan, ahli kesehatan dan gizi. Atau para politikus sang juragan kambing hitam. Tak didapatkan kini, apa yang dikatakan lost generation. Yang tumbuh saat ini adalah generasi muda yang cepat berpikir dan bernalar tinggi.
“Tommy Soeharto pak” jawab seorang anak yang pipinya tembem.
“Mengapa, kamu jawab begitu?” tanya gurunya kembali.
“Tommy Soeharto adalah bapak otomotif Indonesia. Ia berusaha memberikan kesempatan pada bangsa kita agar dapat memiliki mobil yang murah harganya. Ia mendirikan industri mobil nasional. Dan sungguh sayang rencana itu tak dapat berjalan, hingga akhirnya ia rela dibungkam di Nusakambangan dengan segala alibi baru yang dijeratkan padanya. Sebuah konspirasi jahat menghadangnya” kata anak berpipi tembem itu dengan berapi-api. Ia membayangkan bila rencana itu berjalan, mungkin ayahnya tak akan pergi ke tempat kerja dengan naik bis kota, berpanas-panasan di dalamnya.
“Pertanyaan berikut. Siapa bapak pangan kita?” tanya sang guru lagi. Murid-murid menunjukkan tangan. Berlomba menjawab. Sang guru menunjuk pada gadis kecil berponi di kursi dekatnya berdiri.
“Bapak Ir. Akbar Tanjung pak” katanya mantap.
“Mengapa kamu bilang begitu?” tanya gurunya, memancing anak itu memberi alasan dan jawabannya.
“Beliau membagi-bagikan sembako pada rakyat miskin. Milyaran rupiah dibelanjakan. Saat itu tak ada yang memperhatikan rakyat miskin, semua sibuk dengan politik, dengan reformasi. Dan bapak kita yang baik ini, peka akan suara-suara perut rakyat dari pada suara-suara demokrasi yang kebakaran jenggot” jawabnya sambil mengelus perut, terasa sudah lapar, tadi pagi dia hanya minum air putih. Kata bapak itu akan memutihkan pikiran kita sepanjang hari.
“Mengapa bapak Wiranto disebut sebagai bapak pemersatu bangsa?” tanya sang guru kembali. Anak yang hitam legam dengan rambut keriting itu telah duluan menunjukkan tangannya.
“Ya kamu Alberto” tunjuk sang guru.
“Atas perjuangannya mempertahankan Timor Timur sampai tetes darah terakhir. Pertempuran terus dikobarkan demi merah putih. Perjuangan untuk tetap merdeka atau kembali dijajah Portugis. Musuh dihancurkan dan dibakar. Ketika referendum kita kalah, beliau memerintahkan pembumi hangusan Timor Timur, agar para separatis itu tak merampok hasil-hasil pembangunan yang kita miliki selama ini di sana” katanya. Terbayang olehnya kuburan Sang Opa masih di sana. Papa dan mamanya sangat rindu akan kampung halaman.
“Mengapa bapak Sutiyoso namanya diabadikan sebagai nama jalan protokol yang mengelilingi Tugu Selamat Datang, menggantikan nama jalan yang lama?”tanya sang guru kembali. Anak yang di sudut sana dengan antusias berdiri, dari awal sepertinya guru tak melihatnya.
“Ya, kamu yang berdiri di sudut” tunjuk gurunya.
“Bapak Sutiyosolah yang membangun Jakarta lebih indah lagi. Menjadi kota yang bermartabad dan manusiawi. Air mancur yang maha karya hadir di tengah-tengah kota. Taman-taman terpagar rapi. Tak ada lagi daerah-daerah kumuh, semua telah digusur demi pembangunan. Tak ada lagi sampah-sampah semua telah dibuang ke sebuah pulau yang disewa. Tak ada lagi gelandangan, semua telah dibuang ke laut. Tak ada lagi kemacetan, karena semua jalanan di depan rumah kita telah dijadikan jalan-jalan tol bebas hambatan. Tak ada judi gelap, karena telah dilokalisir di sebuah pulau kecil miliknya, agar dapat dijaga langsung. Tak boleh lagi sembarangan orang masuk ke Jakarta untuk mencegah kepadatan penduduknya. Tak ada lagi demo-demo di depan istana, karena jalan menuju ke sana telah dipagar tinggi, hingga ratusan meter. Yang paling penting, mensukseskan kepala Negara menyambut pemilu berikutntya” katanya bangga, ternyata ia masih didengar.
“Baiklah itu tadi pemanasan awal membuka cakrawala kalian. Berikutnya mari kita lanjutan pada pelajaran mengarang. Bapak melihat karangan yang terbaik ada pada Aldamegasari, coba kamu ke depan. Silahkan kamu bercerita pada teman-temanmu tentang topik karangan kalian yang menjadi tugas kemarin” kata gurunya sambil kembali duduk di kursinya. Gadis kecil yang bernama Aldamegasari beranjak ke depan. Tangannya menuliskan sesuatu di papan tulis.
“Kita diberi tugas menceritakan tentang Malingkundang. Saya akan mencoba bercerita tentang Malingkundang” katanya dengan mantap.
“Pada jaman dahulu kala di sebuah pulau kecil yang sangat subur, tinggallah di sebuah gubuk seorang anak dan ibunya. Ayahnya telah lama mati, diculik dan dibunuh para perompak. Kehidupan sungguh damai di sana. Alam yang tenang mengajarkan mereka untuk mengucap syukur atas apa yang dapat mereka makan hari itu, atas kehidupan yang masih diberikan. Penduduk lain tak obahnya dengan mereka, mencari hidup dari menangkap ikan dan menjualnya. Tak ada keserakahan, tak ada iri dan dengki. Mereka sama-sama hidup bergantung pada sang pasang dan sang surut. Bintang-bintang menjadi penanggalan akan bulan muda dan tua. Mereka tak diburu oleh uang, mereka tabu untuk berhutang. Karena uang telah lama bersemayam dengan setan.
Ada sebuah sejarah penciptaan bumi yang diturun temurunkan sejak dahulu kala. Menurut cerita nenek moyang mereka dulu, pada mulanya Tuhan menciptakan uang. Lalu ia menciptakan langit dan bumi. Kegelapan masih menyelimuti alam semesta. Lalu Tuhan menciptakan terang. Mulailah Tuhan menciptakan cakrawala, lautan, tumbuh-tumbuhan, benda-benda langit, siang dan malam, binatang-binatang, dan terakhir manusia. Tuhan ingin beristirahat pada hari terakhir penciptaan, ia menyimpan uang ciptaannya di tengah sebuah taman, di dalam buah larangan. Setelah beristirahat, Tuhan berjalan-jalan di taman, mencari dua manusia ciptaannya. Ternyata mereka bersembunyi, bagai seorang pencuri. Mereka takut mengetahui diri mereka telah telanjang. Dan Tuhan marah mengetahui buah larangan telah dimakan. Mereka mencuri uang ciptaanNya. Maka Tuhan meminta kembali uang itu. Melempar uang itu ke udara. Tak terhingga bilangannya memencar berserak ke seluruh pelosok bumi. Jatuh di permukaan tanah dan di dalam tanah. Jatuh pada lautan dangkal dan dalam. Jatuh pada dataran tandus dan subur. Jatuh di tepi pantai dan dataran tinggi. Jatuh pada sungai, danau, sawah, kolam. Dan manusia akan bersusah payah mendapatkannya dengan keringat. Kedua manusia itu di usir keluar dari taman bersama sang ular yang bernama keserakahan.
Penduduk pulau itu tahu Tuhan marah pada keserakahan. Pada kegilaan akan uang. Untuk itu mereka hidup pada kesederhanaan, tidak ada mimpi yang muluk-muluk yang melahirkan iri dan dengki. Tak ada kejahatan di pulau itu. Mereka menikmati alam sebagai sumber kehidupan yang dapat dipakai dan harus dijaga, tentunya dengan keseimbangan alam.
Ketika beranjak dewasa Malingkundang tampak selalu termenung. Di sudut malam ia masih menatap ke arah laut dari jendela kamarnya. Matanya bukan menghitung bulan atau mencari letak rasi-rasi bintang. Bukan pula mengucap sebuah permintaan pada bintang jatuh. Ia menatap sebuah garis di tengah lautan. Gerangan apakah di balik garis horizontal itu. Adakah sebuah kehidupan? Adakah sebuah gadis yang cantik? Cerita-cerita di balik sana dibawa terbang oleh burung-burung camar. Celoteh-celoteh mereka yang bertengger pada dahan kelapa dekat kamarnya terdengar jelas. Sebuah negeri nan makmur terhampar di balik sana. Penduduknya rajin bekerja, bagai semut-semut yang keluar dari lubang-lubang tanah. Berkerumun pada onggokkan kemakmuran. Dan sang gadis di atas sebuah kastil selalu bernyanyi menyambut hari. Bersama-sama burung-burung, ia menciptakan bait-bait puisi perjalanan hidup. Puisi akan kegemerlapan dan kemewahan hidupnya.
Malingkundang jatuh cinta pada kisah-kisah itu. Niatnya telah membatu. Ia berangkat diringi linangan air mata ibunya. Dengan perahu satu-satunya milik ayahnya dulu, ia berangkat menuju negeri seberang. Melampaui karang-karang yang berbaris dan ombak-ombak yang mengayun keras.
Terdamparlah ia di sebuah pantai yang putih. Ia ditolong oleh seorang nelayan yang lama hidup sebatang kara. Malingkundang begitu gembira mendapatkan dirinya masih hidup. Dan bapak angkatnya begitu bahagia mendapatkan teman yang lama diharapkannya. Bagai sebuah pinta yang telah terkabulkan. Malingkundang berbakti pada penolongnya, tapi matanya tak lepas memandang istana itu. Sungguh angkuh letaknya di sebuah tebing yang tinggi. Atapnya berlapiskan emas, dindingnya bertahtahkan berlian.
Masyarakatnya tak ubahnya dengan pulau kelahirannya dulu. Mereka hidup dari nelayan, dari perdagangan. Jauh di tengah pulau mereka memiliki tanah-tanah yang subur, sawah dan ladang membentang luas. Tambang-tambang emas dan minyak banyak berdiri. Mereka semua rajin bekerja tak ada yang malas. Keringat mereka berkilau membasahi tubuh. Benar apa yang dikatakan oleh sang camar. Penduduk negeri ini rajin bekerja, bagai semut-semut pekerja yang berkerumun pada onggokan kemakmuran.
Tapi ia belum melihat sang gadis, sang putri. Kapankah ia akan bernyanyi dari jendela kastilnya? Syahdan terdengar kabar, kalau sang putri telah terkena penyakit. Ia tergeletak berminggu-minggu di ranjangnya. Sang raja sangat berduka sepanjang hari. Ia lelah mencari obatnya pada tabib-tabib istana maupun dari penjuru pelosok negeri. Belum ada yang bisa menyembuhkannya. Sebuah pengumuman tersebar luas pada tembok-tembok pasar. Sebuah janji bagi yang dapat menyembuhkan sang Putri. Dijanjikan akan dinikahkan dengan sang Putri, bila dapat menyembuhkannya.
Malingkundang begitu gembira, sebuah jalan didapatkannya. Tapi ia tak punya obat, sakitnya saja ia tak tahu. Ia terus berpikir, ia termenung di bawah sebuah pohon. Keningnya berkerut, jantungnya berdegup kencang, ia sudah tak sabar. Tapi otaknya buntu. Suara-suara burung camar tak dihiraukannya, terasa sungguh sumbang kini. Sesaat ia tertegun, ia menelan ludah. Sang camar berceloteh tentang mimpi sang putri. Sang putri bermimpi melihat sebuah gemerlapan dari dasar laut. Butiran-butiran yang sangat berkilau yang ditelan oleh binatang laut. Kadang menganga. Kadang mengatup.
Benda apakah itu? pikir Malingkundang. Otaknya berpikir cepat. Beruntung ia punya kelebihan mampu mendengarkan percakapan hewan-hewan. Ia belajar dari ibunya. Sedikitnya ia mengetahui penyebab sakitnya sang putri. Tapi ia tak pernah melihat butiran-butiran itu di dasar laut. Ia penyelam ulung seperti layaknya nelayan-nelayan lainnya. Kakinya cepat berlari bersama otaknya yang menemukan titik cerah. Menyelamlah ia ke dasar yang dalam.
“Hai anak muda, apa yang kau bawa itu? Apakah itu penyembuh penyakit putriku?” tanya sang Raja. Malingkundang telah berdiri di dalam istana, diantar oleh dua orang pengawal isatana.
“Benar tuanku Raja. Ijinkah hambamu menyembuhkan sang Putri” kata Malingkundang dengan sikap hormat, matanya tak sanggup memandang sang Raja.
“Kau tahu hukumannya bila gagal? Kau akan dipancung dan mayatmu akan dicampakkan sebagai makanan ikan-ikan hiu. Tapi bila kau berhasil, akan aku kawinkan dengan putriku, anakku satu-satunya” kata sang Raja memberi ultimatum.
“Saya siap menerima peraturan yang Tuanku tetapkan” kata Malingkundang, tak ada gentar lagi dihatinya.
“Mendekatlah kepadaku, putriku berbaring tak jauh dariku. Sembuhkan ia” kata sang raja, ada sebuah kerinduan mendapatkan putrinya dapat kembali sembuh.
Malingkundang beranjak menghampiri sang Putri. Ia memandang sang Putri. Ada kecantikan yang sungguh tak terbayangkan. Parasnya adalah kumpulan dari segala kecantikan yang dimiliki oleh para wanita di seluruh negeri. Sesempurna pagi yang dirindukan kedatangannya, selembut malam yang setia mendekap penghuni negeri.
“Anak muda, silahkan anda melakukan tugasmu,” suara sang raja mengejutkan lamunannya. Ia bergegas membuka buntelan yang dibawanya. Membawa butiran-butiran indah itu ke hadapan sang Putri. Keindahannya terpancar sungguh. Mata yang indah milik sang Putri mulai terbuka. Memandang yang terhampar dihadapannya. Mimpinya tak lagi mimpi. Mimpinya kini nyata. Keindahan dari dasar laut kini telah hadir. Cemburunya telah lenyap. Kini ia lengkap memiliki semua keindahan yang ada di muka bumi. Kini ia pemilik segala perhiasan gemerlap yang dikandung bumi.
Malingkundang sungguh gembira mendapatkan binar-binar mata itu. Sang putri telah kembali sehat. Dan ia ditakdirkan akan menjadi pendamping sang putri. Sang Putripun tak terlalu kecewa dengan penolongnya. Malingkundang juga lelaki yang gagah, senyumnya sungguh menggoda semua wanita. Rajapun mengumumkan sembuhnya sang Putri, dan akan dilanjutkan pernikahan dengan sang penolong yaitu Malingkundang.
Wanita tua terduduk di tepi pantai, matanya memandang kejauhan. Pada garis lurus yang menyentuh langit. Apakabarmu yang di balik sana? Suaranya begitu lirih, kalah oleh debur ombak yang menghempaskan diri ke pantai. Sudah beberapa purnama tiada kabar yang terdengar, hanya celoteh-celoteh sang camar. Akahkah kau menikah dengan anak sang Raja. Menjadi penghuni istana keserakahan. Menjadi salah satu dari mereka. Memeras sang semut-semut pekerja, yang berbaris memanggul cuilan-cuilan kemakmuran menuju gudang harta milik sang Raja. Rakyatnya sungguh telah menjadi budak-budak sang Raja. Mereka dipaksa bekerja dengan segala upeti yang harus diserahkan pada Raja. Lihatlah betapa sombongnya istana, dindingnya bertahtahkan emas dan berlian. Sang putri dicemburui oleh mimpi akan sebuah mutiara yang tak dimiliknya. Ia sungguh rakus akan permata, ia tak ingin ada yang dapat menandingi keindahannya. Menandingi perhiasan yang dimilikinya.
Tidakkah kau dengar nyanyiannya di jendela kamarnya. Gadis di atas sebuah kastil selalu bernyanyi, bersama-sama burung-burung, ia menciptakan bait-bait puisi perjalanan hidup. Puisi akan kegemerlapan dan kemewahan hidupnya. Ia menyanyikan lagu kesombongan. Sementara di bawah sana, rakyatnya rajin bekerja membanting tulang, tak ada yang malas. Keringat mereka berkilau membasahi tubuh berkerumun pada onggokan kemakmuran. Namum itu tak milik mereka. Itu milik sang penguasa negeri. Mereka sudah lama diajarkan oleh mitos dan dogma usang, bahwa mereka tercipta sebagai semut-semut pekerja yang harus mengabdi pada sang ratu, ratu keadilan. Mereka tak mau kualat untuk itu, atau akan dikutuk selamanya.
Siang itu di kejauhan tampak sebuah kapal mewah berlayar mendekati pulau. Layarnya besar dihembus angin, membawa menuju tepi pantai. Seorang lelaki muda dan penumpang lainnya turun. Lelaki muda itu matanya awas. Ia mencari seseorang, dan ia berteriak,
“Ibu, aku pulang”. Lelaki itu menghambur ke arah wanita tua yang duduk di depan gubuknya. Wanita itu sungguh terkejut, ia pun tergopoh-gopoh berlari sambil membuka tangan, menyambut cahaya malamnya.
“Malingkundang anakku. Aku rindu kamu sayang. Kamu baik-baik saja kan?”kata ibunya sambil memeluk, tangis kerinduan tak tertahankan.
“Aku baik-baik saja bu. Aku kini sudah kaya, aku punya calon istri yang cantik Anak seorang Raja” kata anaknya tak kalah kuat mendekap. Ia menunjuk sang Putri, Raja dan Ratu yang telah berjalan menghampiri mereka.
Sang ibu walau ada rasa canggung, tak bisa menolak untuk menyambut mereka. Menyalami sang tamu. Sungguh mereka sangat indah, wanginyapun tak ditemukan di pulau ini. Kulit mereka begitu lembut, tiada kening yang berkerut.
“Aku datang memohon doa restu ibu. Mari kita berangkat ke negeri seberang. Sebuah istana menanti kita,” bujuk Malingkundang.
“Malingkundang, lahir, hidup dan matiku di sini nak. Di sini sungguh damai. Kami tak kekurangan, alam mengajarkan untuk mengucap syukur atas apa yang dimakan hari ini. Di sini tak ada keserakahan, tak ada iri dan dengki. Kami tak diburu oleh uang. Karena uang telah lama bersemayam dengan setan. Kami bukan semut-semut pekerja negerimu, yang menggemukkan penghuni istana dengan keringat rakyatnya. Aku tak mau hidup di atas keringat mereka. Sungguh jiwa mereka telah lama mati oleh pembodohan yang kalian lakukan. Aku bukanlah setan yang menjaga gudang uang kalian. Dan aku tak sudi memiliki anak seperti setan” kata ibunya menolak ajakan Malingkundang.
Malingkundang sungguh malu mendengarkan itu. Harga dirinya jatuh di hadapan Raja, Ratu dan sang Putri. Mukanya merah padam, bibirnya gemetar. Tangannya teracung tinggi, menunjuk langit dan dia berucap keras,
“Ibu, engkau telah menyangkal aku anakmu. Engkau durhaka. Demi langit yang menaungi bumi, aku mengutukmu menjadi seperti yang kau katakan kepada kami. Engkau adalah kami!” Malingkundang marah, ia mengutuk ibunya.
Sekilas cahaya berkelebat memenuhi ibunya. Asap putih mengelilingi jiwanya, jiwanya yang dulu telah terbang jauh, kini jiwa setan merasuki dirinya. Ibunya menjadi seperti mereka, manusia-manusia yang terkutuk pula. Dan ibu Malingkundangpun tak mau berlama-lama lagi di pulau ini, kakinya begitu jijik melihat pulau yang tak terurus.
Matanya rindu pada gemerlap, dan mulutnya haus untuk menghardik dan memerintah semut-semut pekerja. Bersama mereka, ibu Malingkundang berlayar jauh, menuju kegelapan di balik garis yang menyentuh langit. Bagai batas antara surga dan neraka.
13 September 2002
Subscribe to:
Posts (Atom)