Sunday, 18 April 2010

Membunuh Germo


"seorang pelacur yang sukses lebih baik dari seorang suci yang sesat"


Doa seorang WTS


Pelacuran atau prostitusi dianggap sebagai pekerjaan yang tertua di dalam sejarah manusia, namun pelacuran kian kelam tanpa jelas warna profesinya. Hal yang sangat aneh, ketika masyarakat membenci dan menghina pelacur  dan di saat itu pula banyak pemerintah daerah tak malu-malu minta upeti dari hasil usaha mereka. Dimulai dari pejabat rendah dan setingkatnya lalu menanjak ke atas. Ini bukan rahasia umum lagi.

Ada himbauan yang didengungkan dan dianggap sebagai pembenaran tentang pelacuran yang dianggap sebagai gejala patologi sosial atau penyakit sosial.  Seakan-akan ini menjadi penyakit yang begitu menakutkan, padahal mereka adalah manusia-manusia biasa yang tak sehebat manusia-manusia seperti pelacur-pelacur politik yang wangi-wangi.

Hidup sebagai pelacur adalah menyakitkan dan mereka tentu tak menghendakinya. Dunia kerja yang mempertaruhkan jiwa  dan raga. Dan mereka tak punya pilihan, harus mampu melayani semua tamu. Seperti perihnya sajak yang ditulis oleh Subagio Sastrowardoyo , di tahun 1987, yang berjudul :

Doa Seorang WTS

Tuhan jangan harapkan saya sempurna
Kesucian saya tak mungkin bisa pulih
Laki saya kerja di pabrik rokok.
Yang dibawa pulang saban bulan cuma
10.000. Selebihnya dihabiskan di mainan
judi buntut. Sedangkan anak-anak masih
kecil, tiga. Yang sulung baru kelas dua SD.
Mereka perlu makan, perlu obat kalau sakit.
Belum lagi pakaian untuk lebaran, hiburan ke kebun binatang.
Mana bisa cukup uang segitu.
Pernah saya coba jualan kain di pasar
dan menjaga toko juragan beras. Tapi hasilnya cuma pas-pasan.
Badan saya jadi kurus tidak terpelihara.
Lalu saya beginilah jadinya. Sekali-kali
saya diajak hidung belang ke Jakarta
bermalam di hotel mewah. Lumayan pendapatannya.
Berapa sudah lelaki yang sempat tidur sama saya.
Bisa saya renteng sepanjang jalan dari
Solo ke Jogya. Saya tidak sedih,
tidak berkeluh kesah, justru ini
nasib yang saya pilih. Saya tak peduli
pada neraka. Yang saya cari cuma Surga.
Bilanglah mana yang disebut dosa
Kalau memang butuh menyambung nyawa
Ah, Tuhan, jangan harapkan saya sempurna.

Membacanya seperti sebuah tumpukan maaf kepada Tuhan atas perbuatannya, karena ia dilahirkan pada keadaan yang tak berpihak baik kepadanya. Justru kehidupan yang kian menakutkan, kemiskinan yang kian mencengkram, tak adanya lagi harapan dan manusia-manusia yang kuat memangsa dan menjebak wanita sebagai kaum yang lemah. Dan inilah kekuatan-kekuatan yang kian menceburkan perempuan-perempuan yang terjepit ke dalam dunia pelacuran. Mereka dikalahkan oleh masyarakat sendiri.

Banyak cerita mengapa mereka terjebur ke dalam dunia pelacuran, dimulai dari perdagangan manusia, disakiti pria, ditinggalkan suaminya, jebakan-jebakan dalam perangkap utang dan sebagainya. Terlihat mereka pada posisi yang lemah dan rapuh. Namun ketika mereka mulai bekerja dengan segala keterpaksaan itu, mereka menjadi obyek lelaki, namun ketika pemakainya harus membayar mereka menjadi subyek. Dengan kata lain ia melayani bukan gratis atau dikatakan oleh Gadis Arivia, pelacur adalah tipe manusia  yang amat kompleks.

Dalam novel berjudul Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Saadawi, bercerita tentang seorang pelacur Mesir yang dihukum mati oleh karena membunuh germonya. Ia sebenarnya bisa bebas, bila mau menandatangani petisi untuk mendapatkan grasi dari presiden, tapi ia menolaknya.

Pembunuhan itu dilakukannya dengan sadar sebagai bentuk protes untuk menentang pemerintahan, presiden dan sistem yang telah menjadikannya budak nafsu laki-laki hidung belang. Padahal dalam hidupnya ia ingin menjadi seorang pelacur yang bebas, bukannya seorang budak.

Itulah sebabnya ketika sang germo terlalu banyak mengatur, ia membunuhnya. Dan ia rela untuk semua itu menebusnya dengan kematian pula. Kematian yang menghantarkannya kepada kesadaran bahwa ia adalah bukan manusia yang dicitrakan masyarakat baginya, tetapi ia adalah manusia bagi dirinya, yang bertanggung jawab dan memiliki kuasa untuk memilih yang terbaik bagi dirinya sendiri.

Jean Paul Sartre menyebutnya sebagai entre-pour-soi atau ada bagi dirinya. Kematiannya akibat membunuh germo itu untuk membuat dirinya ’lebih hidup’ dibandingkan jika ia hidup. Ia menjadi arsitek bagi dirinya bukan oleh masyarakat yang sudah sekian lama ia terima cibirannya.

Pelacur menata dirinya walau sekitarnya berkoar-koar akan nasibnya. Seolah-oleh mereka bagai malaikat yang hanya bisa mematung namun bibirnya cerewet mengejek dan memaki. Mereka marah tanpa pernah memberi jalan keluar, bahkan pelacur-pelacur itu kian terjepit. Padahal pelacur itu menjalani hidupnya untuk membuat dirinya lebih hidup walau mereka menganggapnya redup dalam hidup yang terlihat  remang-remang.

Berikut ini pengakuan seorang pelacur Pasar Kembang bernama Surti, 35 tahun, asal Solo, Jawa Tengah yang saya kutip dari buku Mampir Mas karya Wahyudin :

Malam lebaran 18 January 1999. gema takbir mengharu biru kota Yogya. Tapi Pasar Kembang sepi ngelangut. Hanya segelintir pelacur yang tersisa, sebahagian besar lainnya telah pulang kampung atau entah ke mana. Belakangan ini kami dicekam rasa takut. Salah satu kelompok pendukung partai politik telah mengancam untuk menggerebek Pasar Kembang. Malam ini saya seharusnya sudah berada di rumah. Tapi isi dompet membuat nyaliku ciut untuk pulang dan menghadapi pertanyaan-pertanyaan lugu empat orang anakku tentang sekeranjang oleh-oleh lebaran,. Karena itu saya terpaksa ‘berdinas’ lagi, sekalipun gemuruh suara orang-orang yang memuji dan mengagungkan nama Tuhan seperti menuding-nuding mukaku.

Ia begitu berharga di mata anak-anaknya, saat malam itu ia mendapatkan pelanggan yang bermurah hati dan memberinya Rp.200.000,- penghasilan yang besar bagi pelacur yang tak muda, dan ia berkata, “Tuhan mengasihiku.” Ia menyebut namaNya.

Pelacur kehidupan.
Pelacur tidaklah mesti dimateraikan bagi mereka-mereka yang menjadi pekerja seks komersial (PSK). Dalam kehidupan sehari-haripun kita banyak menjumpai para pelacur-pelacur yang bergentayangan dan tanpa sadar berkuasa pada kehidupan kita. Bahkan terkadang mulut-mulutnya menjadi kata-kata suci bagi kita.

Sementara dari balik jeruji besi penjara Qanatir, seorang pelacur terpidana mati mengungkapkan kata-kata : seorang pelacur yang sukses lebih baik dari seorang suci yang sesat. Itulah kata-kata yang diucapkan oleh pelacur bernama Firdaus dalam novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal El-Saadawi.

Apa lacur, nasi sudah menjadi bubur, itulah kalimat yang sering terucap ketika mencoba untuk tak menyesali apa yang sudah terjadi. Seperti saat seseorang mendengarkan kabar anak gadisnya hamil di luar nikah, atau suami yang terlanjur menghamili selingkuhannya. Termasuk juga dengan seseorang yang tak bisa menjadi idealis karena lingkungan kerja mengharuskan ia mempersulit yang gampang, membudayakan sogok sana-sogok sini.

Pekerjaan sogok sana-sogok sini bukan hanya terjadi di kamar remang-remang milik PSK, tapi juga terjadi di ruang terang dan di atas sumpah jabatan. Di belakangnya sang pemimpin tersenyum di dinding menatap segala kebohongan. Apa lacur, beliau-beliau telah diangkat menjadi pemegang kekuasaan-kekuasaan untuk kebijaksanaan yang harus melewati meja-mejanya. Banyak meja yang menjadi alas pelacuran, banyak upeti yang melewati tangan-tangan, tanpa perlu bersolek dan berkucing ria dengan satpol PP. Sementara mereka sudah jelas mandi kucing dengan keringat-keringat jelata yang mengurus KTP atau surat keterangan domisili atau keringat-keringat pekerja proyek yang di mark up untuk memenangkan tender.

Pejabat melacurkan diri demi karir, upeti untuk atasan atau simpanan untuk persiapan naik jabatan. Tak mau kalah pula pejabat-pejabat di bawahnya yang mengejar setoran untuk keluarga di saat kehidupan begitu mahalnya dan ruh konsumtif begitu belianya dan merangsang sang istri atau anak memiliki kebendaan.

Di tingkatan langit yang maha luas, para politisi yang meniduri ibu pertiwi telah pongah melacurkan diri pada kuasa. Dengan segala cara mencari dukungan saat kampanye, janji-janji manis dan rayuan maut. Bermanuver atas nama rakyat dan menjelma menjadi germo-germo kekuasaan, selanjutnya memeras rakyat dalam segala kebijaksanaan yang membuat kelamin politisi kian mengkilat. Selanjutnya liurnya menetes dalam desah menuju pemilu tahun 2014.

Hidup yang lambat berjalan melahirkan pelacur-pelacur kehidupan. Mereka-mereka yang bekerja tanpa hati. Uang menjadi Tuhan. Ini tampak pada dinamika kota-kota besar seperti Jakarta. Gaya hidup tinggi bagi kaum urban menjadi harga diri. Hingga mereka dengan bayaran yang tinggi  untuk menunjang gaya hidup yang tinggi pula. Dan stress menghampiri oleh rutinitas dan penat yang kian bertambah oleh macetnya perjalanan. Terlihat hanya keterpaksaan bekerja dan tak cinta pada pekerjaannya. Mari kita sandingkan mereka dengan pelacur-pelacur lainnya.

Mereka seperti pemain sinetron/film yang bermain sempurna di layar kaca/lebar dengan cerita yang fiktif. Tampil sempurna dengan kesungguhan, namun hati tak terima oleh beban pekerjaan. Alangkah baiknya mereka menikmati setiap pekerjaan dan menganggap gaji adalah bonus atas kesungguhan yang diperbuatnya. Dengan kata lain menganggap kerja adalah ibadah.

Bandingkan dengan beberapa pekerja seks yang mencintai pekerjaannya di banding dengan mereka yang melakoni hidupnya dengan keterpaksaan. Siapakah yang sebenarnya menjadi pelacur?

Mari membunuh germo-germo

Mengutip kembali kalimat di atas : kematiannya akibat membunuh germo itu untuk membuat dirinya ’lebih hidup’ dibandingkan jika ia hidup. Ia menjadi arsitek bagi dirinya bukan oleh masyarakat yang sudah sekian lama ia terima cibirannya.

Marilah menjadi diri sendiri. Marilah menjadi apa yang disebut Jean Paul Sartre sebagai entre-pour-soi atau ada bagi dirinya.  Marilah kita membunuh germo-germo yang banyak mengatur dan menjerat kita hingga tanpa sadar kita telah menjadi pelacur-pelacur kehidupan. Mungkin oleh gaji yang tak setimpal, kita tak punya hati pada pekerjaan. Mungkin oleh jerat gurita birokrasi kita terjebak dalam KKN dan meninggalkan idealisme berbalut nurani. Mungkin oleh politik yang tak sehat, negeri ini kian diperas oleh segelintir orang yang tak malu mempertontonkan kelamin demokrasi ala opurtunis.

Germo-germo itu mungkin ada di diri kita, saat kerja tanpa hati mungkin juga ada pada pinta-pinta rakus dewa konsumtif di keluarga. Germo-germo itu ada pada sistem yang membuka celah KKN yang kian seksi mengangkang. Dan germo-germo itu ada serta bertambah pongah oleh keluguan kita memberi kuasa pada mereka di bilik-bilik suara. Bukan di bilik-bilik remang sang pelacur yang mencari makan hanya untuk hari ini saja.

            Mari membunuh germo-germo itu, yang mengatur dan mencetak kesempatan menjadi pelacur-pelacur kehidupan. Saatnya kita sadar bahwa kita adalah manusia bagai diri kita, yang bertanggung jawab dan memiliki kuasa untuk memilih yang terbaik bagi diri kita sendiri.

Dapat juga dibaca di Kompasiana.com/edisantana

Thursday, 5 May 2005

Simpan Saja Suaramu

Simpan dulu suaramu. Saat ini mulut tak perlu menganga. Hanya hening terkesima pada alunannya. Suara perut-perut kita. Tak perlu membaca nada, ada tenor di belakang sopran. Indonesia raya menjadi nasi basi. Hanya itu yang bisa dimamah biak. Seperti cerita pengantar tidur. Dan penat kita dielus ibu, menuju negeri khayalan.

Simpan rapat suaramu. Serigala pulas di leher-leher mereka. Sedikit berderak akan memancing liurnya. Sementara pundak-pundak kejang menahan berat. Beban yang kita tutup rapat di antara gigi-gigi. Menimbun tuaian semusim, itupun penuh dengan tikus-tikus lumbung. Bisikan yang dititipkan angin globalisasi.

Simpan saja suaramu. Teriakan mereka ekstasi. Melukai langit mendung yang lama paceklik. Tanpa bintang-bintang, awan tetap indah. Berarak di antara masa yang mengambang. Massa yang berserak. Tetap sebagai awan. Tetap dilaga menjadi petir. Yang menghantam bumbung atap rumah sekolah. Dan anak-anak kita lari dari didikan. Tak percaya ada banyak warna pada pelangi.

Simpan saja suaramu. Kotak-kotak* itu bukan surga, bukan pula neraka. Hanya jerat yang memperalat. Alas bagi sang waktu yang minta disunting, menuju tahta. Setelahnya akan menjadi titik-titik pasir yang lamat-lamat ditelan lumut. Memeluk rakus, akarnya serakah menghujam.

Simpan saja suaramu. Jiwa-jiwa hadir sebelum tanda titik. Bahasa menjadi pelacur, bugil berlari tanpa syahwat. Bola mata jujur menggelinding.
Basah, kering.
Membelalak, menyipit.
Berpura-pura, was-was.
Terpejam.

Dan suaramu menjadi suci, menyebut sebuah nama……
RahimNya.

Grogol, 22-12-2003
*gambar-gambar dalam surat suara pemi
lu

gelisah

mengalirlah…
mengalirlah mimpi panjang
telaga yang meluap
menggapai-gapai, hantarkan bulan ketepian
biarkan ikan-ikan berkecipak menciumnya
bagai dialektika yang terus berpusar
mana awal dan akhir

berhembuslah..
berhembuslah kabar yang kian tak pasti
amarah yang membabi buta
gelisahgelisah, ketika kata tak lagi terucap
orang-orang kalah bebisik menyayat malam
semoga esok Tuhan beri kiamat

pagi di depok,18september2004

cerita di sebuah ponsel (di waktu lalu)



Aku hanya ingin seorang istri yang menyayangiku dan memberiku manusia-manusia kecil yang kerap menggangguku. Seperti adam, aku tak ingin seorang malaikat, hanya setan kecil bernama hawa yang penuh pinta. Untuk itulah aku hadir untuk memenuhinya dan memaklumi kelemahannya.
Aku cinta manusia merdeka.
14:03:48
19-05-2003

bila pembicaraan terlalu berat, mari lunakkan saja
atau…. lupakan
06:22:41
20-05-2003

Dongeng fajar adalah dongeng tentang kita,
tentang embun kerinduan.
Untuk datang dan dilupa?
Tapi kau milik sang waktu,
sedang aku hanya sepi di detik diantaranya.
Pelengkap yang tak bermakna.
Entah aku bernama apa…
06:32:21
20-05-2003

banyak orang kehilangan kebahagiaan, BUKAN karena mereka TIDAK PERNAH MENEMUKANNYA, tetapi karena mereka MELEWATINYA….
16:10:11
20-05-2003

“Indah tepat pada waktunya!” itu janji Tuhan
08:48:12
31-05-2003

…..tentangmu masih tersisa diingatan,
perbincangan esok dan nanti.
sejak kita temukan perca-perca,
ada simpul menenunnya.
esok bukan lagi mati suri,
lajang harus ditamatkan….
01:08:19
04-06-2003

Rendra :
….sementara kau bertanya berapa jumlah pacarku dulu….
Di lantai yang sejuk lalu kita bertiarap atau berbaringan,
menggambar rumah yang kita angankan.
Kau gambar 2 orang berdampingan. Kau tunjuk, “Ini aku. Ini kau”
Lalu aku gambar selusin orang di kanan kirinya.
Kau merengut dan bertanya siapa mereka?
Aku menjawab, “Anak-anak kita!”
06:33:08
13-06-2003

….semoga rencana kita adalah juga rencanaNya
08:40:28
15-06-2003

....suatu saat akan aku jemput ke sarangku
11:48:03
15-06-2003

….kapan kita tak lagi berjarak?
00:52:54
26-07-2003

semoga Tuhan bantu aku,
atau Dia ingin aku terluka kembali.
dan menghadapi hidup untuk tetap menjadi orang kalah.
aku pasrah dalam kebebalanku untuk tetap mengasihimu…
Bila esok ada mati, di surga tak perlu asmara (kata Rendra)
00:59:38
27-07-2003

Bibirmu menitip sihir,
bagai lipstik yang tak lekang di bibirku.
Ah…
Aku haus kasihmu, beri itu melalui pagutmu
21:18:28
11-08-2003

semper videlis
selalu setia
22:53:39
11-08-2003

Aku hanya yakin, hidup ada untuk saling melengkapi.
Malaikat ada untuk mencegah setan lebih menyesatkan.
Setan ada untuk membantu malaikat mendapatkan jiwa suci.
Air mengalir ke hilir. Dari tempat tinggi ke tempat rendah..
Alamiah…..
Hawa ada tanpa dipilih adam di etalase.
23:00:02
15-08-2003

malam, pekat,
maki, pinta….
tangis jadi samudera.
di botol terakhir yang terapung menujuku,
tangan-tangan Tuhan menghantarkanmu
pada riak-riak menuju hamparan perca hatiku.
tubuh hanyalah puzzle,
tak jelas warna, bentuk.
apalagi bebet, bobot.
kelak aku hanya pantai milik laut yang membelaiku.
atau ditinggalkan sebagai gosong.
23:20:44
15-08-2003

entar aku punya sejuta dongeng untuk mereka (anak-anak kita)
16:45:46
30-08-2003

jangan banyak begadang
entar kurus kayak nyamuk
lalat gemuk karena nggak suka begadang
00:00:29
01-09-2003

Malam pekat. Badan penat
Rindu lebat. Peluk erat.
Sayang kian hangat.
Lekas cepat.
Dapatkan kasihmu menanti penuh harap.
23:54:41
02-09-2003

kangen itu kayak dodol, yaitu :
rindu yang lengket, pekat, manis
bisa bikin orang bertingkah aneh, melamun kayak orang bodoh (dodolz, dudul)
15:30:00
07-10-2003

Malam dengan gerimis patah-patah.
Di manakah dinda yang menyelimuti kerinduan dengan kabut tipis?
19:16:32
19-11-2003

wanita berasal dari kata va (sansekerta) yang artinya, “Yang diinginkan, yang dicari.”
pria berarti, “Yang dicintai.”
19:41:34
10-12-2003

Tuesday, 2 December 2003

Tak Ada Lagi Lorong yang Menatap Curiga


Banyak bocah berlari-lari. Berkecipak pada genangan air yang tak selesai mematut diri. Membiarkan usia tak cepat berjalan, hanya dunia anak yang tak mengenal hukum, hanya kepatuhan. Bukan karena bodoh mereka harus bersikap seperti itu, orangtua seperti layaknya gembala mengantarkan menuju dataran luas, berkerumunnya rumput-rumput segar. Menghalau menuju impian, menggiring ke arah pemangsa-pemangsa. Kekal peristiwa makan memakan menjadi rimba yang harus diwaspadai

Dan lorong-lorong itu masih menatap curiga. Sesekali tubuhnya tak sunyi kala pejalan kaki pasrah pada tatapnya. Meninggalkan jejak yang bukan satu-satu, patah-patah menuju ujung yang lain. Senyumnya basah, hari lembab sejak hujan enggan berlari jauh. Sudah tiga hari langit menangis, awan-awan diam menyimpan rapat peristiwa. Yang berarak hanya kabar-kabar kosong dan guntur menggelegar garang, kilat memberi tanda seru.

* * * *

Mataku menatap langkah yang berulang. Sesekali gerundelan tak jelas singgah dikupingku. Sementara si Cipluk terus–menerus mengoceh. Entah apa ucapnya, tapi badannya terus bergoyang-goyang, kaki kecilnya seperti menunggang kuda.

Cipluk menjerit. Ia menangis kencang seperti lari kuda saat tubuhnya dipukul. Pantatnya dicubit emak. Sepertinya emak kewalahan antara menyusun barang-barang dan menggendong adik. Mulut emak kian tak jelas menggerutu, yang itu-itu juga. Sudah lebih seminggu emak tak punya cerita yang lain. Tapi aku tak mengerti apakah emak ingin bercerita cerita atau bertanya. Suasana semakin tak jelas saat Cipluk kian bercerita banyak lewat tangsinya yang bersahutan.

Aku berlari menjauh. Tak ingin kena getahnya. Semenit lagi emak bakal melahapku. Tatapan itu, ya tatapan itu. Selanjutnya emak akan mengumpat, yang tetap itu-itu juga.

“Mana bapakmu? Lelaki yang tak bertanggung jawab itu. Kalau sudah begini, siapa yang akan membantu kita? Semua akan hilang. Mampuslah kita!”

Ahh… wajahku memang mirip bapak. Lelaki yang kami rindukan kabarnya. Dan emak selalu menatapku bila rindu, bila marah. Tapi bapak tak hilang. Ia akan kembali. Pasti. Kabarnya ia ada di Penang. Katanya sih di Serawak. Mungkin di Sabah. Ahh…. entah yang mana. Yang pasti bapak ada di seberang sana. Pasti kembali mak!

Liat saja, rumah kami lebih cantik. Tak bocor atapnya seperti dulu. Lantainya tak lagi tanah. Dan emak…. tak lagi berdiam diri hanya di rumah. Emak sudah sibuk berjualan. Sedikit banyak aku kecipratan permen atau kerupuk yang tak lagi garing, masuk angin.

Bapak masih ada. Dia ingat kami. Sudah dua kali mengirim uang sejak dua tahun ia tak lagi mengelus kakiku menjelang tidur, walau ia tak punya dongeng yang indah. Hanya cerita tentang hujan nakal yang membasahinya. Matahari yang tak ramah senyumnya. Dan cerita ada manusia yang menyakiti manusia lain, yang ingin merebut becaknya untuk dibuang.

Ia pasti bangga bila pulang, karena ibu tak boros memakai uang. Pintu rumah akan terbuka untuknya. Pintu yang bukan lagi malas berdiri. Pintu itu tak lagi dari lempengan bekas kaleng-kaleng roti yang dulu disusun rapat bapak. Pintu itu sudah diganti emak. Kayu yang dipasang kuat, walau hanya dari pintu bekas. Kata emak, agar maling tak masuk, maklum tak ada lelaki di rumah ini.

Dan aku akan menatapnya tajam. Merapatkan mulut. Menyusun kata-kata yang terus mengalir tapi tak mampu dimuntahkan.

“Kenapa? Kamu marah? Ahh… kamu seperti bapakmu, bila disindir seperti itu. Nak, cepatlah besar dan banyak belajar. Agar kau jadi lelaki. Lelaki dibutuhkan di rumah ini.”

Aku akan menjadi seperti bapak. Lelaki yang dibutuhkan emak. Yang berjaga di balik pintu di setiap malam. Menjaga lelap emak dan Cipluk. Tapi, bapak belum bercerita banyak tentang orang-orang-orang jahat yang harus diwaspadai. Bapak belum mengajarkan bagaimana menjadi lelaki. Emak tak sempat bercerita. Hanya tingkah lakunya yang penuh rasa was-was. Lagi pula emakkan bukan lelaki.

Cepatlah pulang! Kami butuh bapak. Esok kami mungkin tak di sini lagi. Kami akan diusir dengan kasar, kata emak sejak tiga minggu lalu. Akan ada yang datang. Ratusan. Mungkin ribuan lelaki tegap. Seperti bapak besar dan tegap. Andai ada bapak, kita berdua akan menghadapinya. Melindungi emak dan Cipluk. Rumah kita yang sudah indah tak akan bisa dirusak mereka.

Tapi… atau aku harus menghadapinya sendiri?

* * * * *

Jarinya memutar keras. Dan anak kunci itu kini berpindah tempat di antara celah tas mungil di bahunya. Ia menghela nafas. Tak ada gunanya mengunci rapat, esok mungkin tak lagi disinggahi, pikirnya.

Badannya membungkuk. Meraih tas besar. Agak berat hingga langkahnya tak gemulai. Tertatih di atas sepatu indah berhak tinggi. Bukan hanya sepatunya yang indah, kakinya pun indah. Putih. Kulit bersih yang membalut tubuhnya yang aduhai. Wajar bila mata-mata haus meraup tatap. Seperti ingin mencicipi, mengimpikan wanita seperti itu di ranjang. Pengganti pacarnya, mungkin istrinya.

Senyumnya masih ada. Senyum yang tersisa di antara perasan otak yang berputar kencang. Dan pada yang menatap, ia menitip senyum. Kadang menyapa. Sekedar basa-basi atau entah apalah. Tapi ujung matanya masih mencari seseorang lelaki, yang pernah menemaninya, walau ia tahu lelaki itu tak bisa diharapkan terlalu banyak. Otak mudanya masih ingin berkelana bebas.

Ya, dia ada di sana. Di atas bumbungan atap. Membongkar sisa-sisa rumah. Dadanya yang berisi terbakar panas. Dada yang pernah membakarnya pula, menindih tubuhnya di malam dingin. Dan senyum itu terlempar ke arahnya. Senyum jantan yang mampu merontokkan hati, mendidihkan birahi ganasnya.

“Mau ke mana?” suara jantan itu menyapa.

“Pergi. Mungkin takkan kembali. Mereka jadi datang?”

“Jadi. Bangsat-bangsat itu tak mampu luntur hatinya. Pindah ke mana?” tanya pemuda itu penuh harap. Wajahnya menyimpan ingin. Keinginan untuk tetap bisa selalu melewati malam-malam kosong. Atau dikosongkan untuknya.

“Entahlah…. Tapi, nanti aku kabari. Aku belum tahu mau ke mana,” ucap wanita itu. Ia menelan ludah. Berat mengakhiri percakapan. Tapi ia memaksa langkah untuk tak malas. Tatapan ibunya yang berdiri di dekat sana begitu mengancam. Berjuta maki siap dihunus.

Ia tak mencoba memalingkan wajah, walau sempat ia dengar pemuda itu masih berkata-kata, memanggilnya. Tapi suara itu kini tak lagi memburu, karena ibunya sudah memakinya dari bawah. Biarlah tatapan sinis itu adalah tatapan terakhir dari perempuan-perempuan di sini. Mereka selalu memandangnya hina, sejak banyak lelaki wangi yang mengusik hawa pengap kerumunan rumah-rumah reot datang kepadanya. Atau karena suami-suami mereka terlalu rakus menatap dirinya. Walau di ujung malam, terkadang ada yang memaksanya untuk membuka pintu, ingin tidur bersamanya dari pada dengan istrinya yang selalu memaki kasar.

Langkahnya meninggalkan jejak. Jejak yang tak elok, sarat dengan beban. Biarlah langkah ini tak lekang seperti jalan hidup yang susah berubah. Dan wanita itu menanti harap, pada jejak yang akan diendus lelaki itu. Ia menantinya di ujung langkah. Menantinya di sudut-sudut malam, entah di masa apa yang akan disediakan oleh waktu.

* * * * *

Ini puntung yang kesekian belas. Tak jauh dari kakinya berserak bersama abu-abu yang terkapar. Matanya merah meradang. Marah. Mungkin juga karena sudah tak tidur beberapa hari. Tangannya mengetuk-ngetuk meja. Benaknya menulis segala rencana walau kakinya tak teratur bergetar. Tatapnya mengancam, sesekali ia mendengus kasar.

“Pak, sudahlah. Ayo, kita siapkan barang-barang. Besok tak ada lagi masa. Kau sejak tadi tak jelas berpikir apa, marah-marah sendiri.”

“Bu, kita tak boleh menerima perlakuan mereka. Harus kita lawan!”

“Mau lawan pakai apa? Mereka bersenjata.”

“Tangan kita. Kita punya kemarahan!”

“Kita hanyalah kayu kering yang terikat. Kita akan tersulut marak.”

“Kita punya Tuhan. Akan ada hujan yang meredamnya.”

“Apa Tuhan kita sama dengan mereka? Bukannya mereka telah jadi hamba uang dan kuasa.”

“Mereka dendam….. Ya, aku tahu itu. Sejak aku membawa ratusan warga sini untuk berdemo. Mendukung lawan gubernur yang terpilih sekarang.”

“Kita kalah dan akan terus dikalahkan. Ah, sudahlah. Itu salahmu juga, yang terperdaya oleh janji-janji mereka. Mereka yang bertikai, kita yang terjepit. Siapapun yang kau dukung, kita tetap pada posisi yang salah. Sadarlah, tanah ini tak jelas statusnya.”

“Tapi kitakan bisa meminta waktu. Mengitung ganti rugi yang layak. Apa mereka tak berpikir, kita akan digiring ke mana?”

“Negeri ini tak dipimpin oleh gembala yang baik. Hanya serigala-serigala rakus yang kita beri jubah. Hmm…. kita akan berarak bersama lautan yang lain. Suatu saat iringan itu akan berkumpul di suatu titik.”

“Siapa yang menggiring kita?”

“Jangan tanya siapa. Bukan siapa-siapa. Tapi tanya apa.”

“Ya, apa bu?”

“Hahaha…. Jangan panik. Kau perlu belajar pada cacing.”

“Lho kok?”

“Menggeliat. Cacingpun menggeliat bila dipijak. Walau sangat lemah ia tak pasrah. Dan suara komandonya akan menggiring perut-perut kita untuk berkumpul.”

“Hmm… bahasa yang sama. Bahasa lapar.”

“Siapa bilang sama. Belum tentu. Berhati-hatilah! Kita lapar tapi tak rakus. Ada lapar karena tak pernah puas, serakah. Di antara kita akan ada siluman kerdil yang berselingkuh. Matanya nanar menatap peristiwa. Bila kita lengah, cacing-cacing lain akan menyantap kita di tanah.”

“Kemarin siang ada muka-muka manis menatap duka. Mereka bilang akan membantu, bantuan hukum. Apa mereka siluman yang ibu maksud?”

“Ah, bapaklah yang lebih tahu. Liat sampai mana mereka mau terus beriringan. Mungkin sekedar mencari popularitas.”

“Ada-ada saja kau bu. Bangunan-bangunan ini akan rata, tak ada panggung yang megah buat mereka.”

“Bisa saja mereka yang membuat panggung, atau kita yang jadi panggungnya. Sudahlah, aku hanya memperingatkan untuk berjati-hati. Aku mau mengurus barang-barang kita.”

Kembali senyap. Tak ada lagi ucap di bibirnya. Tak ada lagi sebatang rokok untuk disulut. Sekedar untuk mengusir penat di benak. Sekedar untuk meredakan amarah cacing-cacing yang menari kelaparan, bertalu-talu menabuh genderang perang.

* * * * *

Suara-suara itu hilang berganti dengus-dengus mengancam udara. Bagai dewa-dewa yang berperang di atas kuda kencana mereka merebut jajahan. Membumi hanguskan yang ada. Panji-panji kebesaran membatasi tanah jajahan. Mengibarkan kemenangan bersama debu-debu yang terbang menuju mega-mega yang berarak di atas sana.

Punah sudah peradaban kaum-kaum yang tak rakus. Manusia-manusia yang sudi hidup seadanya. Hari-hari mereka seperti hidup yang diatur oleh bocah-bocah ingusan. Pada permaianan rumah-rumah kardus dan boneka-boneka kertas.

Aku tak seperti lorong-lorong yang menatap curiga. Hanya berdiri memagari hidup yang berjalan. Saat perempuan-perempuan menggiring anak-anaknya menjauhi algojo-algojo yang menggasak para lelaki-lelaki mereka. Saat jerit-jerit mengoyak langit yang mengangkang. Saat harapan pecah berurai bersama darah dan air mata. Mereka dihalau bagai binatang-binatang yang dianggap merugikan. Tubuh mereka, perut mereka yang penuh cacing-cacing lapar.

Entah di mana mereka berada sekarang. Arakan yang tak pernah menemukan damai di setiap perhentiannya. Kembali berserak mencari hidup yang mau menaungi walau itu sesaat. Mencari remahan sisa-sisa hidup yang kinipun diincar tikus-tikus got yang juga kelaparan.

Kini aku terduduk sunyi. Di hadapanku tak ada lagi lorong-lorong yang menatap curiga. Toh semua kerakusan jujur terlihat jelas. Aku mencoba bertahan untuk tetap tegar. Untuk sebuah pesan yang dituliskan di tubuhku, oleh bocah itu.

“Bapak, kami dipaksa pergi. Suatu saat kita akan berkumpul bersama lapar yang menggiring. Carilah kami dalam bahasa lapar.”

Grogol, 7 November 2003


gambar : penggusuran warga taman BMW
sumber gambar klik (http://saksimelawan.blogspot.com/2009/04/pemutaran-film-sesi.html)