Saturday, 14 September 2002

Ode Untuk Teman

Oleh bagus takwin (Bermain-main dengan cinta)

Pertemuan denganmu
sebuah kebetulan
- tentu saja bukan kecelakaan –
Kau di luar rencanaku
menggembirakan diri
tampil saja di sela-sela kemanjaanmu
Beginikah rasanya punya teman?
Hiruk pikuk hari-hari
lewat saja, ringan saja
dan kau memenuhi kekosongan
Kita berteman saja,
aku tak mempunyai niat terlalu jauh
Hanya kurasakan kesegaran
yang penuh saat bersamamu
Kurasakan kelancaran nafas hidup
Kurasakan detil dunia dalam matamu
Kurasakan suka cita waktu dalam gerakmu
Aku jadi temanmu saja
menyediakan detik-detik untukmu,
rauplah sesukamu,
datanglah mengeluh,
hiruplah kebaikan
sejauh ada padaku
Kita berteman saja ;
sebuah kenyataan
yang sangat mungkin abadi
menjelma kupu-kupu indah di suatu pagi
dengan bunga-bunga dan suara burung
Meski kau berlayar jauh dengan kekasih
aku adalah pelabuhan kala kau sendiri
Kita berdua memecah kesunyian,
membikin dunia terjaga
dan bersama bergembira
Kita berteman saja
Sambil tetap berdoa
demi ketulusan hati
yang kuingin tetap begitu
Ya, kita berteman saja
dalam hidup ini
dan nanti.

1001 tahun lagi

Malam ini langit begitu kelam, bintang tak ada lagi yang bercanda. Mereka pergi entah ke mana. Langit berjubah hitam begitu dingin, hawanya membuat segala mahluk menggigil. Begitu kencang angin menggoyang-goyangkan dedaunan. Pelepah pohon sawit melambai-lambai, bersorak-sorai bagai sebuah tarian meminta hujan. Mungkin akan turun hujan malam ini.

Lelaki muda itu mengeluarkan sesuatu dari kantong kiri celananya. Lembaran uang lusuh, beberapa koin recehan. Bibirnya bergerak-gerak menyebut beberapa angka. Menghitung butir-butir keringat. Menyusun carikan-carikan penat. Nafasnya berat terhembus, seperti hari-hari kemarin, hidup seperti memanggul beratus-ratus kilo batu besar. Badan membungkuk pada nasib. Tulang bukan lagi dibanting, sudah hancur. Serpihannya justru mengaburkan mimpi-mimpi. Sebuah mimpi yang mungkin terwujud 1001 tahun lagi, kenyataannya bagai sebuah dongeng Abunawas. Akankah kau masih mau menungguku?

Angin malam ini begitu nakal. Menusuk-nusuk tulang. Kaki masih terasa kebas, terasa sendi-sendi mau lepas. Dia menarik sarung lusuhnya. Baunya sungguh tak sedap. Bau keringat mengenyangkan perut, sungguh nikmat, gantikan lezatnya wangi ikan teri goreng atau terasi bakar. Sungguh nikmat dengan nasih bungkus hangat. Tapi malam ini ia puasa, cukuplah siang tadi ia menikmati. Dan bibirnya tak lagi merasakan asap tembakau pengusir sepi, dadanya terasa sesak sudah sejak tiga minggu yang lalu. Sementara ia harus bisa terus bekerja. Atau ia akan kalah.

Kalah? Ini bukanlah sebuah pertarungan, bukan pula sebuah kesombongan. Tapi sebuah janji, dan ia akan kembali untuk memenuhi itu. Aku akan mengawinimu, bisiknya. Gadisnya tersenyum indah, matanya yang kecil mencari kebenaran pada ucapan lelaki itu. Ia tak meragukan, tapi ia menatap sebuah lautan yang luas. Beribu ombak dengan bibir-bibirnya yang begitu ganas. Dan pulau impain nun jauh di sana, di sebuah mimpi yang terkapar, terkubur.

Sungguhkah bijaksana kehidupan yang kita jalani? Adat yang begitu agung, terasa sangat kaku. Untuk sebuah perkawinan, belasan malah bisa puluhan babi harus tersaji. Aku tak mampu untuk itu, tapi aku harus mengawinimu, biarkan aku pergi untuk membayar mimpi, katanya kembali. Jangan ragukan aku, kasihmu ini bukan ahli nujum, tapi aku bisa menciptakan pundi-pundi uang dari butir-butir keringat.

Gadisnya hanya bisa tersenyum, ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia senasib dengan puluhan mungkin ratusan gadis-gadis lain. Dan para pemuda, pergi berlari jauh dari pulau ini. Mengumpulkan keping-keping keberuntungan dari dompet-dompet mereka yang bernasib baik. Terasa mahal sebuah keinginan, sebuah alur kehidupan mereka. Walau banyak yang kembali melunasi janji-janji. Banyak pula yang tak jelas kabarnya. Anginpun tak pernah kembali membawa jawab atas ratap kerinduan mereka. Angin tak sampai hati mendapati gadis-gadis masih runtuh pada puing-puing harapan.

Angin masih kembali tak bersahabat, ia membuyarkan lamunan. Bersamaan dengan itu, gumpalan awan hitam berteriak nyaring, menyeringai malam. Jutaan butiran air terjatuh ke tanah. Semua berhamburan. Belasan mahasiswa yang dari sore berkumpul di bawah pohon-pohon sawit itu, tampak jelas di kejauhan berlari mencari perlindungan. Permainan judi mereka buyar, lilin-lilin mereka padam. Tak jauh dari dirinya, di atas sebuah becak, pasangan itu masih mengayuh birahi, mereka tak terusik. Masih berdekapan, makin mendekap, dingin menambah birahi mereka.

Lelaki itu kembali menarik sarung, badannya melingkar mencari hangat. Ia tak terusik dengan taburan uang di tanah pada permainan mereka. Dentingan uang mereka. Ia tak terusik oleh suara-suara birahi pasangan temannya. Ia sama seperti pasangan itu, menikmati malam di atas sebuah becak. Dan pada tempat parkir sepeda motor kampus ini, mereka berteduh. Atap ini adalah rumah mereka. Ia harus beristirahat, esok adalah kerja dan kerja. Untuk membayar mimpi, hidup.

Gadis itu masih menunggu. Untuk waktu yang tak pasti. Mungkin ia akan bernasib sama dengan gadis-gadis lain, menjadi penunggu kembalinya mereka para pengembara. Atau mungkin kelak harus menjadi perawan tua. Dan ombak-ombak masih terus berlari-lari, menjilati sang mpu, di sebuah pantai Sorake, Nias.

Tanpa Hati

Oleh bagus takwin, (Bermain-main dengan cinta)


Telah kubiarkan hatiku bunuh diri. Masih kuingat geleparnya yang terakhir, dan darah menggenang memantulkan bayang-bayang luka, merobek kegembiraan masa lalu. Kenangan yang masih membias sinarnya, memerah, melemah. Pupus.
 
Sejak lama aku berkemas, berjalan tanpa hati. Kubina diri tanpa rasa, mengupas suka-duka, melepas manis-getir, menebas keindahan dan buruk rupa. Jauh dan dekat darimu akan kutempuh, mengambang di telaga tanpa riak, mengapung di lautan datar. Hidup yang tanpa gemuruh, tanpa hiruk-pikuk, tanpa liuk-liuk, tanpa gelora. Hidup tanpa rasa.

Tapi cinta seperti kanker, menyebar pesat ke sekujur tubuh. Dan dirimu seperti cahaya, menyusup lorong-lorong tersempit. Dan diriku menyerapmu penuh, menghisap luruh.
Kau menari dalam darahku, menggenang, menggerayang, mengacak-acak sukma. Diriku tak lagi tertata seperti dulu. Wajahmu memompa jantung, banjiri benak.

Nafasku menghirup gerakmu
Lidahku mengecap nafasmu
Mataku mengeja bibirmu
Jiwaku memburu hatimu.
Lalu gelakmu, gegapmu, lenguhmu.
Lalu hidupku dipaku hidupmu
Tanpa hati memandangmu, aku tetap
gemetar
Menggelepar

Tuesday, 10 September 2002

Sobat Lamaku Masih Sang Pemberontak

Angin berbisik pelan, suaranya seperti tertahan. Malam begitu kelam. Bintang-bintang hanya berpendar, tak bersuara. Nyanyian malam hanyalah puji-pujian serangga malam. Didalam gelaplah malam lahir. Malam sering ditafsirkan sebagai kesepian, kekosongan, kehampaan mungkin juga ketiadaan. Malam mengundang kecurigaan, semua awas dikeheningan. Sungguhkah akal manusia mati di istirahat malamnya?

Cahaya yang berpendar dari lampu itu hanyalah seperti lilin yang menari. Kekuatannya hanya bergantung pada putaran roda. Sepeda tua mengantarkanku membelah areal perkebunan penduduk dan suaranya menimbulkan ritme mirip detak jantungku yang berpacu. Pandanganku agak terganggu oleh penerbangan para serangga malam dan kunang-kunang.

Seperti biasa di malam-malam sebelumnya, gadis itu duduk diberanda, mencoba untuk mewujudkan impian-impian kedua lelaki kecil itu. Mengulangi kembali pelajaran-pelajaran di sekolah yang materinya sungguh sangat tertinggal jauh dari mereka yang bernasib baik di kota-kota.

“Apakah hari ini ibu Budi sedang pergi ke pasar?”candaku memecah keseriusan mereka. Mereka hanya tertawa dan sudah terbiasa kalau kemudian kedua adiknya harus melanjutkan di dalam rumah.

Hingga saat ini aku tak mengerti, mengapa materi-materi usang yang sudah lebih belasan tahun itu masih diajarkan. Sepertinya saat ini, ibu-ibu tak lagi pergi ke pasar, karena sudah banyak supermarket atau hypermarket, malah para pembantu menggantikannya. Atau imajinasi anak-anak yang diplot untuk menggambarkan sebuah jalan yang membelah dua gunung dan matahari tersenyum di atasnya. Begitu statiskah kehidupan desa?

“Mau minum apa bang?” tanyanya. Tanpa perlu dijawab sepertinya dia sudah tahu kebiasaanku. Senyumku sudah menggambarkan.

Kantukku sedikit hilang oleh kopi ini. Hangat dan pahit. Aku bercerita tentang penjualan kakao hari ini. Tidak terlalu banyak untung, tapi cukuplah untuk memutar perdagangan.

“Sepertinya pak Timbul tak senang dengan penjualan kita. Orang-orang desa satu persatu telah mempercayakan penjualan pada kita. Yang belum hanya karena merasa tak enak dengannya. Maklum pak Timbul orang pertama yang merintis penanaman pohon coklat di sini. Dan dia yang mendirikan Koperasi,” aku mencoba menjelaskan apa yang aku rasakan.

“Dia telah menipu kita semua. Awalnya memang hanya dia yang tahu tentang pembeli. Dan hingga kini kita tetap dibodohi,” nafasnya melemah, ada nada kecewa.

Bukanlah hal yang aneh kalau yang kuat akan akan mampu bertahan. Dari segi modal dan pengalaman, pak Timbul tak diragukan. Tapi dari segi moral belum tentu. Pembelian yang dilakukan dari petani sungguh-sungguh dimanipulasi sangat tinggi. Dan pembeli menutup rapat nilai pembelian sebenarnya. Semuanya hanya karena prinsip simbiosis mutualisme atau mungkin karena takut oleh kuasa pak Timbul yang kebetulan punya banyak centeng.

Semua ini terjadis sejak belasan tahun lalu. Dari hanya memiliki setengah hektar hingga lima ribu hektar kebun coklat. Dan para petani di sini tak lebih seperti pada keadaan awalnya. Bukan cemburu tapi ketimpangan yang sungguh sangat jauh. Dan malahan petani yang tetap miskin itu, harus memecah-mecah tanahnya kepada anak-anak mereka, ahli warisnya.

“Sudah ada kabar tentang abangmu?” tanyaku sambil kembali membakar sebatang rokok.
“Belum bang. Sudah genap empat bulan tak ada kabar tentang ia” jawabnya agak sedikit berat. Ada sebuah kekhawatiran dan matanya mencuri pandang ke dalam, menatap ibunya dan kedua adiknya. Setelah sekian banyak masalah yang mereka hadapi, kepergiannya abangnya kali ini sangat menyita pemikiran. Dari lulus SMU, kepergian abangnya untuk kuliah di Medan bukanlah suatu kehilangan dikebersamaan mereka. Mungkin ada sebuah janji, dikesunyian yang bertahun-tahun dan membawa kabar datangnya sarjana di keluarga mereka di suatu saat. Walau terkadang ada kepasrahan, karena ibupun tak mampu membiayainya. Hanya uang kiriman Rp. 50.000,- tiap bulannya di tahun pertama, setelah itu tak ada sama sekali.
***
“Lop, aku ingin kawin kali” teriakan di kuping itu mengusik tidurku. Menampar mimpiku. Apalagi aroma mulut yang keluar dari celah-celah giginya yang kuning, sisa asap rokok murahan, sangat menusuk. Membekap nafasku.

Walau sedikit kesal, aku tak sampai hati memukul kepalanya. Apalagi membayangkan kaca mata tebalnya akan pecah.

“Kapan kau sampai bangsat!” tanyaku sambil memakai celana pendekku. Karet celana dalamku sudah tak sanggup lagi menahan isinya.
“Lima menit yang lalu. Hei dengar dulu, aku mau kawin kali ini” teriaknya tanpa perlu merasa malu mempertunjukan giginya yang tak jelas susunannya.
“Bah, yang keluar dari mulutmu tak jauh beda dengan yang menghasilkannnya. Kacau!” aku beranjak ke kamar mandi, air seniku sudah tertahan satu malam ini.
“Kau dengarlah ucapanku dulu, aku serius ini” suaranya masih mengikutiku.
“Aku ingin kawin kali” lanjutnya memburu berjalan menyajariku.
“Mau kawin sama siapa kau? Sama aku? Makan buritku ini” ejekku.
“Sialan kau” tawanya sambil menendang pantatku. Celana pendekku basah oleh cipratan air seniku, badanku terhuyung. Pagi-pagi musibah sudah datang. Tidur terganggu, celana basah. Sialan.

Setelah sarapan Maradu semakin semangat bercerita. Binar-binar matanya terlihat jelas dari kaca mata tebal itu. Masih seperti dulu, gagang hitamnya patah dan diikat karet untuk menyambungnya kembali. Maklum pecinta bola ini tak bisa melepaskan kaca matanya agar tendangan tak lari, ketika ada pertandingan bola kaki yang diadakan oleh Imabohal. Ikatan Mahasiswa Bocor Halus. Dan gagangnya patah waktu terjadi perebutan bola.

Dan yang masih kuingat jelas, ketika kami iseng-iseng melepaskan malam di sebuah kedai kopi. Hiburan yang termurah bagi mahasiswa. Televisi yang ada di depan agak tergantung diatas, hampir menyentuh langit-langit, menampilkan sebuah film. Kebetulan atau memang disengaja, tak bisa dipungkiri itu pasti film semi porno. Maradu dengan semangatnya mendongakkan leher sambil memegang gagang kaca matanya yang patah itu. Aku tertawa sendiri mengingat hal itu, begitu keras niat hatinya. Syukurlah, polisi telah membubarkan tontonan seperti itu, kalau tidak mungkin memandang wanita seperti melihatnya tembus pandang.

“Kenapa kau mau kawin? Sudah bosan hanya sekedar menonton film?”tanyaku.
“Bukan sekedar mau. Tapi pingin kali. Aku mau kawin kali” katanya tertawa.
“Hahaha…..dengan siapa? Gadis desa yang kau kerjai di kebun ubi itu?” tanyaku mengejeknya.
“Walah cerita itu sudah selesai. Aku sudah punya pacar yang baru, penjual kopi di kampungku”
“Nggak jauh dari kedai kopi. Aku takut kalau kau jadi suaminya, pemuda kampungmu akan rusak. Mungkin akan kau tambah pemutaran acara after nine. Film
porno” kataku mengejeknya kembali.

“Sialan. Apa kau pikir aku mau, kalau istriku dipandang orang begitu buas. Dengan otak kotor?” dia sedikit marah dengan ejekkanku.
“Mana lebih cantik dengan kakakmu?” aku mencandainya kembali.
“Kalau cantik sih, cantikkan pacarmu. Tapi segi keaslian, ini masih original” ejeknya lagi.
“Setan. Emang pacarku nggak perawan lagi?” sepertinya aku tak terima guyonannya.
“Mana aku tahu. Isi otakmu aku sudah tahu, hahahha…..” tawanya.

Menghadapi candaan-candaan, sepertinya Maradu tak terkalahkan. Kekurangan pada dirinya bukan lagi dianggap sebagai ejekkan, tapi anugerah dari pada harus menyesali hidup yang diterimanya.
“Jadi hubungan kawin mu dengan aku apa?” tanyaku serius, sepertinya bila diajak bercanda terus mungkin takkan selesai-selesai.
“Aku minta bantuanmu,……carikan aku kerja” katanya dengan nada berharap.
“Kalau itu, kau mengejekku. Sejak kapan pengangguran punya kerja. Di kampungmu apa tidak bisa berusaha?”
“Kalau dari kedai kopi mungkin pas-pasan. Ibu dan tiga adikku kan harus tetap makan. Mana ibu sudah sakit-sakitan dan adikku perlu sekolah”
“Dengan ijasah SMU mu susah cari kerja. Kerja di supermarket saja sekarang harus minimal D3. Aku saja yang sarjana masih menganggur. Salahmu juga sih, mengapa kuliahmu dulu tak kau selesaikan”
“Itu cerita lama Lop. Kalau mikir susah, untuk apa aku datang minta tolong padamu. Aku hanya minta bantuan, mana tahu sedikit peluang yang kau tahu”
“Ada sih, tapi agak berat. Kuli kasar bagaimana?”tanyaku.
“Lebih baik di Perdagangan. Walau di ibukota kecamatan. Jadi kuli nggak harus ke Medan”
“Hmmm….. ya sudahlah nanti kita cari sama-sama. Mungkin teman-teman yang lain juga bisa bantu” kataku memberinya harapan.
***
Hari ini aku tak tahu kemana saja perjalanan Maradu. Menurutnya dia akan menjumpai teman-teman di kampus atau sekalian menagih hutang-hutang lama yang mungkin sudah dianggap hangus. Suara ketukan di pintu kostku mengejutkan. Bukan sekedar ketukan, tapi seperti ingin menghancurkan.

“Buka, anda sudah terkepung!” sebuah teriakan nyaring terdengar di luar. Sedikit terusik aku membukanya. Dan manusia dengan kaki lebar itu tertawa sama lebarnya.
“Hahaha….aku pikir kau pasti masih alergi dengan aparat” katanya.
“Bajingan! Masuklah. Dari mana saja kau, sejak kita pisah di kampus tadi?” tanyaku tanpa perlu melayani candaannya.
“Menagih hutang-hutang sambil cari info kerjaan. Aku sudah hampir keliling kota, mana tahu ada lowongan kerjaan” katanya sambil merebahkan diri di kursi. Di hidupkannya tape, All My Love milik Led Zeppelin lembut melantun.
“Oh ya, itu tak kusangsikan. Hobi jalan kakimu” ejekku. Aku masih tak habis pikir, ada manusia nasibnya seperti ini. Sejak dulu ke mana pun dia pergi tak pernah naik angkutan umum, pasti jalan kaki. Lebih berharga uang dipakai membeli rokok. Dan sungguh begitu nikmat merokok sambil berjalan kaki. Terkadang aku kasihan, dia tak punya uang lebih, semua didapat dari berhemat dan keringatnya sendiri. Kasihan dia.

“Dari melamar jadi tukang satpam hingga tukang jaga di toko-toko. Semua menolak. Tampangku mungkin tak meyakinkan. Sedikit mirip perampok kali ya?” katanya sambil tersenyum, terbayang panas membakar niatnya tadi itu. Senyumnya begitu pahit. Diminumnya pelan air putih dari gelas.
“Biasalah Du. Mereka juga belum mengenalmu, wajar ada kehati-hatian. Tak bisa dipungkiri kalau nepotisme itu masih tetap ada dan perlu ada rekomendasi dari yang menjamininya. Mengapa tak mencoba di kampungmu saja? Kalau bertani bagaimana?” tanyaku mencoba membesarkan hatinya.
“Hasil kebun kami hanya cukup untuk hidup selama ini. Bagaimana kalau aku mau kawin nanti? Aku kan harus punya penghasilan lebih lagi. Tapi sebenarnya ada yang menarik perhatianku, ini juga aku mau diskusikan denganmu”
“Tentang apa? Aku juga lagi menganggur, mana tahu di kampungmu juga menghasilkan duit” aku mencoba menyimak. Saat itu pikiranku juga bercabang menyimak suara dari speaker kecil, masih melantun lagu milik Led Zeppelin, Babe I’m Gonna Leave You.
“Iya. Aku juga berpikir begitu. Mana tahu, kau mau bergabung. Ini, kami kebingungan dengan pelemparan hasil kakao kami. Koperasi tak jujur dalam harga pembelian. Koperasi membeli terlampau murah dari penduduk dan menjualnya dengan harga sangat berlipat ke pembeli. Dan koperasi tak mau membeberkan harga sebenarnya. Bagaimana kalau kita ambil alih, sekalian membantu penduduk sana, kita cari pembeli barunya. Dan kita ciptakan pasar yang sehat di sana. Harga yang bersaing.”

“Wah, ide yang bagus itu. Aku pikir itu karena penduduk sudah terlalu sering dibodohi sehingga mempertanyakan hak mereka sendiri saja mereka bingung. Aku punya kenalan yang pernah terlibat jual beli kakao. Akan aku hubungi dia, kau masih lama di sini?” tanyaku.
“Tergantung sampai kapan kau masih sanggup menghidupiku. Aku tak banyak bawa uang, hanya cukup untuk ongkos pulangku” katanya sambil tersenyum lebar. Aku sudah terbiasa dengan keadaannya.
“Aku malah takut bila makin lama di sini, justru ongkos pulangmu pun akan amblas. Tapi ya terserah, dalam tiga hari ini aku coba jajaki ke temanku. Sepertinya aku sudah bosan menganggur, ingin sekali-sekali hidup tenang di pedesaan.”

“Pacarmu bagaimana? Apa dia mau kau tinggalkan?” tanyanya.
“Sebelum aku tinggalkan, dia sudah meninggalkanku. Dia selingkuh”
“Hahaha…..kan sudah aku bilang sejak dulu. Jangan pernah percaya dengan perempuan. Mereka itu setan”dia mengejekku.
“Dan sekarang mengapa kau begitu ngebetnya ingin kawin dengan mahluk yang kau namakan setan itu”
“Hahaaa…..ternyata setan perlu teman. Biar bertobat. Baru sekarang aku rasakan nikmatnya bergaul dengan setan. Kok nggak dari dulu ya,” candanya membela diri.
***
Areal perkebunan coklat (kakao) di desa ini tak begitu luas. Hanya ada sekitar 80 kepala keluarga yang mengerjakannya. Tapi bila di lihat ke desa-desa lainnya tak jauh berbeda dengan desa ini. Mereka pun hidup dari menanam pohon coklat dan selebihnya dari tanaman palawija dan beternak. Kehidupan penduduknya begitu tenang, ritme hidup yang ada begitu statis. Bangun, bekerja di ladang, pulang, tidur. Tak lebih dari itu, tak ubahnya dengan ayam dan kambing. Begitu juga dengan keluarganya, balita, remaja, dewasa dan kembali jadi petani. Seperti kambing, balita kambing, kambing gemuk dan digorok. Tak ada yang mencoba merantau atau mencari pendidikan di luar, hanya segelintir.

Tapi disini aku merasa hidup tak begitu memburu. Hidup begitu panjang tak ada mati. Tak ada kerakusan, karena tak ada yang lebih dan kurang. Jembatan waktu begitu akrab. Semua bisa dikerjakan hari ini atau besok. Semua bisa ditunda. Tak ada yang menjajah dan terjajah. Otak begitu bebas. Di sini tak perlu ada mimpi, tak perlu ada prediksi, alam sudah berbicara. Dikerjakan atau jawaban akan menyusul nanti.

Apa yang kami rencanakan sudah terwujud. Temanku di Medan telah memberi aku jalur, dan pembeli berani datang jauh-jauh ke sini. Tentunya dengan perhitungan jumlah stok barang yang sanggup kami sediakan untuk setiap kalinya pembelian. Dimulai dengan hasil kakao dari perkebunan milik keluarga Maradu ditambah tujuh keluarga lainnya. Dari mulut ke mulut tersebarlah berita harga pembelian yang kami lakukan dengan petani cukup tinggi dibanding yang dilakukan oleh Koperasi itu. Sedikit demi sedikit petani mulai terbuka matanya dan berani menjualkan hasilnya pada kami. Walau masih ada yang takut dengan pak Timbul sang manajer Koperasi itu. Tapi itu memang kesalahan dia yang tak berpihak pada anggotanya dan tak transparan dengan pembukuan Koperasi. Kami mencoba membuka pasar yang terbuka. Mungkin bila sudah besar nanti kami akan coba usulkan untuk diadakan tempat pelelangan kakao agar harga lebih kompetitif lagi.

Dari hasil yang mulai nampak, kami coba untuk lebih menjaga mutu. Di atas tanah milik keluarga Maradu, dibantu penduduk desa, kami membuat sebuah gudang penyimpanan yang tentunya terjaga kelembabannnya. Aku mengajak teman kuliahku dulu untuk membantu kami dalam hal pengolahan mutu pengeringan. Standart mutu yang diharuskan. Para petani juga diberi kesempatan untuk belajar mulai dari perawatan pohon coklatnya sampai proses pengeringan. Terjadi interaksi yang saling mengisi.

Kedekatanku di desa ini dengan Maradu hanya berjalan delapan bulan. Suatu ketika Maradu permisi akan ke Medan. Ada sebuah panggilan yang mengharuskannnya pergi. Aku tak bisa mencegahnya. Dan dia menitipkanku pada keluarganya. Aku melepaskannya, tapi ada sebuah kekhawatiran. Sudah seminggu lebih, sebelum keberangkatannya, ia terlihat banyak termenung. Entah apa yang dipikirkannya. Dan aku meneruskan usaha kami ini dengan keluarganya dan penduduk desa yang lainnnya.


Masih di beranda rumah, gadis itu terpekur sendiri. Aku menjumpainya setiap malam menjelang. Sejak kepergian Maradu aku tak tidur di rumah ini lagi. Selain tak enak hati dilihat warga penduduk, aku juga tak mau merepotkan mereka. Aku menyewa sebuah rumah dekat gudang kami. Selain tempat tinggal juga supaya lebih mudah mengamati gudang penyimpanan itu.

Gadis itu tak seperti Maradu, abangnya. Kemolekkan milik para gadis masih ada padanya. Keayuan yang cukup primitif tapi sungguh sebuah keasrian padanan alam dengan embun-embun paginya dibaui aroma mentari yang menciptakan pendar-pendar cahanya berkilau. Wajahnya jujur sesetia ucapannya yang jujur pula. Seperti angin yang tak pernah berubah walau tak bisa dijamah. Tapi aku yakin ia mempunyai bentuk, entah apapun itu.

“Yanti, abang pulang dulu ya. Sudah malam” kataku memecahkan keheningan. Dia menatapku. Ada sebuah keraguan di hatinya, binar-binar matanya tak bisa berbohong. Ada kerinduan untuk lebih bisa berlama-lama lagi, walau hanya menikmati keheningan.

Dia tak bisa mengucapkan kata tunggu dulu, walau pandangannya sungguh meminta seperti itu. Tangannya pun tak kuasa mencegah, walau niatnya sudah bulat. Haruskah aku percaya pada apa yang aku rasa dari pada yang akan aku dengar? Sebuah suara yang tergesa-gesa berucap. Memecah keheningan, keraguan.

“Bang gudang terbakar. Apinya melalap semua isinya” teriak orang yang berlari ke arah kami. Aku berlari menghampirinya sang pembawa berita maut.
“Ada apa Tak. Kenapa bisa terbakar?”tanyaku panik.
“Nggak tahu bang. Tiba-tiba api menjalar tinggi dan panasnya mengejutkan kami,” kata Poltak lebih panik lagi.
“Ayo kita ke sana. Abang pergi dulu ya dik,” kataku sambil berlari menuju sepeda. Bersama Poltak aku meninggalkan Yanti yang termangu sendiri, keraguannya tak tertahankan. Dia tetap tak ingin melepaskaku.
***
“Du ngapain kau di sini?” aku sungguh heran mendapatkan Maradu, kawan dekat yang telah menghilang.
“Kau juga Lop. Untuk apa kau ada di sini?” tanyanya lebih heran lagi. Kami saling berpelukkan kerinduan yang sangat lama. Seperti menjumpai kekasih yang hilang di suatu pagi dari sebuah ranjang.
“Bagaimana dengan ibu dan adikku?” tanyanya. Tapi aku yakin dia tak hanya bertanya tapi menangis. Dia terisak-isak. Dadanya berguncang hebat.
“Baik-baik saja. Mereka menunggumu. Apa kabarmu kawan, mengapa menghilang sekian lama?” tanyaku tak tertahan, kerinduanku meluber deras. Pelukkanku sangat erat. Tapi kami tak kuasa berkata-kata lagi, kami menangis. Pertemuan yang tak terduga, di tempat yang tak terduga pula. Pada pelukkannya aku merasakan, sebuah nafas yang mati telah kembali, sahabat yang hidup dan mati dalam jiwaku. Untuk sekian lama aku jalan sendiri tanpa mu kawan juangku.

Kami terduduk lelah, pada dinding tembok. Bersandar pasrah pada pertemuan dan nasib yang kami alami bersama. Di ruangan ini kami coba untuk saling bersaksi, mencari kebenaran pada hidup kami masing-masing.
“Aku telah meninggalkan kalian. Sebuah surat dari temanku memaksa aku pergi menjumpainya. Ada sebuah kerja-kerja pendampingan. Buruh perkebunan membutuhkan pengorganisiran. Dan aku terjebak di dalamnya karena aku sendiri yang ingin menjebakkannya. Mereka menuntut kelayakkan hidup, hanya itu. Karena mereka bukan manusia manja. Mereka semut-semut pekerja. Mereka mogok berhari-hari. Aku ada di dalamnya,” katanya menjelaskan, sebuah hal yang bagi kami sudah biasa dilakukan ketika di gerakan mahasiswa dulu.

“Mengapa tak kau ajak aku? Bukankah aku bisa bantu kau. Kita sudah saling kenal sejak dulu,” tanyaku sedikit marah.
“Aku takut kau marah. Karena kita juga punya misi kerja yang baru berjalan. Aku takut itu terbengkalai, sementara penduduk desa telah merasakan gunanya. Terkadang sulit memilih untuk tak lepas dari persoalan masyarakat kaum tertindas dengan keberpihakkan pada kebutuhan hidup kita. Sepertinya kita harus mulai berpikir mana yang lebih penting. Perut kita atau kerja-kerja pendampingan, politik.”
“Apa yang terjadi padamu hingga kita bertemu di sini?” tanyaku heran.

“Aku ada di dalam mereka. Saat itu aku tak bisa memetakan keadaan setelah mereka mogok kerja untuk enam hari lamanya. Massa semakin bertambah, semakin menguatkan perlawanan. Tapi mereka cair. Beberapa orang mulai menyulut ketidaksabaran. Mereka membakar amarah ketidakpuasan atas penerimaan aspirasi mereka. Sang provokator yang tak jelas siapa orangnya, mulai melempari kantor Direksi. Mereka membakar gedung-gedung itu. Aku tak bisa menahannya. Aku tak bisa mencegahnya. Dan aparat merangsek kami. Menangkapku yang dituduh sebagai sang provokator. Apalagi aku terbukti bukan pekerja perkebunan itu. Dan aku ditahan di sini. Maafkan aku…… tak mengabari kalian. Aku malu…… Aku takut sakit ibu akan lebih parah. Dari siapa kau tahu aku ada disini? Akhirnya apa yang ditutupi akan ketahuan juga. Terima kasih atas jengukannya.” katanya sambil tersenyum.

“Sobat lamaku masih sang pemberontak. Tapi Du, aku di sini bukan untuk menjengukmu. Aku menemanimu. Aku membunuh pak Timbul”
“Ha? Kok bisa? Apa yang terjadi?” tanyanya begitu memburu.
“Gudang kita dibakar di suatu malam. Dan yang membakar adalah pak Timbul dan centengnya. Api menjalar hingga bumbungan atap, tak ada yang bersisa. Semua lenyap, hanya bara api yang tersisa. Keringat-keringat kita terbakar, jelas terdengar merekah dan memercik. Tangis kita pun tak sanggup memadamkannnya. Aku mengejar nya bagai anjing pemburu babi. Babi berlari ke hutan di pinggir desa. Anjing masih membaui nafas busuk yang terengah-engah penuh ketakutan. Babi terus berlari walau kadang terjatuh, tapi kakinya tetap menjauhiku. Sampai suatu saat sang anjing mendengar sang babi melengking. Melenguh kesakitan. Merintih minta ampun. Terjerembab. Darahnya mengucur deras. Pada jeratan pemburu babi hutan, pak Timbul mati tertusuk dadanya. Dan hanya sang anjing yang memburu. Aku ditangkap dan dituduh membunuh. Aku tak bisa membeli pengacara. Kebenaranku tak dipercayai mereka. Mereka hanya percaya pada bukti yang ada. Gudang terbakar dan aku marah. Haruskah orang marah dituduh pembunuh?” aku menceritakan semua. Kejadian malam itu.

“Kita ternyata ditakdirkan bernasib sama. Waktu tak berpihak pada kita,” Maradu mencoba membesarkan hatiku. Sebuah pertemuan yang tak terduga di sebual sel penjara. Menjadi terasing dari kehidupan. Mungkin orang-orang seperti kami tak layak menikmati kebebasan, karena isi kepala kami, pikiran kami. Sebab senjata yang paling mematikan adalah pikiran. Dan ketakutan akan pikiran itu menimbulkan tindakan pencegahan, yang mengekang pikiran itu agar tidak menjadi “liar dan bebas”.
Diluar jeruji terdengar sebuah lagu lama, yang pernah dinyanyikan kasihku dulu, milik Iwan Fals dan aku hingga kini aku pun tak habis mengerti mengapa diberi judul “Belum Ada Judul”

Pernah kita sama-sama susah, terperangkap di dingin malam
Terjerumus dalam lubang jalanan, digilas kaki sang waktu yang sombong
Terjerat mimpi yang indah, lelah…..

Pernah kita sama-sama rasakan, panasnya mentari hanguskan hati
Sampai saat kita nyaris tak percaya, bahwa roda nasib memang berputar
Sahabat, masih ingatkah kau,
Sementara hari terus berganti, engkau pergi dengan,
dendam membara di hati

Cukup lama aku jalan sendiri, tanpa teman yang sanggup mengerti
Hingga saat kita jumpa hari ini, tajamnya matamu tikam jiwaku
Kau tampar bangkitkan aku, sobat…

Sementara hari terus berganti
Engkau pergi dengan dendam, membara di hati

“Du, aku jatuh cinta. Aku ingin kawin kali” aku membuyarkan lamunannya.
“Oh ya, selamat datang kehidupan baru. Mau kawin dengan siapa? Sama aku? Makan buritku ” ejeknya. Seperti ejekanku dulu padanya.
“Dengan gadis desa. Adikku mu” kataku coba menjelaskan, meminta restu..
“Selamat datang di keluarga pemberontak,” katanya sambil memelukku.
“Kau tak jalan sendiri lagi, sobat!” sebuah bisikan ditelingaku.

Bekasi, Maret-September 2002

Monday, 9 September 2002

Anak kecil itu masih bersandar di dinding taman

Siang itu begitu panas, rambut seakan telah terbakar menjadi arang dan baranya meresap melalui kulit. Mungkin kutu-kutu di kepala akan gelisah dan beranjak pergi. Dan kerak-kerak kotoran yang katanya ketombe mengering, memberi nuansa baru. Pada rambut yang sejujurnya tak bisa dikatakan hitam lagi, terasa asing bagi segala produk-produk pembersih apalagi perawatannya. Bagi pemiliknya isi kepala jauh lebih berharga dari pada yang menghinggapinya.

Bibirnya jelas mengering, ada sedikit kerak kering disudut bibirnya. Ingusnya pun tak diseka bersih. Cairan kuning itu masih mengganggu jalan nafasnya, pelan-pelan turun dan naik kembali setiap kali ia bernafas. Punggung telapak tangannya terayun mengusap hidung, sedikit meninggalkan bekas yang membasahi pipinya. Disekanya sekenanya. Badannya terasa menggigil, demam. Bukan oleh panas. Terik mentari sudah menjadi teman, bagai pemecut untuk tak jadi malas. Karena teman pemalas hanyalah bulan.

Dia bersandar di dinding taman, duduk diatas tanah. Menatapi lalu lalang kenderaan yang antri di persimpangan, begitu patuh pada rambu-rambu yang hidup dan mati. Semua terhipnotis pada simbol-simbol itu, sebuah aturan dari benda mati yang begitu dipatuhi. Tak ada yang berani melanggarnya. Mungkin ini sebuah dewa maut atau berhala yang mengatur keselamatan buat mereka untuk menyeberangi persimpangan.

Pikiran nakalnya menerawang, andai dipersimpangan itu ditambahkan sebuah rambu :
“Silahkan lempar recehan anda kepada anak pengamen ini”.
Dan perhentian hanya lima menit. Untuk waktu selama itu ia akan menghibur para pengemudi dan penumpang segala kenderaan di hadapannya. Terbayang berapa banyak recehan yang akan dipungutnya. Dan mereka akan mendapatkan kelancaran perjalanan, keselamatan hingga persimpangan berikutnya. Karena teman-temannya yang lain akan menunggu disana dengan segala nyanyian keselamatan. Tak perlu lagi ada anak-anak jalanan yang berhimpitan dan bergantungan di angkutan kota. Tak akan ada kecelakaan bagi mereka akibat terpeleset di tangga angkutan kota atau terserempet motor dan mobil yang selalu grasak-grusuk. Seakan nyawa mereka tak berharga, para pengemudi lebih takut menabrak kucing dari pada anak kecil.

Bibirnya masih mengering. Dibasahinya dengan ujung lidah, tapi terasa pahit di mulut. Perutnya agak perih, suara penghuninya begitu merdu. Nyaring ditelan deru knalpot. Sejak pagi ia tak makan. Uang recehannya hanya sembilan keping, itupun kena palak lelaki bermata merah itu. Ingin saat itu ia memberontak, tapi tangannya tak lagi keras, tak sekeras niat. Suatu saat nanti otot ini akan kembali teracung, pembalasan akan lahir. Namun saat ini ia tak sanggup lagi berdiri, badannya panas. Demam. Sudah tiga hari ia tak enak badan, suaranya tambah tak merdu. Dan lagu terakhirnya tadi terdengar seperti decit tikus, begitu menakutkan sehingga ada anak kecil yang menangis dipangkuan ibunya. Memeluk dada ibunya begitu rapat. Dan belaian tangan lembut menenangkan sang anak. Sambil membisikkan kasih memberi kedamaian.

Anak kecil dengan ingus yang naik turun ini masih cemburu sejak melihat kejadian itu. Sebuah kasih sayang yang tak pernah dimilikinya, kasih ibu. Sekasar apapun kulit ibunya, usapan lembut itu akan menjalari sebuah damai, keteduhan yang nyata. Tapi hingga kini tangan kasar ibunya pun tak mampu melakukan itu. Apalagi sebuah bisikan kasih yang begitu menenangkan, seperti doa-doa yang dipanjatkan, tanpa menunggu jawaban pun akan ada sebuah keyakinan terkabulkan. Tangan yang kokoh itu akan menopang menghadapi segala kekhawatiran, tiada lagi ketakutan.

Tapi ibunya kini bukan ibu yang dulu. Ibunya dulu telah mati dari hari-harinya. Pergi bersama supir truk antar kota. Katanya akan menjemput beras-beras yang berserakkan di jalanan kota lain, dan itu milik kami, harus diambil sebelum burung-burung akan menghabiskannya. Begitu lama dan tak pernah kembali. Bapak menyalahkanku, katanya karena aku terlalu cengeng dan begitu bandal. Nafasnya makin memabukkan dan kerinduannya pada ibu tertumpah di sudut rumah. Aku hanya bisa meringkuk dibalik selimut memandang bapak tergeletak bersandar di dinding rumah yang terbuat dari papan. Di cahaya lampu minyak tanah, aku masih bisa melihat ada genangan air disudut matanya. Jatuh perlahan.

Bapak sesungguhnya bukanlah lelaki lemah. Ada kekagumanku padanya dibalik sejuta neraka sikap kasarnya padaku. Ia tak pernah menganggapku sebagai anak kecil, memperlakukan ku seperti lelaki dewasa. Menghembuskan nafas kelaki-lakian, menikam keberanian pada jantungku. Nyaliku bukan lagi nyali seekor ayam, tatapanku begitu menusuk. Kecurigaan tersembunyi pada setiap pandanganku. Pada setiap mahluk yang aku kenal, aku selalu awas karena musuh ada dimana-mana. Jakarta tempatnya sarang kekejaman. Sebelum ditusuk lebih baik kau waspada, itu pesan bapak.

Hingga umur 6 tahun dia tumbuh jadi lelaki kasar yang tak mau diatur orang lain. Semua yang sebaya pada takut tak berani menatap, karena dia akan menantangnya berkelahi. Kemana ia melangkah semua tertunduk mencari bayangan masing-masing, lebih baik tak berurusan dengannya. Atau darah akan mengalir pada bibir yang pecah atau hidung yang patah. Dia terbiasa tidak menggunakan benda keras hanya ayunan tangannya begitu menghujam. Kebencian begitu buas pada kepalan tangannya. Apalagi bila ada yang mengejeknya anak sundal, rahangnya akan rapat mengatup menahan marah yang tah tertahan. Ia akan lebih kejam dari setannya setan itu sendiri.

Tapi ini tak berlangsung lama, sampai saat beberapa orang-orang baru masuk ke pemukiman kumuh mereka. Penampilan mereka sederhana dan begitu meyakinkan adanya ketulusan. Beberapa mahasiswa yang bekerja sebagai relawan sebuah ornop mendirikan sebuah rumah singgah. Mereka mendirikan surga bagi anak-anak, begitu ramahnya sehingga anak-anak tak takut pada mahluk yang asing itu. Seasing tatakrama yang mereka ajarkan, nyanyian yang begitu menarik dan mereka membuka mata dunia begitu lebar. Jauh di atas sana banyak malaikat akan turun bagi mereka anak-anak yang baik saja. Mereka memerdekakan anak-anak dari ketakutan, dari kebutaan didikan, dari kepastian hidup.


Anak kecil yang pemarah itu awalnya hanya menatap dikejauhan saja. Sampai seorang dari pada mereka menghampirinya dan menyapanya.
“Hai dik, mengapa kau tidak ikut bergabung? Kita bermain bersama di sana. Mari….”ajaknya. Dia hanya diam, menatap tajam mengancam. Dia tak mau diusik.
“Sepertinya kamu yang paling pemberani diantara mereka. Tidakkah ada niatanmu untuk melindungi mereka? Perkampungan ini sepi bila siang hari” katanya lagi. Anak kecil yang pemarah itu tetap diam. Dia bangga waktu dikatakan pemberani. Siapa anak yang tak takut padanya. Untuk apa melindungi mereka? Mahluk penakut yang selalu ditinggalkan orang tua mereka. Memang di sini terasa sepi di siang hari. Semua yang dewasa pergi mencari makan, mengembara bersama angin yang membaui liang lahat uang yang tersimpan rapat.

“Seperti juga malaikat yang selalu melindungi kita, kau pun akan lebih berharga dikenal sebagi pelindung, sebagai malaikat mereka. Dari pada dikenal sebagai jagoan atas yang lemah” katanya memandang lembut.

Anak kecil pemarah itu berang, ia bangkit dan mengayunkan tinjunya. Hidung lawannya berair, ada darah. Anak kecil itu berlari menjauh dengan dengus keras. Ia tersinggung. Tapi ia akhirnya juga bingung, tak ada lagi anak-anak sebayanya berlari-lari di lorong gang-gang, tak ada yang bermain di kali. Semua tertumpah di rumah singgah itu. Mereka menikmati surga mereka. Ia merasa sepi.

Mereka punya lagu-lagu baru yang mereka selalu nyanyikan. Mereka bangga dengan gambar-gambar mereka pada kertas-kertas itu. Mereka punya mainan-mainan baru yang mereka buat sendiri. Anak lelaki pemarah itu hanya bisa mendengar saja, tak bisa merasakannya. Ia cemburu tapi ia malu.

Sampai ketika pemuda yang kemarin hidungnya kena pukul itu mengajaknya kembali dan mengulurkan tangannya. Ia pun pasrah pada keinginannya. Keinginan semua anak-anak untuk bermain-main. Dan ia menjadi bagian dari mereka. Dan malaikat turun baginya. Ia tercipta kini sebagai pelindung bukan lagi pengganggu. Ia bangga untuk itu.

Seorang diantara para mahasiswa itu, yang bernama Yogi, pernah berkata bahwa anak-anak banyak dipakai sebagai obyek dari kepentingan orang dewasa. Malahan orang-orang dewasa yang menentukan hak-hak si anak, bukankah si anak bisa dihargai pendapat dan pikirannya. Atau mungkin ketakutan orang dewasa pada kritikkan dari anak-anak. Sebab senjata yang paling mematikan adalah pikiran dan ketakutan akan pikiran itu menimbulkan tindakan preventif yang tujuannnya mengekang agar pikiran itu tidak menjadi “liar dan bebas”. Orang dewasa cendrung untuk bertingkah sebagai patron yang kelewat mengatur dan terkadang mempunyai harapan-harapan yang tidak realistis terhadap tingkat pengetahuan dan kemampuan anak.

Dunia anak-anak adalah bermain bukan bekerja kata mereka. Membantu orang tua itu perlu tapi bukan untuk membanting tulang. Karena itu tanggung jawab yang lebih dewasa. Dunia anak-anak adalah belajar, karena anak-anak harus tumbuh dan besar, dalam kematangan tingkah laku maupun pengetahuan. Tapi semua itu perlahan-lahan, karena anak-anak adalah tetap anak-anak.

Tapi dunia yang diciptakan mereka itu tak berlangsung lama, mereka harus kembali ke kampus karena ibu pertiwi memerlukan mereka katanya. Mungkin tak lama setelah itu mereka akan kembali lagi. Namun penantian tak berujung, anak-anak termenung di ujung jalan menatap kedatangan mereka kelak. Setelah jatuhnya rezim yang lalu, mungkin ibu pertiwi tak melepaskan mereka kembali. Ibu pertiwi ingin dikawal selalu. Ataukah mereka telah melupakan anak-anak itu? Kata bapak, mungkin mereka sibuk dengan kuliah yang tertunda beberapa saat dulu.

Anak kecil dengan ingus yang naik turun itu masih bersandar di dinding taman. Peluhnya telah menebalkan dakinya. Tatapannya kian meredup, ia masih menggigil deman. Ia tak ingin lekas pulang, tak ada siapa-siapa di gubuk mereka, perkampungan telah sepi. Kini bukan lagi tak ada ibunya yang dulu, ayahnya pun telah pergi. Untuk sekian lama ia akan hidup tanpa mereka, hanya dengan ibunya yang baru. Dan tak hanya ia yang bernasib seperti itu. Anak-anak lainnya pun telah kehilangan semua bapak-bapak mereka. Lelaki dewasa telah menghilang dari sana sejak mobil-mobil polisi dan pamong praja menakuti perkampungan mereka. Dan semua lelaki melawan dengan balok-balok kayu, tapi mereka kalah oleh senjata. Mereka berlutut pada pelatuk kematian, dan satu persatu digelandang ke truk-truk yang telah dipersiapkan. Mereka ditahan oleh perlawanan terhadap aparat yang terjadi lebih dari tiga hari itu. Dua orang aparat mati dan ratusan jiwa penduduk mati dibekap jalan hidupnya. Perkampungan dikosongkan karena dianggap terlalu kumuh mencoreng citra ibukota sebagai kota metropolitan.

Sesungguhnya buka hanya alasan itu saja mereka diusir kata bapak. Mungkin karena tindakan mereka tiga bulan sebelumnya, ketika itu mereka pun pernah menghilang dari sana. Bertumpuk di depan gedung dewan rakyat, mendukung calon yang diunggulkan. Pak Imronlah yang mengkordinir mereka untuk mendukung seorang calon gubernur. Demi uang yang begitu murahnya di dapat, mereka siap berminggu-minggu melakukan demonstrasi. Berkoar-koar mengelus calon. Menantang pendukung calon lainnnya. Namun calon yang mereka unggulkan kalah, bukan karena tak bertaji mungkin kurang banyak sangunya, karena yang didalam gedung itupun manusia seperti mereka yang berpanas-panasan di luar. Tapi bedanya mereka adalah wakil rakyat dan yang diluar adalah wakil perut kelaparan. Mereka yang di luar berteriak karena lapar, yang di dalam berteriak karena dia rakus. Dan gubernur yang terpilih mengusir mereka dari tanah garapan mereka, karena dendam selama pertarungan kemarin sepertinya.

Ia berlari jauh meninggalkan perkampungan, ia dipaksa untuk hidup sendiri tanpa saudara. Hingga akhirnya ia bertemu dengan ibunya kini, bukan ibu yang dulu. Perempuan itu kasihan padanya yang terlunta-lunta tanpa teman dan ia pun sungguh butuh teman juga. Tanpa seorang ayah, karena mereka hidup hanya berdua.

Anak kecil itu masih bersandar di dinding taman, di taman sejuta mimpi. Tapi ingusnya tidak naik turun lagi. Wajahnya begitu damai tiada keresahan. Ia tak terusik dengan antrian kenderaan di persimpangan. Ia tak tertarik dengan recehen-recehan yang akan didapatnya. Ia tak terusik dengan keindahan lampu-lampu neon yang telah menyala menerangi malam. Matanya terpejam rapat, menyimpan mimpi yang beranjak naik. Jauh ke atas sana bersama malaikatnya. Menggenggam erat bagai takut terpisahkan, sungguh Tuhan memberikan malaikat pada semua anak-anak baik.

Di pojok malam, perempuan itu menanti resah. Menatap gelapnya kegelapan. Matanya tak mencari bayangan di ujung jalan. Ia hanya berharap tak sanggup beranjak. Di tangan kanannya terletak sepiring nasi putih yang telah ditanaknya tadi. Hasil penjualan plastik-plastik yang dikumpulkannya dari “tanah pengharapan”, tempat pembuangan akhir sampah. Dia pasti telah lapar dan wajahnya pasti akan senang dengan makanan ini. Tapi mengapa begitu lama ia pulang? Ia masih menunggu hingga malam telah larut ditemani dengan tongkat di tangan kirinya, mata langkahnya. Tak ada tangis lagi, karena matanya telah kering.


Mata hatiku, 8 september 2002, pkl.3.00 wib