Saturday, 12 February 2011
Tuesday, 1 February 2011
Ahmed Sukarno Street
Petunjuk Jalan Sukarno di Kairo, Mesir yang mengarah ke Lapangan Tahrir. Ahmed Sukarno Street merupakan jalan penting di Mesir yang menuju pusat kota dan pusat kebudayaan di lingkaran Tahrir Square.
Pada hari ini jutaan demonstan berkumpul di jalan ini dan berjalan menuju ke Lapangan Tahrir. Di Jalan ini juga dibagikan pamflet-pamflet propaganda yang menginginkan pembebasan. Di Jalan ini pula demontrasi awal bermula tak lama ketika Revolusi Tunisia meletus.
Thursday, 27 January 2011
Doedoek sama rendah berdiri sama tinggi!
1945, Njanjian perdjoeangan itoe ada begini :
Kowee botjah `ndi, lee?
Koelo laree deso,
Kowee `njang `ndi, lee?
Bade datengi kota
Kok kowee `nggowo bendo, lee?
Damel `mbatjok londo
Londo salah opo, lee?
`Mbade `ndjadjah kita
Opo kowee wis wani, lee?
Memang koelo sedjo
Nek londo wis mati, lee?
Kita tetep MERDIKO !
Tiap pagi sekali saja bisa liat bagaimana kelompok demi kelompok pemoeda pemoeda itoe dengen badan bagean atas tinggal terboeka, pada lari dalem barisan (kakias menoeroet istilah Djepang) sembari njanjikan dengen saling bergantian satoe njanjian jang waktoe itoe amat terkenal dalem kalangan pemoeda perdjoeangan.
Tanggal 15 Agoestoes 1945 Djepang menjerah kalah zonder sjarat pada sekoetoe. Tanggal 17 Agoestoes 1945 berikoetnja Indonesia di njatakan berdiri sebege negara jang MERDEKA dan berdaoelat penoeh. Keadaan lantas berobah tjoraknja; segala apa jang dinamaken Djepang, baek jang laskar maoepoen jang Sakoera (preman) pada dikoempoelkan di Poedjon (kaigoen, angkatan laoet) dan di Dampit (rikoegoen, angkatan darat). Sendjata, mobil, roemah pada dirampas.
Dipermoelaan tentoe sadja masih katjaoe balaoe; jang bisa diliat banjak pemoeda² pada gelantoengkan pedang samoerai dipinggang`nja dan sedapat moengkin masing-masing pada persendjatai dirinja dengen revolver dan senapan komplit berikoet peloeroenja. Malah saja ketemoe sobat saja dari stadwacht dahoeloe jang ban peloeroenja dipasang melintang didadanja. Poen tjara berdandan sami mawon. Pakean seragam K.N.I.L, stadwacht, P.E.T.A, seragam dari angkatan Djepang, semoea dipake.
Kedjadian² ini bisa ternampak disemoea permoelaan REVOLOESI disemoea negara. Tetapi lambat laoen keadaan jang keliatan seperti katjaoe balaoe itoe moelai teratoer oleh marika jang tadinja soedah dapet didikan militer, baek sebage militer K.N.I.L, stadwacht maoepoen P.E.T.A. Badan keamanan rakjat diroebah mendjadi Tentara Keamanan Rakjat (T.K.R), jang paling belakangan namanja mendjadi T.N.I. (Tentara Nasional Indonesia) hingga sekarang ini.
Barisan pemoeda revoloesioner ini dibantoe oleh pasoekan bamboe roentjing jang moelai berdiri boleh dibilang di segala pelosok. Malahan anak² sekolah kalaoe lagi maen sama kawan²nja, soedah tida maoe maen “Obor sodor” lagi, tetapi maen perang²an dan dengen bamboe roentjing satoe pada lain.
Api revoloesi moelai berkobar, makin lama makin tjepat njalahnja, makin mendjoelang lebi tinggi dan lebi tinggi, hingga achirnja tarik perhatian doenia di loear sengketaan Belanda dengen Indonesia.
Penghidoepan berdjalan seperti biasa, dilihat dari lahirnja. Tetapi saja tahoe dalem djiwanja masjarakat Indonesia telah bangkit satoe persatoean baroe, perasaan tida maoe anggap atawa dianggap dirinja sebage berkedoedoekan jang lebi rendahan. Sikap noon inggih dilempar djaoeh; dipasar, didjalanan, dimana sadja itoe sifat “onder danigheid”(sikap jang biasa diseboet oleh Belanda) soedah diganti dengen sikap baroe; doedoek sama rendah berdiri sama tinggi!
disadur dari : Tjamboek Berdoeri
Monday, 24 January 2011
UFO di Indonesia
Daftar penampakan UFO di Indonesia sebelum 1945 hingga 2005 klik
Daftar penampakan UFO di Indonesia sebelum 2006 hingga 2008 klik
Daftar penampakan UFO di Indonesia sebelum 2006 hingga 2008 klik
Puisi Soe Hok Gie
Sebuah Tanya
(oleh Gie)
“akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”
(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)
“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”
(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)
“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”
(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)
“manisku, aku akan jalan terus membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru”
"Pesan"
(oleh Gie)
Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran
Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi
Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?
MANDALAWANGI - PANGRANGO
(oleh Gie)
Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku
aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta
malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua
"hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya "tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
'terimalah dan hadapilah
dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu
aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup
Sebuah puisi Gie, yang tak berjudul :
(Puisi Gie)
ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza
tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku
bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi
ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
tapi aku ingin mati di sisimu sayangku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu
mari, sini sayangku
kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
tegakklah ke langit atau awan mendung
kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa”
(oleh Gie)
“akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”
(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)
“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”
(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)
“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”
(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)
“manisku, aku akan jalan terus membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru”
"Pesan"
(oleh Gie)
Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran
Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi
Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?
MANDALAWANGI - PANGRANGO
(oleh Gie)
Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku
aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta
malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua
"hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya "tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
'terimalah dan hadapilah
dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu
aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup
Sebuah puisi Gie, yang tak berjudul :
(Puisi Gie)
ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza
tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku
bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi
ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
tapi aku ingin mati di sisimu sayangku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu
mari, sini sayangku
kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
tegakklah ke langit atau awan mendung
kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa”
Subscribe to:
Posts (Atom)




